
Tiba-tiba sekilas terlihat dari balik kaca jendela kelas, sebuah cahaya kilat menyambar di langit. Beberapa saat kemudian, "Jedderr!!" Suaranya pun mengagetkan seisi kelas tambahan D.
"Asa, kayaknya mau hujan deh"
"Duh, gawat donk. Kita pulang bisa kehujanan kalo gitu"
"Hehehe.. Kalo aku malah suka bisa pulang hujan-hujan"
Nuha terkekeh.
Padahal masih setengah jam lagi bel pulang berbunyi. Rintik-rintik hujan mulai turun, Nuha langsung teringat sesuatu. Ia teringat dengan dua kucing kesayangannya. Tanpa berucap sepatah kata pun dia langsung berlari keluar kelas.
"Nuha?", sahut Asa dan Naru bersamaan.
"Naru! Kejar dia!", Perintah Asa.
"Iya-iya"
Naru berjalan keluar kelas setelah meminta izin kepada guru. Ia menoleh mencari-cari kemana Nuha berlari.
"Nuha, tunggu. Haish! Mau kemana sih dia?"
Beberapa suara petir mulai terdengar lagi dan langit semakin mendung. Naru lebih mempercepat larinya, menuruni tangga dan mengejar lagi.
Nuha tersandung dan jatuh, "Gedubrak!!"
"Auu.. saakittt", keluhnya.
Naru terlambat meraih Nuha, "Astaga.. Kamu gakpapa Nuha? Sakit ya?", Sindir Naru terkekeh.
"Sakit, Naru!"
"Ayo, aku bantu berdiri"
"Hujan udah mulai deras, kita harus cepat"
"Mau kemana?"
"Soya dan Mayo"
"Kucing kamu?, Hmm.. Mereka pasti juga sudah mencari tempat berteduh, Nuha. Kamu itu jangan panikan, berfikir dulu donk sebelum bertindak"
"Tapi"
Nuha kembali berlari, Naru langsung menangkap tangan Nuha, ia yang akan menuntunnya pergi ke belakang sekolah, "jangan lari sendiri" sambungny dengan ramah.
"Soya.. Mayo..", Panggil Nuha.
Kedua kucing itu langsung berlari menghampiri Nuha. Ternyata mereka sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Kalian ngumpet ya?, Ayo sini, kita cari tempat berteduh bersama", Nuha langsung menggendongnya.
"Ayo cepat, Nuha!", Pinta Naru.
"Tapi kita mau bawa mereka kemana? gak mungkin kan kalo kita bawa ke kelas. Ah! Itu, itu ada gudang kosong di sana. Kita taruh dulu mereka di sana yah Naru"
"Iya, jalan aja jangan lari"
Mereka sampai di gudang kosong tersebut, "Kalian pasti aman di sini", Senyum Nuha sambil bermain sebentar dengan mereka.
Naru menunggu di muka gudang sambil berteduh karena hujan mulai deras. Langit terlihat benar-benar gelap dari sana dan hanya beberapa kilatan petir menyinari langit.
"Nuha lama banget", Batinnya.
"Uwaaa.. hujan turun derass", Nuha menghampiri Naru dan histeris senang menyambut turunnya hujan.
"Kok malah seneng?"
"Aku senang kalo hujan turun, Naru", Jawab Nuha ceria.
"Trus kita gimana?"
"Gakpapa Naru kalo kamu ingin kembali ke kelas. Aku mau disini hujan-hujan dan jagain Soya sama Mayo"
"Gadis ini. Mana mungkin, aku meninggalkannya sendiri di sini" Gumamnya terheran-heran.
"Nuha! Kamu gak lihat di belakang sekolah kita banyak pohon, bahaya kalo hujan-hujan di sini. Lagian itu petir terus saja menyambar. Kamu gak takut?"
"Jedderr!!"
"Jedderr!!"
"Tuh lihat tuh, kamu gak takut?"
Kilat semakin keras berbunyi. Benar-benar menakutkan suasana di sana. Hujan semakin deras dan suasana di luar semakin gelap, berubah seperti di dalam hutan saja.
"Kyyaaaa!!!", Nuha menutup kedua telinganya, langsung merunduk ketakutan.
"Nuha! Kamu gakpapa?"
"Aku takut, Naru"
"Ayo, kita masuk ke dalam aja"
Mereka duduk di dalam gudang.
"Maafkan aku ya Naru"
"Gak papa. Kita tunggu aja di sini sampai hujan reda"
"U-Um.."
"Nuha?"
"Iya?"
"Kamu beneran gakpapa kan?"
"Iya, gakpapa. Hehe.."
"Aku mengkhawatirkanmu lho"
"Terima kasih Naru", Nuha tersenyum manis.
"Kalo kita kesambar petir di sini gimana ya?", canda Naru.
"Jangan menakutiku donk"
"Eh, aku hanya bercanda bukan menakutimu"
"Jangan bercanda Naru"
__ADS_1
"Ahahaha..", Naru tertawa.
"Jangan tertawa!"
"Trus, kita ngapain disini?"
"Apa?"
