
Ibu guru Mayang. Seorang ibu guru cantik nan semampai dengan riasan tebal dan penampilan bak putri solo sedang menerangkan pelajaran PkN di kelas 12F Multimedia dengan suara lantangnya.
Suaranya yang lantang menandakan bahwa dia seorang guru yang sangat galak. Mungkin karena beliau belum menikah di usianya yang ke 50 tahun sehingga cukup mempengaruhi emosi beliau.
Namun, mayoritas siswa sangat menyukai beliau karena beliau sangat mudah diajak berkomunikasi dan mudah diajak bercanda.
Ajeng yang sedang duduk di samping Mega terlihat pucat dan tidak enak badan. Kepalanya tertunduk. Dia terus memegangi perutnya menahan rasa sakit dan mual.
"Ajeng, kamu kenapa?", tanya Mega khawatir.
Ajeng hanya menggelengkan kepalanya karena tidak mampu menjawab. Dia berusaha menahan rasa mual di perutnya.
"Huogg..", respon Ajeng.
"Ajeng?!, kamu kenapa?"
"Pe-rutku rasanya sakit", jawab Ajeng lemah.
"Huoog", lanjutnya.
"Gays, lihat deh Ajeng, ada apa ya dengannya?", ucap Sifa langsung penasaran.
Nuha, Asa dan Fani yang masih anteng memperhatikan pelajaran sedikit terusik dengan rasa penasaran dari Sifa.
"Ada yang aneh dengan Ajeng", Lanjut Sifa.
"Emang kenapa?, kalo sakit ya biar diantar ke UKS sama bestienya", jawab Asa yang masih fokus memperhatikan pelajaran.
"Tapi sakitnya terlihat tidak biasa"
"Sifa, perhatikan aja pelajaranmu. Masalah itu mah biar diurus sendiri sama bestienya"
"Hmm..", respon Sifa dengan senyum kecutnya.
Mega yang semakin khawatir dengan kondisi Ajeng, dia langsung meminta izin kepada guru.
"Ibu Mayang", panggil Mega.
"Iya mbak ada apa?!", reflek jawaban dari Ibu Mayang.
"Sa- sa- sa- sa", Mega menjadi tidak berani.
"Ada apa mbak?, saya sedang menjelaskan materi tapi anda memanggil saya. Apa ada yang penting?!"
"Sa- saya mau minta izin untuk mengantar teman saya ke UKS", jawab Mega grogi.
"Emang teman mbak kenapa? Sakit?!"
"I-iya"
Seluruh siswa mulai mengarahkan pandangannya kepada Mega dan Ajeng.
"Ya udah sana!"
"I-iya bu, terima kasih"
Mega langsung mengajak Nana untuk membantu memapah Ajeng berjalan ke UKS.
Semua pasang mata langsung penasaran dengan kondisi Ajeng. Mereka mulai saling berbisik dan membicarakan Ajeng yang tidak-tidak.
"Baru aja masih pagi ya mbak ya? Kok udah sakit aja. Kalo tau sakit kan gak perlu masuk sekolah", sahut Ibu Mayang kepada siswa di depannya. Meskipun beliau seorang guru, namun nalurinya sebagai seorang manusia berusia 50 tahun tetap ada.
__ADS_1
"Hehe.. Iya bu", jawab siswa tersebut sungkan.
Beberapa siswa mulai terkikik geli melihat sikap polos Ibu Mayang tersebut.
"Hei hei.. Ada apa dengan Ajeng?"
"Iya, ada apa ya dengannya?"
"Mencurigakan sekali cara dia sakit"
Seluruh siswa mulai saling bersahut menanyakan tentang kondisi Ajeng. Namun, Ibu Mayang kembali melanjutkan penjelasannya.
"Asa, sepertinya Ajeng sedang hamil", sahut Sifa.
"Eh?!", Ketiga sahabatnya langsung menoleh.
"Kamu tau apa tentang orang hamil Sifa?, jangan berburuk sangka yang tidak-tidak", sanggah Fani.
"Iya kali aja. Soalnya kakak perempuanku yang sudah menikah itu saat hamil kek gitu juga tanda-tandanya"
"Hmm.. Dia memang sudah dewasa sekali pikirannya", ucap Asa menggeleng-gelengkan kepala.
"Maka dari itu, aku bisa langsung tahu. Karna dia itu kan pergaulannya sangat bebas. Anak gaul seperti mereka pasti sudah terbiasa dengan hal yang begituan"
"Begituan apa?", tanya Asa.
"Iya pokoknya begituan"
"Hus! Jangan ngomong yang enggak-enggak", bisik Fani.
