
Beberapa hari setelahnya setiap pulang dari kantor, Nani selalu pulang terlambat. Dan itu membuat Alex berfikir kalau Nani pergi dengan seorang pria.
Alex sampai di mansionnya pukul 8 malam,dia melihat kamar Nani masih gelap. Itu pertanda bahwa istrinya belum kembali.
"Kemana lagi dia, kenapa sudah jam segini belum pulang. Bukankah tadi Nani pulang lebih awal?," ucap Alex bertanya-tanya.
"Aku pulang" ucap Nani dari arah pintu depan.Kini ia berjalan menuju kamarnya dengan menaiki anak tangga.
Pandangannya teralihkan saat Nani melihat selulit tubuh suaminya yang tengah berdiri bersedekap sambil menatapnya tajam di depan pintu kamarnya.
"Lex, kenapa kau disini?," tanya Nani.
"Darimana saja kamu Na?, kenapa semakin hari kau semakin tidak sadar dengan statusmu yang menjadi seorang istri?!. Kau lihat jam berapa sekarang, kemana lagi kau keluyuran hari ini?!," ucap Alex dengan menaikan oktafnya.
Nani terkejut sekaligus merasa sesak mendengar ucapan suaminya. Baru kali ini Alex membentaknya dan berkata layaknya seorang suami yang sedang menghakimi seorang istri yang berbuat salah.
Padahal kenyataannya selama ini Alex tak pernah menganggapnya sebagai istrinya. Sikapnya yang selalu acuh membuat Nani seakan ingin menyerah saja.
Sudah 7 bulan lamanya mereka menikah. Bukan hanya sekali dua kali Nani selalu mendekati sang suami, namun Alex sendirilah yang selalu menghindarinya dan bersikap acuh padanya.
Bahkan tidak ada yang tahu mereka adalah pasangan suami istri selain Ajeng dan keluarganya. Karena di kantornya Alex tidak pernah memperkenalkan Nani sebagai istrinya. Para karyawan tahunya Nani hanyalah sekertaris Alex.
Nani masih sabar dengan semua itu, dia terus mendekati suaminya. Hingga akhirnya perlahan Nani mulai lelah untuk berjuang sendirian. Ia pun hanya wanita biasa, yang juga ingin diperjuangkan oleh suaminya. Namun Alex tidak pernah sekalipun melihatnya.
Nani menitihkan air matanya mendengar ucapan suaminya. Ia sejenak memejamkan matanya, meredakan rasa sakit atas ucapan sang suami.
"Istri?, kau bertanya tentang status ku?. Sekarang aku bertanya padamu, apakah kau melakukan tugasmu sebagai seorang suami?. Kau selalu bersikap acuh padaku, apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan ku selama ini?!, tidak kan?. Apa kau pernah menganggapmku sebagai istrimu?, bukankah kau menikahiku hanya karena memenuhi janjimu pada seseorang?!.?
Nani memijit keningnya, berharap emosinya bisa teredam.
Alex hanya bisa membisu mendengar perkataan Nani yang memang ia benarkan. Selama ini Alex memang menghindari istrinya. Alasannya karena Alex tidak ingin Nani terluka. Karena dia tidak mencintai Nani.
__ADS_1
Alex berfikir Nani pantas mendapatkan pria lain yang lebih mencintainya. Sebenarnya Alex berencana ingin melepaskan Nani dalam waktu dekat. Karena cinta itu belum tumbuh dihatinya.
Soal janjinya kepada Ars yang akan melindungi Nani tetap akan ia lakukan. Namun tidak dengan membuat Nani terjebak dalam pernikahan tanpa cinta seperti sekarang ini. Alex ingin Nani mendapatkan kebahagiaannya.
Tapi entah mengapa, setelah perubahan sikap Nani Tempo hari membuatnya merasa kecewa. Biasanya Nani yang selalu berinisiatif untuk mendekatinya kini malah bersikap sedikit acuh padanya. Dan itu membuat hatinya bergemuruh karenanya.
