Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Kita janji, Ya!


__ADS_3

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Penampilan Nuha and the BestFANS akhirnya fresh dan semangat mereka kembali pulih.


Jarak sekolah Nuha dengan sekolah pacarnya Sifa tidak terlalu jauh. Hanya dengan jalan kaki tidak begitu memakan waktu, cuma 10 menit sudah sampai di sana.


Tidak ingin terlalu lama, Sifa langsung mengajak ketiga sahabatnya memasuki gerbang sekolah. Pacar Sifa juga sudah menyiapkan 4 tiket masuk untuk mereka.


"Terima kasih Oppa!", Seru mereka berempat dengan mata yang berbinar-binar.


Asa mulai menikmati kesenangannya melihat pemandangan event tersebut. Begitu banyak yang mencuri perhatiannya sampai ia tidak sabar untuk segera mengelilinginya.


"Tuh kan suka! Apa gue bilang?!. Aku yakin kalian disini pasti senang, gak suntuk lagi gara-gara mikirin pelajaran di kelas tadi." Ucap Sifa.


"Iya Ibu boss. Kamu memang yang terbaik, "Ucap mereka bertiga kompak.


Nuha melepas jaketnya karena sudah merasa gerah. Asa yang melihat itu langsung kaget, "Nuha! Kamu jadi cantik banget pake baju itu!"


Kekagetan Nuha membuatnya tidak jadi melepas jaketnya. Ia jadi kurang percaya diri atas pujian Asa.


Namun, Asa menarik paksa jaket Nuha dan berencana kabur. Ia berbisik kepada Fani untuk menemani Nuha sedangkan Asa sendiri dan Sifa yang akan pergi kabur.


"Duh, kalian sengaja ya" Nuha masih merintih.


"Udah gakpapa Nuha, kamu sama aku aja. Yuk kita beli takoyaki", Ajak Fani.


Asa dan Sifa asik sendiri berjalan-jalan menyenangkan hati mereka. Melihat-lihat stand yang ada dan melihat konser di panggung.


Belum selesai menenangkan diri, Hawa keluar dari tubuh Nuha. Hawa juga ingin menikmati pemandangan di event tersebut, "Nuha, aku juga mau jalan-jalan" Ucapnya.


"Bentar Hawa, kita kan lagi antri beli takoyaki", Jawab Nuha dengan nada lemas.


"Tapi aku sudah gak sabar"


"Sabar donk"


"Gak bisa!"


"Ya udah terserah kamu"


"Oke, aku pergi cuci mata sendiri ya"


"Eh, jangan! Di sini banyak orang loh. Kalo kamu kelamaan keluar dari tubuhku dan gak segera balik kan bahaya"


"Tenang aja, aku akan segera kembali. Lagian kan kamu masih antri lama beli takoyakinya?"


"Iya juga sih. Tapi ingat, maksimal 15 menit ya kamu harus sudah kembali. Pokoknya jangan sampai tersesat. Ingat tempat kamu kembali di sini. Tuh lihat tuh tulisannya. TA KO YA KI."


"Beres pokoknya."


Akhirnya Nuha menyetujui Hawa keluar dari tubuhnya dan pergi sendiri menuruti kesenangannya.


Hawa begitu menikmati perjalanannya melihat-lihat stand yang ada. Bahkan 15 menit pun tidak cukup untuk menghabiskannya. Ia masih tidak khawatir dengan itu semua.


"Gak papa kali ya kalo lebih dari 15 menit. Paling Nuha nanti tertidur di suatu tempat. Aku juga gampang nyarinya"


Bagaimanapun juga, mengingkari sebuah janji itu memang tidak mengenakkan. Hawa sedang asik menonton konser di panggung. Ia ingin sekali menghabiskan konsernya sampai selesai, tapi hatinya mulai resah. Akhirnya ia kembali mencari Nuha.


"Duh, udah 10 menit lebih Hawa belum kembali"


"Kamu kenapa Nuha?", tanya Fani heran.


Nuha berdiri mulai tidak tenang. Ia menguap untuk beberapa kali. Kakinya mulai lemah menopang badannya, "Fani, masih lama ya?" tanyanya.


"Iya ini, masih digoreng"


Nuha terus mengucek-ucek matanya dan menepuk-nepuk pipinya agar tidak mudah tertidur. Tapi matanya memang sudah sangat berat untuk dibuka lagi.


"Mana juga si Hawa ini? Aku udah ijinin dia main sendiri tapi malah ingkar. Tidak mengapa kalo aku sudah tertidur, tapi kalo Hawa, kalo dia tidak segera kembali dia bakalan jadi arwah gentayangan" Batinnya.


Nuha mulai hilang keseimbangan. Akhirnya ia memejamkan matanya dan hendak jatuh terduduk. Naru datang dan langsung menangkap lengan Nuha.


"Nuha?!", Fani panik. Tapi seketika Naru datang menolong Nuha, membuat Fani berdecak kaget.


Nuha sudah tidak sadarkan diri, "Kita bawa ke kelas aja yuk kalo gitu", Ajak Fani. Fani juga ikut mengalungkan lengan Nuha ke lehernya. Mereka berdua berjalan menuju kelas.


