Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Ah benar, Playboy!


__ADS_3

"Ha-ha-hasying! Haa ah, ini sangat mengganggu zona nyamanku", keluh Nuha sambil menempelkan mukanya di meja.


Nuha bersin tidak berhenti-henti. Sambil mengusap hidungnya yang gatal karena ingus, ketiga sahabatnya merasa khawatir.


"Nuha kamu sakit?" Tanya Fani.


"Hehe, kayaknya gitu"


Wajah Nuha tampak berantakan, ia menunjukkan kepada ketiga sahabatnya dengan muka memelas.


"Kemarin, kamu ngapain aja kok bisa sakit begini?" Prediksi Asa.


"Itu..." Ucap Nuha bingung.


"Karna, aku main air selang di belakang rumah sampe basah kuyup. Membuat hujan buatan untuk mengguyur pikiranku yang sedang kalut ini," jawab Nuha.


"Astaga Nuha, kebiasaanmu mulai lagi. Nekat banget hujan-hujanan, kenapa sih?! Kalut karena apa? Kita kan jadi khawatir", Sifa sedih melihat Nuha.


"Hehe. Gak apa-apa, maaf yah kalo membuat kalian khawatir. Aku hanya senang saja melakukannya." Jawab Nuha sambil mengulang-ulang bersinnya.


"Kamu tuh emang berani. Gak musim hujan juga bikin hujan sendiri. Hadeh. Tapi, akhirnya sakit kan"


"Gak papa teman-teman. Aku, ke kantin dulu ya. Mau beli teh hangat." Izin Nuha.


"Mau aku temenin?" Pinta Fani


"Tidak usah, hihi" Nuha langsung nyengir, memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.


Nuha berjalan menuju kantin, tapi ternyata ada Dilan di balik tangga memanggil namanya lagi. Nuha berhenti sejenak. Mengatur pikiran dan mencoba jalan lagi untuk mengabaikan panggilan itu. Tapi, Nuha merasa kalau dia mengabaikannya, Dilan akan terus memanggil namanya. Nuha pun terpaksa menoleh.


"Nah, gitu kan cantik." sahut Dilan senang.


"Apaan sih?" Sinis Nuha.


Nuha yang begitu sayu menoleh ke arah Dilan. Dilan menjadi kaget, berfikir bahwa Nuha terlihat sedang tidak enak badan.


"Apa kamu sedang sakit?" Dilan mencoba peduli.


Nuha berusaha terlihat baik-baik saja. Sambil mengusap-usap ingusnya dengan telapak tangannya, Nuha dengan lantang menjawab, "aku baik-baik saja! Apa kamu peduli?!"


Dilan langsung tertawa dan menjadi tertantang dengan ucapan Nuha, "Kau gadis yang pemberani ternyata. Kemarilah!" Ajak Dilan sambil menggandeng tangan Nuha untuk menaiki tangga kembali ke kelas.


"Apa maumu?! Kita mau kemana?"

__ADS_1


"Udah, nurut aja. Matamu itu tidak baik kalau harus terus tajam seperti itu Nuha" kata Dilan.


"Aku bisa jalan sendiri. Lepasin tanganmu!"


"Oke-oke, jangan marah", goda Dilan.


Dengan menghentak kuat karena merasa kesal, Nuha selangkah menaiki tangga tapi hentakan itu malah membuat setruman di kepalanya, membuat sedikit pusing dan mengaburkan pandangannya.


"Sebenarnya aku ingin bicara dulu empat mata denganmu, Nuha. Tapi, kayaknya kamu sakit deh. Aku antar balik ke kelas ya"


Nuha mulai merasakan sakit. Pandangannya mulai kabur dan dia khawatir akan jatuh. Flunya sudah membuat tubuhnya mulai lemah.


"Aku jadi ngantuk", keluh Nuha.


"Nuha?", tanya Dilan memastikan.


"Nuha, bertahanlah." pinta Hawa.


"Tidak bisa.. tidak bisa Hawa. Aku.. aku akan jatuh.."


Nuha sudah tidak kuat lagi, tubuhnya melemah dan matanya pun terpejam. Dia akan jatuh tersungkur ke belakang. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan ini sangatlah berbahaya.


"Hup!" Tiba-tiba seorang cowok dengan sigap menahan punggungnya. Menangkapnya dengan sangat aman. Dia pun mendudukkan Nuha di anak tangga tersebut dan menyelimutinya dengan jaket.


Samar-sama Nuha melihatnya, tetapi tidak terlihat jelas. Seorang cowok telah menolongnya. Cowok itu kemudian menarik Dilan pergi dari tempatnya dan meninggalkan Nuha sendiri.


Sifa dan Fani berusaha membangunkan Nuha, tapi Nuha masih nyenyak dengan tidurnya. Nuha menjadi nyaman tidur ditempatnya dengan berselimut jaket yang entah siapa pemiliknya.


