Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Kejutan Kejam


__ADS_3

"Naru kamu hebat Nuha!", Puji Sifa


"Ehehehe..", jawab Nuha.


"Dia telah berhasil membuat adik kelas kita membawa piala juara satu olimpiade matematika"


"Terima kasih Sifa", balas Nuha.


Hari senin, 20 Nopember. Upacara bendera sedang dimulai. Nuha dan Sifa berbaris berdampingan satu rombongan dengan kelasnya. Namun, Asa dan Fani tidak terlihat sama sekali.


Setelah pembina upacara menyampaikan pidato dan ucapan selamat atas keberhasilan dari olimpiade matematika, itu tandanya upacara akan segera berakhir.


Nuha dan Sifa masih tegap mengikuti upacara di pagi hari ini. Sifa mulai memberitahukan alasannya kenapa Asa dan Fani tidak ada. Namun, itu hanyalah alasan dan kebohongannya saja.


"Asa dan Fani tidak masuk, Nuha. Mereka sudah kirim WA ke aku"


"Oo.. Gitu ya. Umm.. Semoga mereka kalo sakit segera diberi kesembuhan", jawab Nuha sedikit kecewa.


"Kamu kenapa Nuha?"


Tanya Sifa berpura-pura khawatir. Bibirnya sedikit tersenyum tipis bahwa rencananya sedikit berhasil. Hari ini, Sifa, Fani dan Asa ingin memberikan kejutan hari lahir untuk Nuha.


Meskipun Nuha mengetahui tentang hari ini adalah hari kelahirannya dan ketiga sahabatnya pasti akan memberi kejutan, tapi melihat Asa dan Fani yang tiba-tiba tidak masuk sekolah membuatnya jadi bersedih.


"Enggak, gak papa kok. Eh, upacara udah selesai. Yuk balik ke kelas", ajak Nuha


"Dasar Nuha, dia mudah sekali kecewa. Hihihi", batin Sifa.


"Tenang saja Nuha, kejutan hari kelahiranmu kita tunda yang hari ini. Besok aja kalo Asa dan Fani sudah masuk sekolah", ucap Sifa santai.


"Mana bisa begitu", batin Nuha kecewa.


"Ayo cepat Nuha. Keburu rame ini jalan", Sifa menggandeng tangan Nuha dan mengajaknya berjalan cepat untuk segera kembali ke kelas.


"Kak Nuha!", panggil seseorang.


Nuha menoleh, ternyata mereka berdua adalah Keisha dan Lala. Mereka berlari menghampiri Nuha dengan wajah yang senang dan ceria.


"Kalian", sapa Nuha.


"Iya kak, selamat pagi", sapa Lala.


"Iya, pagi. Umm.. Tentang olimpiade kalian, selamat ya atas kemenangannya", ucap Nuha ramah.


"Cantik sekali", gumam Keisha.


"Pantas Kak Naru sangat menyukainya. Dia sangat ramah, natural dan cantik", batin Keisha.


"Keisha, kok bengong?", tanya Nuha.


"Eh, iya kak. Ini, sebagai tanda terima kasih atas ketulusan kakak dan pemberian semangat untuk kami", Keisha memberikan sesuatu kepada Nuha.


Sebuah buket penuh dengan bunga matahari mungil. Nuha kaget yang tiba-tiba diberi hadiah oleh Keisha dan Lala.


"Kok kalian kasih aku hadiah? Harusnya kan aku yang memberikan hadiah atas keberhasilan kalian", ucap Nuha.


"Bilang aja makasih kak, gitu", timpal Lala terkikik geli.

__ADS_1


"Oh?, hehe.. Oke, terima kasih ya atas bunganya. Ini sangat indah dan cantik"


Sifa hanya tersenyum dan menghargai obrolan Nuha bersama Keisha dan Lala.


Keisha dan Lala masih melempar tawa kecil nan jahil.


"Maaf ya, aku belum menyiapkan hadiah apapun untuk keberhasilan kalian. Soalnya, aku baru tahu hari ini tentang informasi kemenangan kalian dari pak kepala sekolah tadi", ucap Nuha.


"Gak papa kak, gak usah dipikirin"


"Tapi.."


"Udah ya kak. Kalo gitu, kita pamit sekarang"


"Bye bye kak Nuha", ucap Keisha dan Lala bersama. Mereka pun berlali meninggalkan Nuha dan Sifa.


Nuha dan Sifa mulai masuk ke kelas. Mereka berdua akhirnya duduk sebangku di tempat duduk Nuha.


"Mereka itu adik kelas didikan Naru?", tanya Sifa.