"Hahahaha..", Naru terus saja tertawa.
"Iih, kesel deh!", Nuha pergi meninggalkan Naru dan menghampiri kedua kucingnya, "Yaah, mereka udah tidur", keluhnya.
"Kamu itu lebih mentingin kucing daripada dirimu sendiri", Tiba-tiba Naru berada di belakang Nuha, menunduk ikut melihat keadaan mereka.
"Waa! Na-Naru, kamu mengagetkanku!"
"Kenapa?, Ha-hasying.."
"Tuh kan bersin. Ayo menyingkir", Nuha Mendorong Naru kembali ke tempat duduknya, "Nanti mereka bisa bangun denger kamu bersin-bersin terus", imbuhnya.
"Iya-iya maaf"
Mereka berdua duduk saling berdiam diri menunggu hujan reda. Hujan masih saja turun dengan derasnya, kilatan petir masih terlihat di langit sana. Kegelapan menyelimuti mereka berdua.
Naru melipat tangannya sambil memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
"Lama banget sih hujannya", Gumam Nuha.
"Hei Hawa, keluarlah. Temenin aku"
"Gak mau, kan ada Naru"
"Tapi dia lagi tidur"
"Enggak, dia gak tidur"
"Keluarlah Hawa"
"Gak mau"
Hujan deras dan gelapnya suasana membuat waktu semakin petang. sudah lebih dari setengah jam hujan tidak berhenti-henti. Nuha sedikit terisak.
Naru yang masih terjaga mulai mendengar Isakan Nuha. Ia membuka matanya, "Nuha, ada apa?"
Nuha masih terisak-isak
"Lihat aku, ada apa?"
Naru melihat ke sekeliling ruang gudang, memang cukup gelap dan tidak mengenakkan. Suara hujan deras yang menimpa atap gudang pun masih terdengar cukup keras. Ia tidak tega melihat Nuha ketakutan.
"Tidak apa-apa Nuha, jangan takut", ucap Naru menepuk pundak Nuha untuk memberikan ketenangan.
Nuha masih saja terisak-isak.
"Tadi senang sekali ingin hujan-hujan. Sekarang malah ketakutan" Bantin Naru
"Benarkan, ada Naru yang melindungimu. Jangan khawatir, dia sangat tulus dan lebih mementingkan dirimu daripada dirinya sendiri", balas Hawa tenang.
Nuha memejamkan matanya. Lebih ingin terjaga dipelukan Naru. Nuha bahagia memiliki Naru. Begitu pula Naru jauh lebih bahagia bisa memiliki Nuha. Mereka selalu memiliki moment romantis yang sangat menggemaskan.
Beberapa saat kemudian, Naru menggigil kedinginan dan melepas pelukannya, "Maaf Nuha, aku kedinginan", ucapnya.
"Merepotkan sekali ya?"
"Tidak Naru. Jangan bilang seperti itu"
"hahaha.. gakpapa Nuha. aku baik-baik saja kok", Naru masih terus menggigil kedinginan.
"Baik-baik aja gimana?! Kamu semakin menggigil"
"Gak papa, sebentar lagi hujan reda. Kita bisa segera kembali. Tenanglah, Nuha"
"Aku ingin menolongmu Naru. Katakan apa yang kamu inginkan?"
"Gak ada Nuha"
"Katakan saja. Aku akan menolongmu"
Naru melipat tangannya erat. Tidak ingin mendengar Nuha mengomel. Ia memejamkan matanya lagi.
"Naruuu.. aku khawatir padamu! Katakan sesuatu?!"
"Keras kepala sekali kamu ini?!", Gumam Naru
"Naruuu!"
"Nuha, diamlah!"
"Gak bisa. Kulitmu berubah menjadi putih dan pucat sekali. Aku gak bisa diam aja"
Naru menghela nafas sejenak. Mengatur pikirannya karena jadi sedikit terganggu dengan tingkah Nuha. Ia benar-benar berharap hujan bisa segera berhenti. Akhirnya ia meminta Nuha untuk bernyanyi.
"Nyanyi, nyanyilah Nuha"
"Aku, nyanyi? Ma- mana bisa?!"
"Kalo gitu diam saja. Itu membuatku lebih baik"
"Kamu jahat banget deh. Baiklah, aku akan nyanyi"
"Jangan dipaksakan"
"Aku akan nyanyi!"
"Caramu mengkhawatirku memang sangat aneh Nuha. Hahaha.. menggemaskan sekali" Gumam Naru
"Tapi, suaraku mungkin akan kalah sama hujan"
"Aku lebih bisa mendengar suaramu daripada suara hujan"
"Naaruu..", Nuha terharu. Ia berjalan maju ke muka gudang. Tidak menoleh ke arah Naru, ia memandang langit dan mulai bernyanyi.
Ending song dari anime Full Metal Panic, penyanyi Shinokawa Mikuni. Judul lagu Kireina Hana yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia.
...Dalam hatiku telah mekar...
...sekuntum bunga mungil...
...Bunga yang takkan pernah layu...
...Yang kudapat darimu...
__ADS_1
...Aku sudah tak takut lagi...
