
Pagi ini Nuha berangkat ke sekolah tanpa ada gairah hidup. Pikirannya campur aduk karena sikap cemburunya terhadap adiknya Naru. Dan memikirkan nasehat kakaknya, belum lagi masalah dengan cewek yang tidak jelas itu.
Ditambah, Kakaknya sekarang menjadi asisten guru di sekolahnya. Mau gak mau, dia pasti akan selalu dipantau oleh kakaknya dimana pun dia berada.
"Bahkan naik tangga pun aku tidak mampu, hiks hiks"
Keluh Nuha bersama Hawa.
Hawa hanya terus melayang-layang di atas kepala Nuha sambil melipat kedua tangannya.
"Tunggu, apa itu?"
Nuha melihat ada hewan yang melingkar di pojokan anak tangga yang hendak ia lewati.
"Itu.. Itu lu- luwwiingg!!" Teriak Hawa.
"Apaa?!"
Nuha takut sekali dengan luwing. Ketika hewan itu bangun dari melingkarnya, imajinasi Nuha langsung muncul seperti monster yang hendak menerkamnya. Padahal jalannya hewan itu lambat tapi bagi Nuha itu seperti raksasa yang akan mendekatinya.
Saat reflek Nuha berbalik badan ia menabrak Naru yang sudah berada di belakangnya. Nuha jatuh dipelukan Naru.
"aduh" ucap Nuha.
"Kamu gakpapa, Nuha?" Tanya Naru heran.
"itu- itu- itu.."
Nuha terus menunjuk ke arah hewan itu tanpa melihatnya. Saat Nuha melirik ke arahnya, hewan itu bangun dari melingkarnya dan berjalan.
"Uwaaa!!" Nuha dan Hawa berteriak.
"Ada apa?!", tanya Naru ikut panik.
Nuha hanya merintih sedih sambil mengeluarkan air mata buayanya. Naru akhirnya sadar dan tahu bahwa ada luwing di anak tangga itu.
"Sebentar, aku singkirkan hewan itu dulu." Ucap Naru.
Akhirnya Naru menyingkirkan hewan itu dari Nuha. Nuha merasa lega namun masih terasa geli ditubuhnya. Naru dan Nuha menaiki tangga bersama.
"Ma-makasih ya Naru"
"Iya, gak masalah"
"Ya ampun.. memalukan sekali diriku tadi", batin Nuha.
"Ya udah, masuk gih", pinta Naru yang sudah sampai di depan kelas 12 F Multimedia.
Asa dan Fani akhirnya datang juga, sedikit melirik karena melihat Naru berada di depan kelasnya. Mereka kemudian menghampiri Nuha yang tampak sedang tidak bersemangat menjalani hidupnya.
"Kamu kenapa Nuha? Pagi-pagi udah badmood gitu." Tanya Asa penasaran. Nuha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Hai Gays", Sapa Sifa yang tiba-tiba datang terlambat.
"Ini nih. Si ratu lebay. Gak ada angin gak ada hujan bawaannya enteng banget hidupnya." Sindir Asa.
__ADS_1
"Hehe.. Gays, dengarkan! Aku punya berita besar nih." Sifa mulai mengganti topik pembicaraan.
Asa, Fani dan Nuha segera merapat untuk mendengarkan berita besar eklusif dari Sifa.
"Tadi tuh, waktu aku lewat di depan toilet cewek. Aku denger ada cewek nangis."
"Trus trus?" Tanya Asa.
"Trus telingaku gatalkan. Jadi, aku nguping pembicaraan mereka."
"Kebiasaanmu suka nguping." Sindir Fani.
Sifa langsung tertawa, "Habisnya, biar dapat berita besar", lanjutnya.
"Oke aku lanjutin. Cewek itu nangis katanya dia hamil."
"Apa?!" Sontak Asa, Fani dan Nuha teriak histeris.
"Yang, yang bener? Kok bisa?", Tanya Nuha
"Beneran Nuha. Masa aku bohong. Dia hamil karena sering jalan berdua dengan pacarnya entah kemana aja pasti berdua." Jelas Sifa.
Guru pun masuk ke kelas.
"Udah-udah, ayo nanti lagi ngobrolnya. Guru udah datang tuh." Ucap Fani
"Kok bisa sih hamil? Masa iya anak sekolah bisa hamil, apa mereka udah menikah diam-diam?", bisik Nuha kepada Fani karena masih merasa penasaran.
Fani hanya membalasnya dengan senyum penuh keanehan. Dia tidak habis pikir bahwa Nuha tidak tau apa-apa tentang hal seperti itu.
Saat sibuk dengan tugasnya masing-masing, tanpa sadar Nuha terus menghela nafas pasrah.
"Iya kah?" Nuha mencoba mengelak.
