
Yuna begitu terkejut dan ketakutan kala melihat Rai yang begitu emosi saat ini. Tapi, Ia tidak tahu apa yang membuat Rai begitu marah padanya. Apakah karena Denis?, ah mana mungkin. Atau karena Rai marah padanya karena keluar dari apartemen tanpa seizinnya karena takut bayi mereka akan terjadi apa-apa dengan bayinya?.
Yuna benar-benar tidak mengerti akan sikap Rai yang terlihat begitu labil menurutnya. Kini Yuna merasakan pergelangan tangannya yang begitu sakit. Cengkeraman tangan suaminya sungguh membuat Yuna merintih kesakitan.
Rai membuka pintu mobilnya dan memaksa Yuna untuk masuk ke dalamnya dengan sedikit kasar. Hingga air mata Yuna langsung menetes karena ia terlalu merasa takut dengan Rai. Rai tak pernah semarah ini.
Rai mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat hingga membuat Yuna begitu ketakutan.
"Ada hubungan apa antara kau dan Denis?!!," Tanya Rai begitu dingin. Tangannya mencengkram setir dengan kuat menahan amarah yang membuncah di hatinya kala mengingat ucapan Denis yang mengatakan bahwa Denis mencintai Yuna.
Yuna begitu ketakutan saat ini, Ia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ada hubungan apapun dengan kak Denis Rai. Kumohon Rai pelankan kecepatan mobilnya, Aku takut Rai," ucap Yuna ketakutan.
"CK, takut Kau bilang!, Tapi Kau begitu berani berkencan dengan Denis di belakangku huh!." Ucapnya begitu marah.
"Aku tidak pernah berkencan dengan Denis Rai, kita tidak sengaja bertemu tadi. Kumohon Rai percayalah padaku?!," Ucap Yuna meyakinkan suaminya.
"Kau jangan membohongi ku Yuna!, Aku melihat Kau datang ke cafe itu tadi, dan setelahnya Aku juga melihat Denis yang menghampiri mu disana. Sekarang Kau bilang kalau Kau tidak berkencan dengannya?!, hebat sekali Kau sudah membohongi suamimu Yuna!."
Belum sempat Yuna menjawab pertanyaan dari suaminya, Rai sudah menarik tangan Yuna karena saat ini mobil mereka sudah sampai di parkiran apartemen.
Rai seakan melupakan tentang Yuna yang tengah mengandung saat ini. Iapun terus menarik Yuna yang sejak tadi terus saja terisak.
Hingga kini mereka sampai di apartemen Rai, Rai langsung membawa Yuna ke kamarnya dan mengukungnya di atas ranjang. Tangan kekarnya dengan kuat merobek baju yang istrinya kenakan.
Hingga baju itu terkoyak, dan memperlihatkan tubuh polos Yuna.
Pandangan Yuna menjadi menggelap menatap Rai, wajahnya menjadi pucat pasi. Dan jeritan histeris keluar dari bibir Yuna saat Rai dengan brutalnya memberikan banyak tanda merah pada tubuhnya.
Bayangan kejadian beberapa tahun lalu membuat Yuna kembali mengingat kenangan buruknya. Kenangan yang membuatnya harus mengalami trauma yang mendalam.
"Pergi...!, lepaskan Aku... jangan sentuh Aku....!. Dasar brengsek, baji..ngan... lepaskan aku!!!!," Teriak Yuna dengan suara seraknya.
Mendengar jeritan Yuna yang begitu histeris membuat Rai mendongak menatap wajah Yuna. Seketika Rai tersadar melihat Yuna yang terlihat begitu pucat dan ketakutan.
__ADS_1
Rai menghentikan perbuatannya, lalu dengan segera menutupi tubuh polos Yuna dengan selimut.
Namun Yuna terus saja menjerit histeris dan menutup kedua telinganya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan sentuh Aku, lepaskan aku... pergi...!!pergi...!!!," Teriak Yuna.
Melihat kondisi Yuna, Rai langsung memeluk tubuh Yuna. Rai terhenyak melihat Yuna yang seakan seperti tak mengenalinya. Rasa bersalah mulai merundung hatinya.
"Maafkan aku Yuna, maafkan aku," ucap Rai merasa bersalah. Sedangkan Yuna masih berusaha berontak dalam pelukan suaminya namun tidak sekuat sebelumnya.
