
Nuha dan Naru menunggu di depan gedung bioskop yang masih tertutup itu dengan duduk bersama di meja bundar. Sambil menyeruput es boba masing-masing mereka saling melempar senyum.
"Jangan terlalu dipikirkan," Ucap Naru.
"Iya, Naruuu," Nuha tersenyum ramah.
Meskipun Nuha sudah merasa lebih lega, tapi dia masih saja merasa rendah diri karena Naomi begitu cantik sempurna dan jauh dari Nuha yang biasa-biasa saja dan kekanak-kanakan.
"Kamu adalah Nuha, gadis pendiam, tersembunyi dan penuh ketenangan. Ingat itu Nuha. Jadi, tidak perlu membandingkan atau mencari persamaan dengan orang lain. Nuha, aku suka dirimu yang seperti ini. Jangan jadi seperti orang lain, ya?" pinta Naru tulus.
"Iya-iya"
"Gadis ini, emosinya santai banget dan irit bicara. Membuat perasaan di dalam hatiku selalu bergejolak. Aku terus saja menyukainya," batin Naru.
"Nuha, kamu masih suka gambar?" tanya Naru
"Gambar? Umm.." balas Nuha mikir.
"Kenapa? Hobimu itu jadi mandeg karna Hawa sudah gak ada?" tanya Naru.
"Iya gak juga sih. Umm, iya bener juga sih. Hehe. Aku, jadi gak semangat lagi ngegambar"
"Coba deh gambar lagi di buku note kecil yang kita dapat dari main game tadi"
"Iya, baiklah"
"Nurut banget sih, kamu" balas Naru gemas.
"Tadi itu, ciumanmu terasa aneh Naru," ucap Nuha dengan polos sambil membuka halaman pertama.
"Nu-Nuha?!", Naru langsung salah tingkah.
"Hehhee," Nuha malah nyengir.
Nuha mulai menggambar ekspresi Hawa yang sedang tersenyum. Karena ukuran note itu kecil, dia hanya bisa menggambar wajah. Namun, itu sudah membuat Naru bangga.
"Bagus," puji Naru.
"Hawa itu sangaat manis. Kamu tau itu kan Naru?, dia itu sangat ceria. Meski sering gangguin aku kayak kakak. Tapi, bisa debat dengannya itu sangat menyenangkan"
"Kamu ini gak sadar lagi ngomongin diri sendiri," gumam Naru dalam hati.
"Dia suka kalo aku gambarin baju. Dan pujiannya selalu membuatku semakin percaya diri untuk terus ngegambar. Tapi, dia udah gak ada. Jadi, buat apa aku ngegambar?", balas Nuha nyengir.
"Kamu bisa gambar buat aku, Nuha", balas Naru ramah.
"Ya udah nih buat kamu Naru" ucap Nuha menyerahkan gambar pertamanya kepada Naru.
"Beneran?"
"Iya, buat kamu"
"Boleh tambah satu lagi?" pinta Naru.
"Tambah, apa?"
"Gambarin wajah aku, bisa gak?"
"Wa- wa- wajah kamu?!" Nuha salah tingkah.
__ADS_1
"Gak usah salah tingkah gitu kali. Gini aja, kan kamu gambar Hawa. Bisa gak gambar sisi lain dari aku, seperti Hawa gitu?"
"Sisi lain.. Umm," Nuha berfikir, "Jika Hawa adalah cerminku, berarti aku tinggal gambar cermin kamu Naru. Gitu kan?"
"Bisa jadi," balas Naru singkat.
"Okei," Balas Nuha mulai menggambar. Dia menggambar sisi Naru yang terbalik seperti di dalam bayangan cermin.
"Tetap saja sama persis dengan wajahku. Dasar, Nuha sangat lucu," sindir Naru di dalam hati.
"Nih, Naru. Tinggal.. diberi nama"
"Nama? Eeh.. Aku gak kepikiran harus kasih nama"
"Ya udah, pikirin aja dulu," ucap Nuha langsung memberikannya kepada Nuha.
"O-okei, akan aku terima dengan senang hati"
"Terima kasih ya Naru," ucap Nuha.
"Dasar! Harusnya aku yang bilang makasih"
Pintu bioskop pun dibuka, para penonton sudah berjalan keluar. Nuha melihat ketiga sahabatnya keluar dia langsung melambaikan tangan dengan senang hati.
"Udah love mood ternyata", bisik Asa jahil.
"Siapa dulu, Naru gitu loh," balas Sifa tertawa kecil bersama Fani. Mereka pun tos bersama.
"Kak Naru! Kakak kemana aja sih? Kirain tadi ikut nonton film, huh!", gerutu Dina.
"Percaya dirilah Nuha," ucap Naru menatap serius ke arah Nuha. Nuha tersenyum membalasnya.
