
Dua hari berlalu, Naru masih disibukkan dengan bimbingannya. Sehingga, dia masih absen tidak bisa mengikuti pembelajaran di kelas tambahan.
Meskipun, ada sela-sela waktu untuknya mencuri perhatian Nuha, tapi Naru enggan melakukannya.
Sekarang, akhirnya dia bisa mengikuti kelas tambahan karena sedang libur dalam membimbing olimpiade.
"Hei Naru, hari ini Nuha tidak masuk sekolah. Apa kau tau kenapa dia tidak masuk hari ini?", tanya Asa.
Naru langsung kaget mendengar kabar bahwa Nuha tidak masuk sekolah hari ini. Pantas saja, seharian ini dia tidak melihat Nuha, ternyata ia sedang tidak masuk sekolah.
Padahal, hari ini Naru akan senang bisa melihat Nuha di kelas tambahannya setelah Naru beberapa hari absen. Tapi, ternyata si doi tidak masuk sekolah.
Naru hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Whats?! Elo gak tau?! Sudah dua hari lho. Kupikir dia mengabarimu"
"2 hari?! Lalu, apa dia juga tidak mengabarimu?"
"Dasar adik ipar yang tidak peka! Kau harus segera menghubunginya bodoh!"
"Gue ini tidak pernah berkirim pesan dengan Nuha, apalagi menelponnya" Jawab Naru santai.
Asa langsung memukul kepala Naru dengan bukunya, dia tidak segan-segan memarahi dan mengomentari hubungan aneh Naru dengan sahabatnya itu.
"Elo tu punya masalah apasih sama gue. Jadi cewek galak bener," Naru mulai kesal.
"Naru.. kenapa kalian itu sampai bisa gak saling berkirim pesan atau telpon-telponan gitu, heeeeh. Pacaran macam itu?!", Asa mencoba sabar.
"Biarin! Gue tidak ingin dia menjadi repot dengan komunikasi jarak jauh seperti itu"
"Haah" Asa menghela nafas pasrah.
Akhirnya Asa yang mencoba mengirim pesan kepada Nuha, menanyai kabarnya kenapa hari ini tidak masuk sekolah. "Terkirim sih tapi gak dibaca sama Nuha" Ucap Asa sedikit lega.
Naru hanya menyangga dagunya dan memandang ke arah langit, "Nuha.." Gumamnya.
"Naru! Usaha donk?!"
"Gue juga lagi mikirin dia"
"Bukan dipikirin!!"
"Haish! Asa memanglah sahabat terbaik buat Nuha. Aku harus bisa menyukai dunia Nuha yang ia miliki" Gumam Naru mencoba sabar menghadapi Asa.
"Naru!"
Naru langsung mendobrak mejanya sendiri. Membuat Asa kaget dan sedikit takut. Naru pun mengambil jaketnya dan beranjak pergi meninggalkan kelas.
"Hei! Mau kemana?"
"Kerumahnya!"
"Ahahaha.. Yaudah sana!"
"Gercep juga itu bocah. Salut gue" Asa terkekeh.
__ADS_1
Asa kembali menatap handphonenya, tidak ada respon dari SMSnya, "Kemana sih ni anak? Masa bisa gak pegang HP. Apa iya dia tiba-tiba sakit? Atau.. terjadi sesuatu padanya" Asa mulai khawatir.
"Aku harus cari tahu Nuha kemana?" Gumam Naru
"Terpaksa aku harus ke rumahnya"
Naru memakai jaketnya dan mencari ojek di seberang jalan raya untuk mengantarkannya ke rumah Nuha. Naru memberi petunjuk arah secara manual dan mengingat-ingat jalanan yang pernah dilaluinya saat bersama Nuha naik angkot, dia tidak bisa menyebutkan alamatnya secara pasti.
Sampai juga di rumah Nuha. Naru melihat rumah Nuha tampak sepi dan pintu terkunci rapat. Seperti tidak ada aktivitas beberapa hari.
"Kemana dia? Apa Nuha sedang pergi ke suatu tempat?" Naru mulai menyelidiki
"Dia menyembunyikan sesuatu dariku lagi" Gumam Naru
Tak lama Naru menunggu di dekat pagar tanaman rumah Nuha, Muha pulang ke rumah. Naru sedikit menundukkan kepalanya kepada Muha tanda ia menghormati kakak Nuha itu. Muha mematikan mesin motornya dan hendak membuka pintu gerbang.
"Apa kau sudah menunggu lama di sini?"
Naru hanya tersenyum simpel.
"Masuklah" Ajak Muha
Naru berjalan di belakang mengikuti Muha memasuki rumah. Muha mempersilahkan Naru untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Muha meninggalkan Naru sebentar untuk mengurusi dirinya sendiri di kamar dan mengemas beberapa barang.