"Nuha!", panggil Sifa.
Nuha yang ikut mendengarkan obrolan Sifa tiba-tiba kaget sendiri akibat panggilan yang mendadak itu.
"Nuha, aku mau tanya, apa saja yang sudah Naru lakukan padamu?", tanya Sifa serius.
"Apa?", Nuha malah bingung.
"Kalian berdua, tidak melakukan sesuatu yang merugikan kan?"
"Apa itu?"
"Haa ah, pikiranmu sangat pendek Nuha"
"Lha iya apa? Jelaskan lebih jelas donk", pinta Nuha.
Sifa malah semakin malu ingin menginterogasi Nuha tentang masalah yang dialami Ajeng.
"Iya itu, seperti Ajeng"
"Maksudnya hamil?", tanya Nuha to the point.
"Ups! Pelan-pelan Nuha", Sifa langsung membungkam mulut Nuha.
"Hla tadi kamu bilang kalo Ajeng itu hamil kan?", tanya Nuha jujur.
"Iya.. Jangan jujur-jujur amat donk kalo ngomong"
"Trus aku harus gimana?", Nuha malah bingung.
"Daripada nanyain Nuha, mending kita interogasi Sifa aja langsung", timpal Asa melirikkan matanya kepada Sifa.
__ADS_1
Nuha dan Fani ikut melirik.
"Emang aku kenapa?"
"Kamu sendiri, ngapain aja sama Dimas?"
"Ngapain?, kek gituan?", tanya Sifa tegas
"Ehhem!!", Asa dan Fani berdehem bersamaan.
Yee.. Mana mungkin aku kek gituan. Aku kan bukan gadis bodoh. Memalukan sekali", jawab Sifa santai.
"Nah itu tau, Nuha juga sudah pasti enggak akan kek gituan kan. Dia juga bukan gadis bodoh", sahut Asa.
"Kek gituan apa sih teman-teman?", tanya Nuha bingung.
"Hamil", bisik Fani.
"A- Apa?! Hamil?, Aku kan belum menikah. Mana mungkin aku bisa hamil? Kalian kok mojokin aku sih"
"Nah ini nih. Yang aku takutin. Nuha itu kan penganut komputer pentium 2, sinyalnya pun juga masih 2G jadi gak bisa nyambung-nyambung", timpal Sifa
"Apa sih kamu Sifa", ketus Nuha.
"Nuha.. Orang hamil itu gak harus sudah menikah. Lihat aja tuh Ajeng, dia masih sekolah kan. Bisa jadi, dia sekarang sedang hamil", ucap Sifa mengatur kesabaran.
"Kok bisa?!", tanya Nuha kaget.
"Bisalah, itu karna dia punya pacar", jawab Asa singkat.
Sifa langsung manyun, merasa tersindir.
"Gi-gimana bisa punya pacar bisa hamil?"
"Teman-teman.. Naru itu kan cowok pinter dan berprestasi mana mungkin dia gituin Nuha", ucap Fani santai.
"Fa-Faniiii?!", sekejap Asa dan Sifa histeris malu atas pernyataan Fani.
"Eh? Aku salah ngomong kah?"
"It-itu terlalu vulgar Faniii?", bisik Asa.
"Iya kah?"
"Teman-teman, aku masih tidak mengerti. Maksudnya gimana?", Nuha masih bingung.
"Tanyain langsung sama Naru sana kalo gitu", ketus Sifa.
Nuha menatap Fani bingung penuh tanda tanya, namun Fani hanya memberikan senyuman saja.
"Ya elah.. Kita ini sebenarnya ngapain sih? Ngobrolin gak penting, gak ada mutunya juga", sahut Asa.
"Ya udah, kita lanjutin dengerin pelajaran kalo gitu", ajak Fani.
Ibu Mayang telah selesai menjelaskan materi pembelajaran. Beliau meminta sekertaris kelas untuk menuliskan tugas di papan tulis.
"Tolong mbak mas, siapa sekertaris disini? Tolong tuliskan tugas dari saya ini", pinta Ibu Mayang.
Isna langsung mengangkat tangannya. Dia pun berjalan maju dan menerima selembar kertas dari Ibu Mayang. Kemudian, menuliskannya di papan tulis.
"Tolong kerjakan tugas dari saya ini ya anak-anak. Masih ada waktu jadi kalo sudah selesai bisa langsung dikumpulkan"
__ADS_1
"Duh, catatanku jadi tidak lengkap gays.. Gimana nih ngerjain tugasnya", Sifa mulai panik.
"Eeh..", Nuha ikut menyesal namun santai.