
"Syukurlah, kamu telah sadar kembali Nuha", Naru memeluk Nuha dengan begitu sayang.
"Aku kenapa Naru?"
"Kamu tadi pingsan. Membuatku sangat khawatir"
"Pingsan?"
"Iya. Sudahlah. Biarkan aku memelukmu untuk sebentar saja. Ya?"
"Um.."
Seketika Nuha sadar dan mengingat sesuatu, "Sketsaku? Bu-buku sketsaku mana?!", Nuha menoleh kesana kemari terlihat panik.
"Nuha, tenanglah", Naru semakin erat memeluk kepala Nuha dan mengelusnya penuh kasih sayang.
"Naru.. Buku sketsaku mana?", lirih Nuha.
"tok tok tok"
Dina membuka pintu dan berucap, "Kak, makan malam sudah siap. Ayo Kakak tu-.."
Belum selesai melanjutkan ucapannya, Dina kembali menutup pintu karena kaget melihat pemandangan yang tidak biasa untuknya. Naru sedang memeluk Nuha.
"Astaga, Kak Naru dan pacarnya..", Dina menjadi terdiam sejenak, kemudian membenahkan diri lagi. Mencoba mengetuk pintu dengan lebih keras.
"tok tok tok"
"tok tok tok!"
"Kakak?!"
Mendengar suara dari balik pintu, Nuha penasaran. "Naru, suara siapa itu?"
Dina membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Perlahan namun pasti, menyapa Nuha dengan sesopan mungkin, "Ha-halo kakak.."
"Eh?"
"Hai Kakak pacarnya kakakku, kenalin aku Dina. Rui Dina, adiknya kak Naru yang paling iimuutss"
"Pa-pacar?", Nuha sedikit sungkan.
"Syukurlah kakak sudah bangun, yuk sekalian ikut makan malam bersama kita"
"Makan malam bersama? Kita?"
Dina langsung mendorong Naru keluar kamar. Ia ingin mendadani Nuha secantik mungkin untuk ikut makan malam bersama keluarganya.
"Baiknya.. kakak mandi dulu gih. Tuh, di kamar aku ada kamar mandinya kok", Dina mendorong Nuha memasuki kamar mandinya. Nuha hanya bisa menurut dan mematuhi paksaan dari Dina.
Nuha mandi dengan cukup tenang dan keluar dengan aroma yang begitu segar dan semerbak bagai memakai parfum dari luar negeri. Nuha menjadi canggung.
"Ayo kak sini", Dina menarik Nuha ke meja rias miliknya. Ia juga sudah menyiapkan beberapa pakaian dan aksesoris yang cocok untuk Nuha.
Gadis modis itu mendadani Nuha dengan begitu cantik, jauh berbeda dengan penampilan biasanya.
"Duh, cantik banget kamu kak. Aku jadi iri deh"
"Eh? Iri?"
"Iyalah.. Beruntungnya kak Naru mendapatkan gadis secantik kakak"
"Apa kamu jadi membenciku?"
"Kok bilang gitu? Ya enggaklah pacarnya kakakku. Aku malah suka dan bangga. Akhirnya aku bisa punya kakak perempuan"
"Eh?"
"Yuk, kita keluar", Ajak Dina
"Ta-tapi.."
"Ayo, keburu ayah dan ibu menunggu lama", Dina menarik Nuha keluar kamar dan menggandengnya menuruni tangga mewahnya.
Seperti seorang putri dari negeri dongeng, Naru terpana melihat kecantikan Nuha. Jauh berbeda dari Nuha yang naif dan culun. Nuha berubah menjadi gadis cantik nan dewasa. Begitu cocok menjadi kakak perempuan bagi Dina.
"Dia bukan Nuha lagi, melainkan Inara", sindir Naru di dalam hati sambil terkekeh kagum.
"Astaga, manis sekali kamu nak"
Ibu yang sudah duduk di kursi makan menjadi tidak sabar menunggu kedatangannya, beliau langsung menghampiri Nuha dan menyandingnya berjalan bersama menuju meja makan.
