
Naru pergi ke kamar mandi di dalam kamarnya untuk berganti piyama. Sambil berkaca, dia bicara, "Haah, aku tidak ingin malam ini cepat berlalu. Aku masih ingin terus bersama Nuha, lebih lama. Selamanya"
Setelah itu, keluar dari kamar mandi. Kemudian, berjalan ke arah meja belajarnya. Meja belajarnya cukup besar bersudut 90 derajat di sudut kamarnya. Dia menarik salah satu laci meja komputernya dan tampak organ piano keluar dari laci tersebut. Nuha memandangi gerak geriknya.
"Nuha, aku berharap, kita tidak akan pernah putus hubungan. Menjadi mantan atau menjauhi satu sama lain. Aku selalu menyayangimu, Nuha. Bahkan, walaupun kita sudah bersama aku terus merindukanmu"
Naru mencoba memainkan not piano lagu dari Nidji Jangan Lupakan. Melentikkan jari jemarinya di keyboard piano tersebut, memainkan tuts-tutsnya tanpa bernyanyi sepatah kata pun. Ia lakukan dengan sepenuh hati, mencoba menyampaikannya sampai ke relung hati Nuha, ke lubuk hatinya yang terdalam. Begitu jelas, merdu dan menyentuh.
Naru tersenyum tulus, Nuha mendengarkan dengan antusias. Menikmati indahnya suara piano yang dimainkan oleh Naru. Begitu sempurna. Sangat sempurna. Hingga tak sengaja, sampai di tengah-tengah Nuha menyanyikan lagu tersebut. Membuat semakin sempurna.
"Kumohon engkau tetap tinggal. Dan jangan pernah pergi lagi, bernyanyilah na na na na na, bernyanyilah untuk dia yang kurindukan~"
Naru melanjutkan, "Would be nice to hold you, would be nice to take you home, would be nice to kiss you.. uuu.. aaa~"
Nuha mengulangi, "Would be nice to hold you, would be nice to take you home, would be nice to kiss you.. uuu.. aaa~"
Naru terus melanjutkan permainan pianonya hingga selesai di akhir lagu. Sungguh suasana yang sangat romantis, yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan seumur hidupnya. Lagu pengumpul kenangan manis saat bersama, yang terpatri jelas dan indah di dalam hati mereka.
Naru dan Nuha saling melempar senyum satu sama lain. Membuat semakin indah malam mereka. Nuha benar-benar terharu.
Naru memperhatikan Nuha yang berada dihadapannya. Benar-benar nyata. Gadis yang ia sukai benar-benar telah dia miliki dan bisa ia bawa pulang.
"Tidurlah, Nuha"
Nuha pun mengangguk.
"Besok, kita gak akan ketemu lagi. Menghabiskan waktu seperti ini. Malam ini, aku akan menghabiskan waktuku hanya untuk terus memperhatikannya" Pungkas Naru.
Sesekali, dia memandang langit melalui dinding kaca kamarnya. Berjalan keluar balkon, menghirup udara malam.
Detik jam terus berjalan dengan pasti, bulan di langit mulai terlihat terang dengan awan-awan yang mulai menghilang dari pandangan. Langit tampak luas, malam semakin panjang. Tapi, Naru tidak ingin malam larut begitu saja.
"Hfff.."
Pagi pun tiba. Terdengar suara lembut membangunkan Nuha dari tidurnya.
"Nuha bangun"
"Nuha, bangunlah"
"Jam belum bunyi, Hawa. Aku gak mau bangun"
"Bukan aku yang bangunin", jawab Hawa santai.
"Nuha.. bangun"
"Aku gak mau bangun!!", Nuha semakin meringkuk dan menarik selimutnya erat-erat.
"Kalo gak mau bangun, akan aku paksa", Naru naik ke atas kasur dan menarik Nuha telentang.
"Nuha Banguuunnn!!", Naru menjewer kedua pipi Nuha.
Akhirnya Nuha terbelalak bangun dari tidurnya. Tangannya langsung memukul-mukul pundak Naru tanpa henti.
"Adududuh.. sakit Nuha", Naru meninggalkan Nuha dan melanjutkan menyelesaikan memakai seragam sekolah.
"I-ini jam berapa?", tanya Nuha setengah tidur.
"Ini udah jam setengah tujuh Nuha, kamu mau sekolah ato tidak?" Naru berbohong.
Seketika Nuha melonjak panik dan turun dari kasur, "Aku harus segera mandi kalo gitu" Nuha mulai panik sendiri.
__ADS_1
Ia mencari-cari kuncir rambut, handuk, baju ganti dan seragamnya. Kebiasaan yang ia lakukan di rumah. Tidak sadar bahwa ia masih di kamar Naru, Naru hanya melihatnya penuh keheranan.
"Nuha, kamu ini ngapain? Cari apa biar aku bantu?", Tanya Naru santai sambil membenarkan dasi.
"Eeehhhh?! Se-sejak kapan Naru ada disini?!"
"Ini kamarku Nuha, kamu masih ngigo ya?"
