
“Sifa, Bangun”
Ucap mantan Sifa membangunkannya. Sifa akhirnya bangun dengan sedikit terkaget melihat mantannya duduk disampingnya. Tanpa rasa sungkan dan tampak biasa-biasa saja.
“Dimdim?” Jawab Sifa setengah sadar
“Eh, Ups!”
Sifa langsung menutup mulutnya karena sudah terbiasa memanggil nama pacarnya dengan nama Dimdim, sebuah panggilan sayang. Dia sedikit kebingungan memberikan respon.
“Nga-ngapain kamu di sini?!”
“Jagain kamu lah”
“Bu-buat apa?!”
Sifa menjadi grogi bertemu dengan mantan pacarnya. Semenjak ia putus dengan pacarnya, mereka sudah tidak saling menyapa maupun bertemu lagi. Seolah jarak pun juga memisahkan mereka. Sifa masih bingung menghadapi mantan pacarnya.
“Kamu kenapa? Sakit?” Tanya Dimdim
“Umm.. enggak..”
“Lima menit lagi kita akan sampai, kamu beneran tidak apa-apa?”
“Beneran aku gakpapa” Sifa langsung berdiri
“Auu..” Seketika dia langsung mengeluh sakit meskipun sedikit dia tahan. Ia mulai memegangi perutnya lagi dan merasa tidak nyaman dengan keadaannya sendiri.
“Kamu ngapain sih disini? Kita kan sudah tidak ada hubungan lagi?!”
“Sifa..”
Udah deh minggir, aku mau turun”
Ucap Sifa sambil membenarkan penampilannya. Ia mengambil tasnya dan menutupkannya di belakang roknya. Sifa benar-benar sudah merasa tidak nyaman, tapi apa boleh buat. Tidak ada yang bisa menolongnya, bahkan dia juga enggan meminta tolong kepada mantan pacarnya itu.
“Ada apa dengan rokmu?”
“Tidak apa-apa”
“Sini” Dimdim langsung melepas jaketnya dan mengalungkannya di perut Sifa. Membenarkannya serapi mungkin supaya bisa menutupi roknya.
“Dimdim!”
“Eh, umm.. iihh.. Aku gak boleh manggil dia dengan sebutan itu lagi. Kita kan sudah putus. Huh! Dasar Sifa oon” Gerutunya
Dimdim tertawa lepas melihat tingkah konyol Sifa. Dia menggandeng tangan Sifa dan menuntunnya turun dari bus. Menggandengnya lagi hingga sampai di seberang jalan menuju parkiran tempat penitipan sepeda.
“Aku antar kamu sampai rumah ya?”
“Gak usah” Sifa memalingkan mukanya
Dimdim mengambil sepeda milik Sifa yang dititipkan di penitipan sepeda. Dia menaikinya dan berniat mengantar Sifa pulang dengan memboncengkannya dengan sepeda Sifa.
“Ayo naik”
__ADS_1
Sambil menggembungkan pipinya Sifa pun menuruti kemauan Dimdim. Akhirnya Dimdim memboncengkan Sifa dan mengantarkannya pulang ke rumah. Sifa sedikit tersenyum.
“Dia, tampak biasa-biasa saja bertemu denganku. Tapi, Aku malah menjadi sangat grogi bertemu dengannya. Sebenarnya dia mau apa sih? Aku bingung, aku harus kesal, sedih atau marah jadinya” Batin Sifa
“Gimana perutmu? Sudah lebih baik?” Tanya Dimdim
“Sudah” Jawab Sifa singkat beralasan
“Di daerah sini ada kedai es jamu kan?. Kita mampir sebentar ya” Ajak Dimdim
“Gak usah”
Dimdim tersenyum gemas menanggapi jawaban ketus dari Sifa. Tapi dia tetap senang dan tulus melakukannya. Sampai di kedai es jamu, Dimdim menghentikan kayuhannya.
“Dimas! Ngapain sih mampir segala” Sifa mulai berani
Dimdim panggilan sayang dari nama Dimas, Sifa akhirnya melepas panggilan itu. Dia mulai memanggilnya dengan nama aslinya, Dimas. Tanda bahwa Sifa benar-benar sudah menerima keputusannya. Dan tidak mengharapkan untuk balikan lagi.
Dimas mengabaikannya sebentar untuk memesan jamu pereda rasa nyeri saat datang bulan dan kembali lagi menemui Sifa. Dia jadi sedikit kesal dan melipat tangannya. Memandang serius ke arah Sifa, membuat Sifa semakin menciut.
