Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Menjemput Nuha


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan?, aku takut kalo nanti Kak Naru akan memarahiku"


Di sebuah kelas yang kosong, Keisha, Lala dan Juna sedang menjalani bimbingannya bersama Naru untuk persiapan mengikuti Olimpiade matematika. Pak Guru Hanif sedang serius menjelaskan beberapa soal latihan dan rumus-rumus yang harus selalu diingat dan dipelajari.


Lala gadis berkaca mata tebal dan Juna siswa cowok berambut ikal nan tampan, mereka berdua tampak antusias menjalani bimbingannya. Namun, tampak berbeda sekali dengan Keisha. Keisha sedang diselimuti rasa bersalah dan ketakutannya akan dimarahi oleh Naru.


Lala yang melihat Keisha tidak fokus mengikuti bimbingan menjadi khawatir. Pak Hanif dan Juna masih sibuk dengan pendampingannya. Sedangkan Keisha terus saja membuka-buka sketsa milik Nuha. Naru terus memperhatikan sikap Keisha dari tempat duduknya. Ia pun berjalan mendekati Keisha.


"Apa ada kesulitan?"


"Kak Naru, Keisha sedang gelisah" Ucap Lala


"Apa yang akan kau lakukan dengan buku sketsa itu?" Tanya Naru tanpa basa-basi


"Maafkan aku kak, sungguh maafkan aku" Keisha langsung menyerahkan buku sketsa itu kepada Naru


"Kau harus mengembalikan sendiri kepada pemiliknya" Pinta Naru


Sejenak Keisha menundukkan kepalanya lagi. Ia menarik kembali buku sketsa yang hendak ia berikan kepada Naru. Memandang sebentar dan mengatur perasaan. Kesengajaan yang ia lakukan bukan memberinya kepuasan tapi malah membuatnya tertimpa batu sendiri.


"Kakak culun itu, kupikir aku bisa sedikit bertengkar dengannya tapi dia malah pingsan. Membuatku kesal saja. Sebenarnya gue gak sudi minta maaf ke dia. Tapi, apa boleh buat, gue harus selesein masalah ini dulu. Biar gue gak tambah masalah" Gumam Keisha


"Siswa berprestasi seperti kalian, seharusnya bisa lebih menjaga diri. Tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak pantas seperti itu" Nasehat Naru


"Kalo kau berani meminta maaf kepadanya, aku yakin dia akan memaafkanmu. Dan kuharap kau tidak perlu mengulangi perbuatan burukmu itu lagi" Pungkas Naru. Ia pun kembali ke depan kelas.


"Keisha?" Tanya Lala iba


"Iiih, aku kesal banget deh! Aku jadi benci ikut bimbingan olimpiade matematika!"


Keisha mendobrak mejanya dan memasukkan buku sketsa Nuha ke dalam tasnya. Perbuatannya membuat kaget Pak Hanif dan kedua temannya.


"Keisha! Aku mencoba peduli tapi kok kamu gitu sih" Keluh Lala.


"Ada apa ini?" Tanya Pak Guru


Nuha bersama ketiga sahabatnya keluar kelas karena sudah waktunya pulang. Perasaan senang menyelimuti mereka semua karena hari ini tidak ada jadwal kelas tambahan. Mereka jadi bisa pulang lebih awal.


Yuki berjalan sendiri hendak menuju ke kelas Nuha, beruntung dia bisa berpapasan dengan mereka saat keluar kelas, terutama dengan Asa. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya bisa bertemu dengan Asa. Yuki berencana ingin mengajak Asa bersama sahabatnya untuk membantu mengikuti kegiatan di kampusnya.


"Kalian mau pulang?" Tanya Yuki


"Iya kak. Hari ini tidak ada kelas tambahan. Jadi bisa pulang lebih cepat" Jawab Sifa


"Mau saya traktir sebentar?"

__ADS_1


"Mau banget donk Kak" Jawab Sifa


"Heleh" Sindir Asa


Si teman Muha itu mentraktir Asa bersama sahabatnya jajan di gerobak jajanan kaki lima pinggir jalan keluar sekolah. Mereka berempat duduk manis di bangku pemilik gerobak penjual siomai.


