
Beberapa hari kemudian
Alexa memasak begitu banyak makanan hari ini karena Raiden akan datang ke Jepang.
Raiden kesana untuk membantu Ars menghandle beberapa pekerjaannya. Karena Ars nantinya akan fokus pada project besar dengan perusahaan Amerika.
"Kak Ars, kapan Rai akan datang?, aku sudah sangat merindukannya." tanya Alexa senang. Alexa sangat merindukan sahabatnya itu.
"Kau tidak boleh merindukan Rai, kau hanya boleh merindukan ku ingat itu!," ucap Ars memperingatkan .
"Cemburu mu terlalu berlebihan kak, dia itu adikmu. Dan dia juga sahabatku sejak kecil." Alexa mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau yang marah sayang, seharusnya aku yang marah karena kau sudah berani merindukan pria lain," ucap Ars.
Saat ini mereka sedang memasak bersama dan menyiapkan hasil masakannya di meja makan.
"Terserah padamu kak Ars!." ucap Alexa meninggalkan ruang makan dengan kesal. Ia meninggalkan suaminya sendirian di sana.
"Hey sayang, tunggu aku?!," teriak Ars. Ia pun meletakkan makanan di tangannya dan berlari mengejar istrinya.
Ars melihat Alexa sedang duduk cemberut di ruang tengah. Ars pun tersenyum menghampiri istrinya dan ikut duduk di samping Alexa.
"Kenapa kak Ars mengikuti ku kesini, sana pergi!,aku sedang marah padamu!."
Alexa menggeser tubuhnya duduk menjauh dari suaminya. Tapi Ars kembali mendekatkan dirinya di sebelah Alexa dan tersenyum menatap wajah Alexa yang menurut Ars begitu menggemaskan.
"Sana, jangan dekat-dekat denganku!,aku sedang marah padamu," ucap Alexa memalingkan wajahnya dari Ars. Ia pun kembali menggeser tubuhnya menjauh dari Ars.
Namun Ars dengan cepat memegang tangan istrinya dan menarik tangan Alexa. Sehingga tubuh Alexa tertarik menimpa tubuh Ars.
"Maafkan aku sudah membuatmu marah sayang. Itu karena aku sangat mencintaimu." ucap Ars.
Kini wajah mereka begitu dekat, kata-kata Ars membuat wajah Alexa memerah. Dan Ars dapat melihat rona wajah istrinya itu. Itu sungguh membuat Ars ingin mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candu untuknya.
"Apa tanggal merah mu belum selesai?," tanya Ars.
Alexa semakin malu dengan pertanyaan suaminya. Alexa menggelengkan kepalanya, membuat Ars menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa lama sekali sayang, aku sungguh menginginkannya saat ini." ucap Ars kecewa.
"Sayang, tunggulah dua hari lagi, mungkin sudah selesai." Ucap Alexa begitu malu.
"Aku akan selalu menunggunya sayang, tapi beri aku sebuah ciuman saat ini," ucap Ars. Ia begitu bahagia mendengar Alexa memanggilnya sayang.
"Kak Ars, kenapa sekarang kau menjadi pria yang tidak tahu malu seperti ini?."
"Panggil aku sayang seperti tadi sayang. Aku tidak tahu malu hanya saat bersamamu saja sayang. Ayo cium aku sekarang?!," pinta Ars.
"Aku tidak mau sayang, aku sangat malu," ucap Alexa yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ars membuka perlahan tangan istrinya dan menaruhnya di lehernya. Ars mendekat kan wajahnya, ia melihat istrinya memejamkan matanya. Ia sudah tidak sabar untuk merasakan bibir manis Alexa.
"Aaaaaaaa!."
Alexa dan Ars terlonjak kaget mendengar suara teriakan. Alexa pun segera membenahi posisi duduknya.
"Vio,Rai," ucap Alexa begitu terkejut melihat Vio dan Raiden berada di mansionnya.
__ADS_1
Sedangkan Ars kesal karena gagal untuk mencium istrinya.
"Kalian menodai kesucian mataku ini kak," ucap Vio yang menutup matanya dengan telapak tangannya.
