
"Sayang, aku mau menjenguk Nani, mungkin bersama Ars. Karena semalam Ars bersikeras ingin ikut," ucap Nani. Tangannya dengan lincah memakaikan dasi untuk suaminya.
Jonathan ingin melarangnya, tapi dia tahu sekali jika istrinya itu pasti tidak akan menurutinya. Karena Nani adalah sahabat Ajeng.
Dia sangat khawatir dengan keselamatan istri dan putranya. Penuturan Ken waktu itu membuatnya ketar-ketir untuk mengizinkan istri dan putranya pergi kemanapun.
"Tapi sayang, bukankah sahabatmu itu sudah ada suami yang memunggunginya?.Kita jenguk dia nanti kalau dia sudah pulang ke mansionnya saja," ucap Jonathan.
"Tidak, Nani sahabatku, aku tidak bisa membiarkannya sendirian saat dirinya sedang kesusahan. Lagipula Nani terluka karena ingin menyelamatkan nyawa putra kita."
Jonathan ingin sekali mengatakan tentang kebenarannya kepada istrinya itu. Tapi ia takut istrinya tidak akan mempercayainya.Karena Ajeng sangat senang menemukan keluarganya yang telah lama hilang. Jonathan hanya bisa meningkatkan pengamanan untuk istri dan anaknya.
Tapi saat ini istrinya merengek minta keluar dari rumah untuk menjenguk Nani di rumah sakit. Jonathan takut pamannya akan melukainya dan putranya lagi. Mengingat waktu itu orang-orangnya bisa kecolongan melindungi keluarganya. Putranya hampir saja tertembak. Kalau saja tidak ada Nani, entah apa yang akan terjadi, Jonathan tidak bisa membayangkannya.
"Baiklah aku mengizinkannya, tapi aku akan ikut dengan kalian," ucap Jonathan. Dia akan mengesampingkan pekerjaannya demi melindungi keluarganya.
"Kau mau ikut?"
"Ya, aku tidak akan membiarkan kau yang keras kepala ini dalam bahaya," ucap Jonathan.
"Terimakasih karena telah selalu melindungi ku sayang," ucap Ajeng memeluk suaminya.
******
Sampai di rumah sakit, Ajeng, Ars menuju ke kamar rawat Nani, sedangkan Jonathan menunggu diluar. Ia ingin mengawasi keadaan diluar.
Pagi tadi Alex telah memberi kabar kepada Ajeng bahwa Nani telah sadar.Ajeng begitu senang mendengarnya.
"Na, syukurlah kau sudah sadar, aku sungguh sangat menghawatirkan mu," ucap Ajeng, kini ia memeluk sahabatnya.
"Iya Aunty, Ars juga sangat menghawatirkan Aunty," ucap Ars menimpali.
"Siapa kalian?," ucap Nani. Nani berpura-pura tidak mengenali Ajeng dan Ars. "Maafkan aku Je, aku harus berpura-pura tidak mengenalmu untuk memberikan pelajaran kepada suamiku yang bodoh ini," batin Nani.
"Apa yang terjadi Lex, kenapa Nani tidak mengenali kami," tanya Ajeng syok.
"Nani mengalami amnesia Nona," ucap Alex menundukkan kepalanya.
"Apa?!"
__ADS_1
Ajeng menatap sahabatnya, ia pun memeluk Nani.
"Paman sebaiknya kita tinggalkan Mami dan Aunty dulu," ucap Ars dan diangguki oleh Alex.
Saat Alex dan Ars keluar dari ruangan itu, ia bertemu dengan Jonathan yang menunggu di luar.
"Papi, Ars ingin ice cream, bolehkah Ars membelinya bersama Paman Alex?," tanya Ars.
"Tidak, kalian tidak boleh keluar dari rumah sakit ini," tolak Jonathan.
"Kami akan membelinya di kantin Tuan, karena disana juga ada ice cream," ucap Jonathan.
Jonathan berfikir sejenak, lalu ia mengizinkannya.
"Paman, mereka sudah bergerak cepat. Kita harus lebih waspada lagi. Kalau bukan karena Aunty Nani, mungkin aku sudah tertembak."
"Jadi semua itu ulah mereka?, aku tidak akan mengampuni mereka, walaupun mereka adalah kedua Kakek mu Ars," ucap Alex mengepalkan tangannya.
