
Dua hari berlalu
Setelah kejadian Yuna yang tenggelam di bathtub, Rai benar-benar membuktikan ucapannya. Setiap pagi Rai memandikan Yuna seperti seorang bayi. Bahkan dirinya ikut masuk kedalamnya dan berakhir dengan mandi bersama.
Mereka juga sudah memeriksakan kandungan Yuna ke dokter kandungan. Dan beruntung janin dalam tubuh Yuna begitu kuat.
Rai saat ini sedang menjalani meeting dengan sang kakak untuk mendapatkan kerja sama dengan perusahaan lainnya. Namun pikirannya sejak tadi terus saja memikirkan Yuna.
Ars yang sedari tadi memperhatikan Rai pun menatap heran dengan sang adik karena diwajahnya terlihat gurat kecemasan.
Ars ingin menanyakan kepada Rai tentang apa yang membuat sang adik terlihat begitu cemas. Namun saat ini meeting sedang berlangsung, jadi Ars memutuskan untuk menanyakannya nanti setelah selesai meeting.
Rai mendesah lega saat meeting selesai lebih cepat. Jadi ia memiliki banyak waktu untuk mengawasi Apa yang istrinya lakukan saat ini.
Rai segera membereskan beberapa berkas dan hendak beranjak dari sana. Namun sebelum Rai beranjak, suara Ars memanggilnya.
"Rai"
"Ya kak, ada apa?," Tanya Rai seraya menatap jam tangannya.
"Kenapa sedari tadi Kau terlihat begitu cemas, dan Kau juga sepertinya sedang terburu-buru?," Tanya Ars heran.
Rai memutar bola matanya. "Aku pikir kakak ingin bertanya tentang hal penting tentang pekerjaan. Aku tidak apa-apa kak, Yuna sendirian di apartemen, dan aku harus segera pulang," ucap Rai dan langsung pergi meninggalkan Ars yang heran.
Ars pun tersenyum mendengar ucapan Rai. "Sepertinya kau sudah mulai mencintai istrimu Rai. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Ars ikut merasa bahagia.
***
Rai memarkirkan mobilnya di tempat parkir apartemennya. Lalu dengan terburu-buru iapun segera menaiki lift. Ia tidak ingin kejadian dua hari lalu kembali terulang.
" Yuna... Yuna..." Panggil Rai saat mulai memasuki apartemennya.
Karena istrinya tak kunjung menjawab panggilannya, iapun segera memasuki kamarnya. Ia ingin melihat apa yang sedang istrinya lakukan.
Namun Rai begitu terkejut saat melihat Yuna sedang berada di depan lemari pakaian dan sedang memilih pakaian yang akan Ia kenakan dengan handuk yang terlilit di tubuhnya.
"Yuna," panggil Rai kembali, lalu iapun mendekati Yuna.
Yuna terlonjak kaget saat melihat Rai tiba-tiba berada di kamarnya. Lebih tepatnya di kamar mereka, karena Rai memutuskan agar istrinya pindah ke kamarnya.
"R-Rai, kenapa kau sudah pulang?," Tanya Yuna terkejut.
"Apa yang Kau lakukan Yuna, bukankah Aku sudah mengatakan bahwa jika kau mandi aku yang akan memandikanmu. Lalu ini apa?!." Ucap Rai marah.
"Rai, lihatlah Aku tidak apa-apa walaupun aku mandi sendiri. Kau jangan terlalu mencemaskan bayi kita, karena Kau lihat sendiri kan aku tidak apa-apa." Ucap Yuna tenang.
Namun tiba-tiba Rai langsung mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di pinggir ranjangnya.
"Apa kau sudah gila Rai, Aku ingin mengganti bajuku!," Pekik Yuna geram dengan tingkah Rai dua hari ini.
Rai tidak bergeming, setelah meletakkan Yuna, Ia pun segera mengambil baju ganti Yuna dan kembali menghampiri Yuna.