"Nuha, yuk kita pulang," ajak Asa.
"Yuk gays, kita keluar bareng", ajak Sifa.
Nuha berjalan bersama Dina dan Naomi. Asa tergelitik untuk menyindir keadaan itu, "Naru jadi seperti punya dua istri," bisik Asa kepada Sifa.
"Gila loe ya Asa! Gituin sahabat sendiri," balas Sifa membela.
"Hehe habisnya.."
Naru berjalan di belakang mereka. Fani sejenak mendekatinya, "Naru, apa Nuha sudah memberitahumu?"
"Tentang apa?"
"Aku sudah memberitahu Nuha kalo kamu gak bisa ketemu dengannya sampe akhir semester. Tapi aku gak kasih alasannya sih"
"Tapi, dia terlihat biasa-biasa aja", balas Naru.
"Iya itu karna, kelas kami juga sedang dilarang pacaran oleh Pak Suwito, wali kelas kami. Jadi, dia setuju aja dengan keputusanmu itu"
"Jadi dia gak masalah kita gak saling ketemu? Dasar gadis membingungkan. Gak suka ketemu tapi mudah sekali cemburu," batin Naru.
"Ya udah ya Naru"
"Oke. Thanks Fani. Kalo aku sendiri yang ngomong dan bilang karna ada sangkut pautnya dengan Dilan, pasti dia akan bertindak"
"Iya sama-sama"
__ADS_1
Perjalanan mereka telah sampai di depan pintu mall. Sifa dan Fani pulang duluan untuk segera mencari bus. Asa mengajak Nuha untuk mengambil motor. Sedangkan, Naru, Dina dan Naomi menunggu jemputan dari Pak Sopir.
"Bye kak Nuha!" ucap Dina melambaikan tangan.
"Iya"
Nuha tidak berpamitan dengan Naru, membuat Naru merasa kesal dan cemburu karena hanya Dina yang dia pamiti. Tapi, dia sudah merasa lega melihat Nuha kembali ceria.
Naru duduk di samping Pak Sopir dan Dina duduk di belakang bersama Naomi. Gadis jepang itu, terus saja menatap Naru.
Sampai di rumah. Dina mengajak Naomi untuk kembali ke kamar. Sedangkan, Naru ingin menemui kedua orang tuanya di ruang tengah.
"Sudah pulang kalian?", sambut Ibunda.
"Iya Ibunda. Dina dan Naomi langsung kembali ke kamarnya," balas Naru.
"Sepertinya, ada yang ingin kamu sampaikan, Naru" ucap Ayah yang sedang membaca koran.
"Ibunda, ayah. Naru ingin bicara" jawab Naru langsung dengan serius.
"Duduklah" ucap ayah.
"Ayah, aku tidak bisa tinggal di rumah kalo ada Naomi disini", ucapnya yang seketika membuat Ibunda kaget.
"Ke-kenapa Naru?"
"Maaf, Ibunda. Naru hanya, tidak ingin menyakiti perasaan Nuha. Dia terlihat sedih melihat kehadiran Naomi"
"Naru, kalian ini terlalu serius menjalani hubungan, bunda jadi gak suka. Jangan berlebihan deh kamu Naru. Tetaplah di rumah. Selama kalian saling mencintai, Bunda yakin pasti keberadaan Naomi tidak akan mengganggu kalian dengan semudah itu. Tenang saja, Bunda merestui hubunganmu dengan Nuha"
"Tetaplah di rumah," pinta ayah singkat.
"Tuh, ayah saja setuju dengan pendapat Bunda"
"Baiklah, Bunda"
"Nah gitu donk anak ganteng. Udah dewasa banget pikiranmu itu. Nanti Nuha jadi takut gimana," sindir Bunda.
"Bu-bukan gitu, Bunda. Ya sudah, Naru mau kembali ke kamar Naru," pungkas Naru.
"Dia sangat mencintai pacarnya," bisik Bunda sambil tersenyum kecil menatap sang suami.
"Kerling-kerling"
"Kerling-kerling"
Bunda langsung mengangkat telepon di dekat tempat duduknya. Sahabatnya, meneleponnya kembali. Sahabatnya mengucapkan banyak terima kasih karena telah berkenan merawat Naomi, kemudian mereka mulai mengobrol hingga masuk ke dalam inti.
"Maya, baru saja aku menerima surel dari Naomi. Dia sangat senang bisa tinggal bersama kalian, apalagi ada Dina. Tapi, aku sangat malu untuk mengatakan ini"
"Ada apa Mamiya?"
"Naomi, jatuh hati pada Naru. Dia ingin bisa dekat dengannya. Maya, bisakah kamu membantuku lagi?"
"Deg"
"Deg deg"
Bunda tidak mampu memberikan balasannya.
__ADS_1
"Maya? Halo, Maya?"
"Maya?"