Sementara itu, Hawa masih mencari-cari tempat dimana Nuha berada. Ternyata stand takoyaki tidak hanya ada satu. Ia selalu salah saat menuju ke stand-stand tersebut.


"Duh, gimana ini.. aku tersesat.."


Hawa pun mulai bingung karena tidak bisa menemukan Nuha. Sedangkan Nuha sudah tertidur di suatu tempat.


Naru dan Fani mendudukkan Nuha di bangku kelas, menyandarkan kepala Nuha di atas meja. Nuha benar-benar tidak sadarkan diri, bahkan tidak bergeming sedikitpun. Jika Hawa tidak segera kembali, ia akan terus tertidur.


"Aku ambil takoyakiku dulu ya Naru. Tolong jagain Nuha sebentar"


Naru pun mengangguk. Fani keluar kelas untuk kembali ke stand takoyakinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Nuha? Bisa-bisanya kamu tertidur lelap di tempat serame ini" Naru membelai lembut rambut poni Nuha. Sesekali ia merapikannya dan menyilakan ke telinga. Tapi poninya masih terjatuh juga. Akhirnya ia mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya.


Saat Naru memasuki gerbang sekolah, ia melihat sepasang jepit rambut yang terjual di sebuah stand yang ia lewati. Ia pun membelinya dan akan memberikannya kepada Nuha. Akhirnya moment itu pas ia dapatkan. Ia menjepitkan jepit rambut itu untuk menyilakan poni Nuha.


"Nah, kalo gini kan kelihatan cantiknya"


Hawa masih kebingungan mencari Nuha, dengan orang sebanyak itu Hawa mulai ketakutan dan mulai kehilangan tenaga.


Asa dan Sifa berjalan kembali untuk menemui Nuha dan Fani. Beruntung bagi Hawa, ia terus mengikuti perjalanan Asa dan Sifa.


"Akhirnya kalian kembali juga"


"Ada apa Fani?"


"Nuha tiba-tiba jatuh tertidur. Sekarang dia ada di kelas ditemani Naru"


"Apa? Kok bisa?"


Asa dan Sifa mulai bergegas menuju kelas dimana Nuha berada. Diikuti Hawa yang mulai menemukan secercah cahaya hidup.


"Nuha?!"


Mata Hawa berbinar-binar, akhirnya ia bisa ketemu lagi dengan Nuha. Ia benar-benar merasa menyesal karena terlambat. Sebenarnya dia tidak mengingkari waktu yang diberikan Nuha padanya, hanya saja ia menjadi tersesat saat hendak mencari keberadaan Nuha.


"Ternyata tidak semudah itu aku menemukanmu Nuha. Maafkan aku, aku benar-benar menyesal" Hawa menangis.


Hawa pun memasuki tubuh Nuha. Tangisannya membuat Nuha mengeluarkan air mata saat membuka matanya.


"Nuha? Kamu udah bangun? Ah.. syukurlah. Aku benar-benar senang kamu sudah bangun sekarang"


Ketiga sahabat Nuha begitu menyayanginya. Mereka memeluk erat Nuha. Nuha tersenyum sambil melihat ke arah Naru, "Akhirnya kamu datang juga Naru", Batinnya.


Sambil tersenyum Naru memberi isyarat kepada Nuha bahwa air matanya keluar dan memintanya untuk menghapusnya.


"Terima kasih teman-teman. Maaf kalau aku membuat kalian khawatir" Ucap Nuha.


Nuha nyaman dipelukan teman-temannya. Sementara itu, Hawa masih terdiam di dalam tubuh Nuha. Dia tidak mau bergeming sepatah kata pun. Nuha juga hanya tersenyum, mencoba memahami keadaan Hawa.


"Ya udah, kita makan takoyaki sama-sama yuk", ajak Fani untuk ketiga sahabatnya.


"Wah! Takoyaki.. Aku suka!", Teriak Asa.


Mereka berempat pun menikmati takoyaki bersama. Sementara itu, Naru berjalan keluar dari kelas.


"Iya enak banget. Makasih ya Fani", Sifa ikut memuji.


"Syukurlah kalian menyukai takoyaki yang aku belikan"


"Aku, keluar dulu ya bentar", izin Nuha.


Mereka bertiga pun mengangguk manja.


Nuha keluar menemui Naru, "Naru", panggilnya.


"Iya?"


Nuha melepas jaket Naru yang masih 'nyangkut' di punggungnya. Saat ia hendak mengembalikannya kepada Naru, sebuah benda kecil terjatuh darinya. Jepit rambut yang satunya lagi.


"Oh, jadi ini dari kamu ya?", Ucap Nuha sambil memastikan jepit rambut yang ada di rambutnya masih ada.


Asa, Sifa dan Fani pun keluar dari kelas untuk menyusul Nuha. Karena hari mulai petang mereka berencana mengajak Nuha untuk pulang.


"Udah belum dua-duaannya?", Sindir Asa.