"Aku yang akan menggantikan baju untukmu. Buka handuk mu!," Perintah Rai.
__ADS_1
Yuna membelalakkan matanya, sikap suaminya sungguh membuatnya begitu geram.
"Aku bisa memakainya sendiri Rai. Kau pergilah keluar!."
"Tidak!, Kau ini sungguh cerewet sekali!," Ucap Rai kesal. Lalu ia meraup bibir istrinya dengan bibirnya. Membuat Yuna terkesiap.
Rai memainkan bibir Yuna dengan begitu lembut sehingga membuat Yuna menjadi terbuai. Hatinya ingin menolak ciuman itu, namun berbeda dengan tubuhnya.
Mereka pun terhanyut dalam ciuman hangat yang begitu memabukkan. Hingga handuk di tubuh Yuna pun perlahan terjatuh ke lantai.
Rai membaringkan tubuh Yuna perlahan tanpa melepaskan pelukannya. Yuna pun mengalungkan tangannya di leher Rai.
Ciuman Rai mulai menjalar kemana-mana, hingga de..sa..han lembut itu keluar dari mulut Yuna.
"Rai..."
Rai terus saja mencium seluruh tubuh Yuna dan berhenti di inti milik istrinya.
Yuna mende..sah, merintih dan me..nge..rang saat lidah suaminya mengobrak-abrik di bawah sana. Tubuh Yuna menegang seiring rasa lega itu mulai menderanya.
Rai menyunggingkan senyumnya, Ia sangat senang mendengar suara de..sa..han dari mulut istrinya akibat ulahnya.
Rai menginginkan tubuh istrinya, namun ia teringat akan ucapan dokter kandungan yang memeriksa Yuna kemarin. Bahwa mereka tidak boleh melakukan hubungan suami istri terlalu sering, karena kandungan Yuna baru memasuki trimester pertama.
Rai sebisa mungkin menahan sesuatu dari dalam dirinya. Dan sekarang Rai berjalan menuju bathroom untuk menuntaskan sesuatu yang sedari tadi Ia tahan.
Sedangkan Yuna masih terkulai lemas di atas ranjang. Ia merasa kesal dengan Rai, tapi Ia juga menikmati apa yang Rai lakukan padanya. Sungguh, Yuna begitu pusing bila memikirkan hal itu. Matanya mulai terpejam,rasa kantuk mulai membuatnya tertidur.
Rai mengambil baju ganti Yuna dan memakaikannya perlahan agar tidak membangunkan istrinya yang terlihat begitu menggemaskan saat tengah tertidur.
Ponsel Rai bergetar, Rai segera mengambil ponselnya yang ada di meja kamarnya. Ia melihat siapa yang sedang menelponnya.
Dengan malas Rai mengangkat panggilan itu.
"Ya, ada apa Cel?."
"..........."
"Tapi aku sedang sibuk sekarang," kilahnya.
"..........."
"Kau ke kantor?, baiklah aku akan menjemputmu," ucap Rai malas. Lalu Rai kembali menatap istrinya yang tengah terlelap. Rasanya Ia tidak ingin meninggalkan istrinya itu. Namun Ia ingin meluruskan semuanya.
Rai langsung meninggalkan apartemennya dan menjemput Celine di kantor. Ia mengajak Celine pergi ke cafe.
Sedangkan Yuna mulai terbangun dari tidurnya, perutnya terasa lapar. Ia segera menyibakkan selimutnya dan beranjak dari tempat tidur.
Yuna terhenyak mendapati dirinya yang sudah mengenakan pakaian. Ia kembali tersipu mengingat kelakuan suaminya. Lalu ia pun segera keluar untuk mencari Rai.
Tapi Rai tidak ada di apartemennya, Yuna juga mencari Ela untuk menyuruhnya membelikan makanan yang Ia inginkan saat ini. Namun Ela pun pergi entah kemana.