“Jangan memanggilku Dimas” Ucapnya singkat
“Kak! Esnya sudah siap” Panggil pemilik kedai menyela
“Oh, iya. Ini uangnya. Makasih ya mbak” Jawab Dimas sambil menyerahkan uang untuk membayar es jamu yang dia beli. Dia pun menaruhnya di keranjang sepeda Sifa dan mulai menaiki sepedanya lagi. Sifa mengikutinya dari belakang dan mulai duduk di boncengan lagi.
“Makasih ya mbak” Sifa mengulangi ucapan Dimas
“Haha kenapa?” Dimas sedikit geli
“Makasih ya mbak” Sifa terus saja mengulanginya
“Makasih ya mbak” Semakin kesal
Mendadak Dimas langsung mengerem sepedanya. Sontak Sifa kaget dan kepalanya menubruk punggung Dimas. Sedikit goyah dan hampir saja terjatuh.
“Dimas! Apa-apa sih kamu?!”
“Sifa, maafkan aku ya. Waktu itu aku sedang terbawa emosi sehingga tanpa pikir panjang aku melampiaskan kepadamu sampai bilang putus” Ucap Dimas sambil mengayuh sepedanya.
“Umm..” Sifa mulai terdiam
“Sifa?”
“Kamu mengatakannya di waktu yang tidak tepat Dimas. Aku sedang badmood dengan kondisiku yang sekarang ini” Batinnya
“Setidaknya aku bisa mengucapkannya sekarang. Aku akan mengatakannya nanti dengan lebih baik lagi kalo kondisimu sudah lebih baik Sifa. Maaf ya aku mengatakannya disaat kondisimu seperti ini”
“Umm..”
Dimas pun berhenti, tanda mereka telah sampai di depan rumah Sifa. Dimas pamit dan mulai beranjak pergi dengan berjalan kaki.
“Aku belum bisa memahami kebaikannya” Batin Sifa
“Aku pulang ya Sifa. Semoga kamu segera lekas sembuh” Ucap Dimas meninggalkan Sifa
“Dimas!” Panggil Sifa, Dimas pun menoleh
__ADS_1
“Te-terima kasih” Ucap Sifa sungkan
Dimas pun tersenyum dan kembali berjalan.
“Dia sampe rela boncengin aku pulang dan jalan kaki kembali ke seberang jalan sana. Apa dia berniat ngeghosting aku?”
“Huh!” Sifa mulai berjalan memasuki rumah
Di sekolah, Dilan dan Naru telah selesai melaksanakan pembimbingannya kepada ketiga juniornya. Tiga hari lagi olimpiade matematika akan segera dimulai. Dilan masih rela membantu Naru membimbing mereka.
Mereka menuruni tangga dan hendak menuju gerbang sekolah untuk pulang. Dilan dan Naru mulai mengobrol.
“Thanks ya Dilan, elo masih mau bantuin gue ngebimbing mereka”
“Sama-sama”
“Gue jadi gak enak sama elo. Mau gue traktir makan?” Ajak Naru
“Gak usah, gak perlu”
“Oh, ya sudah kalo gitu”
Sudah sejauh mana hubungan elo sama Nuha?” Tanya Dilan santai
“Eh?” Naru malah sedikit salting
“Gandengan tangan?”
“Eh?”
“Pelukan?”
“E eh?”
“Ciuman?”
“Eeh?!”
Dilan langsung mendorong Naru ke dinding tanda dia mulai kesal dan frustasi. Manarik kedua kerah baju Naru dan sedikit membuat Naru kesulitan bernafas. Terus mendorongnya ke dinding.
“Gue sebenarnya sudah menahannya sejak kemarin kemarin kemarin. Dan sekarang gue tambah kesal setengah mati memikirkan hubungan elo sama Nuha!”
“Jika gue terus memikirkannya, gue bener-bener ingin menghajarmu Naru!” Dilan langsung menghantamkan pukulannya ke dinding
“Hajar aja gue kalo itu membuatmu puas” Pinta Naru
“Punch!” Dilan langsung menghajar pipi Naru tanpa basa-basi
“Elo gila ya! Sakit beneran ini kunyuk!” Keluh Naru sambil memegangi bibirnya yang sedikit berdarah
“Hahaha.. gue masih belum bisa puas!” Dilan langsung menarik Naru membawanya ke lapangan basket. Melemparkan bola ke dada Naru, Naru langsung sigap menerimanya.
“Hajar gue Naru!”
“Oke, kalo itu maumu!” Naru mulai memantul-mantulkan bola dan segera berlari menghindari Dilan yang mulai menyerangnya.
__ADS_1
Dilan sangat marah kepada Naru. Hatinya sedikit tertekan karena sikapnya yang santai kepada para gadis tidak bisa ia lakukan seperti Naru, pacaran dan memiliki waktu bersama dengan pacar. Dia tidak habis pikir bahwa Naru yang sekelas dengannya dan seberprestasi dengannya telah berani pacaran dan itu sangat mengganggu keteguhannya.