
Hari demi hari, Nuha menikmati waktu liburan sekolahnya hanya dengan tiduran di kamar dan bermalas-malasan di rumah. Sudah tiga hari ini dia melakukannya tanpa rasa bosan.
Pukul sembilan pagi, dia sibuk dengan meja belajarnya. Mengambil beberapa buku sketsanya dan menjajarkan buku tersebut di atas meja.
"Aku suka sekali menggambar. Bahkan, sebelum Hawa ada aku sudah suka menggambar. Sekarang, Hawa sudah tidak ada membuatku malas untuk menggambar lagi. Keberadaannya, benar-benar memberiku motivasi"
"Tapi sekarang, dia sudah tidak ada. Dia sudah tidak ad-"
"Bukan, bukan dia sudah tidak ada. Tapi, dia sudah tidak muncul, dia sudah tidak muncul"
"Haruskah aku membeli cermin?", ucapnya seraya berdiri di depan cermin standingnya.
"Hawa," panggilnya.
"Hai, Nuha," seketika Hawa langsung membalas sapaan Nuha. Dia berbicara di dalam cermin.
"Ck! Ini tidak lucu. Ini tidak menyenangkan. Aku tidak suka seperti ini!" bantah Nuha langsung meninggalkan cerminnya dan lebih ingin merebahkan diri di kasur.
Meski pada akhirnya Nuha bisa berbincang lagi dengan Hawa. Tapi perbincangan mereka hanya bisa dilakukan melalui cermin. Keberadaan Hawa tidak sebebas dulu dan sikapnya tidak seceria dulu. Hal ini membuat Nuha merasa kecewa.
"Hawa, aku merindukanmu. Aku ingin terus bisa bermain bersamamu. Kumohon, muncullah kembali di hadapanmu," keluh Nuha.
"Tok tok tok"
"Nuha," panggil kak Muha setelah mengetuk pintu.
"Kakak? Iya, bentar"
Nuha berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Penampilan Nuha langsung mengagetkan si kakak yang selalu tampil keren dan tampan.
"Ka-kamu siapa?!"
"Ha? Aku Nuha lah kakak," balas Nuha santai.
"Kamu ini betah banget bermalas-malasan. Mandi sana dan pergilah ke stationery!"
"Whats? Buat apa kak?"
"Tolong belikan kertas HVS satu rim. Nih uangnya," pungkas kak Muha setelah memberikan uang sebesar seratus ribu rupiah.
"Kenapa dia, tiba-tiba nyuruh aku ke stationery buat beli kertas? Kan, dia bisa beli sendiri," cibir Nuha seraya beranjak mandi untuk menuruti perintah kak Muha.
Setelah selesai mandi dan berdandan, Nuha menuruni tangga dan pamit untuk segera pergi ke stationery. Saat dia hendak menaiki sepedanya, kak Muha berpesan, "Jangan lama-lama. Kalo lama, kakak susul nanti"
"Hah?" Nuha bingung.
"Ngapain juga aku harus lama-lama. Inikan perintahnya, bukan kemauanku sendiri. Pastilah aku langsung pulang," gerutu Nuha di dalam hati.
Nuha pun mengayuh sepedanya dan terus mengayuh. Perjalanannya memakan waktu lima belas menit dan dia telah sampai di stationery. Dia menstandartkan sepedanya dan segera masuk ke dalam toko.
"Uwaaa," seketika dia takjub sejenak.
"Sudah berapa lama aku gak mampir ke sini dan tiba-tiba toko jadi sebagus dan seluas ini"
Nuha berjalan-jalan untuk melihat-lihat barang-barang yang ada. Dia jadi melupakan sejenak perintah kak Muha untuk membeli kertas HVS. Dia terus berjalan-jalan dan melihat-lihat.
__ADS_1
"Ya ampun, cover buku sketsanya bagus-bagus banget. Aku ingin membelinya. Tapi.."
"Wah! Pensil warnanya, krayonnya, buku tulisnya kenapa jadi imut-imut begini. Aku jadi ingin beli"
"Eh? Jangan jangan jangan. Aku kan sudah besar. Kenapa aku tertarik barang-barang milik anak kecil sih. Tapi, ini lucu. Sangat lucu"
"No no! Gak boleh beli. Aku, aku akan beli buku sketsa aja. Gak usah pake tapi. Aku akan mencoba menggambar lagi," pungkasnya.
Saat dia mengambil buku sketsa berukuran A4 dengan model ring itu dia mengambilnya tiba-tiba bersamaan dengan orang lain.
"Eh?" Nuha kaget.
"Gakpapa, buat kamu aja," balas orang tersebut.
Nuha pun menoleh dan melihat, ternyata dia "Raffy?", sebutnya.