"Iya", jawab Nuha masih terpana melihat buket bunga mataharinya.


"Suka banget ya dengan buket itu?"


"Eh?, iya sih. Kaget juga aku, tiba-tiba dapat buket bunga"


"Mungkin itu dari Naru kali"


"Apa? Kok bisa dari Naru?, apa mungkin?"


"Masa iya sih?", Nuha semakin bertanya-tanya.


"Sudahlah Nuha! Kita harus perhatikan pelajaran, itu guru PKN sudah hadir"


"Okei"


Nuha mulai menaruh buket bunganya di laci mejanya. Tangannya yang sedikit meraba tiba-tiba menyentuh sesuatu. Ia mendapati selembar kertas kecil berada di laci mejanya.


Diapun mengambilnya dan mulai membacanya.


"Nuha, ada apa?" tanya Sifa berpura-pura penasaran.


"Ini, ada kertas note kecil. Punya siapa ya?"


"Eh, ada tulisannya Nuha"


"Bener. Aku baca coba"


Sifa mulai tersenyum lagi. Nuha yang polos dan naif sangat mudah sekali dia beri sandiwara. Rencana keduanya akan mulai berhasil.


"Nuha, temui aku di gudang peralatan olah raga saat istirahat jam sembilan. Okei, aku tunggu. By Naru"


"Maksudnya apa ini? Apa ada yang iseng?", tanya Nuha bingung.


"Naru mengajakmu ketemuan di gudang peralatan olah raga itu Nuha"


"Tapi gak mungkin Naru mengajakku kesana"

__ADS_1


"Nanti aku temenin deh kesananya. Supaya isi pesan itu bener ato salah"


"Okei, kita cek sama-sama ya kalo gitu Sifa"


"Baiklah nona manis"


"Apaan sih", Nuha jadi tersipu.


Sifa semakin terkikik geli melihat respon Nuha. Meskipun Nuha sangat santai menghadapinya, tapi pribadi Nuha mudah sekali untuk ditipu.


Waktu istirahat pun tiba. Nuha dan Sifa mulai keluar kelas dan menuju ke gudang peralatan olah raga.


Perjalanan mereka cukup aman dan tenang.


"Kita kan jarang sekali ke gudang peralatan olah raga kan Sifa?", tanya Nuha.


"Iya bener. Tapi, kita cuma pastikan aja dari luar. Jangan sampai kita masuk ke dalam, takutnya kita dijebak oleh seseorang lagi", jawab Sifa sedikit menakut-nakuti.


"Sifa, kamu membuatku takut"


"Hihi.. Aku juga takut Nuha"


"Daerah sini kan sangat sepi"


"Tenang saja Nuha, kita hadapi bersama"


Mereka pun sampai di gudang peralatan olah raga. Pintu terbuka satu dan di dalam ruangan terlihat sangat pengap dan gelap. Baru dilihat dari luar saja sudah terlihat sangat menakutkan.


Sifa mulai memelankan jalannya dan sedikit menjaga jarak dari Nuha berada. Nuha tidak menyadari itu, dia mulai celingukan melihat isi dari gudang kosong tersebut.


"Coba kita nyalakan lampunya, Nuha", ajak Sifa.


"Dimana saklarnya", Nuha mencari-cari


"Itu, ternyata ada di dinding luar dekat pintu yang sedikit menutupinya"


Nuha pun menyalakan saklar lampu, dan "byaar!!" cahaya terang menyinari seisi ruangan.


"Wah! Ternyata gudangnya cukup bersih dan rapi ya Nuha? Tadi, kita pikir sangat menakutkan", ucap Sifa


"Apa kita perlu masuk?", tanya Nuha.


"Masuk saja!", Ucap Sifa kasar.


Seketika Sifa mendorong Nuha masuk ke dalam gudang peralatan olah raga. Menutup pintu dan memutar kuncinya, "ceklek! Ceklek!".


"Maafkan aku Nuha, aku mendorongmu sangat keras. Semoga kamu tidak apa-apa", gumam Sifa merasa sangat bersalah.


Nuha berusaha untuk tetap tenang, namun dia tidak habis pikir bahwa Sifa yang melakukannya. Dia mulai berdiri membenahkan diri dan mendekati pintu.


Mendapati pintu dikunci sangat rapat, Nuha sedikit mulai khawatir dan mengetuk-ngetuk pintu memanggil Sifa.


"Sifa, buka pintunya Sifa"


"Sifa!!"


Lampu pun mati. Kegelapan langsung menyelimuti keberadaan Nuha. Sifa dengan sengaja mematikan saklar lampunya.

__ADS_1


__ADS_2