
Pukul sembilan pagi, Nuha baru bangun dari tidurnya. Dia duduk termenung memandang pintu kamarnya yang terlihat sangat jauh dari tempat dia berada.
"Aku sedang tidak punya daya untuk hidup", keluhnya.
"Kerling kerling"
"kerling kerling", sebuah panggilan masuk di ponsel Nuha. Dia pun meraih ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo?"
"Nuha? Aa Mmoo sudah berapa kali gue telfon tapi gak kamu angkat-angkat, kemana sih kamu?!"
"Asa, aku baru aja bangun tidur"
"Gila! Kita cariin tiga hari gak sekolah kenapa, e malah molor terus kerjaannya. Hih?!"
"Maaf.."
"Sudahlah! Nuha, nanti sore kita nonton yuk!"
"Nonton apa?"
"Nonton film lah, oneng! Di bioskop. Kata Ziya, ada film bagus sedang tayang akhir-akhir ini. Nanti gue jemput jam 3 ya. Tenang saja, ada Fani dan Sifa juga kok"
"Eeehhh"
"Udah yah! Gue tutup telfonnya. Lagi seru nih liat adik-adik tanding sepak bola. Bye Nuha"
"Iya, Bye"
"Bruk!", Nuha kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Semakin menarik selimut dan kembali tidur.
Perasaan cemburunya semakin membuatnya malas untuk bergerak. Dia malah lebih ingin menghabiskan waktu hanya untuk terus tidur. Tenaganya rasanya hilang dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Naru, aku cemburu", keluhnya dengan tangis kekanak-kanakan. Dia menutup mukanya dengan bantal lalu membuangnya entah kemana. Dia belum mendapatkan penjelasan apapun dari Naru karena Kak Muha langsung mengajaknya pulang. Rasa penasaran yang menggantung itu benar-benar menyiksanya.
Nuha tidur dan tidur lagi. Hingga siang hari, dia juga belum mau bangun. Jam dua siang dia mulai gerah tapi dia masih memaksakan diri untuk tidur. Jam tiga, akhirnya dia bangun. Bukan untuk memenuhi janji dengan Asa, tapi lebih sebab dia sudah merasa sangat gerah.
Ibu mengetuk pintu bahwa Asa sudah datang menghampirinya. Seketika tingkah panik Nuha tak terelakan lagi. Dia langsung melonjak dan berbenah diri serapi mungkin.
Bahkan menuruni tangga pun dia tersungkur, "aduuuh", keluhnya. Suaranya sampai mengganggu telinga Asa yang menunggunya di ruang tamu.
"Nah, tuh. Panik kan Gue datang", sindir Asa.
"Hehe, maaf Asa"
"Udah siap belum? Yuk! Berangkat"
"Okei. Aku pamit sama Ibuku dulu ya"
Nuha menghampiri ibu di dapur untuk meminta izin pergi bersama sahabatnya menonton film. Kak Muha yang sedang menonton tv sejenak menganggu, "Mau kemana?", tanyanya.
"Aku mau nonton film, kakak"
"Sama siapa?"
__ADS_1
"Sahabat aku lah"
"Kirain sama bocah nakal itu"
"Mana mungkin, wek", ejek Nuha seraya berlari meninggalkannya.
"Hah, kupikir dia sedang cemburu dan terus mengunci diri di kamar. Untung saja Asa datang", gumam Kak Muha lega.
Nuha berangkat dengan berboncengan di motor Asa. Perjalanan pun aman sampai tujuan. Sampai di Mall, mereka berdua sudah disambut oleh Fani dan Sifa di depan pintu.
"Nuha, akhirnya kita bisa ketemu lagi", ucap Sifa.
"Kalo gak gue paksa gini, dia pasti gak mau muncul", sindir Asa yang mengerti akan sikap magernya Nuha.
"Ya udah yuk jalan", ajak Fani.
"Kata Ziya, kita beli tiketnya dulu baru nunggu jam tayangnya. Kalo sedikit lama kita bisa jalan-jalan sebentar", ucap Asa.
"Wah, kamu pinter juga Asa", sindir Sifa.
Mereka berempat berjalan serius menuju lantai bioskop. Tujuan utama adalah bioskop, jadi mereka harus menjaga mata supaya tidak terkena hipnotis dari stand-stand yang mereka lewati.
Sampai di sana, Asa dan Sifa mengantre untuk membeli tiket. Nuha dan Fani menunggu di kursi tunggu.