"Asa, ada apa denganmu?" Sifa merasa aneh dengan sikap Asa yang tidak biasa terdiam seperti itu.


Asa menggeleng dan tetap mengabaikan Sifa. Samar-samar Nuha mulai bangun dari tidurnya. Flunya benar-benar membuat Nuha mengantuk dan tertidur nyenyak. Padahal kejadian jatuhnya Nuha sangat berbahaya tapi malah membuat Nuha akhirnya diselamatkan dan bisa tidur dengan nyenyak. Nuha membuka matanya dan berusaha mengangkat kepalanya, tapi kembali kepalanya terasa kesetrum.


"Aduh! Pusing..." Keluh Nuha


"Nuha, kamu gakpapa? Syukurlah kamu sudah bangun", ucap Fani merasa lega


"Iya.. tapi, dimana aku?" Nuha masih belum sadar.


"Kamu itu malah tidur nyenyak disini. Lihat! Itu jaketnya siapa juga?" Ketus Sifa


Asa masih terdiam dan melihat Nuha dengan penuh tanda tanya. Nuha pun membalas tatapan Asa dengan penuh tanda tanya juga. Nuha bertanya-tanya apakah Asa ada hubungan dengan Dilan, sepertinya Dilan juga mengenal Asa.


Akhirnya mereka kembali ke kelas. Nuha duduk lemas karena nyawanya rasanya hilang separuh. Tiba-tiba seorang teman kelasnya masuk membuat kehebohan.

__ADS_1


"Berita besar...berita besar..."


Dia Aya yang masuk ke kelas sendirian langsung membuat kehebohan. Seorang gadis modis berambut ombak panjang. Riasannya mempercantik wajahnya, seperti seorang barbie.


Nuha melihat ke arahnya ikut penasaran, "Ada apa sih? Aku kan ingin tidur. Ha-hasying!!"


"Ke UKS aja yuk, Nuha" pinta Fani.


"Gak usah, Fani. Aku gakpapa kok"


"Dengarkan teman-teman. Aku tadi pagi, ditembak oleh Dilan!!", kata Aya dengan penuh percaya diri.


"Apa?! Kamu bercanda Aya?" Mega terkejut.


"Aku serius!"


"Wah! Kamu membuatku iri!!"


"Iyalah, akhirnya aku beruntung juga bisa jalan sama Dilan. Ini kesempatan emas yang gak boleh dilewatkan. Ahh, aku gak sabar buat ketemu Dilan lagi"


Itulah Dilan, anak yang paling populer di sekolah. Semua warga sekolah tahu tentang Dilan. Superstar, punya segudang prestasi dan para guru membanggakannya.


Dilan kalau jalan seperti bintang yang berkelap kelip. Para gadis mendambakan ingin bisa jalan dengannya. Tapi anehnya, mereka tidak merasa cemburu satu dengan yang lainnya dan pula tidak merasa sakit hati kalau sudah diputus olehnya.


"Aku juga ingin bisa jalan dengannya. Bintang sekolah, auuu~", sahut Amalia seketika ngeblushing sendiri.


Amalia tidak henti-hentinya memegangi pipinya karena tersipu malu membayangkan pesona Dilan. Gadis pendek berkulit sawo matang. Dia sangat ngefans dengan KPOP, membuat Asa dan Sifa selalu tertarik padanya.


"Itu namanya apa ya Asa?" tanya Sifa.


"Playboy!" Asa langsung to the point.


"Aa! Benar! Playboy! Ternyata Dilan itu playboy ya, sudah kuduga," sahut Sifa.


"Hei kalian, jangan ngatain Dilan itu playboy donk. Buruk sekali kalau dia Playboy dan Dilan itu bukan anak yang seperti itu." Amalia malah membela Dilan.


"Setan apa yang merasukimu hei Amalia, jelas-jelas itu playboy namanya!" Sifa malah semakin ngotot.


Nuha yang sedari tadi memperhatikan semuanya hanya bisa melongo tidak percaya, "Ha?"


"INI GAK MASUK AKAL, kan HAIKAL!!" Teriak Hawa.


"Aku masih tidak mengerti dengan semua kejadian ini! Dilan itu playboy tapi kenapa tidak ada yang salah padanya? , bahkan para gadis mendambakannya padahal kan jelas-jelas dia playboy. Apa bagusnya playboy? Mempermainkan hati perempuan dan meninggalkan begitu saja. Ini tidak biasa bagiku." Ketus Hawa.

__ADS_1


Nuha semakin pusing dan cenat-cenut, dia kembali memeluk jaket yang telah menyelimutinya saat dia tertidur di tangga. Membuatnya menjadi lebih nyaman.


"Milik siapa jaket ini?"


__ADS_2