Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Hawa, dalam Mimpi.


__ADS_3

Yuki datang.


"Seperti dugaan Muha, Nuha sedang tidak baik-baik saja", batinnya karena melihat Nuha terbaring di UKS.


Kedatangan Yuki yang terlihat ikut panik dan cemas membuat para suster langsung bertindak, "Maaf, bisa minta tolong kalian berdua keluar sebentar", pintanya salah satu dari suster.


Naru dan Yuki akhirnya menunggu di ruang tamu UKS, mereka terlihat mulai berbincang-bincang.


"Apa Nuha terjadi sesuatu padanya?", tanya Yuki.


"Dia, tiba-tiba pingsan dan menggigil kedinginan", jawab Naru menunduk.


"Kakaknya akan segera menjemputnya kalo gitu"


"Kak Yuki tau?"


"Aku baru saja dapat telepon dari dia bahwa dia sedang merasakan Nuha tidak baik-baik saja. Jadi, dia memintaku untuk melihat kondisi Nuha sekarang"


"Sebenarnya, ada apa dengannya Kak-"


"Itu Muha sudah datang", Yuki langsung berdiri memotong pertanyaan Naru karena melihat kedatangan Muha.


"Nuha, gimana keadaannya?", tanya Muha langsung.


"Dia.."


Muha langsung berjalan masuk ke dalam ruang UKS dan melihat Nuha sudah terbaring di sana. Muha menghampirinya.


"Nuha, ini kakak. Apa kamu bisa mendengarku?"


"Kakak?", Nuha mulai membuka mata.


"Mau pulang?"


"Umm..", balas Nuha lemah.


"Baiklah, kakak akan gendong kamu"


Nuha mulai bangun dan bersiap merangkul leher kakaknya dari belakang. Nuha, sedikit kesulitan.


"Yuki!", panggil Muha tapi dia langsung melihat Naru, sehingga dia berganti meminta Naru untuk membantunya.


"Naru! Bantu Nuha"


"I-iya, baik kak"


"Maaf suster, saya akan membawa adik saya untuk pulang", izin Muha.


"Ba-baiklah. Tolong, hati-hati ya kalian", balas suster.


Muha menggendong Nuha di belakang punggungnya dan berjalan menuju gerbang sekolah.


"Kau yakin akan membawa Nuha pulang dengan naik sepeda motor?", tanya Yuki ragu.


"Apa boleh buat", balas Muha singkat.


"Tapi, itu. Ber- berbahaya kak", sahut Naru.


"Aku akan pesankan taksi kalo gitu", ucap Yuki


"Kak! Izinkan saya untuk mengantar kalian pulang. Kebetulan, sopir saya sudah menunggu saya di sana", pinta Naru yakin.


Yuki mengangguk menatap Muha.


"Ya sudah. Tolong bawa motor gue ya, Yuki", pinta Muha sambil memberikan kunci motornya.

__ADS_1


Akhirnya, Muha pulang dengan menumpang mobil Naru. Suasana tampak hening dan tidak ada perbincangan di sana. Nuha, tertidur di pangkuan kakaknya.


Meskipun Muha terlihat tenang, namun telapak tangannya terus memegangi dahi adiknya. Dia berusaha menjaga suhu tubuh Nuha supaya tetap stabil.


Sampai di rumah, Muha langsung membawa Nuha ke kamarnya. Yuki menstandartkan motornya dan duduk di ruang tamu bersama Naru.


Tak lama kemudian, Muha turun dan sejenak membuatkan minum dan membawakan camilan untuk Naru dan Yuki.


"Thanks ya, Yuki. Maaf merepotkanmu", ucap Muha.


Yuki menjadi sungkan dan melirik Muha sambil melemparkan lirikannya kepada Naru.


"Iya-iya", balas Muha dengan berat hati.


"Thanks Naru, sudah mengantar kami pulang"


Yuki pun tersenyum melihat sikap jaimnya Muha. Tapi, dia masih melempar lirikannya kepada Muha untuk Naru.


"Iya-iya", sekali lagi, Muha masih merasa berat hati.


"Jangan khawatir, Nuha seperti itu karena reaksi tubuhnya sedang mengingat kematian ayahnya", balas Muha sambil menggaruk-garuk rambut belakangnya.


"Benarkah dia akan baik-baik saja?", tanya Naru masih terlihat cemas di raut wajahnya.


"Hawa yang akan menenangkannya lewat mimpi"


"Mimpi?"


"Hmm..", Muha menarik nafas untuk mulai menjelaskan secara detail kepada Naru.


Muha menceritakan tentang kenangannya dulu saat ayahnya meninggal dunia. Meskipun satu keluarga merasa terpukul dan bersedih hati, Nuha masih terus saja menangis sampai mendiamkan diri. Menangis sunyi sepanjang hari. Tidak mau makan dan mengurung diri di kamar.