Yuna berfikir Rai mungkin kembali ke kantornya, jadi ia memutuskan untuk pergi membeli makanan yang ia inginkan saat ini.
__ADS_1
Mungkin bila Ia segera kembali setelah mendapatkan makanan yang ia inginkan. Rai tidak akan mengetahuinya.
Yuna memesan taksi, Ia mengambil tasnya dan menunggu taksi yang Ia pesan beberapa saat lalu.
Setelah taksi datang, Yuna segera menyuruh supir taksi itu untuk mengantarnya ke tempat dimana ia akan membeli makanan yang sangat ia inginkan.
"Akhirnya sampai, Aku harus cepat sebelum Rai pulang nanti." Gumam Yuna.
Yuna menyuruh supir taksi itu untuk menunggunya sebentar. Iapun segera memasuki sebuah cafe terkenal yang menyajikan makanan yang Yuna inginkan sejak tadi.
Yuna mulai memesan makanannya untuk dibawa pulang. Ia memutuskan untuk duduk di sana sebentar sembari menunggu makanannya.
"Yuna" panggil seseorang.
Yuna menoleh ke arah suara, Ia terkejut melihat Denis yang ada di sana.
"K-kak Denis," ucapnya terbata. Yuna tidak ingin bertemu lagi dengan pria ini. Tapi dia malah bertemu dengannya.
" Kau mengingatku?," Ucap Denis senang.
Denis pikir Yuna tidak mengingatnya, karena waktu Ia memeriksa keadaan Yuna, Yuna seolah tidak mengenalinya.
"I-iya."
"Apa yang kau lakukan di sini Yuna,dimana Rai?," Tanya Denis menoleh ke segala arah mencari keberadaan Rai.
"Aku tidak bersama suamiku kak, dia sedang di kantornya. Emmm bagaimana kabar kakak dan juga kak Bella?." Tanya Yuna, itu adalah pertanyaan yang ingin Yuna tanyakan sejak bertemu kembali dengan Denis.
Denis tersenyum kecut. "Aku sudah memutuskan pertunangan ku dengannya Yuna, Aku tidak mencintainya." Ucap Denis membuat Yuna terkejut.
"A-apa, jadi kakak tidak menikah dengan kak Bella, kenapa kak Denis memutuskan hubungan dengannya. Padahal kalian terlihat begitu serasi," ucap Yuna menundukkan kepalanya.
Denis sudah tidak dapat menahan apa yang selalu Ia sembunyikan dari Yuna. "Yuna Apa Kau tidak ingin bertanya siapa wanita yang ku cintai?." Ucapnya menatap sendu Yuna.
Seketika Yuna menatap Denis. " Kenapa kak Denis malah bertanya padaku, jelas akan tidak tahu siapa wanita yang kak Denis cintai."
"Wanita itu adalah kau Yuna!."
Yuna terperanjat, tubuhnya terpaku mendengar jawaban Denis yang ternyata selama ini Denis juga mencintainya.
"Yuna!!!" Teriak Rai dari arah belakang Yuna. Ya, Rai mendengar semua ucapan Denis pada Yuna. Karena Rai juga berada di sana bersama Celine.
Rai mengepalkan tangannya penuh emosi, ucapan Denis membuat darahnya begitu mendidih kala mengingatnya. Lalu ia segera menarik tangan Yuna membawanya menuju mobilnya.
"Rai lepaskan Rai sakit..," rintih Yuna saat Rai mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Rai seakan tak mendengar rintihan Yuna saat ini. Yang ada di kepalanya hanyalah ucapan Denis yang terus saja terngiang-ngiang dan membuat emosinya semakin tersulut.
***
**Jumpa lagi gengks, masih dalam suasana flu yang terus melanda othor 🤧🤧, maaf typo yang banyak bertebaran 😄.
Jangan lupa mampir ke karya othor yang baru ya 😍😍**
__ADS_1