
Esok hari pun tiba. Nuha dan teman-temannya belajar di kelas seperti biasa. Hari ini tidak ada kelas tambahan. Sehingga, jam 2 siang bisa langsung pulang. Tapi, Nuha sedang punya janji dengan Naru untuk belajar bersama di Perpustakaan setelah pulang sekolah.
Nuha berhenti di balik pintu untuk memastikan keadaan di sana, ternyata masih ramai, Nuha merasa lega.
"Duh, Naru ganteng banget kalo lagi belajar", Seketika Nuha langsung menghapus imajinasinya itu.
Dia mulai memasuki ruangan dengan penuh percaya diri, dengan gaya santai dan wajah yang ceria. Naru menyambutnya sambil melambaikan tangan. Nuha tersenyum.
"Naru", sapa Nuha.
"Hai Nuha, duduklah."
Nuha mulai membuka bukunya untuk bersiap mencatat menerima penjelasan dari Naru.
"Nuha, kamu mau ngapain?"
"Mau nyatat"
"Buat apa?"
"Bukannya kita mau belajar bersama?, Jadi aku akan catat apapun yang akan kamu ajarkan kepadaku"
"Serius sekali. Gak usah mencatat. Temenin aku aja saat aku membaca dan belajar", ucap Naru singkat.
"Weh?"
Hanya menemani Naru belajar membuat Nuha kebingungan karena tidak berbuat apa-apa. Akhirnya dia terus memandangi wajah ganteng si Naru. Naru jadi cemas dan tidak fokus belajar.
"Hmm.. Ya udah sini, mana catatanmu", pinta Naru.
Nuha tersenyum kemudian menyerahkan buku catatannya. Catatan Nuha sangatlah rapi dan sempurna. Bahkan, beberapa ucapan guru ia tulis disana. Seperti sebuah rekaman, namun rekaman tulisan.
"Gadis perfeksionis", batin Naru tersenyum terkagum-kagum melihat catatan Nuha.
"Nuha, gimana bisa kamu mencatat sampai seperti ini? Tanganmu itu mesin apa?", tanya Naru heran.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak. Tapi, ini terlalu sempurna Nuhaaa", ucap Naru gemas sambil menjewer kedua pipi Nuha.
"Hehe, kirain apa", balas Nuha santai sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah roti dan teh kotak.
"Apa aku boleh makan?", tanya Nuha sambil melirik keadaan dan ingin sembunyi-sembunyi makan di perpus.
"Sudah tau pake nanya. Ngapain juga bawa makanan ke perpus?", tanya Naru heran.
"Aku lapar soalnya"
"Haish! Ya sudah, makanlah", balas Naru pasrah.
Akhirnya, Nuha dengan perlahan-lahan melahap rotinya dengan sembunyi-sembunyi. Wajahnya sangat lucu saat semua mulutnya dipenuhi dengan roti.
Nuha menikmati makanannya sedangkan Naru kembali fokus membaca. Tapi, dia mulai melirik gadis imut itu.
“Nuha” Panggil Naru mendekati Nuha.
Nuha yang lagi anteng makan roti selai stroberi, seketika selai rotinya keluar dan mengenai hidungnya.
__ADS_1
“Ada apa?", jawab Nuha polos.
Nuha hendak membersihkan selai yang mengenai hidungnya langsung ditahan Naru.
“Eits! Biar aku aja yang bersihin”
Naru menatap lekat gadis kesayangannya, perlahan mengangkat dagu Nuha dan mulai mengusap pelan hidung nya.
"Na-Naru, aku bisa sendiri", balas Nuha dengan pipinya mulai memerah. Matanya terpaku melihat Naru yang begitu dekat hanya sejengkal dari wajahnya.
"Wajah ini, kenapa begitu manis", batin Naru. Naru begitu lembut memperlakukan Nuha hingga tak sadar dia menyentuh pipi yang sedikit cubby itu.
Nuha semakin panas hingga kepalanya hampir menguap. Nuha memberanikan diri dan menghentikan tangan Naru.
“U, udah Naru. Aku Malu”
Naru membenarkan duduknya lagi, Nuha pun mengajak mengobrol, “Naru, apa benar anak sekolah bisa hamil?”, bisiknya.
Mendengar bisikan itu Naru malah terperanjat kaget. Kursi yang dia duduki saja langsung terjatuh atas gagap tingkahnya.
"Ka-kamu, bicara apa tadi Nuha?", Bisik Naru balik untuk memastikan tentang apa yang barusan dia dengar.
"Benarkah anak sekolah bisa hamil?"
Seketika Naru langsung membungkam mulut Nuha. Dia tidak habis pikir Nuha menanyakan sesuatu yang sangat vulgar seperti itu.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Soalnya, kata Sifa kemarin temen sekelasku ada yang sedang hamil", balas Nuha memalingkan mukanya karena sungkan.