Rai mengecup kening istrinya berkali-kali, sungguh Rai menyesali perbuatannya. Amarahnya membuat istrinya begitu ketakutan saat ini.
Di saat Yuna mulai tenang, Rai masih memeluk Yuna dan terus mengucapkan kata maaf berkali-kali. Sedangkan tangis Yuna pecah dalam pelukan suaminya.
"Rai...,"ucap Yuna begitu serak. Ia terus saja mengucapkan nama Rai berkali-kali.
"Tenanglah sayang, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal seperti tadi. Maafkan aku sudah menyakitimu Yuna," ucap Rai memeluk dan mengusap kepala Yuna lembut.
"Masa lalu?," Tanya Rai tidak mengerti.
Tadi saat di cafe, Rai hanya mendengarkan ucapan Denis. Rai masih belum tahu kalau Denis lah pria yang Yuna cintai dulu.
"Kau waktu itu pernah bertanya padaku Rai apakah Aku mempunyai seorang yang kucintai. Kau tahu?,kak Denis lah pria yang kuceritakan itu, Kau ingat?."
Rai pun teringat akan ucapan Yuna waktu itu, tapi Ia tidak menyangka bahwa Denis adalah pria itu. Dan tadi Ia mendengar sendiri bahwa Denis menyatakan cintanya kepada Yuna.
Tiba-tiba saja rasa takut menguasainya, apakah Yuna masih mencintai Denis?. Apa nanti setelah anak mereka lahir Yuna akan kembali kepada Denis?. Rai benar-benar kacau memikirkan hal itu.
"Apa kau masih mencintainya Yuna?," Tanya Rai pada akhirnya.
Entahlah, saat ini Yuna tidak tahu akan perasaannya pada Denis. Rasa itu mungkin masih ada, namun tidak sebesar rasa yang Ia rasakan dulu.
"Aku tidak tahu Rai," ucap Yuna Jujur.
__ADS_1
Rai seperti menahan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ucapan Yuna masih begitu ambigu menurutnya. Bisa saja kan Yuna akan kembali bersama Denis nanti setelah bayi mereka sudah lahir.
"Tidurlah Yuna, Aku akan menemanimu," ucap Rai kembali mengecup kening istrinya.
"Tapi aku lapar Rai," ucap Yuna. Karena Yuna memang belum makan siang ini. Kalau saja Rai tidak menuduhnya telah berkencan dengan Denis dan tidak marah-marah padanya. Pasti saat ini perut Yuna sudah merasa kenyang memakan makanan yang ia inginkan tadi.
Oh tidak, Yuna teringat akan makanan yang Ia pesan tadi, dan juga taksinya siapa yang membayar semuanya?.
"Rai!!," Teriak Yuna membuat Rai terlonjak kaget.
"Ada apa Yuna, apakah ada yang sakit? Dimana yang sakit?," Tanya Rai seraya memeriksa beberapa bagian tubuh Yuna.
"Tidak Rai, Aku tidak sakit. Aku belum membayar taksi yang kupasan tadi, dan juga makanan yang kupasan juga belum kubayar. Bagaimana ini Rai?!," Tanya Yuna dengan paniknya.
Sedangkan Rai terpaku, Ia mengkhawatirkan sang istri. Namun Yuna malah mengkhawatirkan taksi dan mekanan yang belum istrinya bayar.
"Kau tidak perlu khawatir Yuna, Aku akan membayarnya ke perusahaan taksi yang Kau pesan dan juga cafe tadi." ucap Rai berusaha membuat Yuna tenang.
"Sungguh?, terimakasih Rai," ucap Yuna senang dan langsung memeluk Rai.
Raiden menahan sesuatu di bawah sana akibat Yuna yang memeluknya dengan tubuh polosnya. " Yuna tolong lepaskan aku, Aku akan membuatkan mu makan siang," ucap Rai menghindari has..ratnya yang hampir menguasainya.
"Maaf," ucap Yuna dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Rai, wajahnya merona menahan malu.
"Tapi Rai,di dapur tidak ada apapun," ucap Yuna kemudian.
"Ela pasti sudah mengisinya Yuna, karena tadi Ia sedang ke supermarket untuk membeli semua keperluan dapur," ucap Rai menjelaskan dengan tersenyum.
***
**Masih 1 bab lagi, tapi othor up-nya sorean soalnya baru proses pengetikan 😅😅🤧🤧
happy reading**.....
__ADS_1