Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Aku, tidak tahu.


__ADS_3

Mobil ambulan pun melaju kencang membawa Nuha yang telah tertabrak sebuah mobil box. Sirine ambulan memberikan tanda bagi pengendara lain untuk segera menyingkir dan memberi jalan. Muha mengikutinya dari belakang dengan mengendarai motornya. Nuha tidak sadarkan diri di dalam ambulan. Suasana tampak begitu panik.


Hawa berada di samping Nuha, terus mengomel membangunkan Nuha supaya segera sadar kembali. Tapi, Nuha tidak bergeming sedikit pun. Kepalanya masih mengeluarkan darah di mana-mana. Petugas hanya bisa memberikan pertolongan pertama dan memberikan penjagaan.


Nuha dibawa ke rumah sakit. Petugas segera menurunkan gadis itu dan membawanya masuk ke ruang tindakan. Wajah panik dan sedih tampak jelas di wajah Muha. Kakak begitu mengkhawatirkan adiknya. Muha mondar mandir dan hatinya terus diselimuti ketidaktenangan.


"Nuha, Kakak tidak bermaksud untuk melukaimu"


"Semoga kamu tidak apa-apa, semoga kamu tidak apa-apa. Tuhan, tolonglah"


Sesekali Muha mengintip dari balik kaca pintu tapi hatinya masih belum cukup tenang. Di dalam ruangan, dokter dan asistennya segera melakukan tindakan pertolongan. Memasang infus dan selang oksigen untuk Nuha. Luka di kepala Nuha dibersihkan, dijahit dan diperban dengan rapi. Beberapa luka lain juga sudah terperban dengan rapi.


Sebuah monitor penampil detak jantung juga sudah terpasang untuk Nuha. Jantung Nuha masih berdetak walaupun belum normal dan sangat lemah. Nuha masih tertidur tidak sadarkan diri. Untuk beberapa menit dokter masih sibuk mengurus Nuha di ruang tindakan.


Muha duduk di kursi jaga luar ruangan. Lututnya bergerak tak menentu tanda rasa khawatirnya belum hilang.


"Kakak.." Ucap Hawa lirih


"Tolong, kembalilah ke tubuh Nuha" Pinta kakak


"Iya"


Hawa patuh dan memasuki ruang tindakan. Melihat keadaan Nuha yang terluka parah, membuat Hawa terus menangis dan menangis.


"Nuha, kenapa ini harus terjadi"


Hawa mencoba masuk ke dalam tubuh Nuha, namun langsung tertolak. Ia tidak bisa masuk ke dalam tubuh Nuha entah apa penyebabnya. Hawa semakin ketakutan, pikirannya kemana-mana. Ia tidak ingin melihat Nuha meninggal dan Hawa menjadi menghilang.


"Kakak, aku.. aku tidak bisa masuk ke tubuh Nuha"


"A-apa?"


Hari mulai petang, matahari mulai bersembunyi dan membiarkan langit menampakkan kegelapannya. Ibu di rumah mulai cemas, kenapa kedua anaknya belum pulang juga. Ibu memandangi makanan yang telah ia sajikan dan mengharap anak-anaknya bisa segera pulang ke rumah.


"Harusnya, Nuha bisa pulang cepat karena kakaknya menjemputnya, tapi ini sudah sangat petang. Kenapa mereka belum pulang juga" Ucap Ibu


"Kenapa kamu tidak bisa masuk ke tubuhnya?"


"Aku, tidak tahu" Hawa semakin menangis


"Tenanglah. Tenangkan dirimu. Kita tunggu kabar dari Dokter dulu aja" Ucap Muha

__ADS_1


Dokter membuka pintu ruangan, ia memberikan izin kepada Muha untuk menemui pasien. Muha sedikit ketakutan melihat kondisi adiknya yang terluka parah. Namun, Dokter akhirnya menenangkannya dan memberitahukan bahwa Nuha akan baik-baik saja.


"Jangan khawatir, dia hanya sedang tidur saja. Emosinya sudah stabil, walaupun detak jantungnya masih lemah. Besok, kami akan melakukan CT scan untuk memastikan kondisi organ dalamnya"


"Tolong selamatkan adik saya Dokter!" Pinta Muha


"Saya akan berusaha. Saya tinggal dulu untuk menuliskan beberapa laporan"


"Baik Dokter"


Melihat Nuha sudah terbaring rapi di kasurnya, Muha mulai sedikit tenang. Dia meminta Hawa untuk menjaganya, sementara itu Muha akan mengurus administrasi dan pulang ke rumah memberikan kabar kepada Ibu.


"Hawa, kamu jangan macam-macam untuk meninggalkan Nuha ya. Tolong tetaplah berada di sampingnya" Pinta kakak tegas


Hawa mengangguk sedih.