"Hahaha, bukanlah"
"Ops. Sorry.."
"Ternyata, kamu belum bisa mengenali kami dengan benar ya, Nuha" balas Rafly.
"Nuha, Ya? dia memanggilku Nuha. Padahal kalo Raffy, dia memanggilku sapu ijuk," gumam Nuha dalam hati.
"Kamu, mau beli buku sketsa ini juga?"
"Iya sih"
"Sama donk"
"Hehe.." Nuha nyengir dengan penuh rasa sungkan.
"Apa? Umm.. Iya.."
Dalam hati, Nuha bingung tidak ingin berlama-lama ngobrol dengan Rafly dan ingin segera beranjak pergi. Perasaan sungkannya benar-benar menganggu ketenangan Nuha sendiri. Sehingga, dia ingin segera pergi dan tidak ingin ketahuan grogi.
"Aku, duluan ya," ucap Nuha seraya berdiri dan berjalan ke kasir. Rafly hanya bisa menatap kepergiannya.
"Dia sedang menjaga perasaan pacarnya atau memang dia pemalu? Hm," gumam Rafly dengan senyuman penuh kecurigaan.
Nuha menaruh kertas HVS dan buku sketsanya di dalam keranjang sepeda. Dia mulai mengayuh untuk kembali pulang.
Angin berhembus sepoi-sepoi. Membuat Nuha sejenak menikmati suasana. Tarian angin membelai rambut dan pakaiannya. Dia berhenti. Melihat perbuatan angin yang sedang menggerak-gerakkan benda ringan di sekitaran.
"Whusss"
"Ugh! Cukup mengganggu. Membuat mataku sedikit kelilipan," ucap Nuha seraya turun dari sepeda, mengambil buku sketsanya dan bersantai sejenak di pinggir lapangan.
Angin benar-benar membuat beberapa benda berterbangan dimana-mana, bahkan debu pasir lapangan ikut menganggu pemandangan.
"Mungkin, aku perlu menggambar sebentar"
Nuha membuka buku sketsa yang baru saja dia beli dan mengeluarkan pensil yang juga baru saja dia beli.
Dia mulai menggambar garis bantuan berupa garis vertikal dan horizontal. Garis tegak yang akan dia buat menjadi tubuh dan beberapa garis lurus untuk patokan kepala, pundak, perut dan kaki.
__ADS_1
Nuha menggambar lingkaran untuk kepala kemudian turun menggambar leher, bahu, tubuh, tangan dan kaki.
Lalu menyempurnakan dengan menambah gambar pakaian dan detailing gambar.
"Uwa! Ternyata aku masih jago," ucap Nuha merasa bangga dan tidak merasa kesusahan
"Hai, Nuha"
Tiba-tiba seseorang menyapa dirinya. Langsung ikut duduk disampingnya dan melihat dengan rasa percaya diri.
"Eh?" Nuha pun langsung kaget.
"Maaf ya, aku mengikutimu karena penasaran," ucap orang tersebut. Dia ternyata Rafly.
"Rafly?"
"Iya. Jangan ragu-ragu gitu"
"Hehe, okelah"
"Kamu ternyata sangat pandai menggambar ya? Aku penasaran kenapa kamu beli buku sketsa itu dan ternyata memang kamu punya bakat menggambar"
"Hehe, enggak juga sih," balas Nuha kemudian menutup buku sketsanya.
"Mau pulang?"
"Umm.."
"Bisa gak kita ngobrol sebentar?"
"Apa?"
"Sebentar saja, boleh kan?"
"Um, baiklah"
"Itu, tentang tawuran waktu lalu. Aku mau ngucapin makasih sudah mau nolongin kita"
"Eh? Tapi, bukan, aku, yang nolongin. Tapi, Na-"
"Iya aku tau. Aku juga udah ucapin makasih kok sama dia. Jadi aku juga harus ucapin makasih juga sama kamu"
"Oh, iya. Um.. Sama-sama"
"Nuha, kamu tau kan aku dan Raffy ikut komunitas jejepangan gitu. Apa kamu merasa tertarik untuk ikut komunitas kami?"
"Ma-maksudnya?"
"Whuussss!!" Angin mulai berhembus sangat kencang. Membuat Nuha langsung melindungi wajahnya dengan buku sketsanya.
"Whuss.. Whuss.. Whuss.."
Cukup kencang hingga menggerak-gerakkan rambut Nuha dan Rafly. Angin itu benar-benar menyisir seluruh rambut Nuha dan "petal!" kuncirnya putus dan poninya terurai berantakan.
"Deg!" Sejenak Rafly terpana memandang.
__ADS_1
"Deg!"
"Tidak bisa kupungkiri, bahwa gadis ini, Nuha. Dia memang sangat, manis" ucap Rafly dalam hati.