Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Persiapkan, dirimu.


__ADS_3

Nuha sedang bersantai bersama kakaknya sambil nonton televisi. Malam hari yang menenangkan. Nuha juga mulai bisa menerima apa yang telah kakaknya ucapkan tentang keberadaan Hawa, bahwa Hawa tidak meninggalkannya melainkan Hawa masih berada bersamanya, di hatinya. Meskipun, Hawa tidak menampakkan diri dan mengajak Nuha mengobrol. Nuha mulai bisa menerimanya, meskipun untuk saat ini.


“Kak, online nin donk” Pinta Nuha


“Apanya?” 


“Tivinya, ayo kita ngegame online”


“Beneran mau?”


“Iya iyalah mau, udah lama gak pegang stick game”


“Oke, kakak siapin dulu ya..”


Baru mau menyiapkan, tiba-tiba sebuah mobil CRV hitam berhenti di depan rumahnya. Ibu yang sedang melipat pakaian menemani kedua anaknya yang sedang asik sendiri pun tersadar.


“Muha, sepertinya kita kedatangan tamu” 


“Iyakah Ibu? Muha coba lihat sebentar ya”


“Siapa kak?” Tanya Nuha


“Kakak juga tidak tahu..”


Muha mulai berjalan menuju pintu rumah dan membukanya. Sebuah mobil CRV hitam benar-benar berhenti di depan rumahnya. Seorang gadis cantik keluar dari pintu sebelah kiri dan pemuda seumuran Nuha keluar dari pintu kanan. Diikuti orang tua yang keluar dari pintu depan. Masih terlihat samar-samar. Muha berjalan menuju pintu gerbang.


Pria gagah mulai terlihat bagi Muha. Matanya terbelalak tidak percaya melihat kedatangannya bersama keluarganya yang salah satu diantara mereka Muha mengenalnya. Pria gagah yang ternyata rektor di universitasnya, dan beliau ternyata ayahnya Naru. Muha mematung menyambut kedatangan mereka.


“Selamat malam” Ucap ayah Naru


“P- P- Pe pr Prof..” Ucap Muha terbata-bata


“Prof?” Ucap Dina mengulangi


“Anda mengenal saya?”


“Profesor Doktor Insinyur Hartono Rudi..


“Hahaha… lengkap sekali. Anda mengenal saya dengan sangat jelas. Tunggu sebentar, coba saya ingat-ingat sebentar. Oh.. Muha.. Iya, saya ingat..”


“Siapa Ayah?” Tanya Dina


“Ini, Muha.. Mahasiswa paling berprestasi di Universitas. Ayah sangat membanggakan dia, dia mahasiswa yang sangat rajin, pekerja keras dan sangat cerdas.”


“Kakaknya Nuha sangat tampan” Ucap Dina berbunga-bunga

__ADS_1


“Si-silahkan masuk P- Prof..” Ucap Muha masih grogi


Ayah diikuti keluarganya mulai masuk menuju pintu rumah Nuha. Muha masih mematung di belakang mereka. Namun dengan cepat dia langsung menyadarkan diri sendiri, mulai mengambil ponsel di saku celananya dan langsung membuat panggilan kepada Nuha secara diam-diam.


“Nuha! Cepat angkat!” Bisiknya di ponselnya


“Iya kakak? Ada apa?”


“Naru dan keluarganya datang”


“A-Apa?!” Suara histeris itu langsung menyakiti telinga Muha


“Cepat persiapkan dirimu”


“Ti-tidaaakk!” Nuha langsung menyerobot dan bergerak cepat menaiki tangga dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Ibu terheran-heran. Ibu pun beranjak dan berjalan menuju pintu masuk rumah.


Sebuah keluarga yang berpenampilan sangat rapi dan ramah sedang bertamu ke rumah Nuha yang terlihat sangat sederhana. Ibu Nuha juga berpenampilan apa adanya, dengan rambut yang panjang terurai bebas di punggungnya, memakai terusan dengan celemek yang masih menempel di tubuhnya dan alas kaki berupa sandal selop. Wajah muda ibu tidak memperlihatkan dirinya sebagai seorang ibu dari dua anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Ibu yang masih begitu muda dan cantik.


“Selamat malam” Ucap Ibu Naru


“Selamat malam” Jawab Ibu Nuha


“Maaf, jika kedatangan kami begitu tiba-tiba”


Ibu Nuha mempersilahkan keluarga Naru masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Ruang tamu yang terlihat kecil dan sangat minimalis. Namun terlihat sangat nyaman karena sofanya empuk dan halus.


