Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Diam membisu


__ADS_3

"Kakak, ada yang aneh pada diriku", ucap Nuha.


Nuha dan Muha sedang bermain game online di depan layar smartTV di malam hari. Nuha menceritakan apa yang sedang terjadi pada dirinya kepada kakaknya.


"Apa?", Muha meneliti sejenak fisik adiknya tersebut.


"Kakak lihat apa?!"


"Katanya ada yang aneh?, jerawat kamu juga sudah hilang tuh. Ada apa?", tanya Muha.


"Bukan jerawat kakak. Ada yang aneh pada sikapku", jawab Nuha.


Muha kembali fokus dan menekan stick game untuk menikmati kembali permainannya. Nuha juga mengikutinya.


"Tadi Hawa berkomunikasi lagi denganku"


"Syukur donk"


"Tapi ini beda kak, dia seperti bukan Hawa yang aku kenal. Dia bisa mengendalikan diriku"


"Dikendalikan gimana?"


"Ibu!! Ambilkan minum dan camilan di kulkas!", perintah Nuha kepada ibunya.


Seketika Nuha langsung menutup mulutnya dan merasa sangat menyesal.


"Nuha?! Kamu bicara apa tadi?!", Muha sedikit marah melihat Nuha yang tiba-tiba memanggil ibu dengan kasar.


"Inilah yang terjadi pada diriku", bisik Nuha.


"Ibu cepat!!", bentak Nuha.


"Nuha!! Jangan kasar!", ucap Muha.


Muha langsung melepas stick gamenya dan beranjak dari tempatnya. Dia pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman dan camilan untuk Nuha.


"Biar Muha aja ibu", ucap Muha.


Ibu masih sibuk di dapur dan tidak jadi menuruti perintah Nuha. Selesai di dapur, beliau menghampiri Nuha yang sedang berada di ruang tengah. Muha datang.


"Nih! Kalo minta itu yang baik Nuha. Kayak anak kecil saja", ketus Muha.


"Ini bukan kemauanku kakak!", bisik Nuha.


"Ibu, maafin aku yah", ucap Nuha sambil memeluk Ibu.


"Gakpapa.. Kamu memang gadis kecil Ibu", balas Ibu.


Nuha terharu. Muha sedikit memicingkan bibirnya dan kembali fokus dengan gamenya.


"Hawa mencoba mengendalikan dirimu? Tapi kok gak lucu, malah bikin kezel", gerutu Muha.


"Aku juga tidak mengerti. Ini seperti bukan Hawa", keluh Nuha sambil bermain game.


"Anja**!! Aku kalah! Kakak ngalah dikit donk", ucap Nuha.

__ADS_1


"Nuha, kamu mengumpat?!", tanya Muha tegas.


"Ti-tidaaaakkk!", teriak Nuha. Nuha pun berlari menuju kamarnya. Mengunci pintu dan menenggelamkan diri di dalam selimut. Muha mengikutinya.


"Tok tok tok"


"Nuha.."


"Jangan kakak..", ucapnya lirih di dalam bantal.


"Pergilah!! Jangan mengangguku!!", bentak Nuha.


"Nuha..", ucap Muha lirih.


"Hawa!! Tega banget kamu jadi kasar gini?!, Apa sebenarnya yang kamu mau?", tanya Nuha kesal.


"Aku sendiri juga tidak bisa mengendalikan diri Nuha", ucap Hawa dari mulut Nuha sendiri.


"Gimana ini besok aku di sekolah?", gerutu Nuha.


"Gimana ini, gimana?!!", lanjutnya.


Nuha tiba-tiba beranjak dan mengambil buku sketsanya. Membukany dengan kasar dan langsung menyobek satu halaman.


"Ti- tidaaakk!!", teriak Nuha.


"Jangan lakukan Hawa", pintanya.


Nuha menyobek lagi halaman kedua. Membuatnya semakin berantakan. Dia berusaha menolak reflek perbuatannya tersebut yang tidak bisa dia kendalikan. Nuha semakin beradu.


"Kumohon, berhentilah!!!", Nuha semakin berteriak.


Nuha akhirnya kelelahan. Tubuhnya terasa lemas dan pikirannya berhenti. Dia berjalan ke kasur dan merebahkan diri. Memandang kosong langit-langit kamarnya. Memandang kosong dan terpejam.


Detak jam mengiringi tidur Nuha. Pagi pun datang.


"Aah~ sudah pagi ya?, cepet banget", keluhnya.


Nuha bangun dan mempersiapkan dirinya untuk mandi dan bersiap-siap. Melihat buku sketsanya yang sudah tersobek, dia mengabaikan. Terdiam dengan tatapan kosong.


