
“Permainan piano Naru sangat bagus, nada suaranya merdu, sungguh membuatku terharu. Hiks”
Nuha masih terus mendengarkan MP3 berisi alunan piano yang dimainkan Naru untuknya. Lagu yang ia nyanyikan bersama Naru saat di kamar Naru membuat Nuha mengingat kembali kenangannya. Wajahnya tersipu malu mengingat kenangan itu.
“Hawa keluarlah”
“Hawa? Kok sepertinya aku tidak bisa merasakan kehadirannya. Kemana dia?”
Nuha sedikit bingung mempertanyakan sendiri tentang Hawa. Ia baru sadar bahwa selama ia berada di rumah sakit, Hawa tidak menampakkan diri sedikit pun di hadapannya. Dan baru sekarang Nuha merasa Hawa tidak ada di dalam tubuhnya.
“Akan aku tanyakan pada kakak nanti kalo gitu..” Ucapnya sambil membuka kertas yang dilipat secara sederhana dan Nuha mulai membacanya
“Eh, musiknya sudah berganti. I-ini kan..”
“Lagu yang aku nyanyikan saat hujan di gudang kosong. Ternyata dia mengingatnya dengan sangat baik. Luar biasa, Naru bisa memainkan pianonya dengan sempurna”
Sambil memandang kertas yang telah ia buka, ia memejamkan mata sejenak untuk menikmati alunan musik piano yang merdu itu. Pikirannya sedikit tenang. Nuha mulai membacanya perlahan isi surat yang telah Naru tulis.
“Hai Nuha, aku nulis surat ini saat kamu sedang tidur di kursi roda. Kupikir kamu hanya memejamkan mata sejenak eh malah tertidur lelap sekali”
Nuha tersipu malu, ia melanjutkan membaca.
“Maafkan aku ya Nuha karena tidak bisa menghiburmu saat hatimu sedih karena Sifa”
“Tidak apa-apa Naru” Jawab Nuha
“Nuha, tiga hari lagi kelas kita akan tryout lagi. Apa kamu sudah bisa masuk sekolah?”
“Sepertinya belum deh. Aku harus nurut dengan keputusan kakak”
“Tapi tenang saja Nuha, aku akan mengerjakan tryout sebaik mungkin. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi seperti waktu tryout yang lalu. Aku akan membuatmu bangga”
“Iya” Jawab Nuha terharu
“Dan satu minggu lagi, olimpiade matematika akan datang. Jadi aku akan fokus mengajar juniorku dulu ya Nuha. Semoga olimpiade kami membawa keberhasilan dan membawa pulang piala kemenangan”
“Semangat Naru. Kamu pasti bisa” Ucap Nuha
“Aku akan menjengukmu ke rumah kalo kamu sudah pulang ke rumah. Tapi, kalo kamu masih di rumah sakit aku juga akan tetap menjengukmu nanti”
“Terima kasih Naru, kamu begitu baik”
“Baik-baik ya sama Hawa dan Kakakmu. Semoga kamu bisa lekas sembuh dan kita bisa pacaran lagi di sekolah”
“Pa-pacaran?” Nuha malu membacanya
“Hahaha.. kamu pasti malu-malu kucing membaca surat ini”
“Dasar Naru! Iseng banget deh dia”
Sampai jumpa lagi di sekolah Nuha. Aku sayang kamu”
__ADS_1
Nuha selesai membaca surat dari Naru. Musik piano pun berganti lagi. Naru ternyata memainkan beberapa lagu dengan pianonya dan ia rekam untuk ia berikan kepada Nuha. Menurutnya, hanya itu yang baru bisa ia berikan kepada Nuha sebagai hadiah untuk menghibur hatinya saat di rumah sakit.
“Kenapa kamu begitu baik Naru” Nuha menangis sedikit sesenggukan
Ia pun langsung menghapus air matanya dan mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas. Ternyata ponselnya telah mati, tidak terasa beberapa hari dia juga mengabaikan ponselnya.
“Duh, ponselku mati. Ada cas gak yah” Nuha celingukan mencari charger di beberapa colokan listrik di sekitarnya.
Kakak datang kembali dan memasuki ruangan Nuha. Melihat Nuha celingukan, membuat Muha penasaran.
“Sedang cari apa?”
“Eh, kakak?” Nuha langsung melipat cepat surat dari Naru dan menyembunyikannya di bawah bantal. Headset yang masih nyangkut di telinganya pun langsung ia cabut dan ia sembunyikan juga di bawah bantal.
“Kok belum tidur?”
