Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Bertengkar, eh tanding!


__ADS_3

Tiga hari sudah tryout pun selesai. Hari ini, pagi hari di lorong dekat tangga. Kak Yuki datang melewati Nuha and the bestFANS yang sedang asyik mengobrol bersama.


"Asa, Kak Yuki datang"


"Biarin!", Jawab Asa.


"Halo Kak Yuki, Kak Yuki mau kemana?", tanya Sifa.


"Eh kalian. Mau ke perpus cari pinjeman buku"


"Asa! Temenin dia!", Pinta Sifa.


"Enggak!"


"Ayolah"


"Enggak mau!"


"Iiih, cepat sana loh!"


"Iya iya, bawel"


Setelah Sifa dan Asa saling beradu, akhirnya Asa mau menuruti kemauan Sifa untuk menemani Kak Yuki pergi ke perpustakaan.


Asa dan kak Yuki meninggalkan mereka bertiga untuk pergi ke perpus. Dilan gantian yang datang. Dia tampak tidak seperti biasanya, terlihat sedikit kesal dan marah. Sikapnya itu sudah ia tahan selama tryout kemarin, sekarang saatnya dia melampiaskannya.


"Nuha!", Dilan menarik lengan Nuha.


Belum selesai Nuha menyapa balik, Dilan membawa Nuha sedikit menjauh dari Sifa dan Fani.


"Elo pacaran ya sama Naru?!", Nada bicara Dilan tampak berbeda dan menjadi marah.


"Eh?!", Nuha kaget.


"Jawab yang jelas!"


"Aduh sakit!"


Dilan masih belum melepaskan lengan Nuha, malah lebih kencang memegangnya.


"Dilan, jangan seperti itu!", Naru datang.


"Nuha, aku menghargai perasaanmu untuk tidak menembakmu dengan serius tapi elo malah pacaran dengan Naru"


"Hentikan itu Dilan!", Naru mencoba melepas tangan Dilan dan menariknya pergi menghindar dari Nuha.


"Gue tidak terima!", Dilan terus mengomel.


Naru membawa Dilan ke kelas. Dilan langsung balik mendorong Naru hingga menabrakkannya ke papan tulis. Dilan terus mendorong Naru hingga papan tulis terus bersuara.


"Naru! Kita ini teman sekelas tapi kenapa elo seperti ini"


"Tenanglah!"


"Gue tidak bisa tenang! Gue yang pertama kali mendekatinya tapi elo malah mengambilnya"


Dilan terus mendorong-dorong pundak Naru ke papan tulis hingga menjatuhkan sebuah figura foto.


Ujung Figura itu menggores dahi kanan Naru dan merobek lengannya sampai berdarah. Kemudian menimpa kaki Dilan sendiri.


"Adududuh!"


"Nah, kena batunya kan!"

__ADS_1


"Urusan kita belum selesai ya!"


"Tapi gue gak bisa ngeladeni elo sekarang", bantah Naru.


"Alasan!!"


Dilan langsung mengajak Naru bertanding basket. Melihat keadaan lengan Naru yang terluka, Dilan tidak peduli. Naru sendiri tidak yakin akan bisa melakukannya atau tidak dan akan memenangkannya atau tidak. Dilan benar-benar memaksanya.


"Ayo kita tanding basket", pinta Dilan.


"Untuk apa? Jika untuk mengambil Nuha dariku aku tidak akan menerima tantanganmu", Naru membantah.


"Sombong! Inilah rasanya dikhianati dan ditusuk dari belakang oleh kawan sendiri", Ucap Dilan kasar.


"Dilan, sudahlah. Kita akhiri saja disini dengan damai", pinta Naru menghentikan pertengkaran.


"Damai katamu? Mudah sekali kau bicara," ucap Dilan langsung melempar kuat bola basket ke arah Naru, tapi Naru bisa sigap menerimanya.


"Cih! Sudah siap ternyata", Ucap Dilan acuh.


...****************...


Di kelas 12F Multimedia.


"Lihat, gays! Itu Dilan dan Naru kan?" ucap Sifa yang melihat dari balik jendela kelasnya.


"Apa?", Tanya Nuha kaget.


"Sepertinya mereka sedang main basket. Eh, bukan main tapi bertanding. Terlihat mata mereka yang sangat tajam dan saling menyudutkan", Fani menanggapi.


Dilan dan Naru tampak serius saling beradu mata dan kekesalan. Naru memulai untuk memantulkan bola tapi sekejap langsung direbut oleh Dilan.


Tenaga Dilan bertambah kuat seiring bertambahnya kekesalannya kepada Naru. Naru benar-benar terpojok. Mengingat lengannya juga masih sakit.


"Gila! Dua cowok terpopuler di sekolah kita sedang memperebutkan gadis Naif kita", Ucap Sifa.


"Doa ibu kamu apa sih Nuha, sampai kamu bisa diperebutkan oleh mereka berdua", Fani ikut-ikutan.


"Jangan mengkaitkannya dengan doa ibuku donk. Mana mungkin ibuku mendoakanku seperti itu", Jawab Nuha.


