
"Udah lama aku gak bikin sketsa", keluh Nuha.
Setelah menikmati kemalasannya di rumah, Nuha beranjak dari tempat tidur dan menuju ke meja belajarnya. Dia Mengambil buku sketsa yang tertata rapi dengan buku-buku yang lain.
"Aku takut. Mampukan aku membuka buku ini lagi?, Semenjak kejadian itu hingga sekarang aku sudah tidak membuat sketsa lagi. Sangat menyakitkan Hawa. Kamu dimana?", keluhnya tiba-tiba air matanya menetes.
Nuha terus menarik ingus cairnya naik supaya tidak menetes karena sedih. Halaman demi halaman dia buka namun perasaannya semakin jatuh dan menangis.
"Hawa, kamu sangat manis, begitu cantik dengan desain-desain pakaian yang telah aku buatkan untukmu. Tidak ada yang menandingi pesonamu Hawa", ucap Nuha berusaha tersenyum.
"Tapi, kenapa kamu tiba-tiba tidak menampakkan diri di hadapanku lagi? Apa karna aku sering memarahimu? Kita kan sudah sering berdebat Hawa", Nuha masih belum mengerti alasannya.
"Aku akan mencoba menggambar lagi"
Nuha mengambil pensil dan mulai menggambar di halaman kosong. Namun, alangkah terkejutnya dia tiba-tiba menggambar seorang cowok tanpa wajah.
"Ini siapa?"
Di samping itu Naru sudah datang di Cafe Senja seperempat jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan Muha kepadanya. Dia telah memesan dua air mineral di atas mejanya. Sambil membaca buku dengan santai dia menunggu kedatangan Muha.
Muha datang, dengan penampilan yang masih sama seperti tadi pagi saat dia berangkat kerja. Muha melihat Naru dan segera menghampirinya.
"Maaf jika aku terlambat datang", ucap Muha.
Naru kaget dengan ucapan Muha yang begitu sungkan karena dia lebih dulu menunggunya di cafe.
"Gakpapa kak", jawab Naru memalingkan matanya.
"Gimana keadaan Nuha di rumah?"
"Kurasa dia sudah lebih baik, karna ibu sudah pulang dan menjaganya di rumah"
"Baguslah"
"Aku.. Pesankan makanan dulu ya kak?"
"Kenapa elo yang pesen? Kan gue yang ngajak janjian elo di sini. Gue aja yang pesenkan makanan", ucap Muha sudah mulai santai mengajak ngobrol.
Muha memanggil Pelayan dan memesan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya dan Naru.
"Oya bocah, gue gak nyangka kalo elo itu anaknya Rektor di universitas gue"
"Hehe, ada celah nih", batin Naru.
"Tapi, itu bukan berarti gue tetep mengizinkan elo pacaran ya sama adik gue"
"Kenapa kak?"
__ADS_1
"Haish! Kenapa elo begitu mudah memanggil gue dengan sebutan kakak dan memanggil ibu gue dengan sebutan ibu?", Muha mulai bersandar dan melipat tangannya.
"Nyaman aja", jawab Naru ramah.
"Sejak Nuha berada di rumah sakit waktu itu hingga sekarang, dia sudah tidak bisa berkomunikasi dengan Hawa. Jiwa imajinasinya," ucap Muha terus terang.
"Aku mengerti, itulah kenapa aku sudah tidak pernah melihatnya berbicara sendiri. Aku ingin menanyakannya, tapi aku belum sampe hati untuk menanyainya", batin Naru.
"Elo tau kenapa alasannya?", tanya Muha.
"Maaf", Naru menggelengkan kepala.
"Karna dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, yaitu bersama elo bocah nakal", jawab Muha ketus.
"Eh?", Naru kaget.
"Hawa rela sudah tidak menampakkan dirinya karena dia telah percaya kepadamu"
"Kenapa Hawa harus melakukan itu?, Bukankah Nuha akan menjadi lebih sedih karena dia sudah tidak bisa berkomunikasi dengan Hawa"
"Benar, namun dengan sekejap sedihnya hilang karena bersamamu. Dia sudah jatuh ke dalam perasaannya yang begitu dalam kepadamu. Itulah kenapa, dari dulu gue sudah melarangnya untuk mengenal dirimu bahkan pacaran denganmu. Gue tidak ingin suatu saat elo meninggalkannya, akan sehancur apa hatinya jika dia kehilangan dirimu"
"Tapi aku sangat menyayanginya Kak. Aku jujur untuk mencintainya selamanya"
"Untuk sekarang gue akui, gue juga merasa perasaanmu kepadanya masih setengah-setengah. Karna setelah kalian lulus nanti akan seperti apa masa depan kalian? Apa kalian akan buru-buru nikah?", tanya Muha sedikit galak.