"Lalu, itu karena dia sering berdua-duaan dengan pa-pa-pacarnya. Gitu", ucap Nuha merendahkan suaranya.
"Umm..", balas Naru mengerti dan melanjutkan, "Apapun bisa terjadi Nuha, tinggal jawaban apa yang kamu inginkan. Mau bisa atau enggak?", balas Naru mulai membenahkan duduknya lagi.
Nuha menggeleng.
"Gadis baik", puji Naru mengelus kepala Nuha.
"Tuh pinter. Nuha, kamu gak perlu cari tau tentang apa yang dialami oleh orang lain. Karna itu akan membebani pikiranku sendiri. Gak perlu mikirin orang lain, okei?"
"Iya", balas Nuha.
“Hm.. Tapi kok masih sedih?” tanya Naru khawatir.
“tidak, bukan apa-apa”
Nuha berusaha melanjutkan makan rotinya dan mengembalikan suasana.
Dalam hati Naru, “Aaah, aku ingin sekali mengembalikan keceriaannya. Dia terlihat begitu sedih dan khawatir".
“Naru?”
“Tuh kan, hanya memanggil namaku saja wajahnya begitu cantik dan menggemaskan", batin Naru.
"Iya?"
"Aku ingin pandai sepertimu", ucap Nuha.
__ADS_1
"Apa?"
"Naru, ajarin aku biar aku bisa pandai sepertimu. Dari awal hingga sekarang, hasil belajarku masih standar-standar saja. Aku gak mau lagi di kelas D"
"Haha, gitu yah. Kamu kan sudah pinter, Nuha. Lagian, kalo kamu memintaku untuk mengajarimu, aku harus ngajarin gimana? Dan dimana?"
"Di rumah", balas Nuha santai
"Di rumah? Kamu gak capek mau belajar terus. Nuha, di sekolah kan sudah ada pelajaran tambahan"
"Hmmph!!"
"Jangan manyun. Ato, belajar kelompok aja sama bestie kamu. Fani kan sahabatmu yang sangat pandai bukan?, ada Sifa pula. Asa bisa menjadi penghibur dikala serius. Bisa kan begitu?"
"Iya sih, kamu benar. Hehe"
"Hehe? Kayak gak ikhlas gitu. Segitunya kamu ingin diajarin sama aku?", tanya Naru memastikan lagi.
"Ti-tidak"
"Sebenarnya, Kak Muha pun mempercayakan dirimu padaku Nuha, untuk membantumu belajar", ucap Naru lirih yang tidak terdengar jelas oleh Nuha.
"Ada apa, Naru?"
"Enggak, udah yuk balik. Udah jam tiga. Aku akan rapikan bukunya dulu", pungkas Naru sambil membersihkan tempatnya.
Nuha langsung membantu Naru merapikan buku-buku yang Naru pinjam. Karena begitu tergesa-gesa, Nuha bertingkah dan sontak hampir saja terjungkal jatuh. Naru langsung menangkap lengannya.
“Tuh kan, mau jatuh”
“Iya, maaf"
“Udah gak papa, biarin aku aja yang ngembaliin di rak. Nanti, aku temenin kamu sampai ke kelas”
Nuha dan Naru berjalan bersama menuju kelas 12F. Naru langsung menggandeng tangan Nuha dan mereka berdua tersenyum bersama.
Meskipun Nuha sudah digandeng Naru, gadis itu masih saja tidak fokus berjalan. Dia hampir tersandung karena kakinya sendiri. Tapi, bukan karena itu ternyata. Tiba-tiba Nuha merasa aneh dengan tubuhnya sendiri.
"Ada apa Nuha?"
Nuha tidak kuat lagi, dia akhirnya menjatuhkan diri dengan bertekuk lutut. Tubuhnya mulai gemetaran karena merasakan dingin yang sangat kuat. Sedangkan, suhu panas tubuhnya malah meningkat.
"Nuha?!"
Nuha langsung pingsan tidak sadarkan diri. Naru segera membawanya ke UKS.
Sampai di UKS, perawat langsung memberikan pertolongan. Tubuh Nuha semakin panas tapi Nuha terus saja menggigil kedinginan.
"Nuha, ada apa denganmu?", tanya Naru mulai cemas.
"Suster, tolong bantu dia"
"Iya, tolong tenanglah. Kami akan segera menanganinya. Sebaiknya, kamu menunggunya di luar"
"Gak suster, saya ingin tahu apa yang sedang terjadi dengannya dan saya ingin berada di sampingnya"
Suster lain memberi kode, dan dua suster yang lain pun langsung mengangguk. Nuha akan diberi suntikan penenang supaya dia tidak menjadi kejang.
__ADS_1