
Nuha turun dari tangga untuk menemui Naru yang masih menunggunya di ruang tamu. Sudah setengah jam berlalu, dia masih setia menjaga Nuha atas perintah Kak Muha.
"Tap.."
"Tap.."
"Tap..", suara langkah kaki Nuha.
"Nuha?", ucap Naru kaget.
Naru yang sedang duduk menunggu kemudian berdiri dan melihat Nuha sedang menuruni tangga dengan penampilan yang berbeda. Namun, rambut dengan kuncir air mancurnya masih menjadi kekhasan diri Nuha. Naru berjalan menghampirinya.
"Eh?, Kamu mandi lagi?", tanya Naru.
"Hehe, Iya. Maaf ya Naru karna mengabaikanmu"
"Jangan bilang seperti itu. Emangnya kamu sudah merasa lebih baik?"
"Sedikit sih"
"Lalu, kenapa harus turun tangga?"
"Karna gak enak aja mengabaikanmu sendirian", Ucap Nuha memalingkan matanya.
"Dasar gadis baik", Puji Naru sambil membelai lembut rambut Nuha yang panjangnya sudah di bawah bahu.
“Duduklah Naru, aku akan buatkan kamu minum”, pinta Nuha.
Naru duduk di kursi meja makan dekat mini bar. Dapur Nuha sangat kecil, hanya berukuran 3 x 2 meter dengan mini bar yang membatasi dapur dengan meja makan. Jarak yang begitu dekat itu membuat Naru bisa sangat jelas menatap Nuha yang sedang membuatkannya minuman.
“Kamu bisa masak Nuha?’, tanya Naru.
“Umm.. enggak”, jawab Nuha tertunduk malu.
“Ngidupin kompor aja aku takut, apalagi suruh masak”, batin Nuha semakin malu.
__ADS_1
“Gakpapa, aku bisa masakin kok buat kamu”, canda Naru.
“Eeehh.. untuk apa masakin buat aku? Kan udah ada Ibu dan Kak Muha”, jawab Nuha jujur sambil meletakkan dua es coklat di meja makan.
“Kali aja kalo suatu saat kita bisa hidup satu rumah”, Ucap Naru semakin percaya diri.
“Naru, jangan aneh-aneh deh”, jawab Nuha
“Gakpapa kan Nuha, aku kan pacar kamu. Akan ku pastikan kamu akan jadi istri aku suatu saat nanti”, canda Naru semakin percaya diri.
“Na-Naru!! Pikiranmu begitu jauh!”, Bentak Nuha dengan suara bergetar.
“Nuha? Kenapa?”
“Ma-maaf Naru, aku.. terbawa emosi karena masalah ini”, Nuha tertunduk
“Rasanya gak enak banget yah? Sampai mempengaruhi perasaanmu?”
“Iya, kesal gitu rasanya. Harusnya aku sudah terbiasa dengan ini setiap bulannya, tapi memang rasanya benar-benar gak enak sekali”, keluh Nuha sambil meminum es coklatnya. Dia terpejam sejenak merasakan ketenangan karena enaknya minum es coklat.
Naru tersenyum melihat Nuha yang begitu cantik. Dia menyandarkan bahunya sejenak di kursi sambil melihat-lihat benda yang berada di meja mini bar. Dia tertarik dengan kalender duduk di meja mini bar tersebut.
“Nuha?”
“Iya?”
“Apa ada yang spesial di tanggal 20 Nopember?”
Nuha hanya memalingkan matanya dan tersenyum tersipu malu.
“Hari lahir kamu?”
“Eh? Bu-bukan.. bukan apa-apa”, jawab Nuha spontan.
Nuha tidak ingin Naru mengetahui hari lahirnya. Dia tidak ingin merepotkan Naru jika Naru sampai mengetahui hari lahirnya dan memberinya hadiah.
“Kenapa? Gakpapa Nuha, jujur aja kalo itu hari lahir kamu”
“Bukan, bukan kok”, Nuha terus saja menolak.
“Baiklah kalo begitu. Lalu, katakan tanggal berapa kamu lahir?”
“Enggak. Enggak mau”
“Ayolah Nuha, masa mau dirahasikan sama aku”
“Enggak mau ya enggak mau”
“Huh..” Naru menghela nafas.
Dia pun mengambil kalender tersebut dan menyobek kalender yang bulannya sudah berlalu. Membaginya menjadi lima lembar. Kemudian, mengambil bolpoint di saku bajunya. Menulis beberapa angka yang tidak diketahui Nuha sama sekali.
