Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 98


__ADS_3

Raiden mengerutkan keningnya saat Yuna menghentikannya untuk berjalan mendekati Yuna.


"Ada apa?," tanya Raiden bingung dengan sikap Yuna saat ini.


"Kenapa kau tidak mengenakan baju?." ucap Yuna. Dan itu membuat Raiden mengerti kenapa Yuna menundukkan kepalanya.


Sebuah senyum seringai tipis timbul dari sudut bibir Raiden. Lalu ia pun kembali melangkahkan kakinya mendekati Yuna.


Yuna sontak membelalakkan matanya saat melihat tubuh Raiden yang semakin dekat dengannya. Yuna pun mulai memundurkan tubuhnya hendak mengindari Raiden.


Namun dengan cepat Rai tiba-tiba merengkuh pinggang Yuna, hingga membuat Yuna terlonjak kaget dan menatap wajah Rai.


"Kenapa kau tidak memandang wajah ku ketika aku berbicara denganmu?." Ucap Raiden tersenyum tipis. Membuat jantung Yuna semakin berdebar kencang.


Wajahnya dan Rai kini begitu dekat, hingga pipinya bersemu merah seperti tomat saat ini.


Bukan hanya itu, dada telanjang Rai yang menempel di tubuhnya, semakin membuat Yuna benar-benar ingin pingsan saat ini juga.


"Rai, menjauh lah dari ku," ucap Yuna sedikit mendorong tubuh Rai. Yuna juga memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kenapa kau begitu menggemaskan Yuna?. Apa kau tidak pernah melihat pria yang bertelanjang dada. Dan bukankah kau juga sudah menikmati tubuh telanjang ku ini. Bahkan Kau juga sudah melihat keseluruhan tubuh ku ini," ucap Rai berbisik di telinga Yuna. Ia bermaksud menggoda Yuna.


"Diamlah Rai!, Aku tidak ingin mendengarnya. Sekarang pergilah, Aku kelaparan!," ucap Yuna memohon.


Namun entah kenapa pandangan Rai sedari tadi terus tertuju pada bibir merah istrinya itu.


Rai tidak mendengarkan ucapan Yuna yang menyuruhnya untuk pergi melepaskannya. Rai justru semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya.


"Apa yang akan kau lakukan Rai?," tanya Yuna gugup saat suaminya semakin mendekatkan wajahnya.


Dan tanpa babibu Raiden langsung ******* bibir merah Yuna. Semua itu membuat Yuna terkejut dan terpaku.


Yuna menepuk-nepuk dada Raiden agar suaminya itu melepaskannya. namun entah mengapa Raiden tidak ingin melepaskan ciumannya itu.


Bibir Yuna seakan bagai kan magnet yang membuatnya tidak ingin melepaskannya.


Yoona mendorong kuat tubuh Raiden sehingga ciuman itu pun terlepas.


Yoona mengambil nafas dalam-dalam, karena dari tadi dirinya menahan nafasnya saat suaminya menciumnya tiba-tiba.

__ADS_1


Sedangkan Raiden ia sendiri tidak mengerti mengapa dia bisa sampai mencium Yoona dan tidak ingin melepaskannya.


Raut wajah marah terpampang jelas di wajah Yoona. Raiden berbuat sesuka hatinya, dan itu melanggar perjanjian yang mereka buat.


"Rai!, Apa yang kau lakukan! kenapa kau menciumku tiba-tiba?!. Dasar laki-laki brengsek!!," ucap Yuna bersungut-sungut.


Sedangkan Raiden hanya tersenyum melihat Yuna yang marah kepadanya. "Maaf, aku tidak sengaja," ucap Raiden santai, Ia pun segera mengambil air putih hangat dan meminumnya hingga tandas. Lalu ia pun segera meninggalkan dapur tanpa menghiraukan Yuna yang sedari tadi menatapnya dengan marah.


Sebuah senyum tipis menghiasi bibir Raiden saat ini.


Dia seperti memiliki mainan baru saat ini.


"Dasar pria mesum!!!," umpat Yuna setelah Raiden pergi.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Raiden kembali menghampiri sang istri ke ruang makan.


"Mana sarapanku?," Tanya Raiden kepada Yuna yang masih asyik dengan makanannya.


Bila hanya diam saja dan masih asyik dengan makanannya, dia masih kesal dengan sikap Raiden yang tiba-tiba menciumnya.