Naru mempersiapkan tempat duduk untuk Nuha.
"Jangan katakan sesuatu tentang penampilanku ya Naru", Bisik Nuha kepada Naru.
"Iyya", Naru tersenyum.
Sebelum duduk, Nuha memperkenalkan dirinya dengan sopan dan ramah. Suaranya begitu lembut untuk didengarkan, memberikan perhatian bagi ayah dan ibu Naru.
__ADS_1
"Duduklah", Ayah mempersilakan Nuha untuk kembali duduk dengan baik.
"Naru sudah menjelaskan semuanya kepada kami. Jadi, kamu tidak perlu sungkan lagi ya. Anggap aja ini rumah sendiri", Ibu Naru begitu ramah.
"Terima kasih Om Tante"
Suasana makan malam begitu hangat, serasa lampu rumah keluarga mereka bertambah terang dengan kehadiran Nuha. Ada ayah, ibu, Naru, Dina dan Nuha sendiri.
Selesai makan, kedua orang tua Naru pamit dan Dina juga langsung berlari menuju kamarnya. Pelayan rumah tangga langsung membersihkan dan merapikan meja makan tersebut. Tinggal Nuha dan Naru yang sendiri berdua.
"Nuha, apa kamu merasa lebih baik?"
"Iya"
"Syukurlah. Ayo aku antar ke kamar Dina"
Nuha mendorong kursinya ke belakang dan hendak berdiri. Namun, tiba-tiba kakinya terasa linu. Kedua lututnya terasa sakit padahal tidak ada luka gores di sana. Ia menyingkap pakaian yang menutupi lututnya dan melihat, ternyata ada lebam di kedua lututnya. Ia benar-benar tidak menyadari itu.
"Nuha, ada apa?"
"Naru, kakiku.."
Naru langsung beranjak menghampiri Nuha, melihat keadaan lututnya. Ia pun juga baru tersadar, bahwa Nuha terjatuh setelah terdorong keras oleh Keisha.
"Nuha, kedua lututmu biru. Apa kamu bisa berdiri?"
Rasa linu di kedua lututnya membuatnya tidak mampu berdiri bahkan berjalan.
"Gimana ini", Keluh Nuha.
"Bentar ya, aku cariin obat di kotak P3K dulu"
"Iya"
Naru tiba membawakan obat salep untuk luka lebam. Dua pelayan yang dari tadi masih berdiri setia menunggu perintah dari majikannya jadi ikut memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Naru", Ucap Nuha dengan pipi memerah.
Naru memahami ekspresi Nuha. Ia sendiri pun jadi canggung karena dilihat oleh kedua pelayannya. Tanpa basa-basi lagi Naru mengangkat tubuh Nuha dan membawanya menaiki tangga menuju kamar Dina.
"Aduh.. mesranya..", Ucap kedua pelayan itu bersamaan.
Sampai di depan pintu kamar Dina, "Nuha, tolong ketuk pintunya", pinta Naru.
"Tok tok tok", tidak ada jawaban.
Nuha menggelengkan kepala, tanda bahwa pintu telah dikunci dan Dina sudah tidur. Naru pun pasrah. Nuha hanya bisa merespon bingung.
Nuha dan Naru akhirnya berada di dalam kamar Naru. Dia langsung terpesona melihat kamar Naru yang begitu luas dan mewah.
Naru sendiri malah mulai berkeringat dingin karena membawa seorang gadis ke dalam kamarnya. Malam hari lagi.
"Nuha, kamu cantik"
"Eh?"
"Kamu gak takut berada di kamarku?"
"Emang kamarmu ada hantunya?"
"Ahahaha, bukan begitu. Aku ini cowok lho Nuha, kamu gak takut sama aku?"
"Enggaklah. Gimana bisa aku takut sama kamu Naru"
Naru hanya terus menghela nafas pasrah mendengar jawaban Nuha yang tidak sinkon dengan apa yang ia maksud.