...pada apa yang kupercaya...
...Karena kini ku lebih tegar...
...Berjumpa denganmu sungguh bahagia...
...Bergandengan tangan ku sungguh bangga...
...Meskipun kini kita menatap langit yang...
...berbeda tapi aku bisa melangkah sendiri...
Selesai bernyanyi, Nuha langsung berlari meninggalkan Naru. Hati Naru tersentuh mendengar nyanyian Nuha. Meskipun samar-samar tercampur dengan suara hujan tapi nyanyiannya begitu tulus dan Naru bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Tapi Naru bingung, kenapa Nuha malah berlari meninggalkannya sendiri. Ia bersedih, dan berfikir jika suatu saat Nuha tiba-tiba meninggalkannya hatinya akan sehancur apa.
Nuha berlari menerobos hujan yang mulai reda menuju kelasnya hendak mengambil jaket dan tas Naru juga tas miliknya. Tidak ingin menunggu terlalu lama lagi.
Ternyata Asa masih di kelas menunggu kedatangan Nuha dan Naru, "Asa?", sapa Nuha.
"Nuha? Kamu baik-baik aja kan?"
"Iya Asa, aku baik-baik saja"
"Syukurlah"
"Asa, terima kasih ya sudah mau nungguin aku. Tapi.."
"Iya aku tau. Sana gih, kasihan Naru nanti kelamaan nunggu dan malah nyusul kamu deh"
"Hehe, iya. Kamu memang baik, Asa", Nuha memeluk Asa, Asa pun tertawa senang.
"Kalo gitu, aku pulang ya"
"Iya, hati-hati Asa.."
"Kamu juga hati-hati nanti pulangnya"
"Iya"
Nuha dan Asa saling melambaikan tangan.
Nuha kelelahan berlari datang kembali ke gudang kosong menemui Naru sambil menggendong tasnya dan membawa tas Naru juga jaketnya.
"Naru!!", Nada ceria Nuha terdengar dan ia tersenyum sambil kelelahan.
"Naru, aku berhasil mengambilkan tas dan jaketmu!"
Naru masih menunduk. Ia terharu mendengar keceriaan Nuha. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena telah berfikir negatif terhadap hubungannya sendiri dengan Nuha.
"Naru?!"
"Iya, Nu haa?"
"Hah, syukurlah. Kamu tidak akan kedinginan lagi", Nuha tersenyum senang, "Aku takut sekali tau, karna kamu seperti mayat hidup. Begitu putih dan pucat, hihihihi", Candanya.
"Apa?!"
"Hehe, Maafkan aku yaaa", Nuha terus melempar senyum di hadapan muka Naru.
Naru kesal melihat senyuman Nuha, bisa-bisa ia frustasi saking gemasnya melihat keimutan Nuha. Naru langsung mencabut kuncir rambut poni Nuha.
"Naru, jangan kayak gitu"
"Ambil saja kalo bisa"
"Naru, kembalikan", Nuha melompat-lompat meraih kuncirnya dari tangan Naru.
"Ahahaha"
"Naru! Gak liat apa?! Kamu itu tinggi kayak menara eiffel"
"Trus kamu sependek apa donk?"
"Naru!"
Naru berlari ke muka gudang, ternyata hujan sudah berhenti. Dia pun berhenti menjahili Nuha dan segera mengajaknya pulang.
"Nuha, lihat! Hujannya sudah berhenti"
"Uwaaa.. syukurlah. Yey! kita bisa pulang"
Nuha senang sekali
"Sini rambutmu aku rapiin lagi"
Nuha biasa menguncir rambut poninya tegak ke atas seperti air mancur, tapi Naru lebih memaniskan posisinya. Ia kuncir poni Nuha sedikit menyamping dan helaian poninya terjuntai ke bawah.
"Nah, kalo gini kan lebih cantik. Dasar culun"
"Hhmpp!!"
Nuha hanya menggembungkan pipinya
Naru mengambil sesuatu dari tasnya, ia mengambil syal pemberian Nuha.
"Nih, tolong pakein"
"Pake sendiri donk. Masa gak bisa"
"Gak bisa Nuha, aku lupa caramu makaikan gimana"
"Seperti ini Naru perhatikan"
Nuha melipat syal tersebut sama panjang lalu melingkarkan ke leher Naru kemudian kedua ujungnya ia masukkan ke lubang lipatan syal tersebut. Seperti simpul jangkar di pramuka.
"Mudahkan?"
Naru menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sejenak, Nuha tiba-tiba terpesona dengan ketampanan Naru. Ia terlihat makin handsome memakai syal pemberiannya. Ia pun tersipu malu.
"Nuha, ayo pulang"
"I-iya.."
Nuha dan Naru mulai berjalan meninggalkan gudang. Nuha memainkan jari-jarinya karena masih tersipu malu melihat kehandsomean Naru. Naru pun langsung mengambil tangan Nuha dan menggandengnya.
Sampai di depan gerbang, mereka pun mulai berpisah. Naru biasa pulang naik angkutan umum sedangkan Nuha dengan sepeda kayuhnya.
__ADS_1