“Kamu mau ngapain Naru?”, Nuha penasaran.
__ADS_1
“Nuha, aku punya lima kartu ajaib. Jawab dengan jujur, tunjukkan padaku kartu mana aja yang ada tanggal kelahiranmu”, pinta Naru.
“Kayak anak kecil aja”, sindir Nuha.
Naru begitu mahir menuliskan angka-angka di setiap kartunya, membuat Nuha meremehkan perbuatannya karena menulis angka-angka acak yang menurutnya itu sangat konyol dan asal-asalan. Nuha tidak mengetahui bahwa angka yang disusun Naru benar adanya dan menjadi angka ajaib yang mampu menebak angka dengan sangat tepat.
Setelah Nuha membacanya dengan seksama, dia menunjukkan kepada Naru 2 kartu yang terdapat tanggal lahirnya. Naru dengan cepat langsung bisa membaca hasilnya. Dia pun menahan senyum senangnya.
“Emang kamu bisa dengan mudah menebaknya Naru?, aku yakin kamu pasti kesulitan mencari tanggal kelahiranku di kartu ini. Week.. makanya, jangan banyak-banyak nulis angkanya”, ejek Nuha
Naru mengabaikan ucapa Nuha. Dia pun kembali menanyakan tentang bulan kelahirannya, “Trus, tunjukin kartu yang ada bulan kelahiranmu”, pintanya santai.
“Ini, ini, ini”, Nuha bangga menunjukkan tiga kartu. Menurutnya, Naru akan semakin kesulitan untuk mencari angka yang tepat.
Namun, Naru malah semakin senang dengan kejujuran yang diberikan Nuha kepadanya. Dia jadi merasa bersalah mengajak Nuha bermain tebak-tebakan angka namun Nuha sendiri tidak tahu akan maksud yang sebenarnya.
“Makasih ya Nuha, kamu sudah jujur kepadaku”, Ucap Naru tersenyum ramah.
“Emang hasilnya berapa?, jangan senang dulu donk”, Sindir Nuha.
“Emm.. ini dan ini”, Naru berbohong.
Seketika Nuha terkikik geli dan tertawa lepas. Dia semakin yakin bahwa angka-angka di kartu itu sangatlah konyol dan Naru hanya berbuat iseng kepadanya.
“Dasar Naru suka iseng. Itu bukan tanggal dan bulan kelahiranku”, ejek Nuha.
“Makanya, katakan padaku, kamu itu lahir tanggal berapa cah ayu”, jawab Naru
“Enggak, pokoknya enggak mau. Week”
“Huh! Keras kepala sekali gadis ini. Untung aku sudah dapat jawabannya dengan pasti. Tinggal beberapa hari lagi ternyata”, batin Naru semakin senang.
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu, “Tok tok tok, paket”, ucapnya.
“Eh, paketnya udah datang”, Naru beranjak dan pergi menemui si kurir.
“Paket apa?”, gumam Nuha penasaran lagi.
Naru menerima paket tersebut dan menaruhnya di meja makan. Dia menunjukkan dan memberikannya kepada Nuha.
“Paket apa Naru?’
“Ini untuk kamu Nuha”
“Untuk aku? Emang aku kenapa?”
“Buat kamu yang lagi PMS”
“Umm..” Nuha malu-malu kucing.
Sembari Nuha dan Naru melihat-lihat isi paket, Ibu pulang dengan membawa sedikit oleh-oleh dari rumah tetangganya.
“Nuha? Kok kamu di rumah sayang? Ada apa?”, tanya ibu kaget.
“Nuha lagi gak enak badan Ibu, jadi Naru mengantarkanku pulang”, jawab Nuha.
“Ooh.. makasih ya anak baik, sudah mengantarkan Nuha pulang”, ucap ibu.
“Iya, sama-sama Ibu”, jawab Naru.
“Ibu?”, batin Nuha.
“Kalo gitu, aku balik ya Nuha. Sampai ketemu besok di sekolah”, ucap Naru.
“I-iya. Makasih ya Naru”, jawab Nuha.
“Eh, kok buru-buru?”, tanya Ibu.
Naru berjalan keluar rumah diikuti Nuha di belakangnya. Nuha melempar senyum dan melambaikan tangan untuknya.
__ADS_1
Naru mengingat janjinya dengan Kak Muha bahwa mereka akan ketemuan di Cafe Senja tanpa sepengetahuan Nuha. Sebelum Naru kesana, dia akan kembali lagi ke sekolah untuk merampungkan urusan kegiatan OSN yang sudah selesai bersama pak Hanif.