Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Menyusun puzzle Nuha


__ADS_3

"Nuha ayo cepat"


Mata Nuha berputar-putar dan larinya tergopoh-gopoh karena digandeng Asa yang terburu-buru untuk segera masuk ke kelas tambahan.


Sesuai rencana Asa, mereka akan datang lebih awal untuk mencuri kursi yang kosong yang mereka inginkan.


Mereka akhirnya sampai, ternyata kelas benar-benar masih kosong. Mereka berhenti di muka kelas.


"Fiuh, berhasil juga kita Nuha", Asa melepas lelah.


"Ya udah ayo kita segera mencari tempat duduk", ajak Nuha.


Asa berjalan memasuki kelas dan mengitari satu per satu tempat duduk. Sambil menahan rasa kesal untuk tidak ingin duduk berdekatan dengan si kembar.


"Gimana kalo kita depan aja Asa", ucap Nuha.


"Whats?!"


"Asa! Kamu membuatku kaget".


"Di depan itu tempat duduk yang paling horor Nuha, guru akan selalu memperhatikan kita", jawab Asa.


"Tapi kan kita jadi tidak bisa berurusan dengan mereka dan kita jadi lebih fokus".


"Ya gak segitunya keles", jawab Asa dengan senyum kecut.


"Trus dimana?"


"Kita tunggu beberapa siswa masuk dulu deh kalo gitu".


"Okei. Keluar lagi berarti?", tanya Nuha


"Iyes."


Nuha dan Asa menunggu di luar kelas bersandar di pagar gedung. Beberapa siswa mulai berdatangan dan memasuki kelas.


Akhirnya mereka mendapat tempat duduk di sebelah kiri bersama siswa-siswa perempuan yang lainnya.


"Haah.. lega gue", Asa menyandarkan kepalanya.


Nuha tersenyum melihat keadaan Asa. Dilan memasuki kelas diikuti si kembar, Raffy dan Rafly. Mereka duduk di tempatnya semula.


Guru matematika memasuki kelas. Para siswa sudah bersiap untuk menerima pelajaran. Dilan baru tersadar bahwa siswa di depannya ternyata bukan Nuha. Dia pun terperanjat bangun.


"Nu-Nuha?, Where are you?", Dilan celingukan mencari Nuha.


"Ke-kenapa dia pindah tempat duduk disana?"


Dilan menghampiri Nuha, semua mata menuju ke arah Dilan yang sedang berjalan.


"Nuha! Kok kamu pindah tempat disini sih?", tanya Dilan heran.


"Ciieee..", terdengar banyak suara bersorak.

__ADS_1


Seketika Dilan sadar dengan perbuatannya. Membuatnya jadi tersipu malu.


"Ada apa ini?", tanya guru.


"Dilan mau ngungkapin perasaan bu", ucap salah satu siswa.


"Bu-bukan begitu", Nuha mengelak.


"Benar begitu Dilan?", tanya guru memastikan.


"Enggak bu, maafkan saya", jawabnya.


Dilan langsung mengusir siswa yang duduk di belakang Nuha untuk dia ambil tempat duduknya. Siswa tersebut langsung membolehkan.


"Semangat ya! Semoga berhasil", canda siswa tersebut.


"Duuh.. maksa banget deh Dilan duduk di belakangku", gumam Nuha.


"Elo jangan gangguin Nuha ya Dilan", ancam Asa.


"Biarin! Sebelum janur kuning melengkung", jawab Dilan bangga.


"Ja-janur kuning melengkung?, pikirannya sudah sejauh itu", Nuha mengeluh.


"Dasar manusia jaman sekarang. Kalo udah urusan cinta berbagai cara pun rela ditempuh", sindir Asa.


"Hati-hati ya Nuha. Jangan sampai kamu mudah dirayu olehnya", canda Asa.


"A-Asa..", lirih Nuha.


"Trus-trus?", Asa masih ingin Ziya bisa melanjutkan ucapannya.


"Trus apa?", tanya Ziya balik.


"Iya terus apa yang akan terjadi kalo sudah menikah?", tanya Asa geregetan.


"Akan ada pelakor", jawab Ziya simpel.


"Apa itu pelakor?", tanya Nuha ikut penasaran.


"Perebut Lelaki Orang", jawab Ziya.


"Eeeh...", Tanggapan Asa.


"Ah udah ah, aku gak mau dengerin kek begituan. Aku gak mau mikir yang enggak-enggak", pungkas Nuha.


