Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 109


__ADS_3

Dengan lincah Rai meracik dan mengolah bahan makanan yang ada di dapurnya. Walaupun tak selihai Maminya, Rai mengetahui bagaimana cara mengolah bahan makanan.


Setelah beberapa saat berkutat di dapur, makanan lezat yang Ia buat pun sudah matang. Rai meletakkan makanan itu di piring dan mencoba untuk menghiasnya agar terlihat lebih cantik dan menarik. Ia ingin membuat istrinya memuji hasil masakannya.


Rai kembali ke kamarnya dan akan mengajak Yuna untuk makan bersama. Namun Rai heran karena tidak mendapati Yuna di kamarnya.


Samar-samar Rai mendengar suara gemericik air dari arah bathroom. Membuat Rai yakin bahwa istrinya tengah berada di sana.


Rai mencoba untuk membuka handle pintu, dan ternyata tidak dikunci. Seketika pikiran buruk saat Yuna tenggelam di bathtub waktu itu membuatnya dengan cepat masuk kedalamnya.


Namun untuk sejurus kemudian Rai terpaku melihat pemandangan indah didepannya. Rai menelan ludahnya dengan kasar. Pemandangan itu membuat has..ratnya kembali tersulut.


Tubuh Yuna bagaikan candu untuknya. Perlahan Rai mulai mulai melepaskan pakaiannya yang melekat di tubuhnya.


Perlahan Rai mulai mendekati tubuh basah istrinya yang saat ini terkena guyuran shower. Tangannya dengan lembut memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Yuna terlonjak kaget saat merasakan sentuhan lembut di tubuhnya. Seketika Yuna langsung membalikkan badannya menatap siapa pemilik tangan yang saat ini tengah menyentuhnya.


"Rai... Apa yang Kau lakukan?," Tanyanya berdebar saat ini. Yuna menggigit bibir bawahnya saat melihat Rai yang terlihat begitu menggoda saat rambutnya yang basah membuatnya terlihat begitu tampan. Dan tubuh kekarnya?,ah Yuna sungguh tidak dapat mengendalikan dirinya saat ini. Rasanya Yuna ingin merutuki dirinya yang terpancing melihat suaminya.


Rai kembali memeluk tubuh polos Yuna, kedua tubuh polos itu pun saling menempel dan bersentuhan di bawah guyuran shower.


"Biarkan seperti ini Yuna," ucap Rai dengan suara beratnya karena berusaha menahan has..ratnya.


Setelah beberapa saat, Rai perlahan melepaskan pelukannya. "Terimakasih Yuna," ucap Rai tersenyum.


Namun Yuna kembali memeluk tubuh suaminya, dan itu membuat Rai mengerutkan keningnya.


" Aku menginginkannya Rai," ucap Yuna pelan.


Sungguh apa telinga Rai tidak salah dengar, Yuna juga menginginkannya?. Rasanya seperti menemukan sebuah oase di tengah Padang pasir yang gersang.


Rai mengangkat dagu Yuna, Ia melihat Yuna yang kini menggigit bibirnya membuatnya semakin ingin meneguk manisnya bibir istrinya.


"Aku akan melakukannya dengan pelan," bisik nya di telinga Yuna. Dan yang harusnya terjadi maka terjadilah.

__ADS_1


Setelah melakukan pergulatan panas di bathroom, mereka berdua pun segera keluar untuk menyantap masakan Rai.


"Bagaimana?, cantik bukan hasil jerih payahku?," Tanya Rai pada Yuna. Keduanya saat ini sedang duduk manis di meja makan.


Namun Yuna menundukkan kepalanya, Ia masih merasa malu karena kejadian di bathroom. Namun Rai malah gemas melihat tingkah malu-malu sang istri.


Rai semakin mendekatkan tempat duduknya dengan Yuna, lalu ia menyendokkan hasil masakannya dan menyuapkan ke arah Yuna.


"Aaaaa...," Ucap Rai menyodorkan sendoknya kepada Yuna.


Dan satu suapan itupun masuk kedalam mulut Yuna.


"Rai, ini enak sekali, rasanya sama seperti masakan Mami," ucap Yuna setelah menelan makanan dalam mulutnya.


"Kau suka?, Apa kau mau kumasukkan setiap hari?."


"Sungguh?, Tapi bukankah seharusnya Akulah yang harus memasak setiap hari untuk mu?."


