Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Bagaimana caranya?


__ADS_3

"Nuha, kakakmu datang"


Nuha pun berdiri dan berjalan menghampiri kakaknya. Suasana hatinya masih belum bisa tenang.


"Ketemuan sama dia lagi?," tanya Muha menginterogasi dengan tatapan tajam ke arah Naru.


"Sebaiknya, biarkan Nuha tenang dulu kak. Baru Kakak bisa menanyakan alasannya," ucap Naru.


"Ck"


"Kakak, ayo kita pulang," pinta Nuha.


"Baiklah"


Muha dan Nuha berjalan meninggalkan Naru. Naru hanya bisa melihat kepergiannya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.


Di samping itu, komunitas jejepangan kembali membahas agenda mereka. Seseorang mulai mempertanyakan kejadian tadi.


Gadis berkunci kuda bernama Agnes menanyakan kepada Raffy, "Siapa cowok tadi?"


"Dia itu cowoknya," balas Raffy lempeng.


"Whats?!," Kekagetan Agnes membuat yang lainnya ikut menoleh.


"Gila. Pacarnya ganteng dan sangat dewasa. Beruntung banget dia punya pacar sedewasa itu"


"Dia itu seumuran kita. Gue juga heran kenapa dia terlihat begitu dewasa," cibir Raffy dengan nada sedikit menekan.


"Elo berani juga ya Rafly. Menggaet gadis yang punya pacar. Agresif banget," sindir seorang anggota cowok.


"Elo itu gak tau apa-apa ya! Jangan sok sotoy loe!," balas Raffy membela kembarannya.


Rafly masih terdiam di tempatnya. Naru pun datang menghampirinya. Melihat kedatangannya pun Rafly langsung menghampirinya.


"Wah! Kayaknya seru nih"


"Sudah-sudah! Sekarang kita fokus pada komunitas kita. Apa yang akan kita bahas kita harus selesaikan sekarang," tandas sang ketua komunitas.


Naru mengajak Rafly berbincang dengan menjaga jarak jauh dari tempat komunitasnya berada.


"Apalagi yang kau rencanakan kepada Nuha?"


"Rencana? Gue tadi gak sengaja ketemu dia di taman ini. Lalu gue ajak dia kesini. Akhir-akhir ini, takdir selalu mempertemukanku padanya," ucap Rafly ramah.


"Jangan lagi mendekati Nuha," pinta Naru serius.


"Haha, jangan? Itu kan hak Nuha sendiri"


"Elo tidak merasa bersalah tadi telah membuatnya seperti itu?"


"Iya besok gue tinggal minta maaf. Gampang kan"


"Baiklah. Perbincangan kita selesai disini. Tapi, jika elo berani mendekati Nuha, gue tidak bisa ambil diam"


Naru mulai berjalan meninggalkan Rafly, tapi Rafly mengatakan sesuatu yang bisa menghentikan langkah Naru.


"Gue sudah tau rahasia Nuha"


"Ra-hasia?," ucap Naru kaget dalam hati.


"Jadi, jika elo menghalangi gue mendekatinya maka rahasia dia akan gue miliki"


"Rafly!," panggil Raffy berlari menghampirinya. Naru pun terpaksa berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


Segaris senyum licik nan ramah terlukis di wajah Rafly, "Lihat saja kau Naru," ucapnya dalam hati.


"Elo lama banget gak balik. Gue kira kalian akan adu jotos," ucap Raffy sedikit terengah-engah.


"Emang kayak elo," tandas Rafly tidak peduli kemudian berjalan untuk kembali ke komunitas.


"Aku tidak bisa mengerti tentang dia. Yang jelas, dia terlihat cerdik dan licik," gumam Naru.


"Naru. Kemana saja sih kamu, nak? Bunda nungguin kamu gak balik-balik. Hampir saja Dina dan Naomi kehabisan kesabaran dan ingin segera mencarimu," ucap Bunda melihat Naru telah kembali.


"Maaf Bunda"


Di perjalanan pulang. Nuha masih menundukkan kepalanya di belakang punggung kakaknya yang mengendarai motor.


Dia pun mulai berkata, "Kakak. Tadi aku ketemu sama temen sekolahku"


"Hmm.. Lalu?"


"Dia mengajakku bertemu dengan teman-teman komunitasnya. Banyak orang disana. Mungkin 10 orang lebih. Lalu, saat beberapa mereka mendekatiku aku jadi merasa sangat ketakutan"


"Seperti itulah kamu"


"Kakak, aku bener-bener ketakutan tauk. Jika Naru tidak datang menolongku, apa teriakanku bisa sampai kepadamu, kak?"


"Teriakan apa?"


