Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Hari menuju, hari.


__ADS_3

Hari minggu, libur sekolah.


Mata Nuha seperti panda karena dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Nuha tampak lesu menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan, namun sekejap lesunya hilang karena gangguan dari kakak.


"Mata apa itu? Apa matamu terbalik?!" Goda kakak sambil memencet-mencet bayangan mata panda Nuha, tertawa dan seolah mengejek.


Suasana sarapan pagi pun sedikit kacau karena ulah si kakak. Ibu yang sedang menyelesaikan urusan di dapur jadi ikut khawatir. Nuha langsung menjawabnya dengan cepat sebelum ibu menunjukkan kekhawatirannya pada anak gadis kesayangannya itu.


"Aku hanya kurang tidur karena tugasku banyak! Jadi mataku begini." Nyinyir Nuha kepada Muha.


"Bohong", Lalu kak Muha melanjutkan, "Ya sudah. Jangan belajar terlalu keras. Cepat habiskan sarapanmu! Dan, SILAHKAN-TIDUR-LAGI. Beruang.."


"Kakak?!", bentak Nuha.


"Nuhaa..", panggil Ibu lembut.


Nuha kembali tersenyum sambil menghabiskan sarapannya dan ingin segera kembali ke kamarnya. Tidak lupa ia memeluk ibunya.


"Kakak mau membersihkan taman rumah, apa kamu mau bantu kakak, Nuha?", ucap Kak Muha.


"Bersih-bersih?"


"Iya Pemalas"


"Aku bukan pemalas ya kak! Okeh, aku akan bantu"


Nuha dan Muha mulai berjalan keluar rumah dan menuju taman rumah yang berada di sebelah kanan teras rumahnya.


"Nih", Kak Muha menyerahkan sapu lidi dan berkata, "Semoga bisa membersihkan pikiranmu yang sedang kalut", dia pun tersenyum sombong.


"Umm.. Tau aja", sinis Nuha dalam hati.


Nuha mulai menyapu, sedangkan Muha merapikan barang-barang di dekat pagar rumahnya.


Kak Yuki datang dengan sepeda federalnya.


"Muha!", sapanya.


"Yuki? Elo udah datang"


"Nih, yang kamu minta", ucap Yuki seraya memberikan sekresek kantong hitam berisi sesuatu.


"Oke, masuk aja", Muha membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan Yuki masuk bersama sepedanya.


"Kak Yuki", Sapa Nuha.


"Hai, Nuha"


Yuki menstandartkan sepedanya dan mendekati Nuha, "Sedang bersih-bersih ya?", tanyanya.


"Um, Iya"


"Biar gak malas dianya", sindir Muha.


"Kakak?!", bentak Nuha.


"Ahahaha.. Kalian berdua ini, selalu gak bisa akur"


"Bentar ya, gue ambilkan minum", ucap Muha seraya berjalan masuk rumah menuju dapur.


"Nuha"

__ADS_1


"Iya kak Yuki?"


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Um? Apa?", Nuha menyenderkan sapunya dan ikut duduk disamping Yuki dipijakan tangga teras.


"Apa kalian baik-baik saja?"


"Kalian? Siapa yang, Kak Yuki maksud?"


"Bestie kamu lah, masa pacar kamu"


"Eeehh", Nuha melenguh malu.


"Kak Yuki tau ya, kalo kami.. Sedang gak baik-baik saja"


"Sudah kuduga", balas Yuki merendahkan suaranya.


"Entahlah kak. Sifa dan Asa, sedang berantem"


"Gara-gara aku ya?", tanya Yuki merasa bersalah.


"Gak tau juga, hihi", Nuha malah nyengir.


"Kamu itu, selalu gak bisa serius diajak ngobrol", Yuki pasrah mengobrol dengan Nuha.


"Kak Yuki itu, apa suka sama Asa?"


"Apa?"


"Eh? Gakpapa.. Gakpapa kok kak, hehe.. Gak usah dipikirkan", balas Nuha sadar diri atas pertanyaan yang memalukan itu.


"Pagi-pagi udah bikin es kamu tuh Muha", sindir Yuki.


"Biar si beruang enggak kepanasan"


"Dasar kakak nyebelin", cibir Nuha langsung beranjak masuk rumah. Moodnya langsung hilang dan lebih baik rebahan di kamar saja.


"Pintar sekali kamu ngusir adikmu, Muha"


"Beh", Respon Muha, kemudian melanjutkan, "Kalian, sedang membicarakan apa?"


"Hahaha, kepo ya?", canda Yuki.


"Sialan Loe!"


"Haha, gak ada apa-apa. Cuma memastikan persahabatan mereka berempat", balas Yuki santai.