"Kita mau nonton film apa sih, Fani?", tanya Nuha.
"Emm apa ya, tadi Asa juga udah kasih tau", ucap Fani sambil melihat daftar film di poster yang tertempel di dinding.
"Oya, itu. Narnia. Narnia, Nuha", balas Fani ingat.
Asa dan Sifa telah berhasil membeli tiket. Kata Asa, jam tayang film yang akan mereka tonton tayang jam setengah lima. Cukup lama untuk menunggu jam tayang tersebut.
"Gays, masih satu jam nih kita harus nunggu", ucap Sifa.
"Ya udah, kita jalan-jalan aja dulu", ajak Asa.
"Pinter sekali dia kalo masalah kek gini", sindir Sifa.
"Hihi", Nuha dan Fani saling tertawa kecil.
Mereka berempat mulai jalan-jalan untuk cuci mata. Moment ini mereka dapatkan lagi setelah awal masuk sekolah mereka juga sudah jalan-jalan di mall.
"Waktu kok rasanya cepet banget berlalu. Baru aja kemarin kita ngemall, masa sekarang ngemall lagi", canda Sifa.
"Baru aja? Ini udah berapa bulan Sifa?!", ketus Asa dan Nuha bersamaan.
"Hehe, efek lapar kali ya", jawab Sifa dengan mudah.
"Haiyah, alasanmu", cibir Asa.
"Ya udah, kita cari makan dulu yuk", ajak Fani.
Okei"
Mereka berjalan menuju foodcourd namun tanpa sengaja, perjalanan mereka berpapasan dengan tiga orang di depan mereka.
__ADS_1
"Naru?", sapa Nuha dengan penuh tanda tanya.
"Eh, ketemu Naru", bisik Asa dan Sifa.
Tapi, ada dua gadis di sampingnya. Yaitu, Dina dan Naomi. Meski Naru menjaga jarak dengan Naomi, tapi dimata Nuha mereka tetap berjalan berdampingan.
"Kak Nuhaaa!", Dina langsung memeluknya.
"Kak Nuha?", tiga sahabat Nuha saling bertanya-tanya.
"Ooh, adiknya Naru mungkin. Trus, cewek yang satunya?", Asa dan Sifa masih saling berbisik.
Nuha yang masih bengong dan dipeluk Dina, tiba-tiba air matanya mengalir segaris. Meski tidak ada seorang pun yang menyadarinya, tapi Naru bisa melihatnya dengan jelas.
"Nuha?", ucap Naru di dalam hati.
"Dia siapa, Naru?", tanya Nuha di dalam hati.
Seketika Nuha menghapus air matanya dan menyambut pelukan Dina, "Dina, kita, kita ketemu lagi ya", ucapnya ramah meski diiringi perasaan getir.
"Nuha, percaya dirilah", pinta Naru di dalam hati.
"Kak Nuha, aku gak nyangka bisa ketemu kak Nuha disini. Jalan-jalan juga ya?", tanya Dina.
"Eng.. Ini, mau nonton film sama temen-temen"
"Waah. Tiga kakak ini sahabat kak Nuha?"
"Iya"
"Hai, salam kenal ya", ucap Sifa mengawali.
"Salam kenal. Aku Dina, adiknya Kak Naru. Itutuh pacarnya kak Nuha", jawab Dina dengan bangga.
"Hihihi pacar. Naru sudah berani ngenalin pacarnya sama adiknya ya", bisik Asa.
"Bukan hanya adiknya, orang tuanya juga kali", tambah Sifa yang tidak bisa berhenti berbisik dengan Asa.
"Gadis disamping Naru itu siapa, Nuha?", bisik Fani.
"Umm gak tau", balas Nuha memalingkan matanya.
"Nuha..", lirih Naru.
"Nuha! Ayo! Aku udah lapar nih", bujuk Sifa.
"Oh, okei Sifa", jawab Nuha langsung.
"Dina, juga mau makan? Bareng sekalian yuk kalo kalian juga mau makan", ajak Nuha dengan ramah tanpa melihat Naru dan gadis di sebelahnya.
"Iya kak, kita juga mau makan kok"
Nuha berjalan berdampingan dengan Dina. Diikuti Asa, Sifa dan Fani di belakangnya. Diikuti lagi di belakang mereka ada Naru dan gadis di sampingnya, Naomi.
"Aku harus luruskan masalah ini dengan Nuha, segera", ucap Naru di dalam hati.
__ADS_1