
"Maafkan aku Nuha" Ucap Hawa.
Di rumah Nuha, seperti biasa kakak dan ibu sedang menyiapkan sarapan pagi. Ibu mulai memanggil-manggil putri kesayangannya.
"Nuha.. Ayo turun nak, sarapan sudah siap"
Kakak menyiapkan piring dan gelas berisi air minum sambil bermuka masam dan kesal.
"Kakak, Ibu.. selamat pagi", Nuha tiba-tiba menuruni tangga rumah, bergegas mengambil roti dan langsung meneguk air minum.
"Eh, kok buru-buru banget?", Tanya Ibu heran.
"Ibu, hari ini Nuha ada piket jadi aku harus cepat", Jawab Nuha berbohong.
"Ya sudah, hati-hati ya berangkatnya. Semoga harimu menyenangkan"
"Iya ibu" Nuha memeluk ibunya dan memberikan kecupan di kedua pipinya.
Muha kesal dengan perbuatan adiknya itu. Ia mengetahui bahwa itu bukan Nuha, melainkan Hawa yang menjadi nyata seperti Nuha. Muha benar-benar menggeram kesal.
"Maafkan aku Nuha"
Hawa tiba-tiba pulang ke rumah untuk menyamar menjadi Nuha supaya ibu tidak khawatir, sedangkan Nuha masih di rumah Naru. Nuha tidak mengetahui alasan Hawa yang tiba-tiba meninggalkannya dan ternyata ia sampai rela pulang ke rumah.
Penyamaran Hawa menjadi Nuha, membuat Nuha tersiksa. Nuha seperti direnggut nyawanya karena Hawa menampakkan wujud aslinya sebagai Nuha dalam waktu yang lama. Hawa mengetahui itu, sehingga ia mencoba melakukannya secepat mungkin supaya Nuha tidak terlalu lama tersiksa.
Kak Muha menjadi kesal dan marah melihat adiknya melakukan hal yang berbahaya seperti itu. Ia langsung mengikuti Hawa yang keluar rumah setelah berpamitan kepada Ibu untuk berangkat sekolah.
"Hawa, kapan dia akan pulang?"
"A-aku, tidak tahu"
"Aku akan menjemputnya paksa kalo hari ini dia tidak pulang", ungkap kak Muha.
"To-tolong jangan marahi Nuha, kak"
"Apa dia tahu alasannya kamu pulang ke rumah?"
"Maafkan aku Kak, aku ceroboh tidak memberitahukannya kepada Nuha. Nuha tidak tahu apa-apa. Tolong jangan hukum dia"
"Kenapa kamu harus membelanya?"
"Um.."
"Cepatlah kembali kepadanya, karena ini akan membahayakan dirimu dan dirinya sendiri. Kamu tahu kan?"
"I-iya, Terima kasih Kakak"
__ADS_1
Hawa menghilang dan langsung kembali kepada Nuha. Kak Muha menghela nafas, ia tidak habis pikir adiknya akan melakukan hal yang berbahaya itu demi ingin bertemu dengan ibunya.
Sementara itu, Nuha yang berada di kamar Naru masih terengah-engah tidak sadarkan diri. Keringatnya keluar di sekitar dahi dan lehernya. Naru semakin khawatir dan mencoba tenang untuk bisa melindunginya.
Naru mendekap erat tubuh mungilnya dan berusaha memberikan energi untuk Nuha. Kenapa gadis kesayangannya harus mengalami kesakitan seperti ini.
"Nuha, jika aku bisa memberikan nyawaku untukmu, aku akan segera memberikannya untukmu. Kumohon sadarlah"
Hawa akhirnya kembali, ia melihat Naru yang sedang mendekap Nuha dengan penuh kasih sayang.
"Itulah kenapa, aku tidak ingin mengganggu kehangatan hubungan kalian. Karena aku juga ingin kalian terus bersama."
"Maafkan aku ya Nuha, aku ceroboh meninggalkanmu dan menampakkan diri sebagai dirimu di depan Ibu. Sebab, aku tidak ingin ibu mencarimu di kamar dan tahu bahwa kamu tidak ada di rumah. Sungguh, betapa khawatirnya ibu kalo tahu kamu tidak ada dirumah semalaman"
Nuha pun membuka mata. Akhirnya dia bisa bernafas lega karena siksaan itu sudah selesai. Nuha memulihkan pandangannya dan melihat Naru sedang mendekapnya erat, tidak sadar mengunci tubuh Nuha hingga ia tidak bisa bergerak sedikit pun.
Terlihat Naru masih menenggelamkan wajahnya di pundak Nuha karena begitu khawatir.
"Naru?"
Naru masih terdiam.