"Astaga, iya. Gimana ini, gimana ini?"
"Nuha, maafkan aku. Tenanglah, dan jangan panik"
"U-umm.."
"Duduklah, aku akan bantu apapun yang kamu inginkan. Aku akan ambilkan seragammu dulu di kamarnya Dina"
"Kamu bisa mandi saat aku pergi. Jangan lupa, kunci pintunya", pungkas Naru.
"U-um..", Nuha hanya bisa mengangguk dan jaim.
Naru keluar kamar. Namun, Nuha masih kebingungan di dalam kamar Naru sendirian. Ia masih mencari-cari sesuatu yang bisa untuk menguncir rambutnya yang sebahu itu supaya tidak basah saat mandi.
"Eh? Ada kuncir rambut nyangkut di tempat pensilnya. Tapi, ini seperti punyaku sendiri. Kapan dia punya?" Gumamnya.
Nuha pun mengkucir kuda rambutnya dan bisa mandi dengan tenang, "Duuh, senangnya.. bisa mandi di rumah orang kaya. Beda banget dengan di rumah sendiri. Hihihihi.."
"Eh? Ini baju gantinya kah? "Untuk Nuha" Uwaa~ Naru sungguh perhatian, sampai menyiapkan ini semua untukku", Nuha semakin senang.
Akhirnya Nuha selesai mandi dan kembali duduk bersantai di bangku meja belajar Naru. Penasaran dan melihat-lihat semua benda milik pacarnya itu.
"Ternyata dia pandai bermain piano, Romantis!"
"No kudet kudet club juga, Sempurna!!"
"Beda banget sama kamu ya Nuha", Ejek Hawa.
"Humph!!" Nuha manyun langsung sinis.
"Tok tok tok"
Suara ketukan pintu dari Naru datang. Nuha senang dan langsung membukakan pintu untuknya.
"Naru" Sambut Nuha dengan ceria.
Naru pun jadi kaget dengan sambutan itu. Ia masuk dan membawakan seragam sekolah Nuha, air kompres dan perban elastis.
"Makasih ya Naru kamu mau pinjemin lagi bajumu untukku. Cocok gak?"
Sebuah kemeja pendek kotak-kotak warna biru hitam yang cukup kebesaran bagi Nuha, namun Nuha sangat senang memakainya karena berbau harum.
Pipi Naru jadi merah dan merasa tersanjung. Selalu terpesona melihat penampilan baru dari Nuha.
"Sama-sama"
"Uumm.. harumm", Nuha semakin senang mendapatkan seragamnya kembali. Dan kembali masuk ke kamar mandi hendak berganti pakaian.
"Uwa~ perfect!"
"Cantik!" Senyum Naru.
"Hehe" Nuha menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Naru, ada sisir?"
"A-ada, se-sebentar aku ambilkan"
Nuha berdiri di depan almari pakaian Naru yang terdapat cermin. Ia memandang dirinya sendiri di depan cermin tersebut. Tersenyum-senyum melihat penampilannya sendiri. Naru datang.
Nuha kaget dengan kedatangan Naru, mereka berdua jadi terlihat jelas di cermin tersebut. Cermin yang begitu jernih memantulkan bayangan mereka. Mereka berdua jadi tersipu malu.
Nuha jadi sedikit gemetar hendak melepas kuncir kudanya. Naru yang melihat gerak gerik Nuha menjadi terpana. Melihat leher dan pundak belakang Nuha yang cantik membuatnya semakin mendekat.
Naru membuka sedikit kerah baju Nuha dan mencium aroma tubuh Nuha lembut, kemudian mengecupnya tanpa sadar.
"Na-Naru, Jangan" Nuha sedikit merintih.
"Eh? Ma-maafkan aku Nuha"
"Um.." Nuha terdiam.
Hawa tiba-tiba keluar dari tubuh Nuha. Pergi dan menghilang tanpa pamit.
"Hawa!"
"Hawa?"
"Dia.. tiba-tiba pergi.."
"Kok bisa? Kenapa?"
"Aku, tidak tahu"
"Beneran dia tidak mengatakan apapun?"
"Iya"
Nuha duduk di bangku meja belajar Naru. Bertanya-tanya kenapa Hawa tiba-tiba pergi meninggalkannya.
"Jangan khawatir, dia pasti kembali", Ucap Naru.
"Iya"
"Apa yang akan terjadi kalo Hawa meninggalkanmu?"
"Uum.. aku bisa tertidur tidak sadarkan diri"
"Ooo, kayak di J-fest waktu lalu?"
"Umm.."
Tiba-tiba Nuha merasa kesakitan. Jantungnya berdetak keras seperti suara bom. Berdetak lagi seperti suara bom. Nuha kesulitan bernafas.
"Naru, sakit!", Ucap Nuha kesakitan.
"Nuha ada apa?"
"Gak tau, aaa!! Jantungku sakitt!"
"Nuha?!"
"Ha-Hawa, kenapa kamu menyiksaku?"
Nuha tertidur tidak sadarkan diri. Jatuh dipelukan Naru.
__ADS_1