Sementara itu di rumah Naru.


Terdengar suara ketukan pintu kamar Naru, Dina menyampaikan pesan dari ayah dan bundanya bahwa Naru dipanggil oleh mereka, "Kak Naru, dipanggil ayah dan bunda", ucapnya.


"Ada apa?"


"Ya udah", Naru bersiap menemui kedua orang tuanya.


"Aku, ikut ya kak?"


"Gak usah. Baiknya kamu masuk kamarmu aja sana dan belajar", Pungkas Naru.


Naru berjalan menuju ruang keluarga menemui ayah dan bundanya. Naru berjalan santai tanpa memikirkan apa yang akan orang tuanya bicarakan kepadanya.


"Ayah.. Bunda.."


"Duduklah Naru" Pinta Bunda.


"Ada apa Bunda memanggil Naru?"


"Gimana kabar sekolahmu?" Tanya Bunda.


"Eh? Tumben" Jawab Naru bingung.


"Bunda, langsung saja" Pinta ayah.

__ADS_1


Bunda akhirnya menghela nafas sejenak, "Naru, kemarin kan kamu membawa seorang gadis pulang ke rumah. Apa keluarganya mengetahui itu?"


"Tidak"


"Naru, masalah ini bukan hanya masalahmu saja. Masalah ini juga menyangkut kedua orang tuamu, juga orang tua gadis tersebut"


"Kita tidak ingin memiliki ketidaksopanan kepada keluarganya karna ini Naru"


"Maafkan saya Bunda, ayah.."


Ibu menghela nafas lagi, dan mulai melanjutkan ucapannya, "Bisakah kita menemui keluarga gadis itu?"


"Ke-kenapa mendadak?"


"Kami harus memperjelas situasi ini kepada mereka"


Setelah mengobrol cukup lama dengan kedua orang tuanya, Naru kembali ke kamarnya. Ia tidak menyangka bahwa orang tuanya akan ikut terlibat tentang hubungannya dengan Nuha. Ia pikir ini hanyalah masalah sepele yang tidak perlu diungkit lagi. Namun, Naru juga sudah membuat rencana untuk berkunjung ke rumah Nuha tapi tidak secepat ini, bahkan harus bersama kedua orang tuanya.


Naru memain-mainkan bola pantulnya dengan menggelinding-gelindingkannya di meja belajar. Ternyata, Naru juga memiliki satu, setelah ia memberikan satu untuk Nuha. Naru sedikit kebingungan dan tidak bisa fokus untuk menenangkan diri.


Bola pantul yang ia mainkan menabrak rubrik di ujung meja dan menjatuhkannya. Rubik jatuh ke lantai cukup keras hingga membuat bagian beberapa warna terlepas. Sedangkan bola memantul bebas entah kemana hingga memunculkan cahaya kelap-kelipnya.


Naru bahkan sampai kebingungan, hendak mengambil rubik itu atau mengikuti kemana bola pantul itu pergi. Ia akhirnya meraih bola pantul tersebut dan ternyata menggelinding ke bawah kasurnya. Naru berusaha meraih bola tersebut namun tidak bisa menggapainya. Cahaya kelap kelipnya menyinari kesunyian di bawah kasur Naru.


Naru meraihnya menggunakan penggaris yang panjangnya 1 meter. Bola itu pun akhirnya bisa kembali lagi ke tangan Naru. Naru merasa sangat senang sekaligus tersentuh. Bola pantul itu sangat berharga bagi Naru sekaligus istimewa seperti Nuha. Naru merindukan Nuha.


Hari esok pun tiba, Nuha masih belum membuka matanya. Ibu dan kakak sudah menjaga di sampingnya semalaman. Ibu bersedih melihat Nuha terbaring tidak sadarkan diri. Melihat detak jantung Nuha yang masih lemah dari tampilan monitor, ibu semakin khawatir.


"Ibu, jangan bersedih. Aku, akan belikan sarapan dulu ya"


Ucap Muha setelah menenangkan ibunya sambil memberikan pelukan.


Muha keluar ruangan dan segera membuat keputusan untuk Hawa. Ia akhirnya meminta Hawa untuk masuk ke tubuhnya sebelum Hawa benar-benar menghilang. Karena Hawa tidak mampu kembali masuk ke dalam tubuh Nuha.


"Hawa, masuklah ke tubuh kakak. Kamu tidak boleh terus begini tanpa jasad sebagai wadahmu"


"Baik, kak"


"Apa yang harus aku lakukan Kak? Aku masih tidak bisa masuk ke tubuh Nuha" Tanya Hawa.


"Aku pun juga tidak mengerti, kenapa ini bisa berakhir seperti ini"

__ADS_1


__ADS_2