Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Hatiku, sakit.


__ADS_3

"Seperti apa ya rasanya kalo aku benar-benar tidak ketemu Naru untuk waktu yang lama?"


Nuha bergumam sendiri sambil memikirkan apa yang telah Naru sampaikan kepadanya tentang ia tidak akan menemuinya untuk beberapa hari karena harus membimbing adik kelas mengikuti olimpiade matematika.


Selama ini Naru lah yang sering menemuinya, dan walaupun setiap hari pertemuan mereka hanya sebentar saja namun rasanya hari-hari Nuha serasa menyenangkan dan penuh arti bila bersama Naru. Ia bisa sangat bebas dan ekspresif ketika bersamanya.


"Memikirkannya, aku jadi kangen sama dia"


"Apa?! Baru kali ini aku dengar kamu merindukan Naru? Ini kan baru satu hari berlalu, Nuha..", Sindir Hawa.


"Gara-gara dia bilang gak akan menemuiku dulu untuk beberapa hari, aku jadi terus memikirkannya"


"Cuekin aja dia kayak biasanya. Kan kamu biasanya gitu"


"Hm.."


"Udah, serahkan saja pada Naru. Kamu tinggal menikmati hari-hari biasamu tanpa dia, ya kayak biasanya itu.."


Sambil berjalan menuju kelasnya, Nuha melihat seorang adik kelas sedang mencari kacamatanya yang terjatuh. Nuha melihat di mana kacamata itu berada dan segera mengambilkannya.


"Maaf, ini kacamatanya"


Tanpa basa-basi Nuha langsung menyerahkan kacamata itu kepada pemiliknya sambil tersenyum dan sedikit canggung. Nuha memang kurang bisa menunjukkan keramahannya kepada orang lain dan tidak biasa bersosialisasi dengan siapapun.


Melihat dari atribut di lengan baju gadis itu, ternyata dia kelas 2 dari Jurusan MIPA. Nuha hanya melihat saja dan tidak menanyainya apapun. Setelah itu, ia pamit dan beranjak pergi. Seorang teman gadis tersebut tiba-tiba datang, menghentikan langkah Nuha.


"Tunggu Kak!"


"Eh?"


Teman gadis berkacamata itu mulai menyelidiki Nuha, melirik wajah, tubuh, seragam dan penampilannya. Membandingkannya dengan dirinya sendiri yang terlihat cantik bermake-up, rambutnya yang panjang terurai dengan aksesoris bandana pink di kepalanya. Ia juga masih membandingkan sepatu dan aksesoris yang tampak lebih modis dari Nuha.


"Kakak ini dari jurusan apa sih kok culun banget"


"Cu-culun?!", Hawa yang menjawab.


"Oo.. ternyata kelas 3 dari jurusan Multimedia. Harusnya kan anak Multimedia tau fashion donk, tapi kok kakak sendiri norak banget yah penampilannya"


"No-Noraakk?!!", Hawa masih menjawab.


Nuha masih sabar dengan ekspresi wajah polosnya. Dia hanya tersenyum santai dan manis, walaupun rasanya kepalanya sedang tertimpa batu besar.


"Keisha! Kakak ini baik lho tadi bantuin aku nyariin kacamata. Kamu jangan ngomong gitu", Ucap si gadis kacamata.


"Ssstt! Kamu diam aja Lala, dia ini kan pacarnya kak Naru. Aku mau gangguin dia sebentar kok, sebentar aja"


"Pa? Pacar??!", Lala seketika berteriak dan sadar dengan apa yang disampaikan oleh Keisha tentang Kak Naru dan pacarnya.


"Ssstt! Lala!", Keisha malah salah tingkah sendiri dengan menutup mulut si gadis kacamata itu. Takut rahasianya terbongkar, ia menarik tangan Lala dan lebih baik pergi meninggalkan Nuha tanpa pamit.


"Ada apa sih dengan dia?! Bikin masalah saja", Hawa masih saja menanggapinya.


