
"Selesai juga ujian kita, Nuha", ucap Fani.
"Iya, Fani. Syukurlah", balas Nuha lega. Mereka saling melempar senyum satu sama kain.
Lima hari sudah berlalu dan itu tepat selesai di tanggal 10 Desember. Ujian Semester Gasal, telah selesai.
Sifa menoleh ke arah mereka, "Kita jadi, ke wisuda kakakmu kan Nuha?"
"Um, Iya Sifa", balas Nuha sungkan.
"Aku, akan ikut", balas Asa seketika. Dia datang dengan keseriusan. Membuat Nuha dan Fani sedikit terperanga. Namun, dia masih menatap tajam ke arah Sifa.
Tak berapa lama, Sifa menyandarkan kepalanya di atas meja, "Kamu, kenapa Sifa?", tanya Fani.
"Aku, sedikit pusing nih"
"Duh, kasihan kamu. Mukamu terlihat pucat. Kita antar kamu ke UKS aja ya?", Ajak Nuha.
"Iya, benar kata kamu Nuha. Sebaiknya, Sifa ke UKS aja dulu. Supaya bisa istirahat", sahut Asa sedikit cemas.
"Maaf ya, Nuha"
"Gakpapa Sifa, kita lebih mentingin kamu kok"
"Setidaknya, kita bisa istirahat sejenak sebelum berangkat kan? Sementara itu, Sifa biar tidur sebentar setelah minum obat", ucap Fani.
Setengah jam berlalu, Sifa bangun dari tidurnya.
"Gimana keadaanmu sekarang Sifa?", Tanya Nuha.
"Sudah lebih baik nih. Walaupun hanya tidur sebentar tapi itu sudah membuatku lebih baik. Thanks ya gays", Jawab Sifa senang.
"Syukurlah", Ucap Nuha dan Fani.
"Yuk, berangkat", ajak Sifa.
"Kamu yakin gakpapa Sifa?", tanya Nuha sedih.
"Aku gakpapa, Nuha. Jangan menunjukkan wajah seperti itu, jelek tauk", balas Sifa Ramah. Asa tersentuh melihat keramahan dan kebaikan hati Sifa.
"Udah, ayok! Kita masih harus ganti baju kan"
"Baiklah, Sifa", Nuha tersenyum sekaligus memeluk Sifa, diikuti Fani. Asa yang terlihat sungkan, tangannya langsung ditarik Sifa. Mereka berempat pun berpelukan bersama.
Setelah berganti baju, Sifa mengajak mereka untuk segera menunggu bus di sebuah halte bus.
"Weh?! Naik bus?", Nuha kaget.
"Kenapa kamu?"
"Hehe.. aku gak biasa naik kendaraan umum. Makanya jadi kaget", balas Nuha nyengir.
"Oh? takut mabuk kamu ya", Sindir Asa.
__ADS_1
"Eng-enggak", Nuha mengelak.
"Aku, takut panik naik kendaraan umum lagi nih. Gimana ini Hawa", batin Nuha tidak tenang.
"Nuha, ayo!", sahut Fani seraya menggandeng tangan Nuha untuk segera masuk ke dalam bus.
Sebenarnya, Nuha kurang yakin ia berani naik bus, tapi melihat bersama dengan ketiga sahabatnya, dia mencoba untuk tidak merasa khawatir.
Nuha akhirnya naik ke dalam bus. Ia duduk bersama Fani dan Asa duduk bersama Sifa. Bus pun mulai bergerak maju.
"Enggak! Aku gak akan takut naik bus!", Teriak Nuha.
Seketika semua penumpang kaget dan mengarahkan pandangan kepada Nuha. Nuha kaget, akhirnya ia tertangkap malu atas perbuatannya sendiri.
"Kamu kenapa, Nuha?", Tanya Asa heran.
"Ahahaha.. gak papa. Maaf ya.."
"Haah.. Nuha.. Nuha.."
Perjalanan pun berjalan mulus. Nuha dan Fani saling mengobrol, sedangkan Sifa masih menyandarkan kepalanya. Asa berniat ingin bicara kepadanya, tapi sepertinya waktunya tidak pas.
"Kamu mau ngomongin apa, Asa?", tanya Sifa yang masih terpejam dan terjaga.
"Sifa?"
"Katakan aja, aku akan mendengarnya"
"Terus?"
"Aku juga gak tau, kenapa aku bisa marah besar kepadamu hanya karna kesalahpahaman yang tidak jelas"
"Sebenarnya, akulah yang harus minta maaf kepadamu Asa. Tapi, kamu terus saja marah-marah jadi membuatku jadi ikut terbawa emosi. Maaf ya", Sifa membuka matanya dan sendu melihat ke arah Asa.