"Kalau begitu kita masak bersama saja Yuna," ucap Rai.


Yuna tidak tahu mengapa ia berharap Rai mencintainya. Apa mungkin dirinya juga mulai mencintai Rai?. Entahlah, yang jelas saat bersama dengan Rai, Yuna merasakan begitu nyaman.


"Kenapa kau malah bengong Yuna?," Tanya Rai karena melihat Yuna yang malah terdiam.


"Kenapa sikapmu akhir-akhir ini sangat jauh berbeda dari sikapmu dulu Rai?," Tanya Yuna ingin tahu.


"Itu.. Aku... "


Yuna masih menunggu ucapan Rai selanjutnya, menatapnya dengan penuh harap untuk jawaban yang ingin ia dengar.


"Bukankah kita berteman Yuna?. Sebelumnya kita tidak saling mengenal, dan sekarang kita menjadi teman." Ucap Rai bingung harus menjawab apa. Ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya terhadap Yuna. Yang Rai rasakan, Rai tidak ingin kehilangan Yuna, Ia ingin selalu bisa menjaga Yuna.


Sementara itu, Yuna merasakan kecewa dengan jawaban Rai. Entah jawaban seperti apa yang ingin ia dengar. Yang jelas bukan jawaban seperti itu yang Yuna inginkan.


"Aku sudah kenyang Rai, aku akan kembali ke kamar," ucap Yuna begitu lesu.

__ADS_1


"Tapi Kau belum menghabiskan makananmu Yuna." Ucap Rai bingung melihat Yuna yang tiba-tiba tidak bersemangat.


Namun Yuna tak mengindahkan ucapan Rai, Yuna pun beranjak hendak meninggalkan Rai.


Tapi Rai segera berdiri dan meraih tangan Yuna. "Kau mau kemana?, Aku tidak ingin Kau dan anak kita sakit nantinya. Jadi ayo kita makan. Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau sangat lapar?," Ucap Rai membuat Yuna mendongak menatap wajah Rai.


Ada perasaan bahagia saat Rai mengkhawatirkan dirinya dan anak mereka. Dan saat Rai mengatakan "anak kita" ada rasa yang membuncah di hatinya.


Rai kembali mendudukkan tubuh Yuna di kursi dan Rai juga menyuapinya seperti anak kecil. Sedangkan Yuna terus saja menatap wajah Rai."


"Sebenarnya siapa yang kau cintai Rai?. Salahkah aku mengharapkan Kau mencintai ku?," Ucap Yuna dalam hati.


Setelah makanan itu tandas, Rai memberikan segelas air putih untuk Yuna.


"Yuna, Apa besok kau mau membawakan makan siang untuk ku kekantor?. Aku akan menyuruh supir untuk menjemputmu besok." Tanya Rai penuh harap.


"Tapi apa kau tidak malu kalau aku membawakan makan siang untuk mu besok Rai?."


"Kau istri ku, kenapa aku harus malu?. Besok pagi kita akan memasaknya bersama, dan siangnya Kau bisa menghangatkannya untuk ku. Bagaimana, Kau mau kan?," Tanya Rai kembali. Ia begitu bahagia saat melihat Yuna tersenyum menganggukkan kepalanya.


***


Keesokan harinya


Yuna sedang menatap dirinya di depan cermin, saat ini Ia mengenakan dress selutut berwarna putih dengan motif bunga. Dan itu membuat Yuna terlihat begitu cantik. Yuna juga menggerai rambutnya, tak lupa Ia memakai make up tipis yang membuat wajahnya terlihat cantik natural.


Yuna memang akan kekantor suaminya untuk membawakan makan siang untuknya. Yuna sengaja merubah penampilannya agar tidak mempermalukan Rai nanti.


Setelah selesai, Yuna segera menenteng bekal untuk Rai dan tidak lupa membawa tas kecilnya.


Rai juga sudah menyiapkan supir untuk menjemput Yuna.


Setelah perjalanan selama kurang lebih 30 menit, Yuna sampai di kantor Rai. Banyak karyawan yang menatap Yuna dengan pandangan yang berdecak kagum.


Yuna sungguh terlihat begitu cantik hari ini sehingga tidak ada yang mengenalinya sebagai Yuna sekertaris Rai.

__ADS_1


***


__ADS_2