"Naru, bisakah aku ganti baju? Sebenarnya, aku gak nyaman sih pake baju seperti ini. Kaos ato kemeja gitu ada kan?", pinta Nuha.
"Ga-ganti baju?", Muka Naru memerah.
"Tapi kan Nuha, ba-bajuku kan, cowok semua", Ucap Naru begitu canggung.
"Naru, mukamu merah?", Tanya Nuha dengan polosnya.
"A-ahahaha.. bu-bukan apa-apa"
Naru begitu canggung menghadapi kepolosan Nuha. Ia langsung beranjak pergi dan membuka lemari pakaiannya, memilah-milah pakaian yang cocok untuk Nuha sembari mengalihkan muka dan tingkahnya yang grogi.
Nuha masih terdiam duduk di kasur Naru, memandang dan melihat sekeliling ruangan. Ia bergumam, "ternyata Naru anak orang kaya ya. Rumahnya begitu besar dan mewah, punya mobil juga asisten rumah tangga. Seperti sebuah istana. Ya ampun, beda banget sama aku"
"Nuha, apa ini cocok", Naru menunjukkan sebuah kaos polos berwarna abu-abu dan navi dengan lengan sepertiga.
"Iya", Nuha langsung mengangguk.
"Nuha, kamu bisa ganti baju di sini aja, aku yang akan keluar ke balkon situ"
"Iya", Nuha mengangguk lagi.
Naru menjadi sedikit heran dengan jawaban singkat Nuha. Ia pun beranjak dan pindah tempat ke balkon, menunggu Nuha selesai berganti pakaian.
__ADS_1
"Naru, aku sudah selesai"
Naru tersenyum mendengar jawaban Nuha, tapi jadi terasa beda karena intonasinya berbeda dari sebelumnya.
"Nuha, kamu gak papa kan?", Naru menghampiri Nuha dan berlutut di hadapannya.
"Tentu saja", Nuha tersenyum manis. Tapi bagi Naru, ia melihat Nuha seperti menyembunyikan sesuatu lagi. Nuha mulai terdiam.
"Nuha, aku lebih suka saat kamu tersenyum dan ceria. Tapi, bukan berarti aku tidak peduli ketika kamu sedang bersedih. Ceritakan padaku, ada apa?", tanya Naru
"Hehe, gak papa", Nuha tertawa kecil, membuat Naru menatapnya dengan serius. Mata mereka saling beradu, jantung Nuha cukup tenang namun jantung Naru semakin berdebar-debar.
"Nuha, jangan menyembunyikan sesuatu dariku", Ucap Naru dengan serius.
"A-aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu", Jawab Nuha dengan memalingkan mukanya dan bingung.
"Saat hatimu bersedih, memang sangat sulit sekali untuk menebak alasannya. Tapi, kalo kamu tidak mau menceritakannya padaku terpaksa aku akan menciummu"
"Na-Naru! Bodoh"
"Jadi, katakan. Ato aku akan menciummu"
"Naru! Jangan aneh deh! Aku gak nyembunyiin apapun"
"Se-lamat malam!!!"
Hawa akhirnya bangun dan keluar dari tubuh Nuha. Suara kerasnya mengagetkan Nuha, hingga membuat matanya memutih seketika.
"Ha-Hawa?!"
"Hawa?", Naru mengulangi ucapan Nuha.
"Hawa, kamu baik-baik saja kan?", bisik Nuha.
"Tentu sajaaa!!!", Hawa tertawa menanggapi ucapan Nuha. Naru mulai penasaran dengan kepribadian Nuha tersebut.
"Hei Naru, kamu hebat sekali bisa membawa Nuhaku pulang kerumahmu, haish! bahkan sekarang ada di kamarmu. Kak Muha tau bisa berabe nih", Ketus Hawa.