"Ada masalah?" Tanya Asa ikut penasaran.
"Umm.."
"Cerita aja, gakpapa. Kita kan sahabat. Kemarin kamu udah mau nyeritain tentang perasaan cemburumu. Sekarang, coba deh ceritain ada apa lagi?", pinta Sifa.
"Hffff", Nuha masih terus menghela nafas.
"Aku ingin sekali hujan-hujanan, tapi hari ini sepertinya gak akan hujan", Keluh Nuha dalam hati.
"Mau keluar sebentar?", ajak Fani.
Melihat ekspresi Nuha yang masih kalut, Fani pun mengangkat tangannya untuk meminta izin ke kamar mandi. Dia pun mengajak Nuha.
"Aku gak bisa melihatmu memikirkan sesuatu yang gak ada ujungnya, Nuha. Kalo kamu belum siap cerita, setidaknya aku bisa menghiburmu. Jajan yuk"
"Fani..", balas Nuha seraya langsung memeluk sahabatnya itu. Air mata kekanak-kanakannya pun mengalir.
"Kamu suka ngemil es batu kan?, yuk beli segelas es batu kristal bersama", ajak Fani dengan ketulusannya.
Di meja kantin, Nuha dan Fani saling mengemil es batu kristal yang baru saja mereka beli.
__ADS_1
Sensasi celetuknya es saat dikunyah membuat pikiran Nuha akhirnya bisa lebih longgar dan dinginnya es menyejukkan hatinya.
"Nuuuhaaa..." Panggil Dilan yang tiba-tiba datang dan langsung merebut segelas es kristal Nuha.
"Eh, siapa?" Nuha kebingungan.
"Lama tidak berjumpa ya, iiimut?" Ucap Dilan jahil.
"Apaan sih! Kembalikan minumanku!"
Segelas yang penuh dengan es kristal membuat Dilan bertanya-tanya, masa sih Nuha hanya membeli minuman tanpa minumannya, melainkan hanya es batunya saja.
"Kamu hanya beli es batunya saja, Nuha?" Tanya Dilan terheran-heran.
"Emang masalah buatmu?" Ketus Nuha.
Dilan hanya tertawa.
Dilan suka sekali menggoda Nuha sampai kadangkala ia lupa bahwa perbuatannya cukup keterlaluan tapi dia masih saja melakukannya.
Tiba-tiba Naru datang dengan ketenangannya dan meraih segelas es kristal dari tangan Dilan.
"Kamu ini, masih saja suka godain Nuha." Ucap Naru.
"Soalnya aku kangen sama dia", jawab Dilan pede.
"Ka- ka-ka- kangen?!"
Wajah Nuha memerah melihat ada dua cowok yang sedang beradu di depannya seolah sedang memperebutkan dirinya. Dia jadi salah tingkah di hadapan Fani.
Naru hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Dilan. Dia pun mengembalikan segelas es kristal kepada Nuha, menatapnya lekat lalu mengajaknya pergi.
Sejenak waktu berjalan begitu pelan, suasana menjadi lebih lembut. Genggaman tangan Naru membuat Nuha merasa sangat nyaman, dia tersenyum dan tersenyum selalu.
Mereka berdua pun duduk di bangku taman sekolah. Nuha ingin sekali menghabiskan es kristalnya itu tapi dia menjadi canggung karena ditemani Naru. Apa boleh buat, Nuha masih ingin menenangkan pikirannya sebelum es tersebut mencair.
Ada tiga orang gadis yang bersembunyi sambil memperhatikan keberadaan Nuha bersama Naru.
"Cewek itu, dia sudah membuat Dilan enggak mau bergaul lagi dengan kita dan sekarang dia malah bisa bersama dengan Rui Naru. Gak bisa dibiarin"
"Gimana kalo kita kerjain dia?"
"Ide yang bagus itu. Kita atur strategi dulu untuk besok kita kerjain dia. Awas loe ya?!"
Tiba-tiba kepala Nuha terasa tersetrum dan menjadi sedikit pusing. Nuha menahan rasa sakit sejenak, namun Naru tampak mengkhawatirkannya.
"Nuha, ada apa?"
"Sepertinya, aku kebanyakan es", cengir Nuha.
"Kamu itu, enggak khawatir malah bercanda. Ya udah, balik yuk. Aku antar", ucap Naru.
...****************...
Dilan bertanya-tanya melihat gerak-gerik Naru terhadap Nuha. Fani hanya merespon wajah serius Dilan dengan senyum penuh ketenangan. Dilan pun melirik dan memberikan tatapan tajam kepadanya.
__ADS_1
"Apa Nuha, jadian sama Rui Naru?", tanya Dilan mengangkat sebelah alisnya.
Fani hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya dengan santai.