"Kalian lagi sibuk gak ya akhir-akhir ini?" Tanya Yuki


"Gak tuh kak" Jawab Sifa langsung


"Mau gak kalo kalian saya ajak ikut membuat film pendek gitu di kampus?"


"Fi-film? Syu-syuting?" Asa langsung terperanjat


"Itu kesukaan Asa banget kak" Ucap Fani


"Bagus donk" Kak Yuki tersenyum ramah


"Dia itu suka banget kalo harus kerja di lapangan gitu kak. Praktek langsung memegang alat-alat multimedia" Sifa menjelaskan.


"Jadi, apa kalian semua bisa saya ajak ikut?"


"Bisa kak! Aku mau!" Jawab Asa dengan tegas


"Wah! Semangat sekali" Puji Nuha, Fani dan Sifa pun tertawa.


"Nuha!"


Terdengar suara dari tempat Nuha dan sahabatnya berada. Nuha pun mengarah kepada suara itu berada.


"Kakak?" Nuha lebih memfokuskan tatapannya


"Eh? Kakak kamu njemput tuh Nuha" Ucap Fani


"Ya udah deh teman-teman. Aku duluan ya"


"Oke, hati-hati"


"Maaf ya kak Yuki, aku pamit duluan"


Setelah Nuha berpamitan ia pun berjalan menuju kakaknya yang masih nangkring di sepeda motornya.Yuki yang melihat Muha di sana ikut melambaikan tangan tanda untuk menyapa. Muha pun tidak segan untuk membalas sapaan itu.


"Kakak datang menjemputku?"


Tanya Nuha, tapi ia sambil celingak celinguk mencari-cari Naru yang belum terlihat sama sekali.

__ADS_1


"Emang siapa lagi yang kakak jemput?"


"Ehehehe.. terima kasih kakak" Ucap Nuha semanis mungkin.


"Ayo pulang"


"O-okei" Ucap Nuha sedikit gelisah karena pulang begitu saja dan tidak bertemu dengan Naru.


"Mungkin, dia masih ngajar" Batin Nuha


"Tapi, syukurlah kakak gak lihat. Maaf ya Naru, aku gak bisa kamu antar pulang" Batinnya lagi


Nuha pun melakukan perjalanan pulang bersama kakaknya. Nuha tampak tenang, namun Hawa mulai mengganggu suasana.


"Sepertinya, kakak mau mengantarmu ke kuburan"


"Jangan aneh deh Hawa!"


"Lihat tuh ekspresi kakak dari balik kaca spion, serem banget tauk"


"Hish! lebih baik kamu diam aja!"


"Kakak?" Tanya Nuha perlahan


"Iya?"


"Apa, kakak sedang marah?"


"Nuha, sebaiknya kita cari makan dulu yah. Kakak tau tempat makan yang enak dan nyaman buat kita berdua" Muha mengalihkan pembicaraan


"Tuh Hawa, kakak mau ajak kita makan" Nuha tersenyum-senyum riang


"Anak ini, tidak tau maksudku sama sekali"


Muha menghela nafas pasrah. Nuha yang polos dan naif itu membuat Kakak selalu kehabisan kata-kata. Muha berharap saat ia bersama Nuha sedang di tempat makan, Muha bisa menyampaikan maksud dan nasehatnya sehingga adiknya bisa lebih memahami dan mengambil keputusan terbaik.


Mereka sampai di rumah makan dekat sungai, yang spot dan pemandangannya indah sekali untuk tongkrongan anak muda. Rumah makan terbuka, dimana saat pengunjung datang bisa memilik makan di dalam ataupun di luar sambil melihat pemandangan sungai.


Sore hari sangatlah cocok buat mereka para kawula muda. Rumah makan yang lain di sekitar itu pun juga sudah tampak ramai pengunjung. Kak Muha memberhentikan motornya di salah satu parkiran pinggir jalan raya. Mereka turun dan berjalan memasuki rumah makan.


"Mau makan di dalam ato di luar Nuha?"


"Luar aja deh Kak, kayaknya bagus tuh suasananya"


"Oke. Bentar, kakak pesan dulu setelah itu kita kesana"

__ADS_1


"Ada juga ya rumah makan seperti ini?"


Nuha bersama Hawa terkagum-kagum melihat pemandangan sungai


__ADS_2