Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Bunga, Matahari.


__ADS_3

"Naru, kita di mana?"


"Kita di UKS"


Naru membawa Nuha ke UKS. Di UKS sedang tidak ada pasien yang dirawat, hanya ada satu ibu kepala perawat dan satu kakak perawat. Mereka sedang berada di ruang kantor dekat ruang tamu depan.


Ruang UKS di SMK Merdeka Surakarta cukup luas. Saat melangkahkan kaki pertama, maka akan disambut dengan ruang tamu mungil nan minimalis. Sangat nyaman untuk tempat mengobrol.


Terdapat almari partisi pemisah sebagai dinding. Di balik partisi tersebut, disitulah ruang pasien berada dengan enam ranjang kasur saling berhadapan yang tertata dengan rapi. Ruang kantor perawat berada di sampingnya dengan diberi sekat dinding dan pintu kaca.


Beberapa almari, rak dan etalase sebagai tempat obat dan perlengkapan yang lain. Ibu kepala perawat mendatangi Nuha dan Naru yang sedang duduk di sofa tamu.


"Ada yang bisa Ibu bantu nak?"


"Maaf, bu. Tidak". Jawab Naru.


"Apa dia sedang baik-baik saja?"


"Iya", jawab Naru. Nuha ikut mengangguk.


"Ya sudah. Kalo gitu Ibu tinggal ya, kalo ada apa-apa bisa panggil Ibu di ruang kantor"


"Baik bu, terima kasih"


Ibu perawat meninggalkan Nuha dan Naru yang masih anteng di ruang tamu. Nuha masih belum mau melepas jaket Naru yang menutupi wajahnya. Malah, dia lebih erat memeganginya.


"Nuha?"


"Umm..", Nuha menggelengkan kepala.


"Ini aku, Naru. Maaf yah"


"Umm..", Nuha masing menggelengkan kepala.


"Nuha, ayo buka jaketnya. Kamu udah aman sama aku"


"Gak mau"


"Kalo udah bilang gak mau gitu pasti susah ini", gumam Naru pasrah.


"Nuha, ayo buka jaketnya!", Naru mulai memaksa.


"Naru! Kamu galak", sahut Nuha.


"Lebih galak aku ato kakakmu?"


"Kakak lebih galak!"


"Ahahaha. Dasar gadis tengil", ucap Naru sambil menjewer kedua pipi Nuha yang masih tertutup jaket.


"Itai! Sakit!"


"Naru, aku takut"


"Eh?, takut kenapa?"


"Aku mulai terlibat lagi dengan cowok. Ini sangat mengganggu. Aku tidak suka seperti ini", ucap Nuha lirih


"Ooh..", jawab Naru singkat.


Naru berdiri dan melihat-lihat benda yang tertata acak di almari partisi. Terdiam tidak ingin memberikan respon untuk Nuha.


Nuha bertanya-tanya, "Naru?", batinnya.

__ADS_1


Dia mulai mengintip dan sedikit melepas jaket varsity yang menutupi kepalanya. Mendapati Naru sedang sibuk dengan almari partisi, Nuha hanya memandanginya heran.


"Punggung Naru, masih membuatku terus terpesona", hati Nuha mulai berdebar-debar lagi.


"Nuha, lihat ini. Ada bunga matahari"


Naru mengambil satu pot bunga matahari imitasi dan memberikannya untuk Nuha.


"Aku suka bunga matahari", ucap Nuha menerimanya dengan senang hati.


"Aku lepas ya jaketnya?"


"Iya"


Naru melepas jaket yang masih nyangkut di kepala Nuha. Menaruhnya di sandaran sofa.


"Kamu tau arti dari bunga matahari?" tanya Naru.


"Enggak", jawab Nuha malas mikir.


"Haish!", Naru memukul pelan dahi Nuha karena gemas.


"Bunga matahari itu selain melambangkan kehangatan dan umur panjang, ia juga memberi semangat dan optimisme. Membawa keceriaan. Kesetiaan kepada kekasih. Perdamaian. kekaguman kepada orang yang istimewa", ucap Naru menjelaskan.


"Bahkan bijinya bisa dimakan kayak kwaci", lanjut Nuha.


"Nuha, aku juga gak suka ya ada cowok yang mulai mendekatimu. Pesonamu semakin memukau, kamu tahu itu", ucap Naru serius menatap mata Nuha.


"Tapi, Naru. Aku gak bermaksud ingin jadi gadis yang seperti itu. Aku takut"


"Aku tahu itu, jangan salahkan dirimu sendiri ya Nuha", ucap Naru lebih ramah.


