Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Bisa sekelas, lagi.


__ADS_3

Hasil tryout sudah muncul di papan pengumuman kelas 3. Beberapa lembar tertempel rapi dan para siswa mulai mengerubunginya.


Nuha memasuki gerbang sekolah sambil membawa sebuah paper bag berisi sesuatu. Ia melihat Naru, Asa dan Fani sudah melihat ke arah papan pengumuman.


"Pagi", Ucap ceria Nuha.


"Pagi Nuha", Sambut Naru.


"Ka-kamu terluka?!"


"Gakpapa, udah mendingan kok"


Asa dan Fani melirik manja. Lalu kemudian mereka kembali membaca hasil seleksi dari tryout kemarin. Nuha sabar menunggu giliran karena terhalangi siswa lain didepannya.


"Apa ada yang baru?", Tanya Nuha.


"Kelas sudah dirolling lagi Nuha", Jawab Fani.


"Apa? Aku di kelas apa?"


Hasil rolling kelas menunjukkan bahwa Nuha bersama Naru masih di kelas D, Fani naik tingkat di kelas B. Sifa masih di kelas C. Sedangkan, Asa yang semula di kelas E naik satu tingkat menjadi kelas D.


"Ternyata kita bisa sekelas lagi", Naru melihat ke arah Nuha dengan perasaan senang.


"Ehehehe.."


"Nuha, lihatlah! Kita sekelas!"


"Benarkah Asa?", Nuha malah lebih senang menanggapi Asa daripada Naru.


Fani tertawa melihat respon Nuha. Nuha lebih mementingkan sahabatnya sendiri daripada pacarnya.


"Yey! Kita sekelas! Kita sekelas!", Ucap Asa sambil melompat-lompat bersama Nuha.


"Asyik.. Aku akan bisa melihat kalian berdua pacaran", Sindir Asa dengan polosnya sambil menggeram.


"Eeeeeh!!"


Naru hanya bisa menghela nafas panjang. Asa dan Fani berjalan menuju ke kelas diikuti Nuha dan Naru di belakang mereka. Asa dan Fani mengobrol sendiri, Nuha dan Naru juga mengobrol sendiri.


"Naru, luka itu, apa dari Dilan?", tanya Nuha.


"Dia gak sengaja kok, kemarin dia marah2 sampai bisa menjatuhkan foto figura di atas papan tulis", cengir Naru dengan giginya yang putih.


"Iya tapi kan.."


"Gak papa, udah gak usah dipikirin", balas Naru gemas dengan menjewer pipi kanan Nuha.


Mereka berdua pun saling melempar senyum.


"Kamu bawa apa Nuha?"


"Ini?", Nuha menunjukkan paper bagnya.


"Rahasia donk", lanjutnya.


"Sampai ketemu lagi ya Na- Ruuu", Ucap Asa mengganggu obrolan mereka karena sudah sampai di depan kelas.


Nuha, Asa dan Fani memasuki kelas. Hari ini Sifa belum terlihat sama sekali.


"Eh, Sifa mengirim pesan nih", Ucap Fani.


"Apa isinya?", Tanya Nuha.


"Sifa hari ini tidak bisa berangkat sekolah karena sedang sakit", jawab Fani.


"Ooo.. tiidaaak", Ucap Asa dan Nuha memelas.

__ADS_1


Ketiga BestFANS itu akhirnya belajar bersama di kelas tanpa kehadiran Sifa, si Ratu Lebay yang banyak akal.


Istirahat tiba. Seperti biasa, Nuha menyempatkan diri sebentar untuk pergi ke belakang sekolah menengok kedua kucing kesayangannya. Ia berharap Naru menghampirinya walaupun mereka berdua tidak janjian. Nuha hendak memberikan sesuatu kepadanya.


Nuha terus memandangi arah jalan yang biasa Naru lewati. Akhirnya Naru terlihat menghampiri Nuha. Nuha langsung berlari menghampirinya karena sudah tidak sabar. Ia menarik tangan Naru untuk berjalan lebih cepat lagi.


"Ada apa? Kok gak sabaran banget"


"Ayo sini, sini"


"Aku tidak bisa dekat-dekat dengan kucing, Nuha.."


"O iya, kita kemana ya? Itu, Itu disana ada kayu besar yang bisa buat kita duduk bersama"


"Itu, paper bag yang kamu bawa tadi kan?", tanya Naru, ternyata dia masih penasaran.


"Iya. Lihatlah!"


Nuha mengeluarkan sesuatu. Ternyata sebuah syal dan 2 wristband (ikat pergelangan tangan). Nuha membuat syal tersebut sendiri dalam waktu 1 malam. Ia membuatkan hadiah untuk Naru.


"Syal?"


"Iya. Aku merajutnya sendiri lho.."


"Sungguh? Pasti sangat istimewa"


Nuha mengenakan syal tersebut ke leher Naru. Mengalungkannya serapi mungkin.


"Untukku?"


"Iyalah, emang buat siapa lagi?", Ucap Nuha bangga.


