
Sudah dua hari ini Nuha tidak berangkat ke sekolah, karena di sekolah tidak ada pelajaran setelah Ujian Semester Gasal. Dia lebih ingin di rumah untuk bermalas-malasan dan bermain dengan Soya. Kucing dari taman belakang sekolah yang telah dia bawa pulang bersama Naru.
Di sore hari, di rumahnya.
"Klinting klinting"
"Klinting klinting"
Soya melompat-lompat diajak bermain oleh Nuha. Nuha merasa sangat senang. Apalagi, kak Muha membelikan kalung lonceng untuk kucingnya tersebut.
"Meong"
"Lucu banget kamu, Soya", Nuha terkekeh.
"Nuha, kakak mau ke rumah Naru. Mau ikut gak?", tanya Muha sudah berdandan rapi dan akan segera berangkat.
"Ha? Kok tiba-tiba?"
"Iya. Waktu keluarganya menjengukmu itu, ayahnya memintaku untuk ke rumahnya setelah wisuda", balas Muha sambil memakai sepatu.
"U- u- untuk apa?", tanya Nuha takut.
"Bisnis!", Balas Muha tegas dan sinis.
"Oooo.."
"Ikut gak? Ayo!"
"Ikut gak? Ayo? Gimana sih?", Nuha bingung.
"Cepet, Nuha! Kakak tunggu di motor"
"A- a- apa? Iya iya baiklah", jawab Nuha langsung meluncur ke kamar untuk berganti baju dan berdandan rapi.
Muha dan Nuha pun berangkat dengan mengendarai motor. Muha sudah tahu alamat rumah Naru karena dia sudah diberi tahu oleh Rektornya, yaitu ayahnya Naru sendiri.
Meski ini mencengangkan bagi Muha, bahwa Hartono Rudi adalah ayah dari pacar adiknya sendiri, tetap saja beliau itu adalah orang yang dia segani dan hormati. Muha sangat mengagumi beliau. Dia diundang ke rumahnya karena Rektor mengetahui akan prestasi hebat yang dimiliki Muha. Beliau ingin mempercayakan sesuatu kepadanya.
Sampai di depan pintu gerbang, satpam langsung membukakan pintu gerbang untuknya. Muha masuk sambil menuntun motornya diikuti Nuha dibelakangnya.
"Kakak, kenapa aku tiba-tiba mau aja diajak kakak ke rumah Naru? Aku kan jadi canggung", ucap Nuha gugup.
"Kumpulkan keberanianmu Nuha!!", perintah kak Muha, meski dia juga sedikit gemetaran.
"Kakak, juga gugup ya?"
"Enggak!" elaknya.
Pintu pun dibuka. Dina yang membukakan pintu. Melihat Nuha datang berkunjung, seketika dia melompat dan berlari menghampiri Nuha. Dina, langsung memeluknya erat.
"Kak Nuhaaa!! Aku kaget kakak ikut ke rumahku! Yay", sahutnya gembira. Nuha pun menyambutnya dengan ramah.
"Hai kakak ganteng", lanjutnya dengan berucap lebih manja di hadapan kak Muha. Membuat Muha sedikit ilfill.
Gadis kelas 2 SMP itu pun mengajak Nuha dan kakaknya masuk ke rumah. Dina sudah tahu maksud kedatangan mereka karena dia sudah diberitahu oleh ayahnya. Setelah Nuha dan Kak Muha duduk, Dina langsung berlari memanggil ayahnya.
Hartono menghampiri mereka berdua di ruang tamu, membuat dua tamu tersebut langsung gugup dan berkeringat dingin karena melihat kewibawaan sang Rektor.
"Beranikan dirimu, Nuha", bisik Kak Muha.
"Kakak juga ya", balas Nuha pesimis.
Dina tersenyum-senyum manja melihat kedatangan kak Muha dan Nuha. Ayahnya pun memerintahkannya untuk memanggil ART yang ada didapur untuk membuatkan minum. Dina langsung patuh dan melaksanakan perintah dari ayahnya tersebut.
Naru turun tangga dari kamarnya yang berada di lantai dua. Dia berjalan ke dapur untuk mencari minum.
__ADS_1
"Kak Naru, pas banget", seru Dina.
"Ada apa?"
"Kak Nuha, datang berkunjung hloo"
"Nuha?"
"Iyes. Sama kakaknya juga"
"Eh? Kirain cuma kak Muha aja"
"Hihihi.. Mau ketemu sama kak Nuha enggaak?"
"O-okei"
"Iiih, kakakku ini. Punya pacar kok imut banget. Mana tahan kalo gak ingin ketemu"
"Kamu ini masih kecil tau aja tentang pacar-pacaran!"
"Hihihihi"
Naru mengabaikan tingkah aneh adiknya dan berjalan ke ruang tamu untuk menyapa kehadiran Nuha dan kakaknya.
"Na- Na- Na- Naru?!", Nuha terlihat sangat gugup.