"Kamu adalah bunga matahariku, tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku. Jadi, aku akan selalu menjagamu, Nuha. Seperti bunga hati yang telah kamu berikan untukku. Ia selalu aman di dalam hati ini", jelas Naru.


"Nuha, aku kan cowok. Aku akan melawannya kalo dia berani melukaimu"


"Naru! Jangan brutal deh!"


"Eh?, Hmm.. Setiap cowok itu akan menjadi brutal jika ceweknya digangguin cowok lain. Paham itu?"


"Umm.."


"Udah lebih baik belum?"


"Iya, sedikit"


"Mau balik ke kelas sekarang?"


"Naru, aku mau tanya"


"Apa?"


"Kok kamu ngajak aku ke UKS? Enggak ke taman belakang sekolah"


"Hehe..", Naru hanya memicingkan bibirnya.


"Naru?!"


"Di sini lebih nyaman", jawab Naru memalingkan matanya.


"Kenapa?"


"Udah, ayo aku antar ke kelas", ucap Naru mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Dia langsung menggandeng tangan Nuha dan menuntunnya untuk kembali ke kelasnya.


Naru tidak enak hati mengatakan bahwa dia tidak nyaman dengan keberadaan kucing-kucingnya, soya dan mayo. Karena alerginya, dia jadi selalu terganggu.


Hampir sampai di kelas 12F, Nuha dan Naru mulai berpisah.


"Hati-hati ya kalo masuk kelas, jangan sampai jatuh", ucap Naru membelai lembut pipi kiri Nuha.


"Iya, aku akan pegangan pintu"


"Pinter"


"Bye Naru"


"Iya. Aku tungguin kamu sampe bener-bener masuk kelas"


"Hehe.. Baiklah master. Lihatlah aku, aku tidak akan tersandung nanti", cengir Nuha.


"Udah, sana!", perintah Naru.


Nuha berjalan memasuki kelas, tidak lupa dia mengetuk pintu untuk memberi salam kepada guru. Setelah guru membalas salamnya, Nuha mulai melangkahkan kakinya.


Melihat Nuha akan memasuki kelas, Asa, Sifa dan Fani juga langsung pasang mata untuk memastikan langkah kaki Nuha. Mereka bersiap datang mendekat jika Nuha benar-benar akan tersandung dan jatuh.


Nuha berpegangan pintu dan dia mulai melangkahkan kaki di ketinggian lantai kelas yang berbeda dengan teras. Dia pun berjalan menuju tempat duduk dengan aman dan selamat.


Naru tersenyum lega. Dia mulai beranjak pergi untuk kembali ke kelasnya juga. Kelas 12D.


"Naru, berhenti sebentar", panggil pak Hanif.


Pak Hanif sedang berjalan di lorong kelas dan bertemu dengan Naru. Beliau akan meminta bantuan lagi kepadanya.


"Naru, pacar kamu dari jurusan Multi Media kan?"


Naru hanya terdiam menjawabnya.


"Bisa tidak bapak minta bantuan kepadanya?"


"Gak ada siswa lain apa Pak?, dia kan sudah kelas 3. Bapak tidak berniat merepotkannya kan?"


"Haha.. Bapak akan merepotkannya bersamamu"


"Maksudnya?"


"Ini, buatkanlah aplikasi untuk menyimpan berbagai rumus matematika. Beri sedikit penjelasan dan latihan juga"


"It- itu sangat merepotkan pak namanya?! Maaf pak saya tidak bisa"


"Bapak kasih bayaran deh kalo gitu"


"Tidak. Tidak bisa pak"


"Dasar! Hanya karena sudah punya tabungan banyak dari beasiswa hasil olimpiade, kamu tidak mau menerima bayaran dari bapak"


"Bukan begitu pak Hanif. Maafkan saya pak, saya tidak bisa melibatkan dia untuk sesuatu yang mungkin akan memberatkannya"


"Kamu memang sangat baik sama pacarmu Naru. Ya sudah kalo begitu", pak Hanif pun beranjak pergi.


"Sekali lagi, maafkan saya pak", Naru langsung membungkukkan badan dengan sungguh-sungguh untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Pak Hanif.


"Tidak masalah", balas Pak Hanif melambaikan tangannya.


"Huff, ada-ada saja yang mau merepotkan Nuha. Gue gak akan izinin itu", gumam Naru.

__ADS_1


__ADS_2