
"Ya udah teman-teman. Aku pulang sendiri aja naik bus," ucap Fani langsung mengambil solusi.
Di samping itu, Sifa menatap sinis kehadiran Nuha bersama Naru sambil berkacak pinggang, "Kamu ini, Nuha. Malah sama Naru. Kalian mau kemana?" tanyanya.
"Dia hanya mau ngantar aku sampe sini doank kok, Sifa" jawab Nuha dengan yakin.
"Siapa bilang? Aku yang akan antar Nuha," elak Naru.
Bantahan Naru yang santai itu membuat Nuha sendiri dan Asa pun kaget bersama, "Wheh?!"
"Udah, gak usah berdebat. Aku udah biasa pulang sendiri pake bus. Kamu tetep boncengan sama Asa aja ya Sifa. Nanti kita bisa ketemu di seberang jalan deket rumahku", pungkas Fani.
"Lalu, aku?" tanya Nuha kebingungan.
Asa pun melirik Sifa dengan tatapan cuek dan berkata, "Terserah Elo deh mau ngapain Nuha! Ayo Sifa!" Kemudian dia meminta Sifa untuk segera naik ke motornya.
"Ka-kalian marah?"
"Enggak Nuhaaa," balas ketiga sahabatnya kompak dan manja. Fani mulai berjalan untuk menunggu bus dan Asa mulai menarik gas motornya.
"Naru! Turunlah!" pinta Nuha menepuk-nepuk pundak Naru.
"Santai aja Nuha. Aku akan antar kamu ke rumah Fani. Kamu tau arah jalan ke rumah Fani kan?"
"I-iya tau, tapi kan.."
"Sudahlah. Pegangan yang erat ya, hihi"
"I-iya"
Nuha memegang erat sisi kanan kiri baju Naru. Naru pun mulai mengayuh sepedanya.
Mereka menikmati perjalanan dengan santai bersepeda sambil melihat pemandangan yang ada.
"Kalo pelan begini kapan sampai di rumah Fani, Naru?" cibir Nuha sambil manyun.
"Ya gakpapa kan, Nuha"
"Iyalah, terserah"
"Idih, terserah? Cueknya minta ampun," balas Naru dengan menambah sedikit kecepatan. Mereka pun mulai melewati beberapa belokan dan kembali berjalan lurus.
Angin menemani perjalanan mereka. Jalanan tampak ramai oleh lalu lalang mobil dan sepeda motor. Namun, hal itu tidak menganggu perjalanan mereka. Naru tetap santai dalam mengayuh sepedanya.
"Naru"
"Iya?"
"Aku merasa, Naomi suka kamu deh"
"Kenapa emang? Kan, aku gak suka sama dia"
"Iya aku jadi khawatir aja, hehe.. Aku jadi gak tega lihat dia jadi sedih dan umm.."
"Umm, apa? Cemburu lagi?"
"Enggak. Enggak cemburu, ih Naru! Cuma, sedih aja. Aku lihat dia juga sepertinya sedang kesepian gitu"
"Nuha.. Jangan terlalu peduli sama orang"
"Tapi kan.."
"Aku ngebut nih kalo kamu bilang tapi lagi"
__ADS_1
"I-iya jangan donkk!!"
Dalam perjalanan, Naru sangat fokus dengan apa yang ada di depannya. Sedangkan, Nuha melihat-lihat dari sisi kiri. Tiba-tiba, dia melihat beberapa pelajar sedang tawuran di sisi jalan yang sepi. Naru tidak memperhatikan sehingga dia tetap saja mengayuh sepedanya.
"Naru, berhenti!"
"Eh?"
"Ciiitt", Naru mengerem pelan.
"Whatsup my love?"
"Idih!"
"Iya, ada apa Nuha?"
"Naru, lihat di sana. Ada beberapa pelajar yang sedang bertengkar. Bahaya banget kalo sampe mereka terluka"
"Mana? Ooo.."
"Ada yang tidak asing dengan seragam itu, iya gak Naru?"
"Yup. Dari sekolah kita ternyata. Udah biarin, kita lanjut jalan lagi ya"
"Raff.. Umm.. Rafly, mereka Raffy dan Rafly kan?"
"Apa? Fokus bener sama dua cowok kembar itu"
"Naru, bisakah kamu menolong mereka? Tapi, aku juga gak ingin kamu jadi terluka"
"Ya udah kita lanjut jalan aja lagi"
"Naru, kasihan mereka"
"Kenapa dia jadi sering peduli sama orang? Aku jadi cemas," batin Naru sedikit terganggu.
"Re-rencana?"
Naru membuat rencana untuk menghentikan pertengkaran antar pelajar itu, dimana lima pelajar sedang mengeroyok Raffy dan Rafly, teman sekolah mereka. Rafly terlihat kewalahan sedangkan Raffy masih kuat untuk terus menghajar mereka berlima.
