
Tiga hari pun berlalu. Nuha masih di rumah sakit. Keadaan fisiknya sudah membaik, namun kesehatan mentalnya menjadi sedikit terganggu. Ia masih sedih memikirkan Hawa yang entah apa alasannya kenapa dia tiba-tiba meninggalkan Nuha.
Ibu dan kakak sangat iba melihat keadaan Nuha sekarang. Nuha menjadi sangat pendiam dan tidak mau berkata sepatah kata pun. Walaupun dia sudah tidak menangis tapi kesedihannya masih terlukis jelas di wajahnya.
“Nuha, ayo makan” Ucap ibu sambil menyuapi Nuha makan. Nuha pun patuh.
Kakak memberikan ponsel Nuha kepadanya. Berharap dia mau bermain dengan ponselnya atau melihat kabar teman-temannya. Nuha menerima ponselnya dan menyalakannya. Membuka SMS dan beberapa pesan dari ketiga sahabatnya muncul. Pesan yang sudah cukup lama dan baru Nuha buka sekarang.
Setelah demam tinggi menyerangnya, baru dua hari Nuha mau membuka matanya untuk bangun dari tidurnya. Setelah itu, dia hanya bisa terdiam dan termenung memikirkan Hawa kembali.
Nuha mengingat pesan surat dari Naru bahwa tiga hari lagi akan ada tryout, dan hari ini mungkin tryout sedang dilaksanakan. Nuha pun membuat SMS untuk memberikan Sifa, Fani, da Asa semangat.
“Sifa, maafkan aku di waktu itu ya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga tryoutnya lancar dan mendapat nilai yang bagus” Tulisnya untuk Sifa.
“Asa, makasih ya, sangat asik kita bisa satu kelas di kelas tambahan. Semoga tryoutnya lancar dan mendapat nilai yang bagus” Tulisnya untuk Asa.
“Fani, makasih juga kamu selalu perhatian kepadaku. Semoga tryoutnya lancar dan mendapat nilai yang bagus” Tulisnya untuk Fani.
Nuha merasa tidak memiliki semangat untuk bisa kembali lagi ke sekolah. Ia ingin bisa untuk segera pulang ke rumah.
“Ibu” Ucapnya lirih.
“Iya Nuha?”
“Aku mau pulang”
Ibu pun melihat ke arah Muha. Muha mengangguk memberikan izin. Ibu pun mulai mengemasi barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas dan ransel.
“Kakak, aku mau pulang” Ucap Nuha menangis.
“Iya. Ayo kita pulang” Jawabnya.
Nuha turun sendiri dari kasurnya, berdirinya masih belum tegap dan tubuhnya masih gemetaran. Muha mencoba membantu namun hatinya benar-benar sangat sedih melihat keadaan adiknya yang semakin kacau.
“Kakak bantu ya” Ucapnya sendu.
__ADS_1
“Umm..” Nuha mengangguk.
Muha memapah Nuha berjalan terus hingga sampai di pintu muka resepsionis. Dia meminta adiknya untuk duduk sebentar menunggu di kursi bersama ibu. Muha hendak mengurus administrasi sembari memesan taksi.
“Eh, Nuha SMS," Ucap Asa sambil masih mengerjakan tryoutnya di kelas tambahan.
Naru pun menoleh, “Apa pesannya?”
“Mau tau aja” Cuek Asa.
Naru langsung mengalah, ia kembali fokus mengerjakan tryoutnya lagi. Tidak ingin berdebat dengan Asa meskipun hatinya ingin sekali mengetahui kabar dari Nuha.
“Asa, makasih ya, sangat asik kita bisa satu kelas di kelas tambahan. Semoga tryoutnya lancar dan mendapat nilai yang bagus” Pesan dari Nuha.
Asa mencoba untuk langsung membalasnya, “Iya Nuha. Kamu cepat sembuh ya supaya kita bisa ketemu lagi di sekolah” Asa tersenyum.
Naru melirik tapi Asa malah sengaja mempermainkannya dengan menjulurkan lidah kepadanya. Asa tertawa melihat Naru menampakkan senyum kecutnya.
“Ah! Jadi gak sabar mau ketemu Sifa dan Fani untuk menyampaikan SMS Nuha ini kepada mereka.” Batin Asa.
