
Rai terus memberikan nafas buatan untuk istrinya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba saja Yoona mulai terbatuk. Usaha Ray tidak sia-sia untuk menyelamatkan istrinya. Kecemasan dan kekhawatirannya perlahan mulai meluntur saat melihat mata indah itu mulai terbuka.
Ray langsung membawa Yuna ke dalam pangkuannya.
"Syukurlah kau baik-baik saja Yuna, Aku sungguh mengkhawatirkan mu," ucap Rai memeluk tubuh lemah Yuna.
"R-Rai kenapa k-au ada di sini?," Tanya Yuna terbata.
"Kenapa kau malah bertanya kenapa aku ada disini?. Sebenarnya apa yang kau lakukan Yuna?, Kenapa kau mencoba mengakhiri hidupmu?," Tanya Rai masih memeluk tubuh istrinya.
"A-aku tidak mencoba untuk mengakhiri hidupku Rai. Tadi, aku hanya sedang mandi, tapi setelahnya aku sudah tidak mengingatnya lagi." Ucap Yuna.
"Kau ini begitu ceroboh, lain kali aku tidak akan membiarkanmu untuk mandi sendiri." Ucap Rai khawatir.
"T-tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian, lain kali aku yang akan memandikanmu,"tegas Rai.
Wajah pucat itu kini menjadi merona saat Yuna mendengar ucapan suaminya.
"Aku akan memakaikan baju, setelah itu aku akan memanggil dokter untuk memeriksa mu Yuna. Aku tidak ingin bayi dalam kandungan mu kenapa-napa," ucap Rai.
Seketika wajah Yuna berubah menjadi kecewa. "Jadi Kau hanya mengkhawatirkan bayi kita. Apa aku terlalu serakah bila Aku berharap kau juga menghawatirkan ku?," Ucap Yuna dalam hati.
Rai mulai meletakkan tubuh Yuna dengan hati-hati dan berjalan menuju lemarinya lalu mengambil sebuah kemeja miliknya.
Ia pun mulai membuka selimut yang Yuna pakai untuk menutupi tubuh polosnya. "Apa yang Kau lakukan Rai!," Ucap Yuna terkejut karena kini tubuh polosnya terpampang jelas di depan mata suaminya.
"Kau pikir aku mau Apa Yuna?!, Aku hanya ingin memakaikan baju untukmu." Ucap Rai mulai mendudukkan tubuh Yuna dan mulai memakaikan kemeja miliknya di tubuh seksi istrinya.
Sebenarnya sedari tadi Rai terus menahan has..ratnya untuk tidak tergoda dengan tubuh indah Yuna. Beberapa kali Ia menelan saliva saat tangan itu tanpa sengaja menyenggol benda kenyal milik Yuna.
Sedangkan Yuna benar-benar merasa sangat malu saat ini. Ia terus saja menundukkan kepalanya saat wajah Rai begitu dekat dengan wajahnya.
"Selesai. Sekarang Aku akan menyuruh Ela untuk membuatkan mu bubur. Lalu Aku akan menelpon dokter untuk memeriksa mu," ucap Rai menatap lembut wajah Yuna.
"Tapi aku tidak apa-apa Rai," ucap Yuna tersipu malu. Ada perasaan aneh saat Rai terus menatapnya.
"Jangan membantahku Yuna!," serunya. Apa gadis di depannya ini tidak mengerti kalau dirinya sangat mengkhawatirkannya?.
Rai langsung meninggalkan Yuna keluar dari sana. Rai segera menelepon dokter, setelahnya ia baru menyuruh Ela untuk membuatkan bubur untuk Yuna.
Sementara itu Yuna sedang menggerutu karena Rai yang sedikit membentaknya tadi. "Dasar pria menyebalkan!," umpatnya.
Lalu di saat itu juga, pintu kamar Rai kembali terbuka dan menampakkan Rai yang sedang membawakan semangkuk bubur untuk Yuna.
"Sekarang makanlah bubur ini, Aku akan menyuapi mu," ucap Rai begitu lembut.
"Tadi dia membentak ku, sekarang berbicara begitu lembut. Sebenarnya dia itu kenapa sih?!," tanyanya dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kau malah bengong Yuna, ayo buka mulut mu!."
Yuna pun membuka mulutnya, Rai menyuapinya begitu telaten hingga bubur itu pun tandas.
"Gadis pintar," ucap Rai mengusap kepala Yuna.
Dan disaat itu pintu kamar Rai ada yang mengetuk. Rai yakin itu adalah dokter yang akan memeriksa keadaan Yuna. Dengan segera pun Rai beranjak dari hadapan Yuna dan membuka pintu kamarnya.
Dan benar saja, dokter Denis lah yang datang untuk memeriksa Yuna. Dokter Denis adalah teman sekolah Rai dulu, dan dia juga adalah dokter langganan Rai.
"Siapa yang sakit Rai?," tanya dokter Denis.
"Masuklah!, Istriku tadi pingsan di dalam bathtub, dan hampir tenggelam. Cepatlah periksa bagaimana keadaannya!," perintah Rai.
Denis terkejut mendengar Rai mengatakan istri, karena ia berfikir bahwa Rai belum menikah.
"Istri?, Kau sudah menikah?, kenapa aku tidak mengetahui tentang beritanya?," tanya dokter Denis begitu penasaran.
"Jangan banyak bicara dan lakukan tugasmu!." ucap Rai menatap tajam dokter Denis.
Melihat tatapan tajam Rai, Denis pun menjadi menciut.
"Hehehe..., baiklah baiklah, jangan menatapku seperti itu. Aku akan segera memeriksa istrimu." ucap dokter Denis.