Naru mendownload suara sirene polisi dan memberikannya kepada Nuha, "Nih, Nuha. Bawa ponselku"
"Untuk apa?"
"Aku akan mengancam mereka bahwa polisi akan segera datang. Kemudian, kamu nyalakan suara sirene di ponsel aku ini ya"
"Tapi suaranya gak akan sampe Naru"
"Ahahaha.. Benar kamu Nuha"
"Terus gimana?"
"Baiklah. Aku akan ambil video mereka kalo gitu. Aku akan ancam mereka untuk merekam kejadian itu dan melaporkannya kepada polisi"
"Tapi aman kan Naru? Kamu, gak akan terlibat dengan mereka kan?"
"Gak tau Nuha," balas Naru tidak yakin tapi memberikan senyum penuh percaya diri.
"Kalo gitu, pake ini dulu"
Nuha mengeluarkan sapu tangannya dan melipatnya menjadi bentuk segitiga. Dia mulai memaskerkannya di wajah Naru dan mengikatnya di belakang.
"Bentar ya, jangan deg-degan lho," sindir Nuha.
__ADS_1
"Si-siapa yang deg-degan?!", Naru langsung canggung.
"Hihi, udah nih. Udah kencang. Jangan dibuka ya dan jangan sampe mereka lihat wajah kamu"
"Cerdas sekali kamu Nuha, cuph!"
Naru mencium Nuha dengan bibir yang tertutup masker sapu tangan itu dan langsung pergi meninggalkannya. Nuha sedikit tersipu malu kemudian bersembunyi di balik sebuah ruko.
Naru mulai memutar video dan berbicara di sana. Proses pertikaian pun sejenak terhenti.
"Gays, pagi-pagi gini lihat orang tawuran seru juga nih," ucapnya sambil mengarahkan ponselnya ke arah mereka.
"Siapa Elo?!" teriak salah satu lawan.
"Kalo kalian berani mendekat, gue akan sebar video tawuran kalian! Akan gue laporkan ke polisi!"
"Sial! Kita hentikan dulu bro!"
Lima brandalan itu pun pergi meninggalkan Raffy dan Rafly. Meski Raffy masih kuat dan ingin terus menghajar, Rafly akhirnya terjatuh dan kelelahan. Raffy segera menghampirinya.
"Rafly, elo gakpapa?"
"Gakpapa, tapi mungkin gue akan merepotkanmu," balas Rafly dengan keramahannya.
"Bego! Elo terluka Raf. Ayo, gue bantu"
Naru sudah tidak ingin pikir panjang dan segera beranjak pergi, tapi Rafly menghentikannya.
"Tunggu!"
"Sorry, kalo gue menganggu tawuran kalian"
"Cuih! Siapa juga yang mau nerima bantuan Elo? Elo siapa hah?!", tanya Raffy membentak.
"Thanks sudah bantuin kita. Uhuk! Uhuk uhuk," ucap Rafly dengan disela batuk-batuknya.
"Sepertinya, elo terluka parah. Gue akan bantu sampe ke seberang jalan," ucap Naru sambil menarik lengan kiri Rafly dan memapahnya bersama Raffy.
"Jangan membuat gue jadi berhutang budi sama elo ya," elak Raffy.
"Santai saja. Gue ikhlas kok nolongin kalian"
Mereka pun sampai di seberang jalan. Nuha muncul dari balik Ruko. Membuat kedua cowok kembar itu terbelalak kaget.
"Sapu ijuk?!" ucap Raffy.
"Berarti, elo, Naru?!" lanjutnya.
"Nuha, kita ketahuan deh," cengir Naru sambil melepas masker sapu tangannya.
"Kamu, gakpapa Naru?"
"Cuih! Perhatian sekali," cibir Raffy.
Naru dan Raffy mendudukkan Rafly di pinggir tangga tanjakan ruko. Kondisi Rafly terlihat sangat parah. Lengannya berdarah, pipinya lebam dan dia terus memegangi perutnya.
"Naru, gimana ini?"
"Nuha, jangan khawatir. Aku akan telfon pak sopir untuk mengantar mereka ke rumah sakit"
"Elo itu.. Uhuk uhuk. Sangat peduli ya sama Nuha, uhuk uhuk," sahut Rafly yang mulai lemah.
"Bertahanlah Rafly!" pinta Raffy tegas.
__ADS_1
"Tunggulah sebentar," balas Naru. Meski dia sedikit membanggakan diri karena terlihat keren tapi perasaannya sedikit terganggu dengan sikap santai dan baiknya Rafly.
"Thanks, Naru. Akan kupastikan, elo tidak akan terlibat dengan masalah gue dan orang-orang tadi," sahut Raffy.