
"Aden, kita sudah sampai"
Mobil berhenti di pinggir seberang jalan. Naru membuka pintu mobilnya diikuti dengan Nuha. Setelah Naru mengucapkan terima kasih kepada Sopir, mereka turun dan mulai berjalan menuju ke sekolah. Jalanan terlihat sudah sepi dan ternyata pintu gerbang sudah tertutup rapat dan terkunci. Pak satpam menjaga di pos rondanya.
"Naru, kita terlambat"
Nuha mulai bergegas berlari menuju gerbang sekolah, seketika Naru langsung menangkap tangannya.
"Jalan aja"
Sampai di depan gerbang sekolah, pak satpam langsung pasang badan membawa rekap daftar siswa terlambat dan hendak menolak kedatangan mereka.
"Kalian darimana saja? Bisa terlambat sampe jam segini"
"Maaf pak, mobil kami mogok" Ucap Naru berasalan
"Udah gak usah alasan. Sini, tulis nama kalian berdua disini!" Satpam menyerahkan daftar hadir siswa yang terlambat kepada Nuha untuk diisi sendiri.
Naru langsung menolaknya, mengembalikan lagi daftar itu kepada Satpam dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah golden ID yang hanya siswa tertentu dan istimewa yang memiliki kartu identitas itu, Naru ternyata memilikinya.
"Siswa teladan ya? Baiklah, silahkan masuk"
Meskipun sedikit kesal, akhirnya satpam memberikan izin Naru untuk masuk namun tidak untuk Nuha. Satpam tetap ingin Nuha menuliskan namanya di daftar itu tapi Naru bisa memberinya pembelaan. Nuha pun ikut bebas masuk tanpa harus mendapat point kesalahan.
"Kamu hebat Naru, punya golden ID"
"Eh? Kamu tau tentang kartu ini"
Sambil berjalan dan mengobrol, Naru memberikan Identitas Emas miliknya kepada Nuha. Nuha terkagum-kagum memandangi ID tersebut. Melihat foto dan membaca identitas milik Naru.
"Soalnya, salah satu teman dikelasku juga memiliki ini. Namanya Mei, dia anak yang sangat cerdas dan terampil di bidang jurusan kami. Mungkin, kartu ini untuk mereka yang berbakat dan istimewa ya?"
"Mungkin. Dilan juga punya kok", balas Naru.
"Oh? Kupikir hanya seorang saja dalam satu kelas. Jika begitu, kenapa Fani tidak punya?", Nuha berfikir.
"Kamu mau? Bawa aja kalo mau"
"Mana bisa, Naru!", Nuha jadi tertawa kecil. Kemudian melanjutkan, "Lagipula, kenapa tahun kelahiranmu tdk ada?", Ia pun mengembalikan kartu itu kepada Naru dan melanjutkan perjalanan.
"Rahasia"
"Eeehhh.."
Lorong sekolah juga sudah sangat sepi, sebab semua siswa berada di kelas karena pelajaran sudah dimulai.
"Nuha, kita ke kantin aja yuk. Daripada semua temanmu melihatmu terlambat, kita ngumpet dulu aja di kantin" Ajak Naru
"Ngumpet?" Nuha geli mendengar jawaban Naru
"Iya maksudnya makan, masa ngumpet beneran. Kamu pasti lapar, kan tadi belum sarapan"
"Iya"
Nuha duduk di bangku kantin, Naru membelikan hidangan sarapan untuk mereka berdua. Sebuah nampan stainless berisi dua botol air mineral, dua sup dan dua roti. Berdua makan bersama di kantin.
"Naru? Kamu disini? Pak guru ikut gabung ya?"
__ADS_1
"Iya, silahkan pak"
Guru matematika Naru ternyata juga sedang di kantin, Pak Hanif orangnya, "Ahaha.. kalian juga terlambat? Istri bapak sedang di desa mengurus orang tua yang sedang sakit. Jadi saya tidak ada yang membangunkan tidur, tidak ada yang buatkan sarapan, jadi bapak belum sarapan"
Nuha terlihat sedikit canggung. Naru malah santai saja.
"Kalian berdua kenapa bisa terlambat?, Oh, ini siapa nih Naru? Pacar kamu ya", lanjut beliau.
"Itu.."
Naru belum selesai menjawab, Pak Hanif masih saja melanjutkan percakapannya. Beliau langsung menepuk kepala Naru, merasa bangga dan senang Naru memiliki seorang pacar. Dilihat dari atribut seragam Nuha, Hanif tambah kagum.
"Wah! Seorang Matematikawan saya syukurlah sudah punya pacar, biar dia tidak fokus belajar terus, kan gadis cantik?" Lirik Pak Guru.
"U-um.."