Naru memandangi sekeliling ruang rumah Nuha. Rumah Nuha yang berlantai dua itu terlihat kecil dan minimalis. Suasana kehangatan dan keharmonisan keluarganya sampai bisa dirasakan sendiri oleh Naru.
Mini bar dan dapur yang terlihat dari ruang tamu membuat Naru membayangkan Nuha ada di sana. Sedang memasak dan menyiapkan makanan di meja dekat mini bar dapur. Naru benar-benar merindukan Nuha. Dia masih bertanya-tanya, dimana Nuha. Naru mencoba bersabar.
Muha datang menghampiri Naru, membawakan dua gelas es sirup jeruk dan beberapa camilan.
"Bolehkah saya tahu dimana Nuha sekarang?"
"Dia.. sedang di rumah sakit"
"Ke-kenapa bisa?"
"Pulanglah. Tidak ada gunanya kamu kesini"
"Beritahu saya, kenapa Nuha bisa di rumah sakit? Kakak, tolong!", Pinta Naru serius dengan membungkukkan badan.
"Terjadi kecelakaan.. Nuha-"
Raut wajah Naru langsung berubah, hatinya tersentuh. Tangannya menggeram kesal namun sedih. Muha tidak ingin melanjutkan perkataannya lagi.
"Kak, izinkan saya untuk ikut ke rumah sakit", Naru masih membungkukkan badan dengan sangat serius, meminta persetujuaan atas izinnya tersebut.
"Sudah aku bilang kan tadi. Sebaiknya kamu pulang saja"
"Kakak, tolong!!"
Naru benar-benar serius dengan permohonannya. Membuat Muha tidak bisa membantah lagi.
"Baiklah"
Muha memboncengkan Naru di sepeda motornya. Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam tidak saling mengajak mengobrol. Muha yang masih bersikap dingin kepada Naru belum bisa memberikan keramahannya.
__ADS_1
"Saya lihat, Anda sudah jarang ke sekolah, Kak?", Naru mencoba mengajak mengobrol.
"Berhentilah memanggilku kakak", Muha memicingkan bibirnya.
"Hanya Kak Yuki yang sering terlihat di sekolah"
"Dia telah menggantikan karna aku sedang sibuk dengan kegiatan lain. Lagian, aku juga tidak ingin mengganggu mereka lagi"
Naru kaget dan akhirnya tertawa. Dia langsung memahami jawaban dari kakak pacarnya itu. Ternyata Muha ke sekolah tidak serius menjadi asisten guru di sana, dia hanya ingin buang-buang waktu untuk memata-matai adiknya yang sekarang sedang memiliki pacar.
Tapi, dia menyudahi perbuatannya tersebut karena Nuha tidak ingin kakaknya terus memantaunya.
"Kenapa kau tertawa?!"
"Tidak. Maafkan saya, Kak"
"Kak? Lagi-lagi.." Gumam Muha.
"Terima kasih Kak, sudah mengizinkanku ikut ke rumah sakit" Naru tersenyum
Muha terdiam dan lebih mempercepat laju kendaraannya.
Sampai di rumah sakit, Muha berjalan menuju ruang kamar Nuha berada diikuti Naru di belakangnya. Naru tidak akan masuk sebelum Muha atau si Ibu memberi izin. Naru ingin menjaga sopan santunnya.
"Nuha.." Ucap Naru lirih
"Siapa dia Muha?" Tanya Ibu yang sudah sedari tadi duduk menjaga Nuha yang belum sadarkan diri
"Dia.." Jawab Muha
"Masuklah nak" Ibu Nuha menghampiri Naru
"Maafkan saya kalo saya kurang sopan datang ke sini"
"Kamu mau menjenguk Nuha?"
"I-iya"
Ibu tertawa kecil sebentar, "Ibu kira kamu temannya Muha, perawakanmu begitu tinggi seperti Muha. Tapi, ternyata kamu kesini datang untuk Nuha ya.. Silahkan, silahkan masuk" Ucap ibu
"Maaf, saya tidak membawa apa-apa untuk menjenguk Nuha" Ucap Naru sangat sungkan
"Tidak apa-apa, mungkin kamu juga baru tahu kabar ini. Jadi ini mendadak ya bagi kamu"
"I-iya" Ucap Naru sedih
"Muha, temenin ibu keluar sebentar yuk" Ajak Ibu dengan sengaja.
"Tapi.." Muha sedikit menolak
Ibu langsung memberi kode pemaksaan untuk Muha. Ibu yakin dan mencoba mempercayakaan Nuha kepada Naru. Ibu ingin memberikan waktu sebentar untuk Naru bertemu dengan Nuha.
"Te-rima kasih Ibu"
"Sudah, tidak perlu sungkan" Ibu tersenyum
__ADS_1
"Nuha.."