
"Maaf ya teman-teman, aku ke kamar mandi dulu"
Nuha mulai merasa aneh dengan dirinya sendiri. Sesuatu telah terjadi pada dirinya dan itu terjadi begitu saja. Dia pun mencuci muka dan menatap wajahnya di cermin.
"Ada apa dengan diriku?"
"Aku seperti dikendalikan oleh sesuatu"
"Hawa, apakah itu kamu?"
Nuha menatap wajahnya yang basah terpantul pada cermin. Melihat serius apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Hai Nuha", ucapnya.
"A-aku bicara sendiri"
"Nuha, ini aku Hawa. Apa kabar?"
"Hawa?, kenapa kamu mengendalikanku?"
"Ini yang terjadi saat aku tidak bisa keluar dari tubuhmu"
"Kenapa?, keluarlah! Aku mengizinkanmu"
"Tidak bisa Nuha"
"Kenapa Hawa?, gakpapa keluarlah"
Nuha terus berbicara sendiri. Hawa sendiri juga tidak mampu mengendalikan dirinya. Perbuatannya mulai mengganggu Nuha dan Nuha yang polos langsung mengikutinya.
Fani menyusul Nuha ke kamar mandi, dia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Melihat sikap Nuha yang tiba-tiba berubah, Fani langsung khawatir.
"Nuha?"
"Fa- Fa- Fa- Fa Fani?"
"Kenapa? Kok kaget gitu?"
"Ti- ti- ti- ti- tidak", Nuha terus menggeleng-gelengkan kepala untuk segera menyadarkan diri.
"Kamu gak papa?", tanya Fani khawatir.
"Fani, apa ada yang aneh dengan diriku?", tanya Nuha sambil memalingkan matanya.
"Enggak sih. Tapi, hari ini sedikit aneh saja tadi. Apa kamu sedang ada masalah sehingga emosimu sedikit terganggu?"
"Ma-masalah? Apa?", Nuha beralasan.
Fani langsung memeluk Nuha. Untuk beberapa saat dan untuk beberapa menit. Nuha terdiam menerima pelukan Fani.
"Nuha, kita kan sahabat. Kita sudah bersahabat sejak kelas satu. Bahkan sebelum kita bisa menjadi sahabat berempat, aku sudah duduk di sampingmu dan telah menjadi temanmu. Namun tetap saja, kita berdua begitu pendiam hingga sampai sekarang pun kita belum mau saling terbuka"
"Umm.."
"Nuha, aku tau kamu sering berbicara sendiri. Itukah caramu untuk melepas emosi dan mengeluarkan masalahmu sendiri?, Tapi aku lihat kamu sudah tidak pernah bicara sendiri. Dan sekarang, caramu berbicara sendiri terlihat berbeda dari biasanya. Kamu sedikit emosional"
"Aku juga belum bisa mengerti Fani. Makanya, aku sedang mencoba untuk mencari tahu sekarang"
"Lalu apa kamu sudah menemukannya?"
"Umm.. Aku rasa", jawab Nuha masih ragu.
__ADS_1
Nuha sudah tahu bahwa itu ulah Hawa tapi dia tidak mengerti kenapa Hawa mengendalikan dirinya dan tidak keluar dari tubuhnya. Pengendalian dari Hawa membuat Nuha menjadi lebih emosional. Nuha takut itu akan berdampak buruk terhadap dirinya dan orang lain.
Tiba-tiba Nuha mendorong Fani dengan cukup kasar, membuat Fani kaget dan melepaskan pelukannya.
"Nuha?"
"Fa-Fani, ma-af"
"Hawa! Apa yang kamu lakukan?!", batin Nuha.
"Fani! Kau tidak perlu perhatian kepadaku. Aku bisa mengurus masalahku sendiri!", tegas Nuha.
Mulut Nuha terperanga sendiri, bergetar tak menentu. Nuha kebingungan dengan apa yang sedang ia lakukan. Dia langsung menutup mulutnya sambil terus memberi isyarat minta maaf.
Nuha langsung beranjak pergi dan meninggalkan Fani sendiri. Reflek yang dia lakukan tidak mampu dia kendalikan.
"Ini baru sehari aku mengalami keanehan ini. Tapi, kalo mulutku terus berkata kasar aku akan terus menyakiti hati orang lain"
"Hawa, kenapa harus emosional sih?"
Nuha berlari untuk kembali menghampiri Asa dan Sifa yang masih melaksanakan tugasnya merekam. Fani menyusulnya dengan berjalan.
"Gedubrak!", Nuha terjatuh.
Asa dan Sifa langsung menghampiri Nuha untuk segera membantunya berdiri lagi.
"Aku gak butuh bantuan!", Ucap Nuha kasar dengan menampar tangan Sifa yang sedang mengulurkan tangannya.