"Beruntung juga kamu dapat gadis dari jurusan Multimedia Naru? Ahahaha.. Mereka adalah anak-anak terampil, pekerja keras, energik dan sangat menyenangkan. Pekerjaan mereka menjanjikan dan sangat profesional dengan alat-alat multimedia zaman sekarang"
"Ta-tapi aku tidak seperti itu" Batin Nuha
Naru membalas Nuha yang tertunduk dengan tersenyum. Pak Hanif akhirnya berhenti bicara karena tiba-tiba sarapannya sudah habis dan teh hangat miliknya juga sudah kosong. Tidak terasa beliau mengobrol banyak hingga sambil menghabiskan sarapannya secara bersamaan.
"Eh, sarapan saya ternyata sudah habis. Ahahaha.. kalo gitu bapak pamit ya. Kalian berdua lanjutin aja makannya, maaf kalo bapak mengganggu"
Senyum Pak Hanif lebar dengan menampakkan gigi-gigi putihnya. Membuat Naru terheran-heran sendiri dengan sikap gurunya tersebut. Mulai berjalan meninggalkan mereka, beliau melanjutkan lagi ucapannya.
"Naru, jangan lupa hari ini kita mulai membimbing mereka. Bapak, mengandalkanmu" Pungkas Pak Hanif
"Se-semoga olimpiadenya membawa keberhasilan" Jawab Nuha sambil berdiri memberi hormat kepada pak Hanif
Beliau pun tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka. Naru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Karna gak ada istri yang masakin?"
"Bu-bu-bu-bukan begitu"
"Ahahaha.. sebenarnya ART selalu menyiapkan sarapan, tapi keluargaku sering tidak sempat sarapan bersama. Ayah dan ibu sangat sibuk, jadi kadangkala aku dan Dina saja yang sarapan sendiri-sendiri, kalo lagi gak mau sarapan yaudah gak sarapan deh"
"Ayah kamu kerja apa?"
"Dia seorang Rektor"
"Re-rektor?!"
"Nuha berhentilah berteriak" Naru langsung menjewer pipi kanan gadis kesayangannya itu.
"Itai~ sakit"
"Ibu kamu?"
"Dia pengurus yayasan pendidikan anak"
"Wah, luar biasa.. orang-orang yang memiliki nama besar" Batin Nuha terkagum-kagum.
"Udah, habisin dulu sarapanmu"
"Iya"
__ADS_1
"Naru, aku masih bertanya-tanya. Kenapa tahun kelahiranmu tidak ada di golden ID mu?", tanya Nuha dengan mulut yang penuh makanan.
"Masih ingin tau ya?"
"Um! Tentu saja"
"Kepo banget sih"
"Kenapa? Gak boleh?"
"Iyes! Masih rahasia"
"Kok gitu?"
"Rahasia ya rahasia"
"Ayolah, beritahu aku"
"Belum waktunya kamu tau"
"Kok gituuu?"
"Ra-ha-si-a, Nuhaaa"
Naru begitu santai dan tenang menikmati moment berdua bersama Nuha. Ia senang kekhawatiraannya menghilang karena Nuha terlihat ceria hari ini. Nuha memang pribadi pendiam dan cuek terhadap dirinya sendiri, kadangkala ia bisa sendiri menghilangkan kesedihannya dan bersikap santai seolah semua telah kembali baik-baik saja.
"Istirahat masih lama Nuha. Setelah ini kita mau kemana?"
"Kemana?"
"Kembali ke kelas?" Tanya Naru balik
"Jangan, nanti aku ketahuan guru lagi"
"Tuh kan tau"
"Naru, bolehkah ke taman belakang sekolah?"
"Tentu saja"
Senyuman ramah Naru mengakhiri obrolan dan sarapan mereka. Nuha dan Naru berjalan menuju taman belakang sekolah. Naru mengikuti Nuha dari belakang. Membiarkannya berjalan sendiri untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Nuha berlari kecil sambil bersenandung merdu.
"Hawa, keluarlah!" Pinta Nuha
"Okai" Seketika Hawa keluar dengan semangat dan terbang di atasnya.
"Keluarkan sayapmu donk"
"Baiklah, Nuha"
Sepasang sayap besar hasil imajinasi Nuha untuk Hawa keluar dari punggung Hawa. Semua imajinasi Nuha yang ia pikirkan maupun ia gambar di sketsa langsung tercipta untuk Hawa. Hawa begitu mengagumkan mengepakkan sayapnya di udara.
"Indah sekali, Hawa" Nuha tersenyum tulus
Naru hanya bisa memperhatikan, meskipun ia tidak bisa melihat Hawa tapi ia bisa melihat dari segala apa yang diucapkan oleh Nuha.
"Kalian tidak bertengkar kan?" Tanya Naru
__ADS_1
"Eh?"