"Sudahlah, ayo jalan lagi", Ucap Nuha.


Dari kejauhan ternyata Naru memperhatikan Nuha, "Kaku banget deh kamu Nuha. Tapi, kalo dia lagi senyum membuatku semakin jatuh cinta. Apa aku harus menembaknya lagi?"


Di kelas tambahan, Nuha memikirkan Naru lagi. Ia bahkan tidak memperhatikan guru bahasa indonesia menerangkan pelajaran. Ia lebih fokus mengambil buku sketsanya dan mulai menggambar.


Sejenak ia menoleh ke belakang tempat duduknya. Naru tidak ada di sana. Asa yang memperhatikan tingkah Nuha, melihat ada sedikit kekhawatiran tersirat dari wajah jaimnya tersebut.


Nuha mulai melanjutkan sketsanya, menggambar berbagai model pakaian fashion yang penuh imaninatif.


"Dibandingkan dengan penampilan adik kelas yang sombong itu, fashionmu jauh lebih berkelas Nuha", Puji Hawa yakin.


"Hm, bisa aja kamu Hawa"


"Tenang aja Nuha, jika gadis itu mengganggumu Naru pasti akan memukul kepalanya"


"Eh? Emang aku ini apa? Anak kecil? Yang harus ngadu bila digangguin orang?"


"Kan, kamu gadis kesayangannya Naru"


"Hawa! Daripada komu ngomel terus, nih cobain hasil sketsa yang aku gambar"


Nuha mulai berimajinasi dengan bayangan yang tampak nyata di hadapannya. Hawa memakai baju fashion hasil sketsa Nuha. Hawa begitu cantik, namun Nuha sendiri tidak menyadarinya bahwa Hawa itu dialah sendiri. Tapi ia selalu memuji bahwa Hawa itu selalu cantik memakai desain fashionnya daripada dirinya sendiri.


"Coba kalo kamu sendiri yang make hasil desain fashionmu ini Nuha. Kamu pasti juga gak kalah cantik dari gadis itu"


"Hahaha.. tidak perlu"


"Jangan gitu donk. Kamu harus bisa menunjukkan pesonamu, bahwa kamu memiliki kelebihan yang luar biasa Nuha"

__ADS_1


"Sudahlah Hawa, jangan banyak bicara. Nikmatilah pakaian yang telah aku buatkan untukmu", Nuha tersenyum manis.


Sudah banyak desain fashion yang Nuha gambar. Dan itu hanya menjadi setumpuk lembaran hasil karya dari dirinya saja. Ia tidak pernah mempublikasikannya atau menjualnya kepada siapapun. Desain itu hanya ia berikan khusus kepada Hawa, karena Hawalah yang membuatnya bisa mensyukuri hidup.


Pelajaran pun usai. Nuha dan Asa beranjak keluar kelas bersama. Dengan buku sketsa yang masih ia pegang, Nuha dan Asa saling mengobrol. Para siswa juga lalu lalang hendak pulang sekolah. Begitu ramai dan berisik.


Seorang gadis modis bernama Keisha tiba-tiba menabrak Nuha dari belakang. Sangat keras dan membuat Nuha kaget tidak mempersiapkan diri. Kedua lututnya terbentur cukup keras ke lantai. Keisha sengaja namun mengatakan tidak sengaja. Sketsa Nuha terjatuh dan berceceran dimana-mana.


Terinjak dan tersampar oleh para kaki yang tidak bisa dikendalikan. Nuha pun masih belum bisa mengendalikan diri.


"Nuha! Kamu gakpapa?!", Tanya Asa khawatir.


Seketika Asa langsung menarik tangan gadis modis itu dan menahannya untuk tidak pergi begitu saja, "Heh?! Mau kemana? Berani sekali ya kamu?!"


Hati Nuha jatuh, ia merasa sedih sekali. Harta yang paling berharga untuk Hawa tersebar dan tercecer begitu saja.