" Sudahlah Lex, aku lelah ingin istirahat. Kau juga istirahatlah!,lupakan semua pembicaraan ini. Oh ya, aku pulang terlambat karena aku dan Ajeng sedang mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun untuk Ars. Tapi Bukankah alasan ku ini tidak penting untukmu?,"ucap Nani dan langsung masuk kedalam kamarnya dan menguncinya. Tubuhnya merosot dibalik pintu kamarnya, ia menangisi kebodohannya yang waktu itu mengira Alex menikahinya karena Alex mencintainya.
Sedangkan Alex masih mematung di sana. Ia bingung dengan perasaan hatinya. Bukankah ia tidak mencintai Nani?, bukankah ia akan melepaskan istrinya itu?.Tapi perasaan apa ini?, Alex benar-benar tidak mengerti dengan keadaan ini.
" Aku harus lebih menghindarinya, dan aku tidak akan peduli lagi dengan apa yang dia lakukan. Dengan begitu aku tidak akan membuatnya terluka dan menangis seperti ini lagi, "ucap Alex yakin.
Keesokan harinya semua kembali seperti biasanya.Namun Alex menjadi lebih cuek dan dingin terhadap Nani. Dan itu membuat Nani benar-benar merasa kecewa.
Siang ini Nani makan siang sendiri di restoran depan kantor. Tanpa sengaja ia melihat Alex sedang berbincang dengan koleganya. Dan koleganya adalah seorang wanita. Dan Alex bisa tertawa selepas itu saat berbincang dengannya.
Sedangkan Nani yang melihatnya ,jangan ditanya lagi. Nani pasti merasa cemburu dengan pandangan yang ia lihat saat ini.
Nani hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya. Karena ***** makannya hilang seketika melihat pemandangan didepannya itu.
Nani memang tidak ikut makan siang Alex, karena saat koleganya mengajaknya juga,Nani menolaknya. Jadi hanya Alex dan koleganya saja yang makan siang bersama.
Namun Nani tidak berfikir kalau mereka juga akan makan siang di restoran depan kantor.
"Selamat siang Nona, apakah saya boleh duduk di kursi ini?," ucap seseorang.
Nani yang sedari tadi fokus mengaduk-aduk makanannya sambil menggerutu kesal pun mendongak melihat siapa orang itu.
"Ken?," ucap Nani dengan sudut bibir yang terangkat.
"Ya tepat sekali."
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa ada di tempat ini?, apa yang kau lakukan di sini?. Bukankah hari ini tidak ada jadwal meeting dengan perusahaan mu?," tanya Nani.
"Apa kalau aku kemari karena aku merindukan seorang teman?."
"Oh ya mana temanmu yang kau rindukan itu?," ucap Nani tersenyum menggoda Ken.
"Mana ya?. Sepertinya dia sedang duduk dan hanya mengaduk-aduk makanannya saja sambil menggerutu," goda Ken.
"Apa kau menyindirku," ucap Nani pura-pura cemberut.
"Apa aku mengatakan bahwa kau adalah teman yang ku maksud Nona?," ucap Ken mengedipkan matanya.
"Aaahhh Ken... berhentilah menggodaku, bilang saja kalau kau merindukan temanmu yang cantik dan imut ini," ucap Nani terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Kau terlalu percaya diri Nona."
"Tentu saja, kalau tidak bagaimana kau bisa merindukanku?"
"Terserah kau saja Nana, aku lapar mau makan dulu. Supaya nanti bisa membalas semua omonganmu itu," ucap Ken. Karena pelayan baru saja mengantarkan pesanannya.
"Ok, kalau begitu aku juga akan makan, agar aku juga bisa membalas mu," ucap Nani kemudian menyendokkan makanan ke mulutnya.
Tanpa mereka sadari sejak tadi Alex selalu memperhatikan mereka. Ia mengepalkan tangannya melihat interaksi antara istrinya dengan pria yang saat ini terlihat memunggunginya.
"Siapa pria itu, kenapa mereka begitu dekat?, apa hubungan mereka sebenarnya?. Dan sial!, kenapa istriku bisa tertawa selepas itu?!," ucapnya dengan perasaan yang terasa menjadi porak poranda.
Setelah makan siang, Alex kembali ke kantornya. Sedangkan Nani kini melambaikan tangannya kepada Ken.Karena Ken pun juga harus kembali ke kantornya.
Nani pun melangkah menuju kantor.
bersambung.....
__ADS_1
**********