"Beranikan dirimu, Nuha. Kakak lagi serius ini sama Rektor kakak!", bisiknya karena melihat adiknya sedikit gemetaran.
Melihat Nuha seperti itu, Naru terkikik geli, "Nuha, mau jalan-jalan sama aku?", ajaknya dengan berani.
"A- a- apa? Jalan-jalan?"
"Jalan-jalanlah sebentar, Nuha. Mungkin kamu akan lebih senang kalo bersama Naru, kan? Ajak dia Naru", pinta Ayahnya Naru dengan ramah.
Nuha keluar rumah diikuti Naru di belakangnya. Sampai diluar gerbang rumahnya, Naru baru memulai obrolannya.
"Kamu cantik. Inara"
"Ja- jangan bilang seperti itu!"
"Hahaha, apa aku jadi seperti Dilan? Yang suka godain kamu? Hehe"
"Naru"
"Udah, Inara. Yuk, jalan-jalan! Aku akan buat kamu seneng sore ini tanpa canggung dan tanpa grogi"
"I-iya. Tapi, jangan panggil aku Inara"
"Inara kan nama kamu juga"
"Iya tapi kan tapi.."
"Tadi itu, kukira cuma kakakmu aja yang datang. Karna ayah sudah memberitahuku kalo Kak Muha akan datang berkunjung untuk urusan bisnis. Tapi, gak taunya sama kamu. Membuatku senang saja"
"Hehe, karna dipaksa tadi", cibir Nuha.
"Karna terpaksa? Jadi, kamu gak ingin ketemu sama aku ya Nuha?"
"Iya. Gak berani"
"Dasar! Masih aja kurang pede"
"Habisnya.."
"Nuha, Ayo!", ajak Naru berlari sambil menggandeng tangan Nuha. Dia mengajaknya di sebuah kedai eskrim di pinggir jalan dekat taman kota.
__ADS_1
"Aku beliin es krim ya? Kamu duduk aja dulu disini"
"Okei"
Tak lama kemudian, Naru membawakan dua eskrim Connecto dengan rasa coklat dan stroberi. Dia memberikan yang stroberi untuk Nuha.
"Nih, Nuha"
"Makasih, Naru"
Nuha mulai membukanya dari atas kemasan tapi Naru malah menghentikannya dan membantunya, "bukan begitu cara bukanya. Dari samping, Nuha" ucapnya.
"Aduh, ndeso banget aku", batin Nuha.
"Nuha, kamu itu masih saja gugup, kenapa sih?", tanya Naru sambil memakan es krimnya.
"Aku, aku gak biasa seperti ini", balas Nuha dengan air mata buayanya. Dia pun menunjukkannya kepada Naru, bahwa dirinya memang sangat tidak percaya diri.
"Kenapa kamu harus mikir gitu Nuha?", tanya Naru.
"Gak tau Naru"
"Ya sudahlah kalo gitu. Ngobrol yang lainnya aja yuk"
"Ngobrolin apa?"
"Masa depan kita lah"
"Whats?!"
Selesai makan es krim. Naru mengajak Nuha jalan-jalan sambil mengobrol. Sekitar setengah jam, Naru mengajak kembali pulang ke rumah. Naru terus saja menggandeng tangan Nuha dengan percaya diri.
Hingga sampai di rumah, Naru masih saja menggandeng tangannya. Muha sudah selesai urusan dengan Rektornya, jadi dia sedang menunggu di kursi teras rumah dan melihat kedatangan mereka berdua.
"Ayo pulang, Nuha", ajak kak Muha.
"Iya", Ucap Nuha patuh.
"Naru, aku pulang dulu ya", ucap Nuha. Tapi, Naru masih belum mau melepas genggaman tangannya.
Dina melambaikan tangan di dekat pintu. Dia terus tersenyum-senyum manja melihat ketampanan Kak Muha dan senang melihat kedatangan Nuha. Tapi, tiba-tiba ada seorang gadis muncul dari belakang Dina. Membuat Dina kaget dan malah menyambutnya dengan ramah.
"Ara? Naomi onechan?"
"Doushita no, Dina.chan?"
"Kak Naomi, lihat. Itu pacarnya kak Naru. Cantik kan?"
"Paca? Nani?"
"Umm.. Itu, kanojo, kareshi? Or Koibito. Iya. You know?"
"Ooh, haik. Wakatta yo", balas Naomi ramah.
Melihat gadis jepang itu, perasaan Nuha tiba-tiba menjadi lemah. Nuha menggenggam erat genggaman tangan Naru untuk mengendalikan perasaan aneh itu, cemburu tiba-tiba.
"Nuha, ayo kita pulang", pinta kak Muha sekali lagi.
"Dia, siapa Naru?", tanya Nuha menengadahkan wajahnya ke arah Naru dengan cemas.
"Nuha, dia.."
Nuha masih terus menggenggam erat tangan Naru, seerat mungkin meski diiringi gerak yang gemetaran. Membuat Naru semakin mencemaskannya.
"Nuha?"
__ADS_1