Dokter Denis segera berjalan memasuki kamar Rai, Ia pun melihat Yuna yang kini juga tengah menatapnya.
Sedangkan Denis begitu terkejut saat melihat Yuna saat ini.
"Yuna," ucap dokter Denis dalam hati.
Denis memutar ingatannya beberapa tahun yang lalu.
Sebuah ingatan yang membuatnya begitu terluka.
Denis menatap seorang gadis yang terus membuat hatinya begitu berdebar saat melihatnya. Namun sayang, Ia tidak berani untuk menyapanya. Ia hanya bisa mengamati seorang gadis cantik itu dalam diam.
Hingga suatu hari Denis pun memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Satu nama yang membuatnya begitu bahagia saat itu, yaitu Yuna.
Denis terus mengamati Yuna diam-diam, bahkan ia mengikuti Yuna seperti seorang penguntit saja. Dan setelah sekian lama, Denis tidak ingin lagi menjadi seorang penguntit untuk Yuna. Denis ingin menjadikan Yuna sebagai kekasihnya.
Namun disaat Ia akan menjadikan Yuna kekasihnya, kedua orang tuanya menelponnya dan memberitahukan bahwa perusahaan keluarganya sedang mengalami gulung tikar. Dan orang tuanya juga mengatakan padanya bahwa Ia harus menikah dengan putri dari seseorang yang akan membantu perusahaannya.
Awalnya Denis menolaknya, namun karena papanya mengancamnya akan menyakiti sang Mama. Jadi mau tidak mau Denis harus melupakan Yuna. Iapun memutuskan untuk kembali ke negaranya dan menuruti keinginan Papa nya.
Ia pun akhirnya bertunangan dengan gadis yang dipilihkan oleh Papanya. Ia juga harus pindah sekolah di negaranya. Hingga ia masuk ke universitas yang sama dengan tunangannya itu.
Namun tiba-tiba saja ia begitu terperanjat saat melihat Yuna yang ternyata juga kuliah di universitas yang sama dengannya. Namun Ia heran dengan penampilan Yuna yang berbeda jauh dengan penampilannya dulu.
Karena saat itu penampilan Yuna berubah menjadi seorang gadis yang berkacamata tebal. Namun tetap saja Denis selalu menganggap Yuna gadis yang begitu cantik di matanya.
__ADS_1
Saat itu, Ia melihat Yuna telah berbicara dengan tunangannya. Dan tanpa sengaja, tunangannya melihatnya dan memanggilnya. Tunangannya mengenalkannya pada Yuna bahwa mereka akan segera menikah.
Denis ingin sekali menghentikan ucapan tunangannya itu. Namun semua itu tak dapat ia hentikan, Yuna sudah terlanjur tahu bahwa ia sudah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan.
Setelah kejadian itu, Denis tidak lagi melihat Yuna di universitas itu lagi. Kini ternyata gadis yang begitu Ia cintai telah menjadi istri temannya sendiri.
Denis masih menatap Yuna dengan pandangan sendu.
"Denis, Apa Kau akan terus berdiri di sana dan tidak ingin memeriksa istriku!," sentak Rai saat Denis hanya terdiam disana.
"Ah, maaf Rai, Aku akan segera memeriksa istrimu," ucapnya dan segera memeriksa Yuna.
Sedangkan Yuna memalingkan wajahnya saat Denis mulai memeriksanya. Ia tidak ingin menatap mata pria yang pernah membuatnya jatuh cinta dulu.
"Bagaimana keadaan istriku Den?,dia baik-baik saja kan?," tanya Rai ingin tahu.
"Istrimu kelelahan Rai, dan tekanan darah istrimu juga rendah." jawab Denis setelah memeriksa Yuna.
"Lalu bagaimana dengan kondisi kehamilan istriku?," tanyanya kemudian.
Denis terkejut, "Yuna hamil"
"I-istrimu hamil?," tanya Denis begitu terkejut.
"Kau seorang dokter, aku pikir kau mengetahuinya," ucap Rai.
"Aku hanya dokter umum Rai, bukan dokter kandungan. Sebaiknya kamu memeriksakannya ke dokter obgyn," ucap Denis menahan sesak di dadanya.
Tidak di pungkiri bahwa perasaannya untuk Yuna masih begitu indah di hatinya. Namun Ia tidak ingin egois, Rai adalah temannya. Denis segera berpamitan pada Rai untuk kembali ke rumah sakit sebelum ia tidak dapat menguasai hatinya karena melihat Yuna disana.
"Rai, Aku sudah menulis resep vitamin untuk istrimu. Aku harus segera kembali Rai. Semoga istrimu cepat sembuh. Kalau begitu saya permisi," ucap Denis, dan segera pergi dari sana. perasaannya begitu terluka saat ini.
Setelah Denis pergi, Yuna menjadi lebih pendiam, dan itu membuat Rai mengerutkan keningnya.
"Apa kau baik-baik saja Yuna, atau ada yang sakit?," tanya Rai khawatir.
"Tidak Rai, bisakah kau meninggalkanku sendiri, aku ingin istirahat," ucap Yuna.
" Tidak, aku tidak akan pergi," ucap Rai. Iapun langsung menghampiri Yuna dan ikut naik ke atas ranjang membawa Yuna kedalam pelukannya.
Dan itu membuat Yuna terkejut, namun ia merasa nyaman saat Rai memeluknya.
***
Othor kembali di landa flu, jadi baru bisa up 🤧🤧
jangan lupa di tengokin lagi karya baru othor. Dan jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote nya 😘😘
__ADS_1