Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Surat dan Hadiah


__ADS_3

“Kamu kenapa Nuha? Mikirin Sifa?”


“Iya”


“Mau aku antar balik ke ruanganmu? Supaya kamu bisa istirahat?”


Nuha hanya menggelengkan kepala. Nuha menyandarkan kepala di sandaran kursi roda dan memejamkan mata sejenak. Menenangkan pikiran karena kepalanya mulai sedikit pusing.


“Ha aah~ Gimana ya hidupku nanti kalo tanpa sahabat?” Gumamnya


“Humm..” Naru mencoba mendengarkan keluhannya Nuha


Nuha memejamkan matanya, Naru menatap ke arah langit. Sejenak, mereka saling menenangkan diri. Langit masih begitu cerah untuk mereka berdua di sore ini. Angin berhembus menerbangkan dedaunan di atas sana, membuat Nuha mulai terbuai dan tertunduk tidur.


“Ngejus dulu yuk kita” Ajak Asa


“Gak mau ah aku mau pulang segera” Ucap Sifa


“Ayolah Sifa, kita tenangkan pikiran kita bersama-sama” Ajak Fani


“Okelah” Sifa akhirnya patuh


Sebelum menuju halte bus, mereka bertiga berhenti di kedai jus dan duduk bersantai di meja pelanggan. Asa memesankan kedua sahabatnya jus, sedangkan Fani menemani Sifa yang masih murung menghadapi perasaannya.


“Kamu gakpapa Sifa?”


“Gak tau Fani, pikiranku kacau dan hatiku sedih. Aku harus gimana?”


“Umm.. mungkin ada sesuatu yang bisa membuatmu senang gitu? Kita akan setia temenin kamu kok sampai hatimu kembali sembuh”


“Kalo gak bisa sembuh cepat gimana?”


“Ya harus sembuh donk. Pokoknya, hari ini fix kita harus selesaiin masalah Sifa bareng-bareng. Harus sembuh gak boleh berlarut-larut sampe besok!” Tegas Asa sambil memberikan jus untuk Sifa dan Fani.


“Tapi, aku bingung harus gimana?” Keluh Sifa


Asa dan Fani pun ikut bingung, sambil meminum jus masing-masing mereka berdua saling tidak tahu menahu bagaimana caranya menghibur sahabat yang sedang mengalami putus cinta. 


“Gimana nih Asa caranya menghibur Sifa?” Fani berbisik


“Aku juga gak tahu” Balas Asa


“Kalo gini terus, kasihan Sifa.. Kita gak bisa apa-apa” 


“Iya, aku juga bingung nih”


“Ayolah teman-teman, kita pulang aja” Pinta Sifa 


“Jangan gitu donk Sifa, kita berdua sudah berniat mau menghibur kamu lho” Ucap Fani

__ADS_1


“Kalian mau menghibur aku gimana? Aku sudah badmood banget nih soalnya”


“Kita coba karaokean aja yuk” Ajak Asa tiba-tiba


“Bisa juga itu Asa, aku setuju” Ucap Fani


“Eeeh..?” Sifa masih tidak bersemangat


Asa dan Fani pun menarik tangan Sifa dan mengajaknya pergi ke karaoke. Harapan Asa dengan bernyanyi dan mengungkapkan segala emosinya lewat lagu bisa mengeluarkan segala emosi yang tertahan dan membuat perasaan menjadi lega. 


Naru menemani Nuha yang sedang tertidur di kursi rodanya. Dia duduk beralaskan rumput dan mengeluarkan sebuah buku dan pulpen dari tasnya. Menulis sesuatu untuk diberikan kepada Nuha.


Gemericik suara air kolam menemani Naru menulis surat untuk Nuha. Isi surat yang ditulis dengan sangat hati-hati dan masih begitu rahasia. Nuha masih tertidur dengan tenangnya.


“Bahkan dia masih bisa tertidur dengan sangat tenangnya”


Naru mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah Nuha yang sedang tertunduk tidur. Suara kamera yang sedang memotret membuat Nuha mulai membuka mata. Naru sedikit kaget dan menarik ponselnya untuk ia masukkan kembali ke dalam saku celananya.


“Sudah bangun?”


“Iya”


“Kita balik ya? Udah sore nih, kasihan nanti ibu kamu nyariin”


Nuha mengangguk, Naru mulai mendorong kursi roda dan berjalan menuju ruangan. Waktu mereka untuk bersama tinggal beberapa menit saja. Nuha masih terdiam membuat Naru semakin tidak tenang.