Sifa tertawa.


"Kasihan Naru, dia akan kalah dari Dilan", Ucap Fani.


Nuha menggigit bibir bawahnya menahan kesedihan. Hatinya benar-benar tidak tenang. Fani yang melihat ekspresi Nuha ikut merasa sedih.


"Bagaimana ini", Keluh Nuha lirih.


"Kenapa kalian berdua jadi seperti ini. Gara-gara aku.. gara-gara aku..", Nuha semakin sedih.


"Jangan salahkan dirimu, Nuha", Senyum Fani.


Dilan mampu mencetak 2 skor lagi. Naru mulai mengeluh kesakitan, "Aku belum bisa memasukkan bola satu pun. Kalo dia menang, permintaan apa yang dia inginkan?", Naru terengah-engah.


"Baiklah, sekali ini saja. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini dan menyelesaikan ini semua", Naru terus dan terus memberi sugesti untuk dirinya sendiri.


"Aku harus segera menyelesaikan ini. Aku harus melibas habis si Dilan menyebalkan itu! Aku akan membuatnya menyesal!", balas Naru membara.


Naru memulihkan kembali tenaganya, ia sudah tidak mempedulikan luka di lengannya. Biarpun darah mengalir berapa banyak ia tidak akan merasakannya. Matanya benar-benar membara dan semangatnya seperti petir.


Naru terus bergerak cepat dan berhasil menghindari hadangan-hadangan dari Dilan. Mengambil kesempatan sekecil dan semustahil pun. Ia tetap percaya bahwa dirinya akan menang.


"Bagus sekali Naruuu! Kalahkan Dilan, kau pasti bisa!" teriak Sifa memberi semangat.

__ADS_1


"Ayo Nuha, beri semangat pada Naru", Ajak Fani.


"Ta-tapi, suaraku tidak akan bisa mencapainya", Jawab Nuha pesimis.


"Dengan hatimu Nuha. Berikan kepercayaanmu padanya bahwa dia pasti akan menang. Yakinlah! Yakinlah sama Naru", Fani menenangkan Nuha.


"Aku yakin kamu pasti bisa Naru! Kamu pasti bisa menang! Dan, dan bisa kembali berdamai dengan Dilan. Kumohon, lakukan yang terbaik", Teriakan hati kecil Nuha.


Tepat 5 menit Naru bisa menyamakan skornya dengan Dilan 4-4. Dilan terperanga.


"Sekali lagi, sekali lagi", Naru terengah-engah dan terus memantulkan bola dengan keyakinan penuh.


Naru masih fokus ke ring basket. Ia terus memantulkan bolanya dan berlari, melompat, melompat setinggi mungkin hingga ia berhasil memasukkan bolanya ke dalam ring basket lagi.


Fani dan Sifa bersorak kencang menyambut kemenangan Naru "Kau menang Naru. Yey!!"


Dilan menyambut tangan Naru, "Maafkan gue karna telah memaksamu sampai seperti ini", ucapnya.


"Apa lagi yang kau inginkan?", Ucap Naru terengah-engah.


"Kau masih mau meladeniku?"


"Tidak. Aku sudah menang. Kau harus menyudahi kekesalanmu itu padaku dan tidak melibatkan Nuha lagi"


Dilan tertawa. Dia mulai mengalungkan lengan kiri Naru ke lehernya. Memapahkan menuju UKS.


"Tekadmu benar-benar kuat Naru. Gue salut, elo begitu tangguh", Ucap Dilan.


"Gue akan membantumu mengatasi luka di lenganmu. Tenang saja", balas Dilan mulai legawa.


"Oke", Jawab Naru singkat.


"Hebat banget sih Naru, ya ampuuun", Puji Sifa.


"Kau beruntung punya Naru, Nuha. Dia benar-benar cowok sempurna", Tambah Fani.


"Ehehehe", Nuha hanya nyengir. Fani tersenyum menyambut cengiran Nuha. Hahahaha..


Di Perpustakaan, Asa mengawali obrolannya dengan Yuki, "Kak Yuki ke perpus mau cari buku apa?".


"Umm.. buku cara menembak cewek"


"Weleh?"


"Ahahaha.. buku tentang animasi lah"


"Hampir saja membuat jantungku copot", Gumam Asa.


"Tentang edit foto kemarin, terima kasih ya Kak. Hasilnya sangat bagus. Maaf aku belum ngucapin makasih"


"Aduh.. Gak perlu berterimakasih, santai aja"


Asa dan Kak Yuki berjalan santai melihat lihat buku di beberapa rak. Obrolan mereka tampak menyenangkan.


"Asa sendiri, mau pinjam buku apa?"


"Duh, mampus gue! Cari buku apa ya? Aku sampe lupa mikirin mau pinjam buku apa, padahal ini kan cuma buat alasan saja"


"Asa?"


"Eh, iya Kak. Belum ketemu, hehehe.."


"Mau cari buku apa? sekalian aku bantuin carikan"

__ADS_1


"Iya kak bentar. Ayo Asa, berfikir! BERFIKIRR!!"


__ADS_2