"Hei apa kau tuli!," Ucap Raiden kembali, karena sedari tadi Yuna tidak menanggapi ucapannya.


Raiden pun langsung duduk di samping Yuna dan merebut makanan Yuna.


Seketika itu Yuna ingin mengambil makanannya kembali, tapi Ia urungkan kala mengingat sendok yang Ia gunakan sudah di pakai Rai untuk menyendokkan makanan ke mulutnya.


Raiden tersenyum menatap Yuna dengan mulut yang penuh dengan nasi goreng.


"Nanti siang bersiap-siaplah untuk ke mansion utama. Mami dan Papi mengundang kita untuk makan siang di sana. Kak Ars dan Alexa juga ada di sana."


"Baiklah,"ucap Yoona dan hendak beranjak dari meja makan. Tapi Raiden menghentikannya.


"Tunggu, Kau mau ke mana? "


"Aku mau mandi, ada apa lagi?." Ujar Yuna mengernyitkan keningnya.


"Aku belum selesai bicara denganmu, tunggulah dulu!. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Rai.


Yuna pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mandi dan kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


Raiden segera menghabiskan makanannya dan meneguk air putih milik Yuna.


Sedangkan Yuna terus saja memperhatikan Rai saat dengan lahapnya memakan sisa nasi gorengnya dan meneguk air putih dari gelas bahkan piring yang sama dengannya.


"Apa kau tidak jijik makan dari piring dan gelas yang sama dengan ku. Bahkan itu sisa nasi goreng ku,"ucap Yuna saat Rai menandaskan minumannya.


Rai menoleh ke arah wanita yang berstatus istrinya saat ini. Entah mengapa dia tidak merasa jijik dengan yang ia lakukan saat ini. Justru ia merasa biasa saja. Berbeda jauh saat dulu, Rai begitu membenci Yuna.


"Kau istriku sekarang, jadi aku tidak akan merasa jijik dengan semua itu." Ucap Raiden.


Yuna hanya menganggukkan kepalanya. " Lalu apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?."


"Aku ingin membicarakan tentang pernikahan kita" Rai menghela nafasnya sejenak. " Kau tahu kan kalau kita tidak saling mencintai. Kita menikah karena sebuah kesalahan. Tapi kau tenang saja, aku mengakui janin dalam kandungan mu itu adalah anakku. Jadi aku akan menyayanginya juga nantinya."


"Yuna, Aku ingin mengatakan kalau aku menyukai wanita lain. Dan aku mau nanti setelah ah anak kita lahir kita akan bercerai. Aku akan tetap menyayangi anak kita nantinya, tapi aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita karena aku tidak mencintaimu." Ucap Rai seraya menatap gurat wajah istrinya saat ini.


Mendengar ucapan Rai, Yuna terdiam menatap Rai. Hatinya begitu nyeri mendengar perkataan suaminya itu.


Bukan karena dia mencintai Rai, tapi karena Yuna memikirkan impiannya yang hanya ingin menikah satu kali. Namun iya harus mengubur impiannya saat ini juga saat mendengarkan ucapan Rai barusan. Karena Yoona pun juga tidak mencintai Rai.


"Baiklah , aku menyetujuinya. Tapi aku ingin hak asuh atas anak kita jatuh padaku. Dan walaupun nanti kita bercerai aku juga tidak akan melarangmu untuk menemui anak kita." Ucap Yuna menyetujui suaminya.


"Baiklah, tapi aku ingin selama kita menikah setidaknya kita bisa berteman, bagaimana?." Ujar Rai kepada Yuna.


Yoona terdiam memikirkan ucapan Rai. Lalu ia pun tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.


***


Sedangkan saat ini Kai tengah mengajak Vio untuk berkeliling kota London.


Vio pun menyetujuinya, dalam hati iya sungguh sangat senang dan girang karena Kai mengajaknya.


Vio mematut dirinya di depan cermin dan mencoba semua pakaian yang ada di lemari miliknya. Tapi semua pakaiannya seakan tidak ada yang pas untuknya.


"Kenapa semuanya tidak ada yang pas untukku?. Sepertinya nya Aku harus meminjam baju milik kak Lexa," ucapnya ada dirinya sendiri.


***


happy reading...

__ADS_1


😘😘😘😘😘


__ADS_2