
Hari ujian semester gasal telah tiba. Nuha selesai memarkirkan sepedanya dan mulai berjalan keluar dari area parkir. Saat dia menyilangkan rambutnya, sebuah jepit rambutnya lepas dan jatuh ke dalam selokan.
"Cemplung."
"Eh?", Dia kaget.
"Eeeh.. Je-je-je-je jepit rambutku jatuh ke dalam selokan," keluhnya dengan perasaan panik.
"Gimana ini?" Nuha bingung, karena melihat selokan tersebut tertutup dengan penutup jari-jari besi sehingga tangannya tidak akan muat untuk meraih masuk ke dalam selokan.
"Ada apa Nuha?" tanya Asa yang datang menghampirinya setelah memarkirkan motornya, kemudian merasa heran melihat Nuha hendak mengangkat besi itu sendiri.
"Kamu ngapain Nuha?!" teriak Asa.
"Hehe, jepit rambutku jatuh ke dalam selokan," jawab Nuha dengan gaya bicara yang santai.
"Ada-ada aja, biarin aja kali," ucap Asa dengan mudah.
"Tapi itu kan.. Itu.. jepit rambut pemberian Naru," keluh Nuha dalam hati.
"Tuh, tanganmu jadi kotor kan?!"
"Aku harus berusaha mengambilnya Asa," ucap Nuha berusaha mengangkat besi itu meski sedikit kesulitan.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kak Yuki yang tiba-tiba datang menghampiri Nuha setelah memarkirkan motornya.
Seketika, dia tertawa melihat wajah Nuha yang kotor saat Nuha sedang menyeka dahi untuk melihat kedatangannya. Tertawa dengan ramah, "Ahahaha".
Ditambah Asa yang ikut tertawa melihat wajah cemong Nuha, teriakan Asa terdengar seperti mengejek, "Hahahaha.. Nuha, kamu lucu banget. Dasar, culun punya?!"
"Nuha, wajahmu kotor," ucap Kak Yuki.
"Ma-masa sih?" Nuha semakin menyentuh wajahnya sehingga membuat wajahnya malah semakin kotor.
Asa terus tertawa geli melihat tingkah Nuha. "Bukan begitu, bodoh!," kata Asa langsung menghentikan gerak tangan Nuha.
"Wajahmu jadi semakin kotor itu," keluhnya sambil menghela nafas pasrah.
"Aku yang akan bantu ambilkan, kalau gitu," ucap Yuki.
Nuha menghindar dan Yuki berusaha mengangkat grill besi itu. Untung ukurannya tidak panjang, hanya satu meter. Jadi, dia bisa mengangkatnya dengan mudah.
"Kita bersihkan dulu wajah cemongmu itu Nuha," ajak Asa menuju kran dekat parkiran. Setelah selesai, mereka berdua duduk di tempat duduk yang dekat dengan kran tersebut. Asa membantu mengeringkan wajah Nuha dengan tisu.
Kak Yuki datang sambil membawa jepit rambut yang kotor terkena lumpur setelah dicuci. Dia menyerahkannya kepada Nuha.
"Barang berharga ya?" tanya Kak Yuki sambil menyelidik.
__ADS_1
"Um, iya," jawab Nuha sungkan.
"Iya itu, kak. Itu jepit rambut pemberian Naru saat di J-fest waktu itu," ucap Asa spontan.
Naluri dan spontanitas yang diberikan Asa membuat Nuha dan Kak Yuki saling melempar senyum lega. Padahal, Asa sedang tidak sadar melakukannya.
"Makasih ya, Kak Yuki," kata Nuha.
"Sama-sama."
"Yuk Nuha, kita jalan bareng," ucap Asa.
"Asa? Kamu, jadi terlihat lebih baik," selidik Nuha.
"Apa? Benarkah?" Asa masih tidak sadar.
"Kamu tidak marah ya sama saya, Asa?" tanya Yuki.
"Marah? Tentang apa?" Asa bingung.
"Asaaaa!!" Nuha langsung memeluknya.
"Aku senang kamu sudah kembali pada dirimu lagi. Kami sangat khawatir sampai takut membuatmu marah jika kami berusaha menghiburmu." lanjutnya.
"Kamu kenapa Nuha?" tanya Asa bingung.
"Si- Sifa?!" Asa teringat.
"Sifa, ya? Ck," Asa terlihat mulai sinis.