Dibelakang Vio ada Raiden yang sedang terkekeh melihat Alexa dan kakaknya yang sedang terciduk hendak berciuman.
"Kenapa kalian bermesraan di sini, lihatlah, ada anak kecil yang hampir melihatnya," ucap Rai tertawa.
"Dasar adik tidak ada akhlak. Kenapa kalian datang di saat yang tidak tepat, menyebalkan!," dengus Ars kesal.
"Hey kak Ars, kau seharusnya malu melakukannya di tempat terbuka seperti ini. Ini malah kesal," ucap Rai.
"Sudahlah kalian jangan berdebat!, Vio bukalah matamu." ucap Alexa.
"Cie...yang udah saling jatuh cinta cie..," goda Raiden yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ars dan Alexa.
"Diam!," bentak Ars dan Alexa.
"Kompaknya yang udah saling jatuh cinta," goda Raiden kembali.
"Kak Lexa Vio lapar," rengek Vio. Sejak tadi Vio hanya menatap perdebatan mereka dengan perut yang kelaparan.
semua pun menatap ke arah Vio dengan geleng kepala .
"Yasudah, sekarang kita makan dulu.", ucap Alexa.
" Akhirnya, aku sudah kelaparan sejak tadi kak,"
ucap Vio.
"Hey anak kecil, tadi bukannya di pesawat kau makan banyak?, bahkan kau memakan jatahku. Seharusnya yang kelaparan itu aku bukan kamu." ucap Raiden menggelengkan kepalanya.
***
"Oh ya Rai, apa kau kemari karena mau membantu Kak Ars?,karena saat ini kan kak Ars sudah tidak memiliki sekertaris, jadi mungkin kak Ars akan kewalahan dengan pekerjaannya." ucap Alexa setelah selesai makan malam.
Raiden menatap kakaknya, ia pun menganggukkan kepalanya menatap Alexa.
"Memangnya kemana sekertaris kak Ars yang bernama Mia itu?," tanya Rai mengerutkan keningnya.
"A-aku memindahkan dia ke devisi la-lain," ucap Ars tergagap. Ia tidak pernah berbohong selama ini. Dan kebohongannya saat ini akan menjadi sebuah penyesalan terbesarnya.
"Syukurlah, ular itu tidak akan mengganggu hubungan kak Ars dan kak Lexa lagi," timpal Vio yang baru menghabiskan makanan pencuci mulutnya.
"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Lebih baik kalian bersih-bersih lalu istirahat. Besok kau sudah harus membantuku di kantor Rai," ucap Ars.
"Haih... baiklah," ucap Raiden.
"Tapi sayang, kalau Rai masih lelah, aku akan membantumu di kantor. Lagipula kan aku juga bisa membantu mu." tawar Alexa.
Ars menatap lembut sang istri. "tidak usah sayang, aku tidak ingin kau kecapekan nanti. Aku tidak ingin kau melakukan pekerjaan apapun." ucap Ars tersenyum.
"Tapi nanti aku pasti akan merasa bosan sayang," ucap manja Alexa. Pemandangan itu membuat Raiden dan Vio jengah.
"Kau tidak akan bosan sayang, bukankah ada Vio disini?,kau tidak akan kesepian," ucap Ars.
"Iya kak Lexa, Vio kan disini. Vio akan menemani kak Lexa kemanapun kak Lexa pergi," ucap Vio.
__ADS_1
"Anak kecil, kau nanti pasti hanya akan merepotkan Lexa saja."
"Kak Rai!,jangan panggil Vio anak kecil terus. Vio sudah besar, usia Vio kan sudah 19 tahun. Jadi jangan pernah memanggil ku anak kecil lagi!," ucap Vio mengerucutkan bibirnya.
Raiden memang senang menggoda Vio. Sejak dulu ia menginginkan saudara perempuan. Namun ia dua bersaudara, dan itu laki-laki. Jadi Rai sudah menganggap Vio seperti seorang adik baginya.