“Naru, tunggu!” Ucap Asa
“Ada apa?” Jawabnya dingin
“Dingin banget, gak mau tau tentang kabar Nuha sekarang?”
“Enggak ah!”
“Eh, segitunya”
“Udah ya, gue mau pergi dulu. Sibuk nih gue” Jawab Naru menusuk perasaan Asa
“Kenapa dia? Gue jadi kecewa dengan sikapnya” Gerutu Asa melihat Naru yang tetap pergi meninggalkannya
“Kalo gitu, ketemu Sifa sama Fani aja deh” Ucapnya sambil berjalan keluar kelas
__ADS_1
Asa, Sifa dan Fani pun saling bertemu. Mereka mulai membicarakan tentang SMS yang Nuha kirimkan kepada mereka bertiga. Fani terharu namun Sifa menjadi merasa sangat bersalah.
“Kenapa hanya aku yang mendapat pesan permintaan maaf dari Nuha, aku kan jadi merasa bersalah sama dia” Ucap Sifa sedih.
“Gakpapa Sifa.. Kalo Nuha sudah berangkat sekolah lagi kita bisa luruskan kembali permasalahan ini kepadanya dan mengembalikan keceriaan persahabatan kita” Jawab Fani
“Kamu memang selalu bisa menenangkan hati sahabat Fani” Ucap Sifa
Asa pun memeluk kedua sahabatnya tersebut. Kesedihan Sifa setelah putus dengan pacarnya sudah mulai berkurang bahkan sudah akan membaik. Perasaan dan sikap asli Sifa pun telah kembali seperti semula.
“Ya udah, yuk kita ke kantin” Ajak Asa
Waktu pun terus berjalan, ketiga sahabat itu terus menikmati kebersamaannya. Hingga waktu pulang memisahkan mereka bertiga. Asa mulai berjalan ke halaman parkir untuk mengambil kendaraannya sedangkan Sifa dan Fani berjalan ke seberang jalan untuk menunggu kedatangan bus.
Fani lebih dulu mendapatkan busnya kemudian diikuti bus Sifa di belakangnya. Sifa pun naik dan mencari tempat duduk sendiri. Melihat mantan pacarnya telah duduk di kursi paling belakang membuat Sifa cuek dan berusaha untuk mengabaikannya.
Tiba-tiba Sifa sakit perut, kepalanya terasa berat dan pandangan mulai sedikit kabur. Ia menekan keras perutnya berusaha menahan rasa sakit. Ternyata tamu tidak diundangnya datang dan mengganggu konsentrasinya di dalam bus.
“Oh tidak, M ku datang. Aku harus gimana nih. Aku juga gak bawa jaket. Kepalaku juga pusing sekali. Kenapa juga harus disaat seperti ini” Keluhnya
“Tapi, masih cukup lama sih aku di dalam bus. Mungkin dengan tidur sejenak pusing dikepalaku bisa sedikit berkurang.” Gumamnya
Bus pun terus melaju. Mantan pacarnya sedang asik mengobrol dengan teman yang berada di dekatnya walaupun sembari dia sendiri memperhatikan Sifa. Sifa memang tidak terlihat jelas olehnya karena terhalang beberapa orang dan kursi penumpang. Tapi, dia tetap berusaha untuk terus memperhatikan Sifa.
Bus berhenti, beberapa penumpang mulai menaikinya lagi. Terlihat seorang pria sedang mencari tempat duduk, pria tersebut hendak duduk di dekat Sifa. Sedangkan, Sifa masih tertidur lelap. Mantan pacar Sifa mulai khawatir, dia pun berdiri dan langsung berjalan menuju Sifa berada. Dia langsung menyerobot duduk di samping Sifa. Pria tersebut pun beranjak mencari tempat duduk lain.
“Ternyata dia sedang tidur. Makanya tidak ada penolakan sama sekali darinya. Membuatku khawatir saja” Ucapnya
Sifa yang terlihat sambil memegangi perutnya dan raut wajah yang terlihat sedikit lesu, mantan pacar Sifa benar-benar mulai mengkhawatirkannya.
“Ada apa dengannya?”
“Apa dia sedang sakit?”
Dia terus bergumam mencari tahu sendiri tentang keadaan Sifa.
__ADS_1