"Sepertinya, mereka sedang ada masalah"


"Iya. Padahal, satu minggu lagi mereka ujian semester. Apa mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri"


"Emang elo terlibat dengan mereka?" tanya Muha.


"Kemarin, Sifa melakukan hal aneh kepadaku. Entah itu sengaja atau tidak sengaja, yang jelas kejadian itu membuat Asa tahu dan langsung marah kepadanya"


"Sifa terlalu berani", selidik Muha.


"Maksudmu, Muha?"


"Sifa itu, gadis yang sangat cerdik. Dia selalu bisa memahami situasi dan kondisi. Meskipun dia sering bertingkah konyol, dia paling bijak diantara mereka berempat. Pasti dia, merencanakan sesuatu"

__ADS_1


"Kok Elo sampai tau begitu?"


"Iya kan gue detektif", balas Muha menyombong.


"Hahaha, kamu itu. Selalu memperhatikan apapun yang ada di dekat adikmu ya. Penyelidikanmu selalu akurat"


...****************...


Keesokan harinya. Hari ke hari menuju ujian semester. Sifa dan Asa masih saja bersitegang. Meski begitu, Sifa masih menjalin hubungan baik dengan Nuha dan Fani. Sedangkan, Asa terlihat sangat malas melihat tingkah Sifa. Lebih baik dia menghindar dan mencari kesenangan sendiri.


Kelas tambahan juga sudah diliburkan. Sehingga, Nuha tidak ada pertemuan dengan Dilan bahkan dengan si kembar Raffy dan Rafly. Lagi pula, dia sudah membentak Dilan dan Raffy, jadi mereka benar-benar tidak saling bertemu satu sama lain.


Rencana Dilan mendekati Nuha pun gagal. Setelah melihat Nuha membentaknya, membuat Naru merasa lega. Tapi, dia tidak akan mengungkitnya bersama Dilan. Dia membiarkannya dan tetap mengabaikannya. Dia akan tetap jaga jarak sesuai kesepakatannya dengan Dilan.


Di lorong kelas lantai satu sebelah utara, Nuha melihat Naru berada di lorong kelas lantai satu sebelah selatan. Jarak yang sangat jauh itu, membuatnya masih bisa melihatnya. Begitu juga Naru. Mereka saling melihat satu sama lain dengan jarak yang sejauh itu.


"Aku, merindukanmu Naru", ucap Nuha dalam hati.


"Aku juga merindukanmu Nuha"


"Maaf ya Naru, aku tidak bisa menemui. Pak Suwito, melarang kelas kami untuk pacaran. Jika ketahuan, maka akan dilaporkan"


"Maafkan aku ya Nuha. Aku harus jaga jarak dulu darimu. Aku harus menuruti kesepakatan dari Dilan. Tapi, tenang saja. Di semester 2, aku sudah bisa menemuimu"


"Aku tidak tau sampai kapan. Tapi, jika waktu semakin menjadi lama. Apakah aku bisa tahan untuk menahan rasa rindu ini?"


"Nuha"


"Naru"


"Kalian berdua", batin Fani yang melihat dari balik pintu kelasnya. Dia jadi ikut repot memantau keadaan Nuha dan Naru. Kemudian, melihat ke arah Sifa dan Asa.


"Sampai kapan kalian akan diam-diaman begini", keluh Fani dalam hati.


Nuha pun kembali ke kelas. Melihat Fani menunggunya di dekat pintu kelas, dia menghampirinya.


"Fani, aku punya ide buat deketin Sifa dan Asa lagi"


"Benarkah, Nuha?"


"Yuk, kita deketin Asa dulu"


Nuha dan Fani menghampiri tempat duduk Asa dan menyapanya. Asa pun membalas sapaan mereka.


"Asa, maaf ya kalo kita gak bisa berbuat apa-apa untuk kalian berdua", ucap Nuha.


"Gakpapa, Nuha. Inikan masalah gue sama Sifa. Kalian gak usah repot-repot", balas Asa.


"Tapi kan Asa, kita kan sahabat. Kamu, bener-bener belum bisa berdamai dengannya?", tanya Fani.


"Belum Fani, gue masih males"


"Asa. Kakakku kan mau wisuda nih, datang yuk ke wisudanya", ajak Nuha ramah.


"Apa Sifa juga mau kamu aja?"


"Umm.. Iya", jawab Nuha jujur. Fani malah langsung menyenggol bahunya.


"Maaf ya Nuha, bukannya aku gak mau. Tapi, kalo ada Sifa gue beneran gak mau!", ketus Asa.


"Eeeeehhhh.."

__ADS_1


__ADS_2