"Dih mulutnya kayak bebek, iya deh kak Rai tidak akan memanggilmu anak kecil lagi," ucap Rai membuat Vio menyunggingkan senyumnya.
"Nah, gitu dong kak"
"Tapi kak Rai mau memanggil mu bocah," ucapnya terbahak-bahak sambil berlari menuju kamar atas.
"Kak Rai!!" Vio pun mengejar Rai karena terus saja membuatnya kesal.
"Sayang, sepertinya mansion kita akan bertambah ramai nanti," ucap Ars diangguki oleh Alexa.
***
"Sayang, aku dan Rai berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Kalau mau kemana-mana ajak Vio untuk menemanimu," ucap Ars seraya mengecup kening Alexa.
"Tenang saja kak Ars, Vio akan menjaga kak Lexa nanti," ucap Vio.
"Paling juga Alexa nanti yang akan menjaga bocah seperti mu," goda Raiden.
"Kak Rai!, diamlah!,kau sungguh menyebalkan!"
"Sudah kalian jangan berdebat terus, sana cepat berangkat sayang. Atau kalau tidak , mereka akan membuat kepalaku pusing," ucap Alexa memutar bola matanya.
"Yasudah, dah sayang."
"Dah sayang, hati-hati di jalan!," teriak Alexa saat mobil suaminya hendak meninggalkan halaman mansionnya.
"Wah kak Lexa, kau sangat beruntung, sepertinya kak Ars begitu mencintaimu. Dan sekarang sudah tidak ada wanita ular itu lagi. Selamat ya kak, semoga kalian bisa cepat punya dedek bayi," ucap Vio. Kini ia sedang membayangkan Alexa memiliki anak kembar yang lucu.
***
Sampai di kantor, Ars langsung menyuruh Rai untuk menghandle pekerjaannya yang tertunda.
Ars meminta Rai untuk pergi ke perusahaan Kimura Corp untuk membahas tentang pekerjaannya yang tertunda beberapa hari ini.
Namun saat sedang memahami tentang berkas-berkas kerjasama tersebut, Raiden terkejut saat melihat Mia yang sedang membawa tumpukan berkas.
"Mia, kau masih disini?, bukankah kau di pindahkan ke devisi lain oleh kak Ars?," tanya Rai.
"Ah, Rai, tolong jangan katakan ini pada Alexa. Saat ini aku masih membutuhkan bantuan Mia untuk membantu ku menangani proyek besar dengan perusahaan Giant Corp. Karena hanya Mia yang mengetahui seluk beluknya." ucap Raiden memohon.
"Tapi kenapa kau harus berbohong kepada Lexa kak. Apa kau tidak memikirkan perasaannya nanti bila ia tahu kau berbohong padanya?!."
"Aku janji Rai akan menyelesaikan kerjasama ini dengan cepat, proyek ini begitu penting, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan kerjasama dengan perusahaan tersebut. Dan ini kesempatan ku untuk membuktikan kepada Papa mertua bahwa aku bisa membahagiakan putrinya kelak. Aku yakin, bila ia tahu aku bisa berhasil bekerja sama dengan perusahaan itu, pasti Papa tidak akan ragu lagi untuk menyerahkan Alexa kepadaku," ucap Ars menjelaskan.
Sedangkan Mia yang mendengar ucapan Ars begitu cemburu kepada Alexa. Ia berfikir bahwa dirinya sudah lebih dulu mencintai Ars sejak masih kuliah dulu. Namun malah Alexa yang mendapat cinta Ars.
"Tapi saran ku, lebih baik kak Ars menceritakan semuanya kepada Alexa."
"Tidak Rai, aku tidak ingin membuat Lexa terluka nanti. Karena ia mengira bahwa Mia menyukaiku. Pasti dia tidak akan setuju nanti. Jadi kumohon jangan memberitahu Lexa. Aku janji akan menyelesaikannya lebih cepat," ucap Ars kembali memohon.
"Terserah kak Ars sajalah," ucap Raiden. Ia pun langsung meninggalkan ruangan Ars.
__ADS_1
"Semoga semua akan baik-baik saja nantinya," ucap Rai dalam hati.
****