"Hawa, jangan mengalihkan pembicaraan. Tolong beritahu aku apa yang sedang terjadi padaku tadi saat pingsan"
"Nuha.. Nuha.. kamu memang sangat cerewet ya kepadaku. Bahkan lebih cerewet daripada bersama Naru"
Naru kesal melihat Nuha sering beradu dengan pikirannya sendiri. Ia menghadapkan bahu Nuha kearahnya dan meraih kepalanya. Tanpa basa-basi dan bertanya ia langsung mencium bibir Nuha. Seketika membuat Nuha kaget dan terbelalak.
"Aku tidak tau apa yang sedang kamu perdebatkan di dalam pikiranmu Nuha. Tapi, setidaknya.. setidaknya.. sedikit saja beritahu aku, sedikit saja, walau itu cuma sedikit saja" Pinta Naru di dalam hati.
Naru masih mengecup bibir Nuha, membuat Nuha luluh dan semakin tidak berdaya. Matanya mulai sayu, detak jantungnya sedikit melemah. Hawa menganga melihat keberanian Naru.
Setelah suasana mereda, Naru melepas ciumannya. Nuha tertunduk lesu, tidak mampu berkata-kata lagi. Sedangkan, Naru masih keukeh meminta keseriusan dari Nuha.
"Nuha, beritahu aku tentang dirimu sebenarnya", Naru memandang lembut Nuha yang tertunduk dan akan menciumnya kembali.
"Na-Naru. Jangan", lirih Nuha.
"Katakan Nuha"
"Tapi.."
Naru mengarahkan bibirnya lagi, Nuha berdebar-debar dengan sedikit terengah-engah. Wajahnya benar-benar menjadi merah. Nuha mendorong bahu Naru dan berusaha menjelaskannya kepada kekasihnya itu.
"Gimana ini? Apa yang harus aku kasih tau ke Naru? Apa ini tentang Hawa?", batin Nuha.
"Baiklah..", Ucap Nuha sambil menelan ludah.
"Apa kamu ingin tau tentang Hawa, Naru?", tanya Nuha.
"Hawa? Iya, siapa dia?"
"Aku.. sebenarnya, punya jiwa nyata yang hanya bisa dilihat oleh diriku sendiri dan kak Muha. Jiwa itu adalah sisi lain dari diriku, lebih ceria dan selalu menyenangkan. Sisi lain yang aku inginkan dan sangat berbeda dengan kepribadianku ini"
"Dia sangat penting dan berharga bagiku. Saat sketsaku jatuh dan tercecer berantakan hatiku rasanya benar-benar hancur. Karena, sketsaku itulah hadiah paling berharga yang bisa aku berikan untuknya. Aku tidak ingin kehilangan dia"
"Bisakah aku melihatnya?", pinta Naru.
"Tapi, Naru"
"Gakpapa, Nuha", sambung Hawa.
"Baiklah kalo itu maumu"
Hawa langsung menunjukkan diri kepada Naru, begitu nyata. Sama persis dengan diri Nuha, seperti cermin. Persis sekali, tidak ada perbedaan sedikitpun. Hanya kebebasan dan kepribadian yang membedakan mereka berdua. Lima detik berlalu, Hawa sudah tidak terlihat dihadapan Naru.
"Hehe. Itulah Hawa, Naru". Nuha tersenyum manis.
Naru langsung memeluk Nuha. Rasa bersalahnya langsung muncul. Daripada ia meminta maaf karena merasa bersalah dan membuat suasana menjadi melow, Naru lebih mengucapkan terima kasih, "Terima kasih, Nuha. Kamu memberiku kepercayaan"
"Eh?, aku.. Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu begitu baik, adikmu juga, bahkan ayah dan ibumu menerimaku dengan senang hati. Maafkan aku karna mungkin aku tidak bisa membalas semua kebaikan itu"
"Dengan hatimu sudah mampu membalas itu semua kok Nuha. Ketulusan dan kebaikan hatimu yang tidak ternilai harganya. Bahkan, beribu kebaikan dariku tidak akan mampu membalas semua ketulusan hatimu"
__ADS_1
"Iiiuu~ gombal deh!", Nuha menertawai ungkapan Naru.