"Asa, aku dan Sifa gak ada hubungan apa-apa jika kamu ingin tahu. Apa yang Sifa lakukan waktu lalu tidak berpengaruh sama sekali terhadapku. Lagipula, setelah kejadian itu, Sifa tidak menemuiku. Bahkan, enggak cuma setelah kejadian itu. Sifa tidak pernah mencoba mendekatiku atau menggodaku. Maaf untuk ucapan yang terakhir," jelas Kak Yuki.
"Kenapa Kak Yuki harus menjelaskan itu padaku?" tanyanya sambil memalingkan muka.
"Coba tanyakan ke Sifa baik-baik. Kalau kamu langsung marah ke dia, otomatis dia juga berani melawan. Masa persahabatan kalian harus berakhir gara-gara saya sih," balas Yuki dengan ramah.
"Bukan gara-gara Kak Yuki," bantah Asa.
"Lagian, kenapa kamu harus langsung marah ke dia? Kan aneh kan," ucap Yuki mencoba menyindir.
"Itu karena kamu suka sama Kak Yuki, kan Asa?" bisik Nuha.
"A- Apa?! Jangan ngaco deh kamu Nuha!!" elak Asa.
"Hmm.. Ketahuan," sindir Nuha sambil melirik ke Yuki.
Asa jadi gagap tingkah dan langsung pergi meninggalkan Nuha dan Yuki di belakang. Nuha dan Yuki mengikutinya dengan santai sambil bercanda dan melempar senyum kecil.
__ADS_1
Amalia melihat kedekatan mereka berdua saat mengendarai motor menuju area parkiran.
Sampai di kelas, Amalia langsung mendatangi Nuha, "Nuha, Kamu sama Kak Yuki pacaran ya?" tanyanya.
"Apa?" tanya Nuha bingung.
"Jujur aja Nuha. Soalnya tadi aku lihat kalian jalan berdua saat dari parkiran."
"Enggaklah, Amalia."
"Yakin enggak? Aku bisa laporin ke Pak Suwito lho kalo kamu pacaran."
"Kok kamu gitu, Amalia?"
"Kok kamu gitu, Amalia?!" Sanggah Asa dengan tegas setelah memperhatikan dari tempat duduknya.
Sifa dan Fani menoleh mencoba ikut ingin tahu.
"Ups! Sorry ya kalo aku salah," kata Amalia.
"Gakpapa, Amalia," balas Nuha santai.
"Nuha! Kok kamu santai banget gitu sih?! Ada kesalahpahaman begini kok kamu gak marah?" tanya Asa heran, sedangkan Sifa menatapnya begitu juga Fani.
"Asa?"
"Eh," akhirnya Asa tersadar dengan ucapannya sendiri. Apa yang Amalia lihat tentang Nuha dan Kak Yuki memang kesalahpahaman. Dan itu juga terjadi pada Sifa dan Kak Yuki, mungkin itu juga kesalahpahaman.
"Asa, tenangkan dirimu," pinta Nuha.
"Ayo anak-anak, semua pada duduk di tempatnya masing-masing!" perintah guru yang sudah masuk ke dalam ruang kelas.
Asa kembali lagi ke tempat duduknya. Nuha masih bingung dengan sikap Asa dan sikap Amalia. Namun, dia kembali fokus untuk menyiapkan diri menyelesaikan ujian semester pertamanya.
"Terpaksa, aku harus tanyakan lagi pada Sifa," ucap Asa dalam hati, "Tapi, aku akan tanyakan padanya setelah ujian semester ini selesai."
"Ada apa lagi dengan Asa, Nuha?" tanya Fani.
"Hehe," Nuha malah tersenyum.
Setelah guru memberi salam dan para siswa menjawab salam, ketua mengajak teman-temannya untuk berdoa sebelum mengerjakan soal ujian.
Kemudian, guru membagi lembar soal melalui meja depan untuk disalurkan ke belakang. Ujian pertama adalah bahasa Indonesia. Para siswa terlihat serius dalam mengerjakan ujian tersebut. Panitia juga menjaga ketat supaya tidak ada kecurangan yang dilakukan oleh para siswa.
Di kelas Naru, 12C MIPA, mereka juga terlihat serius mengerjakan ujian. Sama halnya dengan kelas Raffy dan Rafly, 12A Bahasa, yang juga sedang mengerjakan ujian semester mereka dengan serius.
Jadi, kalian semua yang masih menimba ilmu jangan lupa untuk terus menjadi anak-anak yang cerdas, berprestasi, dan berbudi luhur ya. Semoga kebaikan selalu hadir dalam kehidupanmu. Jangan lupa tetap menjadi orang yang baik! Ingat Itu. Ting.
__ADS_1