"Te-terima kasih", Naru jadi tersipu malu.


"Hihihi.. mukamu jadi merah"


"Itu, buat kalian berdua. Tolong kasihkan satu untuk Dilan ya?", pinta Nuha sungkan.


"Untuk, Dilan? Kenapa?"


"Umm..", Nuha menunduk.


"Baiklah", Naru pun mengerti.


"Satu lagi!", Nuha langsung menyela.


"A- Apa lagi?"


Nuha mengeluarkan saputangannya lagi, "Sini lukamu", ucapnya sambil meraih lengan Naru yang terluka.


"Untuk apa?"


"Semoga sapu tanganmu bisa ikut menyembuhkan lukamu dengan cepat yah", ucap Nuha pede.


"A- Aku akan menerima ini dengan senang hati", balas Naru kembali tersipu malu.


"Manis sekaliii", ejek Nuha.


"Aha-ha-ha-ha.. Panas sekali ya hari ini", Naru sampai kehilangan akal untuk mencari alasan demi mengalihkan perasaannya tersebut. Dia pun melepas kembali syalnya.


"Loh kok dilepas?"


"Gak papa, yuk balik yuk", ajak Naru gugup.


"Iya", balas Nuha santai.


"Syukurlah, kamu tidak kenapa-napa", Batin Naru lega. Setelah apa yang terjadi kemarin, dia pikir itu akan membebani pikiran Nuha sampai sekarang.

__ADS_1


"Hatimu begitu lembut dan baik, Nuha. Aku benar-benar tidak rela kalo suatu saat kamu jadi milik orang lain", gumam Naru sambil menatap lekat wajah ayu sang kekasih.


"Naru, kok bengong?"


"Iya kah?, Hehe.. Aku sedang terpesona olehmu, Nuha", balas Naru jujur dan sadar. Juga, sedari tadi dia ternyata belum beranjak dari tempatnya duduk.


"Iuh.. Gombal deh", ejek Nuha.


"Gombal gimana?"


Nuha tidak mempedulikannya, dia terus berjalan meninggalkan Naru.


"Nuha, tunggu"


"Gak mau, berjalanlah cepat kalo gak mau aku tinggal", ejek Nuha sekali lagi.


"Ahahaha.. Ayo cepat. Nanti kita bisa terlambat", Tiba-tiba Naru menyusulnya secepat kilat dan langsung menggandeng tangan Nuha. Mereka berdua pun bergandengan tangan untuk kembali ke kelas.


Di kelas 12D MIPA, Naru menghampiri Dilan untuk menyampaikan pemberian Nuha untuknya.


"Nih, dari Nuha", ucap Naru seraya menaruh satu wristband di meja hadapan Dilan.


"Dari, Nuha?"


"Kalo gak mau bisa gue ambil balik", sinis Naru.


"Widih gaya loe, udah sok ya karena sudah berhasil menangin hati Nuha", sahut Dilan dengan senyum kecut.


"Kita damai kan?", sindir Naru sambil menunjukkan satu wristband lagi yang sudah terpasang di pergelangan tangannya.


"Sial!", sinis Dilan.


Naru pun melempar senyum sambil memberikan kepalan tos untuk Dilan, Dilan pun akhirnya menyambutnya.


"Okelah", balas Dilan pasrah.


Siang harinya di kelas tambahan D, Nuha dan Asa memasuki kelas bersama. Seketika Asa langsung mencuri tempat duduk Naru.


"Asa, itu.. Tempat duduk Naru", ucap Nuha.


"Jadi kamu mau mengusirku ya?!", Asa langsung memarahi Nuha tapi mengarahkan amarahnya kepada Naru yang sudah tiba di belakang Nuha.


"Tidak apa-apa Nuha, aku akan duduk di belakangmu", balas Naru santai.


Nuha pun duduk di tempat duduknya.


"Nah, gitu donk kalo mau jadi ipar yang baik", Canda Asa.


"Kenapa kamu jadi gitu Asa?", Bisik Nuha heran.


"Sssttt.. Kamu diam aja Nuha", balas Asa.


"Whyy?!", Nuha semakin bingung.


"Hei kamu Naru!!"


"Iya?"


"Sekarang musuhmu bukan lagi Dilan, melainkan gue! Asa! Jangan macam-macam ya sama Nuha!"


Nuha malah jadi salah tingkah.


"Baik ibu mertua", Naru menanggapi Asa dengan santai.


"I-ibu mertua?! Berani sekali ya kamu Naru!!"


Nuha kebingungan menghadapi tingkah Asa. Guru pun memasuki kelas. Sangat disayangkan, Naru yang biasanya mendapat nilai sempurna harus berada di kelas D lagi.

__ADS_1


Duduk di belakang Nuha bagi Naru ternyata sedikit membuatnya kesulitan. Ia jadi tidak bisa memandangi wajah Nuha bila ia berada di belakangnya. Tapi, setidaknya ia bisa melihat dengan jelas Nuha yang berada di depannya. Menjaganya dan tidak hilang dari perhatiannya.


__ADS_2