"Hawa, Hawa, tidak. Tidak, maafkan aku", Nuha sedikit terisak dan hendak berdiri. Dia ingin segera merapikan lembaran-lembaran itu tapi penglihatannya malah bergetar dan kakinya terasa keram.


Ia merasa dirinya menjadi lemah dan tidak berdaya. Penglihatannya kabur, Nuha pun pingsan, dan seketika Naru datang langsung menangkapnya.


"Sakit. Hatiku sakit", keluh Nuha.


"Nuha!"


Naru datang menangkap tubuh Nuha yang pingsan. Ia langsung mengambil handphonenya dan memanggil seorang sopir. Tanpa menghiraukan siapapun, Naru yang memakai masker hitam itu mengangkat tubuh Nuha dan membawanya pergi keluar gerbang sekolah.


Tidak peduli berapa banyak orang yang melihat, Naru tetap sabar menunggu sopir datang menjemputnya. Ia berdiri begitu tegap membawa Nuha yang sedang pingsan. Sebuah mobil CRV hitam datang tepat di samping Naru.


Naru masuk ke dalam mobil itu bersama Nuha dan akan membawanya pulang ke rumahnya. Muka sedih Nuha masih terlihat jelas di wajah pingsannya. Naru tidak tega melihat Nuha kesayangannya mengalami kesedihan yang begitu mendalam.


"Den, apa kita perlu ke rumah sakit?", Tanya Sopir memecah keheningan.


Naru melepas maskernya, "Tidak perlu, kita langsung pulang aja pak"


"Baik, Den"


Mobil melaju dengan kecepatan sedang nan mulus. Suara mesin mobil yang lembut membuat Nuha tidak terganggu dan goyah dari tempatnya. Naru begitu setia memangku kepala Nuha dan menyelimuti tubuhnya dengan jaketnya.


"Hei adik kelas, siapa namamu?", Tanya Asa tegas.


"Ke-Keisha. Ma-maafkan aku kak!", Keisha langsung menundukkan kepalanya meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


"Jangan meminta maaf kepadaku!", Asa tambah galak.


"Aku, aku hanya kesal saja kak Naru punya pacar. Aku hanya.. hanya.. sedikit.. umm.."


"Jadi kamu anak didikannya Naru?"


"Maafkan aku kak! Tolong jangan adukan aku kepada guru ataupun kak Naru"


"Enak aja! Kamu harus bertanggung jawab donk! Gadis cerdas tapi minim sikap. Banyak ya yang seperti itu"


"Aku harus gimana kak?"


"Nih, kembalikan lembaran-lembaran ini kepada pemiliknya dan kamu harus meminta maaf kepadanya"


"Aku, gak berani.."


"Ya harus berani donk. Dah, gue mau pulang", Asa langsung meninggalkan Keisha begitu saja.


Sampai di rumah, bak seorang Pangeran membawa sang Putri turun dari kereta kencana. Seorang gadis manis menyambutnya dengan senang hati.


"Kak Naru?"


"Kakak pinjam kamarmu dulu ya", Pinta Naru bergegas masuk rumah, berjalan menaiki tangga dan menuju kamar adiknya.


"Iya kak", Dina mengikutinya dari belakang.


Sambil membantu membukakan pintu kamarnya sendiri, Dina terpesona dan penasaran melihat kakaknya membawa seorang putri tidur.


"Kakak dapat putri tidur dari mana?"


"Putri tidur? Ini teman kakak sedang pingsan. Kamu jangan bercanda deh, cepat bantuin kakak"


"Iya iya, teman ato pacarnya nih?"


"Dina! Rapiin dulu kasurmu itu"


"Iya kak, sabar.."


Naru segera menidurkan Nuha di kasur milik adiknya. Kasurnya begitu lembut, Nuha tidur bagai di atas awan. Naru dan adiknya saling membantu merapikan Nuha dan menyelimutinya supaya lebih nyaman.

__ADS_1


"Apa kita perlu membangunkannya kak?"