“Iya ini aku mau ngecas HP”
“Bentar, kakak ambilkan di tas kakak dulu”
“Iya”
“Mana ponselmu” Pinta kakak
“Ini” Nuha menyerahkan ponselnya kepada Muha. Muha mulai menchargernya.
“Udah, tidur sana. Sudah jam 11 malam kamu belum tidur juga”
“Di sini? Di mana? Di tubuhmu? Atau di mana?”
“Aku merasa Hawa tidak ada di tubuhku. Di sekitar sini pun dia juga tidak terlihat sama sekali. Apa kakak tau sesuatu?”
“Kakak juga kurang tahu. Kamu tidur aja dulu, kita pikirkan lagi besok. Lihat tuh sudah jam 11 malam. Mau kamu didatangi suster ngesot?”
“Hii ii~ gak mau”
“Ya udah tidur gih. Kakak akan jagain kamu”
“Umm..”
Nuha pun menarik selimut dan mulai memejamkan matanya. Hujan yang masih terdengar rintikannya menemani Nuha yang mulai tertidur. Muha duduk bersandar memandang langit gelap dari balik jendela ruangan.
“Kemana Hawa?” Gumamnya
“Kalo dia tidak ada kan pasti langsung terjadi sesuatu pada diri Nuha. Tapi, Nuha terlihat baik-baik saja.”
Waktu malam semakin larut. Membuat Muha mulai tertidur. Nuha yang sudah terbuai dan terlelap tidur mulai bermimpi. Nuha berada di sebuah kegelapan yang sangat luas. Meskipun ia mencoba berjalan, ia tidak menemukan jalan keluar. Hanya kegelapan yang terlihat di sekelilingnya.
“Hawa, kamu dimana?”
Hawa seketika langsung muncul dihadapannya. Membuat Nuha terbelalak dan menjadi rindu. Nuha mulai memeluknya.
__ADS_1
“Syukurlah kalo kamu masih disini. Aku mencarimu Hawa”
“Maafkan aku Nuha”
“Jangan minta maaf, aku tidak suka”
“Tapi, selamat tinggal Nuha”
“Eh?”
Seketika Hawa menghilang dan pecah menjadi butiran-butiran angin. Nuha terbangun dari tidurnya. Ia langsung panik dan mulai mencari-cari keberadaan Hawa.
“Hawa..”
“Hawa..”
Tangannya terus meraih-raih sesuatu. Tubuhnya gemetaran dan Nuha tidak bisa mengendalikan diri. Dia terbayang-bayang oleh Hawa dan terus mencarinya. Kepanikannya membuatnya turun dan langsung terjatuh dari kasur.
“Gedebug!”
Ibu dan Kakak kaget dan langsung terbangun. Ibu yang masih setengah sadar langsung berlari menolong Nuha. Meraihnya dan tersentak kaget.
“Nuha, kamu panas sekali nak”
“Ibu, ibu..” Ucap Nuha kebingungan. Wajahnya memerah, tubuhnya gelap pucat karena suhu panas badannya naik drastis sekali. Tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup kencang.
“Muha! Tolong bantu Nuha!” Teriak Ibu
Muha langsung beranjak dan menghampiri adiknya.
“Dia panas sekali Ibu. Aku akan panggilkan Dokter segera”
Muha mengangkat Nuha kembali ke kasurnya. Pukul 3 dini hari keadaan Nuha membuat Ibu dan Kakak sangat panik dan kepayahan.
“Kakak, Hawa menghilang. Kakak, Hawa menghilang” Ucap Nuha dengan meremas erat kedua lengan kakaknya. Tubuh Nuha sangat panas sedangkan keringat juga tidak segera keluar.
“Nuha, ada apa denganmu sayang?” Tanya Ibu sedih
“Ibu, aku tidak ingin Hawa menghilang. Aku tidak ingin Hawa meninggalkanku”
“Nuha, kamu panas sekali. Kamu membuat Ibu sangat takut. Dan siapa Hawa?”
“Ibu, tubuhku rasanya seperti tersetrum. Aku tidak bisa menghentikan tubuhku. Tubuhku gemetaran. Panas. Ibu, tolong aku”
“Nuha, tenanglah nak”
Dokter jaga pun segera datang bersama kakak yang telah memanggilnya. Nuha masih gemetaran dan tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Dokter pun langsung mengecek suhu panas Nuha dan memberikan penanganan.
“Panasnya tinggi sekali Bu, hampir 40 derajat celcius”
“Apa? Tolong tenangkan anak saya Dokter” Pinta Ibu
__ADS_1
“Baik Bu, saya akan memberinya suntikan obat untuknya”