"Ye Nuha, dikasih tahu kok gak mau. Kan buat pengetahuan juga", canda Asa.


Nuha langsung melipat tangannya di atas meja dan meringkuk di dalamnya.


"Anak-anak, kalian akan saya bagi kelompok menjadi tiga anak untuk mengerjakan tugas dari saya", ucap guru matematika.


"Se-serius bu?", tanya Ito.

__ADS_1


"Iya. Silahkan kalian tentukan sendiri kelompok kalian ya. Kalo sudah, kalian bisa ambil lembar tugas dari saya", ucap guru.


"Eh?", Nuha langsung terperanjat bangun.


"Nuha, kita satu kelompok ya", pinta Dilan.


"Enggak! Enggak mau!"


"Galak amat. Aku akan terus mengganggumu kalo kamu galak gitu Nuha"


"Dilan, elo itu cari kelompok yang cowok gitu donk. Sana!", usir Asa.


"Nuha kan sudah kelompok dengan gue", ucap Asa bangga.


"Tapi kan masih kurang satu Asa", ucap Dilan.


"Heleh, emang elo?, ya enggak lah. Yang satu lagi kan Ziya. Iya kan Ziya?", ajak Asa.


"Oh?, okei. Aku siap kok jadi kelompok kalian", jawab Ziya.


"Nah tuh, sudah tahu khan?", ejek Asa kepada Dilan.


"Gue sama elo ya Dilan", tiba-tiba Ito datang dan merangkul leher Dilan dari belakang.


"Enak aja. Gue bisa sendiri!", jawab Dilan.


"Enggak gitu donk. Kan tugas ini berkelompok", bujuk Ito.


"Ah, terserah elo deh!", Dilan semakin ketus.


Nuha bersama Asa dan Ziya mulai mengerjakan tugasnya. Mereka terlihat begitu serius dan sungguh-sungguh. Namun, disamping Nuha sedang menulis pikirannya mulai berkecamuk.


Jika dipikirkan memang sangat mengganggu dan rumit. Tapi, kalau diabaikan sebenarnya apa yang dialami Nuha hingga sekarang dia pasrahkan sendiri dan membiarkan apapun yang terjadi pada dirinya berjalan apa adanya.


Kejadian awal yang membuatnya terlibat dengan seorang cowok playboy bernama Dilan akhirnya bisa terselesaikan dengan baik.


Lalu, muncullah benih cinta di hati Nuha terhadap Naru yang menolongnya saat hendak terjatuh dari tangga juga akhirnya ia sukses menyatakan perasaannya.


Perasaan cemburu, rendah diri, cangguh juga telah mengubahnya menjadi gadis yang lebih berani, ceria dan terbuka kepada Naru.


Kadangkala masalah dengan kakaknya sendiri juga masih menganggunya, Muha yang belum bisa mengizinkan Nuha untuk pacaran. Namun, Nuha tetap ingin bisa bersama Naru. Muha pun sedikit demi sedikit mau membuka hatinya.


Hubungan Nuha dengan Dina, adiknya Naru dan kedua orang tuanya Naru juga sangat baik. Padahal, dia pikir keluarga Naru akan mempermasalahkan dirinya.


Kecemburuan Sifa terhadap hubungan Nuha dengan Naru juga sudah berlalu. Sifa telah kembali lagi menjadi dirinya sendiri dan itu membuat Nuha sangat bersyukur.


Hawa yang tiba-tiba sudah tidak menampakkan dirinya pun dengan seiring berjalannya waktu Nuha bisa mengikhlaskan dan merelakannya.


Terlibat masalah dengan Keisha, junior didikan Naru juga sudah selesai. Bahkan, Keisha merasa tersanjung mendapat semangat dari Nuha.


Sekarang dia bertemu kembali dengan Dilan. Nuha mencoba untuk mengabaikannya dan membiarkan hal itu berjalan dengan apa adanya.


Kehadiran Raffy dan Rafly yang mengejutkannya juga ia biarkan dan ia ikuti saja arusnya. Dia tidak ingin muluk-muluk memikirkan itu semua.

__ADS_1


Kadangkala hal-hal tersebut yang seketika datang dan menganggu pikiran Nuha, ia langsung menepisnya. Karena, bagaimana pun memikirkan masalah itu benar-benar sangat menganggu dan menyedihkan.


Nuha memahami, kehidupan itu begitu acak, seperti puzzle. Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya perlu menunggu dan menyusunnya dengan baik.


__ADS_2