"Kamu ini, memang licik Sifa", sindir Asa bergurau.
"Iya, Maaf. Jangan marah lagi donk"
"Okeh!!"
"Hehe, habisnya. Gue gak tahan melihat hubungan kamu dan kak Yuki yang terlihat menggantung. Kak Yuki itu suka sama kamu dan kamu terus saja menghindari perasaanmu itu. Jadi, aku melakukan hal aneh kepadanya supaya perasaanmu bisa terbuka dan melampiaskan rasa cemburumu itu"
"Dasar gila loe ya!", Asa langsung menjitak kepala Sifa.
"Aduduh, Masih mau marah nih?", tanya Sifa.
"Mbah dukun! Elo telah membuat gue hampir menjadi manusia terbodoh di dunia, Sifa! Sampai bisa membuat gue emosi hanya karna hal kayak gitu. Harusnya kan gue gak harus kepancing, dasar kodok!!", Asa geram. Ingin rasanya dia menumbuk Sifa menjadi adonan kue.
"Akhirnya kamu tau kan, akan perasaanmu itu yang berarti kamu tuh suka sama Kak Yuki", cengir Sifa dengan bangga.
"Jangan elo ulangi lagi perbuatanmu ya, awas!!"
"Gak akan lah Asa. Gue sudah tau akan kejujuran hatimu itu kok. Jadi, misi gue telah selesai. Thanks ya Asa, kamu telah bisa membuatku hampir kepayahan. Dan juga, maaf dengan segala sikap keterlaluanku padamu" Sifa menunduk.
__ADS_1
"Kita kan sahabat, BestFANS! BestFANStastis pokoknya!", Balas Asa ramah.
"Asa?"
"Kita adalah sahabat, Sifa. Dan selamanya sahabat. Seburuk apapun masalah kita, kita tetap sahabat. Yang harus selalu bersama dan saling memahami", balas Asa.
Kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka sampai di tujuan. Mereka turun dari bus dan berjalan kaki menuju Universitas. Berjalan bersama menuju Convention hall tempat upacara wisuda berlangsung, namun sudah selesai.
"Wah! Kita tepat waktu Nuha", sahut Fani melihat para wisudawan sudah keluar dari gedung.
"Rame banget gays", seru Asa.
Nuha mencari-cari keberadaan kakaknya dan ibunya. Saat dia mencari, dia malah melihat Naru dan Dina yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Nuha", sapa Ibu dari arah samping.
"Ibu?", sahutnya menoleh. Ketiga sahabatnya pun langsung menyapa beliau dan menjabat tangannya.
"Maaf ya membuat kalian harus capek-capek kesini setelah selesai mengerjakan ujian", ucap Ibu.
"Enggak tante, gakpapa", balas Sifa ramah.
"Kakak, mana Ibu?"
"Tuh dia", Ibu mengarahkan pandangannya kepada Muha yang memakai baju toga berjalan menghampirinya dengan seorang pria di sampingnya, yaitu kak Yuki.
"Waah, Kak Muha.. Kak Yuki", seru Sifa langsung sakitnya sembuh seketika.
"Mulai deh", sindir Asa.
"Selamat ya kak, atas wisudanya", ucap Fani.
"Iya Fani, terima kasih", balas Kak Muha ramah.
"Ramah banget kalo sama Fani", sinis Nuha.
Asa sejenak terpana melihat penampilan Kak Yuki. Dia terlihat tinggi dan bersinar. Kaca mata bulatnya kembali menjadikan dirinya kembali pada dirinya sendiri.
"Walah, kita kembaran ya kak", ucap Sifa seraya menunjukkan kacamatanya kepada kak Yuki yang memakai kaca mata yang sama dengannya.
"Lah, itu juga kan hasil dari malakmu itu Sifa"
"Hehe, Asa Asa", balas Sifa kebingungan.
"Foto yuk!", ajak Kak Yuki.
Semua langsung menyetujuinya. Sementara itu, Nuha masih melihat ke arah Naru yang tidak tahu akan kehadirannya. Namun, tatapan gadis itu langsung memberikan lampu untuk si Naru.
Naru akhirnya menyadarinya, dia tersenyum sehingga membuat Nuha jadi tidak fokus berjalan karena menahan tersipu malu.
Naru berjalan ingin menghampiri Nuha tapi seketika Nuha tetap berlari meninggalkannya.
"Nuha?"
__ADS_1