"Aku tidak percaya. Bocah cerdas seperti dirimu dan elo adalah anak seorang Rektor, gue yakin elo akan terus melanjutkan studimu entah itu dimana"
"Aku, aku tidak akan meninggalkan Nuha begitu saja. Lagian, sebentar lagi hari lahir Nuha akan tiba. Aku harus memberikan moment yang sangat bahagia untuk dirinya", batin Naru lirih.
"Dia telah kehilangan Hawa, dan suatu saat kau pun juga akan meninggalkannya"
"Kak?"
"Jauhilah dia sekarang"
"Eh?"
"Tidak, tidak.. Aku tidak bisa menjauhi Nuha seperti ini. Dia akan semakin sedih", batin Naru.
"Itulah kenapa, gue gak pernah bisa percaya dengan cowok yang mendekatinya. Sikapnya yang mudah mempercayai orang membuatnya dia lemah terhadap dirinya sendiri"
"Akan kubuktikan bahwa aku sangat mencintainya, aku akan menikahinya sekarang", ucap Naru serius.
"A- Apa?!", Muha terperanjat.
"Ini Naru", ucap Nuha lirih tersenyum sedih.
__ADS_1
"Hawa, aku telah menggambar Naru. Betapa bahagianya aku bisa menggambarnya dengan sangat baik"
"Tapi, kenapa aku tiba-tiba menggambar Naru?"
"Hawa dan Naru, kalian adalah sumber kebahagiaanku", ucap Nuha tersenyum memeluk buku sketsanya.
"Kalian kan masih sekolah, bagaimana bisa elo menikahinya sekarang?", tanya Muha sedikit meredakan emosinya.
"Sebagai jaminan, aku hanya akan berani menikahinya secara sembunyi-sembunyi."
"Astaga, elo benar-benar bocah yang sangat rumit. Bagaimana bisa elo menikahinya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Nuha?"
"Karna aku tau, Nuha akan shock mendengarnya. Aku ingin dia tetap menikmati kehidupannya sendiri tanpa ada tekanan dari aku", ucap Naru tertunduk.
"Gue telah memberimu jalan yang mudah untuk meninggalkannya tapi elo tetep nekat menempuh jalan yang sulit seperti itu", sahut Muha.
"Untuk itu, izinkan aku untuk bisa bersamanya kak, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja"
"Maaf menunggu lama, ini pesanan meja 21 atas nama Muha. Betul?", tanya Pelayan yang membawa makanan dan minuman di meja tempat Muha dan Naru berada.
"Iya, terima kasih", jawab Muha simple.
Makanlah dulu, kita lanjutkan nanti lagi", pinta Muha.
Muha mulai menikmati makanannya begitu pula Naru. Muha sedikit terganggu dengan ucapan-ucapan Naru, maka dia akan membuat sebuah keputusan.
"Maaf karna telah membuatmu membuat keputusan serumit ini Naru", ucap Muha.
"Eh?, anda memanggil saya Naru?"
"Meskipun gue tidak bisa mempercayaimu seratus persen, tapi gue akan mempercayaimu"
"Aku yakin dengan Nuha kak, aku akan membuatnya bahagia dan selalu tersenyum"
"Thanks. Gue akan mengizinkanmu untuk pacaran dengan adikku"
"Tidak jadi untuk menikahinya sekarang?"
"Cih! Akan aku pegang janji-janjimu itu. Jangan membuatnya terluka atau melakukan hal-hal yang melampaui batas", Muha menyentil dahi Naru
"Iya! Aku akan menjaganya dengan aman kak", ucap Naru serius.
"Dia bahkan serius akan menikahi Nuha secara sembunyi-sembunyi hanya tidak ingin membuat Nuha terganggu. Tapi dia benar-benar berani mengambil langkah tersebut. Haha.. Bocah macam apa dia", batin Muha.
"Kak Muha, terima kasih ya atas restunya", ucap Naru senang.
"Iya. Bantulah dia supaya dia bisa belajar dengan sungguh-sungguh", Muha melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Serahkan Nuha pada saya", ucap Naru bangga.