“Ibu, perkenalkan saya Ruimaya Ibundanya Naru temannya Nuha. Dan ini suami saya Hartono Rudi. Ini putri saya Dina dan Ini putra saya Naru. Tentu ibu sudah mengenalnya ya.. Kedatangan kami kesini hendak bersilaturahmi sekaligus menjenguk Nuha yang sedang sakit. Dan ini sedikit bingkisan dari kami”


Ucap Ruimaya sambil menyerahkan beberapa bingkisan kepada ibu Nuha. Ibu Nuha pun membalasnya dengan sedikit canggung namun ramah. Ibu benar-benar kaget bahwa keluarga Naru akan datang menjenguk anaknya.


“Terima kasih Bu Ruimaya atas bingkisannya. Maaf ya Bu Ruimaya jika penyambutan dari kami kurang baik dan jauh dari kata pantas. Sebentar saya akan buatkan minum dan memanggil Nuha segera”


Ibu Nuha terlihat kebingungan menyambut tamu yang tidak biasa baginya, tamu yang terlihat sangat terhormat dan keluarga dari kalangan atas. Naru sendiri pun juga jadi merasa tidak enak hati tiba-tiba membawa keluarganya ke rumah Nuha tanpa memberi kabar.


Muha memasuki rumah dan duduk menemani kedatangan keluarga Naru. Ibu mulai naik menuju kamar Nuha. Ibu membuka pintu kamar Nuha dan terlihat Nuha sedang menyembunyikan diri di dalam selimutnya begitu rapat dan tertutup. Bahkan lampu kamarnya dimatikan, terlihat sangat gelap sekali.


“Nuha..” Ucap Ibu pelan sambil menyalakan lampu


“Ibu, jangan memintaku untuk turun” Jawab Nuha langsung


“Nuha.. jangan seperti itu. Itu keluarga Naru ada di bawah”


“Jangan ibu.. aku malu.. aku benar-benar malu untuk menemui mereka”


“Kamu ini, kapan dewasanya sih.. Ayo beranikan dirimu”

__ADS_1


Ibu mulai memaksa menarik selimut Nuha supaya Nuha bisa segera bersiap diri.


“Ibu juga.. sejujurnya juga malu menemui mereka.. ini tidak biasa bagi ibu Nuha..” 


Ucapan ibu yang sedikit malu-malu kucing itu membuat Nuha mulai mengintip dan mau menatap ibunya yang masih sangat muda itu.


“Ibu juga malu? Deg-degan gitu Ibu? Nervous?”


“Iya. Sampai ibu bingung mau bersikap gimana ke mereka. Takut sikap ibu kurang baik dan ramah gitu sehingga membuat keluarga Naru kecewa”


“Hihihi.. ibu bisa aja begitu.. Tapi ibu.. aku juga bener-bener gak berani ini. Sama kayak Ibu, takut salah dan tidak bisa bersikap dengan baik”


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Nuha, dia adalah Naru. Membuat Ibu dan Nuha sendiri kaget dengan kedatangan Naru yang tiba-tiba.


“Nuha..” Sapa Naru


“Na- Na- Naru?”


Ucap Nuha sambil mengeluarkan kepalanya dari selimut. Melihat kedatangan Naru yang terlihat rapi dan tidak seperti anak sekolah membuat Nuha terpesona. Meskipun hanya memakai pakaian casual namun auranya sudah sangat berbeda, membuat Nuha semakin malu-malu kucing.


“Nak Naru? Tolong bujuk Nuha ya” Pinta Ibu lalu ibu beranjak keluar kamar


“Gampang banget ibu bilang gitu” Batin Nuha


Naru mulai mendekat, tapi Nuha menolak.


“Ja-jangan mendekat!”


“Nuha?”


“Aku bilang jangan mendekat!”


“Kenapa Nuha?”


“Aku bilang jangan mendekat ya jangan mendekat!”


“Nuha, kamu galak sekali” Naru sedikit melangkahkan kakinya.


“Stop! Berhenti disana!”


“Nuha..”


“Aku sangat berantakan Naru, aku malu..”


Naru memejamkan mata dan menghela nafas, mengubah ekspresi untuk bisa lebih ramah dan lembut kepada Nuha. Kamar Nuha begitu kecil, bahkan hanya lima langkah saja Naru bisa langsung sampai di kasur tempat Nuha bersembunyi. Kecil dan penuh dengan barang-barang kepunyaan Nuha. Angin mulai masuk iseng di sela-sela jendela kamar yang belum tertutup rapat. Menggerak-gerakkan gorden membuat suasana semakin manis saja.

__ADS_1


__ADS_2