“Nuha, kapan kamu mau pulang dari rumah sakit? Mungkin aku bisa menjemputmu nanti”


“Ooh.. kalo gitu, besok aku masih bisa jenguk kamu lagi donk”


“Gak usah Naru”


“Gak papa Nuha, aku gak keberatan kok”


Nuha tertunduk, kedua tangannya menggenggam erat baju pasiennya. Hatinya sedikit sesak tapi dia mencoba menguasai suasana. Naru sedih melihat tingkah Nuha.


Mereka berdua pun sampai di ruangan tempat Nuha beristirahat. Ibu menyambut kedatangan mereka berdua dan membantu Nuha kembali ke kasurnya. Sebelum Naru pamit pulang, dia memberikan selembar surat kepada Nuha. Surat yang telah ia tulis sewaktu tadi bersama Nuha di taman rumah sakit.


Naru menyadari, dia tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur hati Nuha. Sedangkan, disamping itu dia juga harus menyampaikan beberapa hal kepada Nuha. Namun, waktu tidak begitu pas untuk kesempatan itu. 


“Surat?” Tanya Nuha heran


“Oh iya, ini juga” Naru mengambil MP3 dan headset untuk ia berikan kepada Nuha


“Untuk nemenin kamu kalo lagi suntuk di rumah sakit” sambungnya


Nuha tertunduk dan tersenyum memandangi surat dan MP3 pemberian Naru.


“Dia tersenyum, syukurlah” Batin Naru

__ADS_1


“Kalo gitu, aku pamit pulang dulu ya Nuha” Ucap Naru


“Iya” Nuha masih tertunduk


Naru pun tersenyum, ia mulai meninggalkan Nuha dan hendak keluar ruangan. Ibu mengantar Naru sampai ke pintu ruangan. 


“Sejak kapan dia nulis surat ini? sempet-sempet juga dia nulis surat segala buat aku” Gumam Nuha penasaran


Ibu kembali dan melihat Nuha tersenyum-senyum sendiri memandangi pemberian Naru. Nuha yang mulai sadar langsung menyembunyikannya di bawah bantal. Dokter dan suster pun datang dan hendak memeriksa keadaan Nuha. 


Keadaan Nuha memang sudah sangat membaik meskipun kakinya belum bisa untuk berjalan. Kalaupun dia diperbolehkan untuk pulang, dia harus memakai kursi roda. Keputusan dokter pun membuat ibu dan juga Nuha menjadi senang.


Malam hari, suasana belum cukup tenang untuk Nuha bisa membaca isi surat dari Naru dan mendengarkan MP3 pemberian Naru. Ibu dan Kakak masih menemani Nuha dan menjaganya. Langit terlihat mendung, hujan pun turun. 


“Hujan tuh Nuha, kamu gak mau hujan-hujan?”


“Enak aja! Ini kan sudah malam kakak”


“Haha.. kirain masih ingin tetep hujan-hujan”


“Emang boleh?”


“Boleh aja tuh, boleh banget malah”


“Ibu, lama-lama kakak ngeselin banget” Nuha mulai mengadu


“Udah-udah, ayo kalian tidur aja. Kamu juga Nuha, istirahat dan besok biar kita bisa pulang” 


“Huh!” 


Nuha langsung menarik selimutnya, menutup seluruh kepala dan meringkuk tidur. Sedangkan, Muha beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar ruangan. Ibu menjaga Nuha dan sekaligus mulai tidur ditempatnya.


Nuha mengintip, melihat ibu yang sudah memejamkan matanya. Sedangkan Kak Muha tidak berada di sisi ibu. Ini kesempatan Nuha untuk memilih membaca surat atau mendengarkan MP3 terlebih dahulu.


“Baca surat dulu atau dengerin MP3 dulu yah? Hemm.. kira-kira isi suratnya apa ya, aku deg-degan nih” Gumam Nuha tersipu malu


“Ah! Dengerin MP3 dulu deh. Pasti cukup untuk menenangkan hati dan pikiranku” Nuha tersenyum


Nuha mulai memasangkan headset ke kedua telinganya dan menyalakan tombol play di MP3 yang sedang ia pegang. Suara pun mulai terdengar dengan sedikit ia tambah volumenya.


“I-ini kan..”


“Permainan pianonya Naru” Nuha terdiam mendengarkannya


“Indah sekali.. Naru sangat kompeten memainkannya. Bahkan, aku bisa merasakannya bahwa permainannya sungguh sepenuh hati” Nuha mulai terharu


“Hawa, kamu bisa mendengarnya juga kan?”


“Eh?”

__ADS_1


“Hawa?”


Tidak ada respon.


__ADS_2