"KAKAK!!! Gitu"


Muha langsung melonjak kaget sehingga konsentrasi menyetirnya jadi terganggu. Dia pun langsung mengerem mendadak.


"Duk!"


Helm Nuha jadi membentur keras di punggung kakaknya, "Kakak! Kenapa mendadak?!"


"Kamu mengagetkan kakak, tengil?!"


"Untung gak jatuh. Nuha, berbahaya mengagetkan seperti itu. Jangan diulangi lagi"


"Aku hanya mengatakan KAKAK! Kenapa jadi salah?"


"Iya itu, teriakannya itu. Itu yang bisa membuat bencana alam tiba-tiba"


"Iya kalo aku gak teriak kakak gak akan denger"


"Beda konsepnya, oneng. Kamu itu sedang bercerita, curhat atau teriak-teriak sih sebenarnya, Hah?"


"Kakak aja yang gak paham"


"Kamu ini! Naik lagi, ayo pulang!," bibir Muha semakin bergetar sebelah menahan diri penuh kesal.


Sampai rumah. Nuha masuk ke dalam kamar. Dia menghampiri kaca standing yang lebih tinggi darinya. Dia mulai bicara sendiri, pada sosok yang muncul di dalam cermin. Bayangan dirinya sendiri.


"Hawa, bisakah kamu keluar dari cermin?"


"Haha.. Bicara apa kamu?," balas bayangan itu.


"Ayolah, Hawa. Jadilah seperti dulu"


"Sudahlah Nuha. Hilangkan semua kehaluanmu itu. Aku ini sebenarnya gak ada. Jangan mengharapkan aku untuk ada. Kamu bisa gila lho"


"Gak ada gimana? Kamu itu terlihat nyata bagi aku. Bahkan kakak dan Naru aja tau kok"


"Itu karna mereka berdua telah terpengaruh dengan kegilaanmu," cibir Hawa menjahili.

__ADS_1


"Gila katamu?! Aku bisa semakin gila kalo kamu gak keluar dari cermin, Hawa"


"Nuha, jadilah gadis yang normal. Aku bersyukur dan berterima kasih kepada Naru karena telah berhasil menghilangkanku dan mengembalikanku kembali di hatimu. Tapi, kamu malah gak mau"


"Ya jelas gak mau lah. Aku kesepian tanpamu, Hawa. Aku ingin terus bisa bicara denganmu. Kapan saja dan dimana saja"


"Jangan seperti itu"


"Hawa.."


"Lihatlah sahabatmu. Keluargamu. Naru dan semua orang yang menyayangimu. Mereka nyata dan kamu harus bisa menjalin hubungan yang baik dengan mereka semua. Jangan terus mengkhayalkanku, Nuha"


Nuha pun lelah dan mengabaikannya. Dia melemparkan dirinya di kasur dengan rebahan.


"Baiklah. Aku akan memberikan suatu cara yang aneh supaya aku bisa berkeliaran lagi di sampingmu," ucap Hawa.


Nuha langsung kembali menghampiri kacanya, "Gi-gimana caranya?"


"Cih, langsung antusias banget"


"Ayo, Hawa. Katakan!"


"Kamu harus bisa menggambar dirimu bersama orang lain. Jika hasilnya sempurna, aku bisa keluar"


"Menggambar bersama orang lain? Dengan siapa aku bisa menggambar diriku bersama orang lain?"


"Ye, cari tau aja sendiri sono"


Nuha pun berfikir keras. Sedangkan, Hawa tetap merasa percaya diri bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi sehingga bisa membuat Nuha menyerah. Dia tetap tidak ingin berkeliaran dan membuat Nuha terus mengimajinasikannya.


Nuha pun berlari keluar kamar. Dia menuju kamar kakaknya dengan perasaan penuh ketidaksabaran.


"tok tok tok. Tok tok tok"


"Kakak!"


"tok tok tok. Tok tok tok"


"Nuha, kenapa ribut-ribut sih nak? Yang baik kalo ketuk pintu," balas Ibu menghampirinya dari arah dapur.


"Kakak mana ibu?"


"Dia ada di belakang rumah"


"Baiklah"


Nuha langsung meluncur mencari kakaknya di belakang rumah dan berhasil menemukannya.


"kakak"


"apa lagi bocil?"


"Kakak, gambarin aku donk"


"Apa?"


"Gambarin aku. Supaya Hawa bisa kembali lagi padaku"


"Hawa? Gak mau"


"Aku nanti juga ngegambar lalu kakak tinggal melanjutkannya"


"Itu bukan sesuatu yang mudah, Nuha. Kakak gak mau menggambar kamu. Seorang cowok tidak boleh menggambar cewek yang nyata. Gak etis"

__ADS_1


"Tapi, kak"


"Ogah ya ogah Nuha. Jangan maksa deh"


__ADS_2