
"Nuha ternyata mengkhawatirkannya sampai sejauh itu. Aku tidak ingin melihat dia begitu khawatir", batin Naru.
Nuha yang semula menganggap cinta hanya ilusi sesaat kini menjadi yakin karena telah bertemu dengan Naru. Perasaannya terus dituntun dan berkembang semakin dalam saat mencintai Naru.
Nuha yang hanya gadis polos dan naif, tidak bisa memahami dengan benar apa itu arti pacaran. Apakah itu akan berdampak baik atau buruk terhadap dirinya?, Baginya, selalu bersama dan berbagi kebahagiaan dengan orang yang dicintai itu sudah luar biasa.
Naru menjadi sangat mengkhawatirkannya. Dia khawatir Nuha tidak bisa mengendalikan rasa cintanya yang berlebih kepada dirinya. Karena, semakin dalam cinta seseorang maka akan semakin bertambah rasa kekhawatiran dalam hatinya. Benar-benar sangat mengganggu.
Meskipun, Naru juga sangat mencintai Nuha bahkan dialah yang lebih dulu jatuh cinta kepadanya. Tapi, dia lebih bisa mengendalikan perasaannya. Mengendalikan kekhawatiran dan menahan rasa cemburu terhadap cowok yang mencoba mendekati Nuha.
Dia tidak ingin merusak status pacarannya dengan sesuatu yang merugikan. Dia tahu bahwa pacaran sangat berdampak buruk pagi anak muda di jaman sekarang. Dia tidak ingin Nuha mengetahui dampak buruk tersebut walau sedikitpun. Naru ingin menjaga kemurnian cinta Nuha dengan pikiran positif dan jujur.
Nuha dan Naru sama-sama memiliki komitmen untuk bisa selalu bersama selamanya. Walaupun, masa depan mereka masih begitu panjang.
Setelah mereka saling jatuh cinta dan mengungkapkan perasaan, mereka ingin memegang teguh keputusan itu hingga akhir. Tapi, takdir siapa yang tahu?
Karena, kebanyakan yang langgeng sampai ke jenjang pernikahan hanya 1% saja. Selebihnya hanya cinta monyet dan cinta-cintaan belaka.
"Aku harus bisa menyelamatkan 1% itu. Walaupun takdir apa yang akan terjadi pada kita suatu saat nanti", batin Naru sedih melihat kekhawatiran Nuha.
"Nuha, jangan khawatir", ucap Naru menenangkan dengan memegang lembut dua pundak Nuha.
"Jangan memikirkan hal seperti itu, yah? Jalani aja dengan apa adanya", sambungnya.
"Naru?", Nuha mengangkat kepalanya.
"Kamu itu tidak boleh memikirkan hal berat seperti itu. Pasrah aja, pasti Tuhan yang akan atur", Naru tersenyum.
"Um", Nuha ikut tersenyum.
"Percaya dirilah, Nuha. Karna aku sangat percaya kepadamu", ucap Naru sambil menghapus lembut air mata Nuha.
"Iya"
Hujan turun dengan derasnya, tidak terlalu gelap dan mencengkam seperti waktu lalu. Tiada petir yang menganggu, melainkan ketenangan hujan menarik perhatian Nuha.
Nuha berdiri dan menghampiri hujan yang turun teratur tanpa gangguan angin.
"Nuha, mau kemana?", ucap Naru meraih tangan Nuha.
"Hujan-hujan"
"Gak boleh Nuha. Jangan hujan-hujan"
"Kenapa?, itu sangat asik Naru. Aku ingin mendinginkan perasaanku ini. Juga, gak ada petir gak ada angin, jadi aman kan?"
"Nanti kamu sakit. Aku gak suka"
"Ayolah Naru, izinkan aku hujan-hujan"
"Enggak, Nuha"
"Naru!"
"Nuha.. Kalo seragammu basah mau ganti apa coba?"
"Eh?, Iya.. Itu.. Umm..", Nuha malah kebingungan sendiri tidak bisa membela diri.
"Udah sini aja, duduk"
__ADS_1
"Tapi Naru.."
Naru langsung menarik Nuha, Nuha pun jatuh duduk di pangkuan Naru. Dia mencoba membisikkan sesuatu.
"Aku ingin menikahimu, Nuha", bisik Naru
Tapi ucapannya berbarengan dengan suara petir yang tiba-tiba menyambar. Seperti Naru tidak sedang mengucapkan kalimat itu.
Seketika Nuha kaget. Naru pun ikut kaget.
"Ada apa Nuha?"
"Hehe, petir tadi. Membuat jantungku mau copot saja"
Naru tersenyum dan lebih memeluk Nuha dari belakang. Memegang erat tangan Nuha yang sedang mengepal ketakutan.