"Apa kamu menangis?" Tanya Nuha dengan polosnya
"Syukurlah.. Nuha, betapa khawatirnya aku padamu"
"Maafkan aku ya Naru karena sering membuatmu khawatir", balas Nuha.
"Aku sudah baik-baik saja, kok"
Naru masih belum mau melepaskan diri dan tidak bergerak sedikitmu, "Tidak, aku tidak mau kehilangan dirimu"
"Naru.. Kan masih ada banyak gadis cantik di luar sana Naru. Kenapa kamu begitu bucin terhadapku?!"
Naru langsung tersentak kaget mendengar jawaban Nuha yang kasar. Akhirnya ia melepaskan dekapannya dan mendorong Nuha terbaring di karpet lantai kamarnya.
"Na-Naru kenapa?"
"Kamu gak peduli betapa aku mengkhawatirkanmu?"
"Eh? Aku peduli Naru, makanya aku gak nangis. Aku juga sedang tidak memarahi Hawa. Aku hanya, hanya.. mencoba menghiburmu karena kamu diam saja dari tadi. Hmmph!!"
"Kamu, kamu semakin pandai ya bermain-main dengan diriku!", Naru kesal dan langsung menggelitiki tubuh Nuha karena gemas.
Nuha tertawa kegelian, "Udah Naru cukup~"
"Ayo aku bantu bangun, udah jam 7 nih"
__ADS_1
Nuha membalasnya dengan tersenyum.
"Tapi, sebelum itu.. mana lututmu" Naru menempelkan perban elastis di kedua lututnya yang memar dan menggerak-gerakkannya supaya lebih lentur.
"Kakak.. ayo cepat.. mau berangkat bareng gak pake mobil?" Suara Dina hadir bersama ketukan pintu kamar Naru.
"Ayo Nuha, kita berangkat naik mobil aja"
"Iya, tunggu.."
Di dalam mobil, Dina senang sekali duduk berdampingan dengan Nuha. Naru berada di depan bersama sopir.
"Kak Nuha, rambut kamu masih berantakan. Aku rapiin yah" Pinta Dina.
Kebiasaan yang sama, Naru dan Dina suka sekali bermain dengan rambut Nuha.
Sambil merapikan rambut Nuha, Dina mencoba menginterogasi untuk memuaskan rasa penasarannya. "Kalian tadi ngapain sih? sampe gak sempet ngerapiin rambut. Kak Nuha, kamu itu harus cantik. Aku ubah ya gaya rambutmu jadi dua, trus poninya gini"
"E, iya" Nuha tersipu. Naru memperhatikan dari balik cermin mobil. Pandangannya selalu fokus hanya untuk Nuha.
Nuha melirik, membuat Naru ketahuan memandang Nuha. Naru mencoba santai dan langsung mengalihkan pandangannya keluar mobil sambil menyangga dagu di pintu mobil. Mobil pun melaju mulus.
"Wuushh.."
"Sampai jumpa pacarnya kakakku. Sering-sering main ke rumah ya", Ucap Dina yang telah turun dan pamit karena sudah sampai di sekolahnya.
"Iya" Nuha tersenyum dan melambaikan tangan.
Naru turun dari mobil dan pindah tempat di samping Nuha. Perjalanan pun dimulai lagi untuk menuju ke sekolah mereka.
"Kita akan terlambat Nuha"
"Iya"
Suasana menjadi canggung. Nuha duduk manis tertunduk sambil memandang tangannya yang tergenggam di atas lututnya. Tenang menikmati perjalanan.
Naru kembali melirik Nuha, ia merasa tidak tenang bila suasana menjadi canggung seperti ini. Naru mencoba mengajak mengobrol namun pikirannya buntu. Hatinya berdebar-debar melihat ketenangan Nuha.
"Nuha?", Ucap Naru sambil mengarahkan telunjuknya di pipi Nuha.
"Iya?" Nuha menoleh. Pipinya jadi menyentuh jari telunjuk Naru.
"Glek! Imut sekali" Gumam Naru
"Tidak apa-apa kok" Naru beralasan dan kembali menatap ke arah jalan.
"Naru kenapa sih Nuha. Mau ngebucin lagi ya?", Tanya Hawa penasaran.
__ADS_1
Nuha melihat Naru yang memalingkan mukanya ke arah jalan. Membuatnya terpana melihat lehernya yang panjang dan bahunya yang bidang, benar-benar seperti pria dewasa. Bahkan, jika dibandingkan dengan Dilan, Naru ternyata lebih dewasa dari dia.
Mata Nuha berkaca-kaca, hatinya berdebar-debar. Ia jadi merasa sedikit rendah diri.