
Pagi hari, Nuha terbangun. Terperanjat bangun dan langsung berlari melihat ke arah cermin.
"Hawa!"
"Hai, Nuha", balas Hawa.
Nuha langsung membenarkan berdirinya sambil merapikan rambut tidurnya. Berdiri tegak dan menatap lekat ke arah cermin.
Berhadapan, sejajar dan sama tinggi. Terlihat sangat jelas dan mirip dengan dirinya. Iya, Nuha sedang melihat dirinya di cermin tapi bayangan itu bisa berbicara.
"Hawa, hawa! Benarkah kamu di dalam situ?", tanya Nuha sambil celingak celinguk memegangi bingkai cermin itu yang sebesar dirinya.
"Syukurlah, kamu telah sembuh, Nuha"
"Kenapa kamu sangat ramah, Hawa?"
"Inilah aku yang sebenarnya. Keceriaan, kebahagiaan, kecerobohan yang kulakukan itu sebenarnya semua adalah milikmu. Kamu, harus menjadi dirimu sendiri, Nuha"
"Hawa?"
"Kita sambung nanti lagi ya, kamu harus sekolah"
"Umm.. Baiklah", Nuha langsung memeluk cerminnya. Membuat Hawa langsung tertawa.
"Hahahahaha"
"Hehe, aku jadi seperti orang gila", sahut Nuha terkekeh. Kemudian, Hawa malah semakin tertawa. Membuat Nuha jadi ikut tertawa kegilaan.
Nuha bergegas mandi dan merapikan diri dengan seragam sekolah. Dia keluar kamar dengan perasaan senang dan semangat.
"Pagi Ibu, Kakak!", Sahut Nuha sambil menuruni tangga. Hari ini, Nuha berhasil menuruni tangga dengan aman dan selamat. (Kalo besok? Gak tau deh)
"Selamat pagi Nuha sayang. Kamu sudah sehat?"
"Iya Ibu, aku sehat dan baik-baik saja"
"Mengingat tadi malam kamu demam tinggi membuat ibu jadi khawatir, Nuha. Untung kak Muha bisa menenangkan ibu", ucap Ibu.
"Tapi, Nuha sudah baik-baik aja kok"
"Iya, syukurlah. Ibu senang"
Ibu dan Nuha saling tersenyum. Nuha mulai duduk di kursi makan bersama Ibu, diikuti Muha sambil meletakkan minumannya.
"Si beruang sudah bangun dari tidurnya toh", Sindir kakak.
"Uurrraaaawwww!", balas Nuha.
Seketika membuat Muha terperanjat kaget, "Huwa! Membuatku kaget saja!"
"Hihihi"
"Dia, bisa tersenyum sangat lebar", batinnya. Kemudian, Muha tersenyum lega.
"Kamu berhasil, Hawa", lanjutnya dalam hati.
"Kita sarapan apa pagi ini Ibu?"
"Tadi Ibu bersama Kakak buat sup"
__ADS_1
"Wah! Sup, cocok banget buat semangat pagi ini"
"Mau sup warna merah atau oren kamu?", Tanya Kakak.
"Hah? Sup warna merah? Warna oren?", tanya Nuha terheran-heran.
"Aku bisa menambahkan sirup stoberi atau sirup jeruk ke dalam supmu"
"Eh? Ya jangan gitu donk kak! Sembarangan!"
"Kalo gitu, Nih. Buat si kebal sakit"
"Kalian ini, selalu saya membuat Ibu tertawa dengan tingkah-tingkah kalian"
"Karna Kita sangat sayang Ibu", Nuha tersenyum. Sambil memberi isyarat kepada Kak Muha supaya ia juga mengatakan itu. Muha sedikit sungkan mengatakan itu kepada Ibu, tapi ia akan mengatakannya dengan lebih tulus dan sungguh-sungguh.
"Iya Ibu, Ibu tidak perlu khawatir Ayah telah tiada. Ayah akan tenang dan bahagia di sana melihat kita semua menyayangi Ibu"
"Terima kasih anak-anak baik Ibu. Kalo begitu, ayo kita segera sarapan. Kasihan kalo Nuha harus terlambat lagi"
Nuha mulai menikmati Supnya beberapa suapan, tiba-tiba Kakak menunjukkan Jam Weaker yang ada di meja minibar dapurnya.
"Mau Kakak antar?"
"Uwaa!", Nuha langsung menunjukkan ekspresi senangnya, tapi seketika ia sadar dan menolak. Ia tidak mau lagi saat pulang disuruh harus naik angkot lagi.
"Gak mau. Enakan naik sepeda"
"Yakin gak terlambat?"
"Hm? Ka-kakak?!!!"