"Apa kamu takut?", tanya Naru terpejam.
"Umm, sedikit"
"Jadi, masih ingin hujan-hujan?", bisik Naru
"Masih", ucap Nuha menunduk pasti. Dia tidak bisa menolak diri untuk tidak hujan-hujan. Rasanya, hujan benar-benar menarik perhatiannya.
"Tetaplah disini saja"
"O-okei"
"Nuha?"
"I-iya?"
"Ya udah"
"Umm.."
Nuha mulai mengantuk.
"Nuha, apakah kamu sudah tahu, bahwa aku dan kak Muha sudah berdamai?", ucap Naru.
Mata Nuha mulai terpejam.
"Jadi, apakah aku.. Apakah aku bisa.. me.. me-"
Kepala Nuha pun jatuh dan melemah. Tanda bahwa dia benar-benar sudah tertidur pulas.
"Eh?"
"Zzzzz.. Zz.zzz"
"Nuha?"
"Haish! Gadis ini, mudah sekali tertidur. Enggak dimana dan saat kondisi apa pun dia mudah sekali tertidur"
Naru pun ikut memejamkan matanya. Hujan telah mengirim peri tidur dan rasa kantuk untuk mereka berdua.
Lima belas menit pun berlalu. Hujan mulai reda. Nuha masih nyenyak dengan tidurnya. Naru sudah bangun dan ingin segera mengajak Nuha kembali.
"Nuha, bangun"
__ADS_1
Nuha tidak bergeming.
Naru memandangi cincin yang telah terpasang di jari manis Nuha. Dia tersenyum sekaligus merasa lega. Hubungannya bersama Nuha tumbuh semakin baik.
"Aku tahu, pacaran itu tidak baik Nuha. Maafkan aku ya jadi melibatkanmu dalam hubungan percintaan. Jadi, akan aku pastikan kamu tidak akan terganggu dengan itu. Aku ingin kamu tetap bebas terhadap dirimu sendiri"
"Naru", ucap Nuha dalam tidurnya.
"Sudah bangun?"
"Apa hujannya sudah berhenti?"
"Sudah. Balik yuk"
"Umm..", Nuha mulai mengangkat kepalanya dan membuka matanya yang masih mengantuk.
"Ngantuk banget ya?"
Nuha menggelengkan kepala, berusaha menolak rasa kantuknya yang masih menempel.
"Naru, aku senang sekali. Sungguh senang sekali hari ini. Hari kelahiranku benar-benar memberikanku banyak kejutan yang tidak terduga. Tapi, kejutan itu sangat membuatku gembira. Aku.. aku sangat bahagia", ucap Nuha masih ngelantur.
"Syukurlah", jawab Naru lega.
"Apa kamu masih kedinginan?"
Naru menggeleng, dia pun melepas jaket Nuha yang menyelimutinya. Memakaikannya di tubuh Nuha.
"Makasih ya Naru atas jaketnya. Maaf tadi aku belum bilang makasih", ucap Nuha melet.
"Haa ah.. Gadis ini sangat menggemaskan. Dia selalu menguji jantung dan perasaanku", batin Naru
"Aku harus berpuasa dan menjaga jarak dulu kalo seperti ini. Nuha semakin hari semakin imut", lanjutnya.
Nuha menghampiri kedua kucingnya yang masih tertidur di kandang barunya. Membelainya dan mengucapkan salam perpisahan.
"Kalian sekarang sudah gak kedinginan lagi. Tempat tidur pemberian Naru benar-benar menghangatkan tidur mereka. Aku jadi iri", Nuha melirik ke arah Naru.
"Ada apa Nuha?"
"Tempat tidur Soya dan Mayo sangat lucu. Aku jadi ingin satu Naru", pinta Nuha sambil manyun
"Satu tahun lagi yah", Ucap Naru tersenyum jahil.
"Eeehh..", Nuha lunglai berjalan meninggalkan dua kucing tersebut.
"Ayo aku antar sampai parkiran"
"Gak usah.."
"Idih, gitu aja langsung kecewa"
"Aku gak kecewa Naru, tapi aku masih ngantuk"
"Ya udah, nanti aku antar pulang aja kalo gitu"
"Mau dianter naik apa?"
"Naik angkot laah"
__ADS_1
"Hoe?, Iiyyaaaa!!, Gak mauu!", Nuha langsung ingin berlari pergi. Seketika Naru meraih tangannya, dan "cup" dia terpejam mencium lembut bibir Nuha.
Naru suka sekali melakukan ciuman mendadak seperti itu. Dia pun menggandeng Nuha dan berjalan bersama meninggalkan taman belakang sekolah.