"Duh Nuha, hanya dengan benda sekecil itu udah bikin kamu makin cantik aja", Modus pujian Fani.


"Iya betul. Cantik buat..?", Sifa menambahi.


"Naru donk pasti", Asa dan Fani kompak.


"Hihihihi", Mereka bertiga saling cengingisan.


"Ma-maaf ya Naru kalo mereka membuatmu tidak nyaman", ucap Nuha merasa sungkan.


"Gak, gak masalah", Senyum Naru.


"Tuh, Naru aja gak masalah. Jahat banget kamu ngatain kita bikin gak nyaman. Huhuhu..."


"BTW yuk kita pulang, udah mau petang nih!", Ucap Sifa sambil mengingatkan waktu.


Naru pun mengangguk dan Nuha juga setuju. Saat mereka hendak berjalan keluar, beberapa cosplayer lewat mencuri perhatian mereka.


"Foto yuk. Minta foto yuk!", ajak Asa.


"Oke. Siap itu mah", Sifa setuju.

__ADS_1


Akhirnya Nuha dan Naru berfoto bersama Momotaro. Sebuah foto pertama untuk kenangan berdua. Setelah itu, mereka semua juga sekalian berfoto bersama dengan cosplayer lain untuk kenang-kenangan bahwa mereka pernah pergi ke J-fest.


"Terima kasih ya Naru sudah mau datang ke event ini. Dan juga, terima kasih untuk jepit rambutnya."


"Iya, sampai ketemu lagi di sekolah ya Nuha", Jawab Naru lembut dan melambaikan tangan.


Nuha pun mengangguk, ia pun membalas melambaikan tangan kepada Naru dan Sifa, kemudian berjalan pulang bersama Asa dan Fani.


"Elo bener-bener cowok keren Naru!", Puji Sifa yang sedang menunggu pacarnya keluar dari kelas.


"Ya udah gue duluan ya", Sifa berpamitan dengan Naru dan berjalan pulang bersama pacarnya.


Sampai di rumah, Nuha menjatuhkan dirinya di kasur. Dia benar-benar sangat kelelahan semenjak kejadian tadi di event setelah Hawa lama tidak segera kembali ke dalam tubuhnya.


"Boleh aku keluar?"


Hawa mencoba meminta izin kepada Nuha untuk keluar lagi dari tubuhnya. Ia masih merasa bersalah tentang kejadian di event tadi.


"Keluar aja, ngapain harus minta izin?"


"Maafin aku ya Nuha, sekali lagi, maafin aku"


"Iya gakpapa"


"Kok gakpapa? jangan gitu donk Nuha, tolong maafin aku"


Nuha masih menutup matanya dengan lengannya. Ia sedang mengatur nafas dan tenaganya untuk bisa kembali pulih dan normal.


"Iya Hawa, aku maafin"


Nuha pun duduk di kasurnya.


"Lain kali, jangan seperti itu lagi ya"


"Iya, aku tau. Aku harus lebih sabar mengendalikan diriku ini Nuha supaya tidak ceroboh lagi."


"Okei, kita janji ya!"


"Iya, Janji"


Nuha dan Hawa pun saling berjanji untuk tidak saling terpisah jauh lagi. Ia mencatat janjinya dengan Hawa di buku note kecil pemberian dari Dilan.


"Wah! Bisa aja kamu Nuha nulis janji di buku pemberian dari Dilan. Nanti Naru bisa cemburu loh"


Hawa sudah mulai aktif kembali.


"Heeeeh? Kok bisa bikin Naru cemburu? Aku dan Dilan kan sudah menjadi teman biasa"


"Heleh teman biasa", sindir Hawa


"Hawa!!"


"Iya iya.. Tetap aja kan, mana ada cowok yang rela ceweknya pake barang pemberian dari cowok lain"


Pandai sekali Hawa manas-manasin Nuha


"Tuh tuh tuh, kamu malah bikin tanda love segala. Naru kan bisa salah paham itu"


Hawa mulai tidak berhenti nyeloteh


"Hei Hawa! Lagian kan mana mungkin ini note aku bawa ke sekolah? Baiknya aku simpan aja di laci belajarku!"


"Idemu bagus!"


Hawa memberi jempol untuk Nuha


"Tapi kalo suatu saat Naru main ke kamarmu gimana?"


Celoteh Hawa masih berlanjut


"Ka-? Kamar-?"


Seketika muka Nuha memerah dan mulai keluar asap di kepalanya.


"Ha- Hawaaa!"


Teriak Nuha. Histerianya membuat ruang kamarnya gempa dan gaduh. Hawa dan Nuha tidak berhenti adu mulut hingga salah satu diantara mereka sadar untuk menyudahinya.


"Bagaimana bisa kamu pandai bicara seperti itu Hawaaa!"


"Lah itu kan kamu sendiri, kamu juga pandai bicara!"


"Apaaa?!"


Nuha sampai tidak habis pikir kenapa Hawa bisa pintar sekali berbicara dan memainkan kata-kata seperti itu. Dari mana ia belajarnya?

__ADS_1


__ADS_2