Putraku Adalah Mr. Zero

Putraku Adalah Mr. Zero
PAMZ 51


__ADS_3

Nani segera mengemasi semua barang-barangnya. Namun saat membuka pintu hotel, Ken berada tepat didepan pintu itu.


"Ken.."


"Baru saja aku akan menghubungimu, semua urusanku telah selesai. Jadi aku bisa menemanimu liburan Na," ucap Ken. Namun Ken mengerutkan keningnya saat melihat Nani membawa kopernya.


"Maaf Ken, tapi aku harus pulang saat ini juga."


"Tapi bukannya kita baru satu hari disini, kau sudah mau pulang?. Serindu itukah kau dengan suamimu?," goda Ken.


"Ken, ini bukan waktunya membahas suamiku. Ini masalah penting antara hidup dan mati seseorang. Dan aku harus cepat," ucap Nani.


"Maksudnya?"


"Nanti ku jelaskan di mobil, ayolah kita harus cepat," ucap Nani menarik tangan Ken.


Ken hanya bisa menuruti Nani. Sampai di mobil Ken, Nani menceritakan semuanya pada Ken. Ken terkejut, ia segera menghubungi nomor Jonathan, tapi nomornya selalu sibuk.


"Nomor Jo tidak bisa dihubungi Na," ucap Ken seraya menyetir.


"Aku akan menghubungi Ajeng," ucap Nani lalu ia pun segera menghubungi Ajeng.


"Halo Je, kamu dimana?"


".................."


"Aku ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin ku bicarakan padamu."


"....................."


"Apa?, hari ini kau mau menjemput pamanmu ke bandara?. Jangan Je!."


"...................."


"Tapi Je, dia itu..."


tut...tut....


"Halo Je.. halo...."


"Bagaimana," tanya Ken.


" telponnya terputus Ken, nomor Ajeng sudah tidak bisa dihubungi lagi,"ucap Nani cemas.


"Kalau begitu kita harus cepat, kita naik jet pribadi miliku, itu akan mempercepat kita."


Nani mengangguk setuju.


tak membutuhkan waktu lama, mereka kini sudah menaiki jet pribadi milik Ken. Nani terus berdoa untuk keselamatan Ars. Dia sudah menganggap Ars seperti putranya sendiri.


"Ken, aku takut terjadi apa-apa dengan Ars. Aku tidak bisa membayangkan bila itu terjadi," ucap Nani sangat cemas.


Kini jet pribadi milik Ken telah sampai di bandara tempat Ajeng menjemput kedua pamannya.

__ADS_1


Nani segera turun dari sana dan mencari keberadaan Ajeng dan Ars. Sedangkan Ken mengikuti Nani di belakangnya.


Di tempat lain, Alex sedang menuju bandara untuk mengantarkan dompet Ajeng yang ketinggalan di kantor. Alex kembali kekantor karena ada rapat penting. Ia pun menemukan dompet Ajeng yang tertinggal di ruangannya tadi. Alex mengantar ke mansion Ajeng, namun pelayan mengatakan bahwa Ajeng sedang menuju bandara. Ia pun akhirnya menyusul Ajeng ke bandara.


"Ars, kemana dompet Mami, tadi Mami menaruhnya di tas, tapi kenapa tidak ada?," ucap Nani mengacak isi tasnya. Ia hendak membelikan ice cream untuk Ars.


"Mungkin Mami lupa menaruhnya, apa mungkin ketinggalan di mobil Mam?"


"Dompet Anda ada padaku Nona," ucap Alex yang baru datang.


"Alex"


Alex pun memberikan dompet Ajeng. "Terimakasih Lex, Untung kau datang membawa dompet ku,kalau tidak bagaimana aku akan membayar ice cream ini," ucap Ajeng lega.


"Sama-sama Nona."


"Ajeng...," teriak Nani.


Ajeng dan Ars menoleh kearah Nani yang berlari menghampirinya,tak terkecuali Alex.


Alex mengepalkan tangannya saat melihat Ken berada di belakang Nani.


"Je, ada yang harus ku bicarakan denganmu," ucap Nani dengan nafas terengah-engah.


Namun saat Nani akan berbicara lagi, Alex menarik tangannya dan membawanya sedikit menjauh.


"Alex lepaskan!."


"Apa yang kau lakukan dengan pria itu?!,Kau mempunyai suami. Dan kau malah pergi bersama pria lain. Apa kau mau menjadi seorang ******?!!."