"Nuha?", Tanya Asa heran.
"Ini aku Sifa, Nuha", ucap Sifa
Asa dan Sifa mengangkat lengan Nuha dan membantunya berdiri. Nuha pun mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, maaf", ucap Nuha.
"Kita udah selesai nih. Yuk kita balik lagi ke lab.", ajak Sifa.
"Ada apa dengan Nuha?", tanya Asa kepada Fani.
Sifa berjalan di depan diikuti Nuha di belakangnya. Asa dan Fani di belakang mereka membicarakan tentang keanehan Nuha.
"Dia seperti dikendalikan oleh sesuatu", ucap Fani.
"Ke-kesurupan kah Nuha?", tanya Asa.
"Hus! Kita cari kepastiannya dulu aja", jawabnya.
Nuha masuk ke dalam lab. dan duduk bersama dengan gengnya Mega. Sifa merasa aneh dengan sikap Nuha, dia pun memanggilnya.
"Nuha! Kamu ngapain duduk disitu. Tempat kita kan disini"
"Eh?, oh.. Hehe", ucap Nuha sadar diri.
"Kepalaku jadi sedikit pusing. Apa yang harus aku lakukan sekarang", batin Nuha.
"Sifa, keluarkan memorinya", pinta Asa.
"Oke bentar", jawab Sifa.
Sifa dan Asa mentransfer file rekaman ke dalam komputer dan mulai menontonnya ulang sekaligus mengeditnya. Nuha menyandarkan kepala di meja.
__ADS_1
"Mau minum?", Tanya Fani menawarkan sebotol air mineralnya. Nuha hanya menggelengkan kepala.
Nuha seketika beranjak dan menghampiri tempat duduk gengnya Mega lagi.
"Aku boleh gabung gak dengan kalian?", pinta Nuha.
"Eh?", Mega bertanya-tanya.
"Elo kan sudah sekelompok dengan Sifa Nuha, gimana bisa elo gabung sama kita?", tanya Ajeng heran.
"Iya, aku bisa bantu edit-edit gitu", jawab Nuha santai.
"Ada angin apa ini?", tanya Rara memberi kode mata kepada Mega dan Ajeng.
Asa, Sifa dan Fani menatap keanehan yang dilakukan Nuha. Mereka heran dan bingung dengan sikap Nuha. Amalia datang menghampiri mereka bertiga.
"Nuha kalian kok aneh sih?", tanya Amalia.
Asa, Sifa dan Fani hanya bisa saling menatap satu sama lain. Masih terheran-heran dengan sikap Nuha.
"Tadi pagi aja dia hampir berani adu mulut dengan siswa lain", ucap Amalia.
"Hah? Benarkah?", tanya Asa, Sifa dan Fani kompak.
"Iya, awalnya sih dia tampak biasa aja saat kita berangkat bareng tadi. Tapi, tiba-tiba dia berubah jadi kasar saat ada seorang siswa menyenggolnya"
"Kita gak pernah lihat Nuha marah-marah gays", ucap Sifa.
"Boleh ya?", pinta Nuha.
"Gak bisa Nuha. Kamu kan sudah punya kelompok sendiri. Gak bisa gitu donk, kasihan nanti kelompokmu", jawab Ajeng.
"Gue sih oke-oke saja, haha", tandas Mega.
"Halah! Bilang aja kalo gak boleh! Udah enak aku mau bantuin", Nuha berkacak pinggang.
"Elo berkacak pinggang? Mau nantangin kita?!", jawab Mega.
Rara saling melirik bersama Ajeng. Di sebelah sana Asa, Sifa, Fani dan Amalia memperhatikan kejadian tersebut.
"Tumben elo mau cari gara-gara Nuha?", tanya Rara.
"Ga-gara-gara?", Nuha mulai tersadar kembali.
Nuha menoleh ke kanan ke kiri kebingungan dengan apa yang baru saja dia lakukan. Pak Sindy dan Kak Yuki yang masih sibuk dengan siswa yang lain mulai berjalan ke depan kelas lagi.
"Ada yang mengalami kendala saat mentransfer file?", tanya Pak Sindy.
"Tidak pak", jawab beberapa siswa.
"Kalo kalian sudah selesai, kalian bisa mengembalikan kamera video tersebut ke depan", ucap beliau.
Asa dan Sifa terlihat telah selesai, Yuki pun menghampiri mereka berdua. Asa menjadi canggung menghadapi Yuki yang tidak berkaca mata. Sifa terkikik geli dengan sikap Asa.
"Kalian berdua sudah selesai?", tanya Yuki.
"Sudah kak", jawab Sifa.
"Kalo gitu, saya ambil ya kameranya"
"Terima kasih kak Yuki", jawab Sifa berbunga-bunga.
__ADS_1