Dia mengambil lakban dan menempelkannya di mulutnya kemudian memakai masker. Keluar kamar dan menuruni tangga. Duduk di meja makan tanpa sepatah kata pun untuk menyapa Ibu dan Kak Muha.


"Nuha, kok pake masker nak?", tanya ibu.


Nuha hanya memberikan tatapan dan kembali menundukkan kepala. Ibu mendekat dan mencoba menyentuh dahi Nuha. Seketika Nuha menghempas tangan Ibu.


"Nuha!", ucap Muha marah dengan langsung memegang kedua pundak Nuha dan menatapnya serius.


Mata Nuha langsung tajam. Tatapan gelap dia berani berikan untuk Muha. Muha pun melepaskan diri dan menghela nafas. Nuha mendobrak meja dan langsung beranjak pergi.


"Nuha?", tanya ibu lirih.


"Biar Muha aja Ibu", ucap Muha menenangkan ibu.


Muha menyusul Nuha yang sudah mengambil sepeda. Memanggilnya, namun panggilan itu Nuha abaikan. Nuha tidak menoleh sedikit pun dan langsung mengayuh sepedanya.

__ADS_1


Nuha benar-benar sedang tidak berdaya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi dirinya sendiri dari reflek perbuatan yang tidak bisa ia kendalikan.


Nuha terus mengayuh sepedanya hingga sampai di sekolah. Berjalan memasuki gerbang sekolah dan menuju kelasnya.


Naru menyapanya dari belakang, "Nuha", ucapnya ramah.


Nuha mengabaikannya. Naru langsung menghentikan langkah Nuha dengan memegang tangannya.


"Nuha, ada apa?"


Gadis yang bingung dengan dirinya sendiri itu langsung menolak Naru dan melepaskan tangannya. Tangannya hendak melepas masker tapi Nuha berusaha untuk menolak perbuatannya.


Nuha terus menggigit bibir bawahnya dan merasa sangat kesal. Hatinya terasa sesak dan matanya mulai bergetar.


"Nuha ada apa?!", tanya Naru lebih tegas dan serius.


Nuha lari dan meninggalkan Naru. Mulutnya benar-benar ia kunci supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, sikap tubuhnya masih belum bisa dia kendalikan.


"Ada apa dengannya?", gumam Naru heran.


"Apa kakaknya memarahinya?, tapi aku kan sudah bicara baik-baik dengan kak Muha di cafe senja waktu lalu"


"Hai bro!", Sapa Dilan menepuk pundak Naru dari belakang.


"Hmm..", jawab Naru.


"Pagi-pagi kok bengong sendiri di sini? Mencari sesuatu?", tanya Dilan.


"Enggak", ucap Naru.


"Basket bentar yuk", ajak Dilan.


"Okelah", jawab Naru langsung patuh.


Naru masih menatap kepergian Nuha. Hatinya tidak tenang untuk segera menemui Nuha kembali. Namun, Dilan sedang memojokkannya sekarang.


"Nuha, met pagi", sapa Fani yang sudah duduk di tempatnya.


Nuha mengabaikannya dan duduk di kursi. Melepas tas dan beranjak keluar kelas lagi. Melihat Asa dan Sifa berjalan menuju kelas, Nuha langsung memalingkan mukanya.


"Ini sangat menyakitkan", keluhnya dalam hati.


"Hai Nuha", sapa Sifa.


Nuha mengabaikannya dan beranjak pergi. Berjalan sendiri menyusuri lorong sekolah. Hatinya benar-benar sedih.


Nuha duduk sendiri di pinggir pelataran tangga undakan yang menghadap ke lapangan basket. Menyangga dagu dan melamun. Tidak sadar dan tidak memperhatikan bahwa di sana ada Naru dan Dilan sedang bermain basket.


Seketika Naru melihat keberadaan Nuha. Permainannya goyah dan bola langsung disambar Dilan. Dilan bermain kencang kemudian memasukkan bola ke keranjang, membuat point.


"Naru! Fokuskan matamu! Dari tadi bengong terus!", teriak Dilan sambil memantul-mantulkan bola basket ke arah Naru.


Mendengar panggilan Naru, Nuha langsung tersadar dan mengarahkan pandangannya kepada Naru. Seketika Naru langsung menerima tatapan Nuha dari jarak yang cukup jauh.


Nuha sadar dan mulai beranjak pergi lagi. Naru tidak tahan melihat sikap Nuha, dia berencana untuk menghampirinya. Nuha terus berjalan tanpa mengetahui bahwa Naru akan mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2