Nani terkejut dengan ucapan Alex, hatinya benar-benar hancur. Suaminya sendiri telah menghinanya sedalam ini. Air matanya luruh membasahi pipinya.


"Apa aku serendah itu di matamu Lex?!. Lalu kenapa kau menikahi ****** sepertiku?!!, kenapa Lex... kenapa???!!!." Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping saat ini,Nani pun menangis tergugu.


Alex tak dapat menjawab pertanyaan Nani, kecemburuan membuatnya menyakiti hati istrinya. Hingga membuat hati istrinya terluka begitu dalam.


Namun saat Nani hendak menatap Alex, tak sengaja ia melihat seseorang yang bersembunyi mengarahkan senjata api kearah Ars. Dan itu membuat Nani menjadi panik. Dia melupakan tujuannya datang kemari.


Nani melihat pria itu tengah menarik pelatuk senjata tersebut dan akan menembakkannya pada Ars. Nani segera berlari kearah Ars berharap peluru itu tidak mengenai Ars.


Alex tidak mengerti kenapa Nani bergegas berlari menuju Ars. Sedangkan Ajeng dan Ken juga menatap heran kepada Nani.


"Ars awas!!!!," teriak Nani.


Alex terkejut mendengar teriakan Nani.


Nani segera mendorong Ars hingga membuat Ars terjatuh. Dan perlu itu malah menembus tubuh Nani, hingga membuat Nani tumbang seketika.


Ken dan Ajeng terkejut, tak terkecuali Alex dan Ars. Karena Nani tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Tembakan itu tanpa suara, sehingga orang-orang yang berlalu lalang di sana tak menyadarinya.


Alex melihat seorang pria misterius berlari, Alex yakin pria itu yang menembak Nani. Ia berniat mengejar pria misterius itu, namun Nani lebih membutuhkannya saat ini.


Alex berlari menuju tubuh Nani yang tergeletak. Ia menopang tubuh Nani ke pangkuannya.

__ADS_1


"Nani,tolong bangun... ambulans... cepat hubungi ambulans..!!!," teriak Alex.


Tubuhnya bergetar melihat sang istri terkapar tak berdaya.


"Aunty..."


"Nani...."


"Nana..."


Teriak ketiganya membuat orang-orang berkerumun di sana. salah seorang dari orang-orang itu pun segera memanggil ambulans kesana.


"Na, kumohon bangunlah, jangan tinggalkan aku," ucap Alex menitihkan air matanya.


Beberapa saat kemudian ambulans datang. Nani pun segera dibawa ke rumah sakit kota.


Sesampainya di rumah sakit, Nani segera ditangani oleh para dokter.


"Siapkan ruang operasi!," ucap dokter.


"Baik dok," ucap beberapa perawat.


Dokter kini telah mengoperasi Nani untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepalanya. Ya, peluru itu telah mengenai kepala bagian belakang Nani.


Ajeng menangis tersedu-sedu, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan sahabatnya. Ia memeluk Ars yang kini juga sesenggukan.


Sedangkan Alex, ia benar-benar menyesal dengan semua ucapannya terhadap istrinya. Perasaan bersalah, cemas dan takut kehilangan bersatu dalam dirinya. Membuatnya menitihkan air matanya.


"Tetaplah bersamaku Na, jangan tinggalkan aku," ucap Alex. " Tuhan, tolong selamatkan istriku, aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku akan memperbaiki kesalahanku padanya."


Alex tak berhenti berdoa sedari tadi.


Ken pun tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Nani. Walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia tetap ingin melihat Nani bahagia. Ken tahu bahwa sebenarnya Nani dan Alex saling mencintai. Terbukti dari kecemasan Alex hingga membuat Alex menangis. Ia turut berdoa untuk kesembuhan Nani.


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang operasi.


"Keluarga pasien?,"


"Saya suaminya dok," ucap Alex segera menghampiri dokter.


"Pasien kehilangan banyak darah, kita harus mencari golongan darah A+ ,karena persediaan bank darah telah habis untuk golongan darah tersebut," ucap dokter.


"Ambil darah saya dok, darah saya sama dengan istri saya. Ambil sebanyak mungkin untuk menyelamatkan nyawa istri saya dok," ucap Alex.


"Baiklah kalau begitu mari ikuti saya Tuan."


***********


Maaf baru up gengks, karena kesibukan real live author membuat author belum bisa up.๐Ÿ™


Happy reading all๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa mampir di novel author yang berjudul "mencintai tanpa dicintai" yang sudah end. Terimakasih sudah membaca novel author๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2