Hingga ia demam tinggi dan terus saja menangis. Akhirnya suhu panas tinggi Nuha membuat Hawa tiba-tiba keluar dari tubuhnya dan Nuha bisa langsung tidur dengan nyenyak.


"Aku melihat sosok itu keluar dari tubuhnya. Kupikir, nyawanya melayang sehingga membuat jantungku langsung melemah. Tapi, Hawa bisa memberikan penjelasan", ucap Muha.


"Seketika, aku langsung merasa lega, "Kamu melakukan ini hanya supaya Nuha bisa tertidur nyenyak kan?", tanyaku.


Hawa hanya terdiam dan sedikit mengangguk.


"Setelah itu tolong kembalilah ke dalam tubuhnya lagi", Pintaku karena perasaan cemasku hadir lagi. Takut Hawa benar-benar akan meninggalkan Nuha. Tapi, Hawa malah berucap, "Izinkan aku untuk menghiburnya, Kakak"


Kak Muha tersentuh dan akhirnya memberikan izin kepada Hawa untuk selalu bisa menghibur Nuha disaat ia sedang bersedih dan menemaninya mengembalikan keceriaannya kembali.


"Ini sudah tiga tahun semenjak kepergian ayah. Di tahun kedua, Nuha tidak terjadi apa-apa karena Hawa masih ada bersamanya. Tapi sekarang, karena Hawa sudah tidak pernah terlihat makanya aku jadi mencemaskannya", Ucap Muha bersedih.


"Maafkan saya, kak", ucap Naru.


"Sudahlah. Ini bukan salahmu"


"Tapi, saya merasa, ini salah saya, kak"


"Sudahlah. Sudah terjadi, tidak perlu disesali"


"Tapi, kak-"


Yuki langsung menghentikan ucapan Naru itu dengan menepuk pundaknya. Dia khawatir suasana akan menjadi tegang dan Naru pun sadar akan hal itu.


"Ya sudah Muha, kita balik dulu ya", ucap Yuki mengakhiri.


"Iya. Pulanglah kalian", pinta Muha pasrah.


Yuki masih saja memberikan senyum lempengnya dan mengajak Naru untuk keluar rumah.


"Haah.. Kenapa gue harus menceritakan kisah ini kepada bocah tengik itu sih", gumam Muha pasrah.

__ADS_1


Yuki melampaikan tangan dan memberikan senyum keramahan untuk Muha.


"Haish! Semua ini gara-gara dia!", Muha membalasnya dengan raut wajah kesal untuk Yuki.


"Kak Yuki, saya bisa antarkan kakak pulang", ajak Naru.


"Gak perlu, Naru. Kamu anak yang sangat baik", ucap Yuki sambil menepuk-nepuk kepala Naru.


"Aku bisa pulang naik ojek kok", lanjutnya.


"Ya sudah kalo gitu. Saya duluan", pungkas Naru.


"Hati-hati ya"


"Umm.."


Naru juga jadi merasa kalah dengan respon dan keramahan yang diberikan Yuki padanya.


...****************...


"Nuha", sapa Hawa di dalam mimpi.


"Hawa?"


"Nuha, kok kamu jadi sakit lagi sih?"


"Keluarlah Hawa. Supaya aku bisa kembali sembuh seperti dulu itu. Di waktu itu"


"Tidak bisa, Nuha"


"Kenapa?"


"Nuha, kamu harus berhenti mengimajinasikanku. Ada banyak orang yang sangat sayang padamu, peduli kepadamu. Jadi, ingatlah mereka"


"Aku mengingat mereka, tapi aku gak mau melupakanmu"


"Hahaha.. Siapa yang memintamu untuk melupakanku?, Dasar Nuha naif. Aku selalu ada di hatimu, Nuha"


"Tapi, Hawa"


"Sudahlah, gak usah pake tapi"


"Tapi Hawa, aku masih ingin melihatmu"


"Hmm.. Kalo gitu, lihatlah aku di cermin"


"Di, cermin?"


"Iya"


"Beneran bisa begitu?"


"Coba saja"


"Tapi aku masih sakit"


"Makanya, sembuhlah. Turunkan keteganganmu dan hilangkan segara perasaan takutmu itu"


"Aku, gak bisa Hawa"


"Aku percaya padamu, Nuha"


"Percaya?"


"Tentu saja! Aku percaya padamu, seratus persen! Seribu persen! Sejuta persen! Bahkan persen yang tidak terhingga, aku sangat percaya kepadamu. Kamu pasti bisa sembuh"

__ADS_1


"Ahahaha..", Nuha tertawa.


__ADS_2