"Mereka bukanlah Kakek ku Paman, darah keluarga Anthony tidak ada dalam tubuh mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang tamak. Mereka yang telah membunuh Kakek kandungku Paman," ucap Ars.
"Kalau begitu aku akan menyuruh beberapa pasukan khusus untuk berjaga Ars."
"Ya ,Paman. Aku sudah mendapatkan informasi bahwa mereka akan bergerak besok. Kita akan mempersiapkan semuanya," ucap Ars. Alex mengangguk setuju.
Ajeng mendukung sahabatnya itu mengenai Rencananya untuk menghukum suaminya itu.
"Bagus Na, aku akan selalu mendukungmu. Suamimu itu harus merasakan hukumanmu," ucap Ajeng terkekeh.
"Ya kau benar Je," ucap Nani ikut tertawa. Nani pun mengingat tujuannya pulang dari liburannya waktu itu. Ia hendak menceritakan semua yang ia ketahui kepada Ajeng.
Namun saat ia hendak mengatakannya,Pitu pun terbuka.
"Selamat pagi cantik, kau sudah sadar?. Kau begitu membuatku ketakutan waktu itu," ucap Ken yang baru datang. Ia membawa satu ikat bunga untuk Nani.
"Ken, aku tidak apa-apa. Kau lihat kan?."
"Jangan pernah membuat semua orang ketakutan lagi Nana."
",Baiklah Ken."
__ADS_1
Nani dan Ajeng pun menceritakan tentang rencananya untuk mengerjai Alex. Ken menyetujuinya.
"Baiklah aku juga akan membantumu cantik. Aku akan membuat suamimu itu mengucapkan kata cinta untukmu," ucap Ken.
Sebenarnya ia merasa dadanya sesak. Namun ia tidak mau bila cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia ingin membuat orang yang ia cintai merasa bahagia. Sebisa mungkin Ken akan membantu Nani.
"Benarkah?, terimakasih Ken," ucap Nani senang.
Ajeng yang melihat Ken selalu menatap sahabatnya tahu bila Ken menaruh hati pada sahabatnya. Tapi dia yakin bila Ken tidak akan melewati batasannya.
Cklek... pintu ruangan itu kembali terbuka. Kini Alex dan Ars lah yang muncul dari balik pintu tersebut.
Alex tidak suka melihat Ken menjenguk istrinya. Tapi ia menahannya karena tidak ingin membuat Nani yang ia pikir hilang ingatan membencinya.
"Apa yang Anda lakukan disini Tuan Kenzo?," tanya Alex.
"Aku sedang menjenguk temanku Tuan,yang kebetulan adalah istrimu. Apa kau keberatan?."
"Benarkah aku memiliki seorang teman yang tampan seperti Anda? " tanya Nani pada Ken.
"Ya, kau adalah temanku Na," ucap Ken lembut. Dan itu sungguh membuat Alex menahan cemburu.
Alex segera mendekat kearah istrinya lalu mengecup pucuk kepala Nani lembut. "Apa suamimu ini kurang tampan sayang, sehingga kau memuji ketampanan orang lain di depanku," ucap Alex lembut.
Semua orang terkejut melihat dan mendengar ucapan Alex kepada Nani. Nani pun mematung, suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti ini, apalagi memanggilnya sayang.
Sedangkan Ars terkekeh melihat tingkah Alex yang seperti itu. Karena biasanya Alex hanya bersikap kaku dan datar.
"Tidak, kau yang paling tampan suamiku," ucap Nani.
"Kau dengar sendiri Tuan Kenzo?. Istriku mengatakan bahwa akulah yang paling tampan bukan dirimu," ucapnya bangga.
Ken pun tersenyum menanggapi ucapan Alex. "Kau benar Tuan Alex. Memang Anda yang paling tampan," ucap Ken ikut terkekeh.
"Bukankah Anda harus segera ke kantor Tuan Ken, lihatlah ini sudah jam masuk kantor. Apa anda mau memberikan contoh yang buruk kepada karyawan Anda?," ucap Alex.
Nani sungguh tidak menyangka suaminya itu secara tidak langsung telah mengusir temannya. Ia pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.
"Baiklah Tuan Anda memang benar, aku harus segera ke kantor. Baiklah Nana, aku harus pergi. Suamimu yang posesif ini sudah mengingatkan ku agar tidak terlambat. Semoga lekas sembuh ya," ucap Ken seraya tersenyum.
__ADS_1
Sedangkan Alex membelalakkan matanya mendengar ucapan Ken.
...****************...