Nuha mempercepat makannya. Kak Muha sengaja. Padahal Nuha sudah bangun pagi dan turun dari kamarnya dengan perasaan senang dan aman karena ia masih punya waktu banyak sebelum terlambat sekolah. Tapi, Kak Muha melebihkan 10 menit di jam tersebut.
"Kamu ini usil banget sama adikmu"
"Gakpapa Ibu", Muha tersenyum.
Nuha segera bergegas dan bersiap berangkat ke sekolah. Ia berpamitan kepada Ibu dan memberikan pelukan kasih sayang kepadanya.
Sampai di sekolah, setelah memarkirkan sepedanya, Nuha berjalan memasuki gerbang sekolah. Menyusuri jalan lorong sekolah.
"Nuha", panggil Dilan mengagetkannya.
"Iya?"
Seketika Nuha menoleh dan membalas panggilan itu seperti orang lain yang biasa memanggil namanya, namun baru tahu kalo itu adalah Dilan, Nuha merasa menyesal.
"Hufff.. Kamu lagi?"
"Kenapa? Kamu tidak suka aku menemuimu?"
Dilan terlihat kecewa namun itu hanya kepura-puraan Dilan saja. Ia semakin senang mengganggu Nuha dan bermain-main dengan perasaannya.
"Sudah jelas kan!" timpal Nuha kesal.
"Baiklah...", Dilan pun menghela nafas dan ikut kesal menghadapi Nuha. Namun, dia mencoba lebih merayunya.
"Nuha, kamu itu cantik, imut, baik lagi. Jalan lagi yuk sama aku. Aku akan kabulkan apapun permintaanmu" Bujuk Dilan.
__ADS_1
"Apa? Ca-ca-ca-cantik?! Iuh, nyebelin! Kamu itu menakutkan! Aneh! Apa kamu kesurupan?! Aku tuh gak suka sama kamu!!" Balas Nuha.
Ucapan kasarnya, membuat Dilan benar-benar tertusuk, "Kamu bilang apa tadi? Gak salah denger aku?", Dilan masih tidak percaya.
Dilan seakan mau melanjutkan ucapannya namun tiba-tiba kedua temannya datang di belakangnya pun menghentikan tingkah Dilan. Mereka berdua menyeretnya segera pergi dari Nuha. Dilan sedikit memberontak namun dia akhirnya menurut.
Setelah lumayan jauh dari Nuha, Dika dan Agung berhenti untuk menjelaskan keadaan kepada Dilan. Obrolan bisikan yang membuat Nuha menjadi penasaran sendiri.
Nuha yang masih berada di tempatnya samar-samar mencoba mendengarkan obrolan mereka bertiga. Tapi tahu itu tidak penting, ia masih saja ingin mengetahuinya.
"Kau ini terlalu berlebihan Dilan", Sanggah Dika.
"Berlebihan gimana? Memang seperti itu kan cara merayu gadis.", jawab Dilan dengan bangga.
"Tapi, memang dia sangat berbeda dari gadis lain. Lagipula, dia itu kan sudah jadi miliknya Naru", Sambung Agung.
"Sialan Naru! Gadis itu memang istimewa dan sedikit susah. Siapa sih yang tidak jatuh pada pesonaku. Para gadis mudah sekali terpesona padaku, bahkan dengan hanya sekali rayuan saja.. Bbeeh.. mereka langsung klepek-klepek. Tapi, Nuha. Haish!! Gak gampang gue dapetin dia!" Gerutu Dilan.
"Dasar, Dilan!"
Melihat Nuha yang masih terdiam di tempatnya, Dilan jadi mencurigainya. Ia mencoba menghampiri Nuha lagi, tapi kedua temannya menahannya dan tetap menyeret Dilan pergi. Nuha jadi salah tingkah karena kepergok nguping obrolan mereka bertiga.
Terlihat Naru berjalan dari arah berlawanan. Melihat Nuha, Naru menyapa gadis kesayangannya itu.
"Nuha?"
"Na- Na- Na Naru", respon Nuha gagap tingkah.
"Kamu kenapa?"
"Eng, enggak"
Naru melihat sekelilingnya dan mendapati Dilan bersama kedua temannya berada di sebelah lain.
"Apa Dilan, mengganggumu?"
"Eh? Ti ti tidak Naru"
"Ya udah, bareng yuk ke kelas", ajak Naru.
"Iya"
"Syukurlah, kamu sudah gakpapa Nuha"
"Eh?"
"Naru!!", panggil Dilan dengan teriakannya.
Naru ingin mengabaikannya tapi Dilan mengulangi lagi teriakannya, "Naru! Berhenti!"
"BERHENTI GUE KATA!!"
"Nuha, kamu, duluan aja ya"
"Tapi"
"Udah gakpapa"
"Tapi, Naru"
__ADS_1