"Gak perlu"


"Kalo gitu, aku ambilkan minum dulu ya kak"


"Iya, Terima kasih"


Naru termenung sedih menjaga Nuha yang sedang tertidur. Ia merasa sangat bersalah tidak bisa menjaga Nuha sepenuhnya. Dan ia semakin bersedih karena belum bisa memahami Nuha seutuhnya. Naru memegang lembut tangan Nuha dan memandang iba wajah Nuha yang begitu tenang.


Tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Naru. Ia hanya terus terdiam memandangi Nuha dan menunggunya bangun. Hingga tidak terasa hari mulai petang.


"tok tok tok"


Dina membuka pintu sambil membawa dua gelas minuman dan camilan.


"Kak Naru, ayah dan ibu sudah pulang. Baiknya kakak mandi dulu gih sana, bau! Biar aku yang jagain pacar kakak"


Ungkapan "pacar" memecah keheningan suasana. Naru pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan keluar hendak mandi dan menyambut kepulangan kedua orang tuanya.


Dina mulai menyelidiki gadis kesayangan Naru, "Pacar kakakku ini culun banget sih. Tapi manis. Hm.. meskipun culun, tapi kulit wajahnya lebih lembut dan putih dari pada kulit wajahku sendiri"


"Aku harus menemukan rahasianya"


Dina menganggu wajah Nuha dengan melepas kuncir rambutnya dan membersihkan wajahnya yang mulai lembab. Merapikan poni rambutnya dan iseng hendak mengepang poni rambutnya menyamping.


"Hihihi.. benar-benar putri tidur. Aku apa-apain juga gak bakalan bangun. Dasar pacarnya kakak"


Naru selesai mandi dan kembali menemui Nuha. Dina kepergok dan jadi salah tingkah telah melakukan hal aneh kepadanya.


"Ma-maaf kakak, maaf", Dina langsung kabur begitu saja.


Akhirnya, perlahan Nuha membuka mata.


"Nuha?", Ucap Naru yang mendekatinya.


"Aku.. dimana?", Samar, belum melihat jelas kedatangan Naru tepat di sampingnya.


Melihat langit kamar yang berbeda dengan kamarnya sendiri, Nuha sedikit heran. Plafon putih berbalut warna soft pink dan dinding yang dipenuhi gorden. Nuha kebingungan melihat pemandangan asing tersebut.


"Nuha?"


"Naru"


"Naru?, Eehh?", Nuha melenguh dan sadar langsung memalingkan mukanya.


"Hawa! Aku sedang di mana ini?!", bisik Nuha menggeram kesal dan malu.


"Salahmu sendiri! Ngapain juga pake pingsan segala!"


"Pingsan? Aku pingsan maksudmu?"


"Iya. Sungguh merepotkan", sinis Hawa.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Hawa? Katakan?!", Nuha terus berbisik sendiri.


Naru begitu sabar menunggu Nuha menoleh ke arahnya, membiarkannya beradu sendiri dengan pikirannya. Ia duduk bersantai sambil melipat tangannya.


"Hawa?!", Hawa tidak merespon, ia terdiam tidak mau menghiraukan Nuha.


Akhirnya Nuha menoleh ke arah Naru, membenahkan ekspresinya dan hanya tersenyum yang bisa ia lakukan.


Naru yang kurang fokus memperhatikan Nuha, menjadi terpesona melihat Nuha yang tampil beda dengan rambutnya yang telah dikepang oleh adiknya.


"Naru, aku di mana?", Nuha mulai bertanya


"Kamu?"


"Iya aku dimana ini?"


"Mau tau?"


"Naru! Katakan dengan jelas?!"


Naru tertawa sejenak. Melihat Nuha kembali ke dirinya lagi membuatnya merasa sangat lega.


"Kamu sedang di rumahku, Nuha.."


"Rumahmu?"


"Iya"

__ADS_1


"Ru-rumahmuuu?!-"


__ADS_2