
Di rumah Naru, Naomi dan Dina sedang sibuk di dapur membuat kue. Naomi terlihat pandai dan cermat melakukannya. Dina terkagum-kagum melihatnya.
"Naomi oneechan, kamu pinter banget bikin kue kak. Ajarin aku terus yah," kata Dina.
"Nani?"
"Umm.. Gimana ya cara bilangnya," balas Dina bingung.
Percakapan beda bahasa itu memang sangat menyulitkan bagi kedua gadis tersebut. Dina bisa sedikit demi sedikit memahami bahasa jepang, namun Naomi sendiri tidak mengerti sama sekali dengan bahasa Indonesia.
Mereka kemudian hanya bisa saling melempar senyum dan saling membantu satu sama lain. Mereka sedang membuat kue kering. Dina berencana membuatkan kue untuk kakaknya sedangkan Naomi pun juga berencana membuat kue untuk Naru.
Dina membentuk kuenya menjadi rangkaian nama NUHA, yang mana perbuatannya itu membuat Naomi sedikit sakit hati. Tapi, dia berusaha untuk memujinya.
"Nuha? Naru no kaibito?" tanya Naomi.
"Yup. Aku sangat menyukai kak Nuha. Jadi, aku ingin membuat kue dengan namanya dan akan aku berikan kepada kak Naru," balas Dina gembira.
"Wah, ureshi. Yattemiru!" balas Naomi ikut senang.
"Benarkah kak Naomi mau bantu? Yatta, kak Naomi sangat baik. Kamu sangat baik kak, aku suka" balas Dina seraya merangkul tubuh Naomi.
Di samping itu, Naomi tersenyum licik. Dia jadi memahami bagaimana cara untuk bisa mengambil hati Naru dan adiknya. Dengan terus mendukung dan memberikan kebaikan, menurutnya akan membuatnya bisa sedikit demi sedikit mengambil hati mereka.
Bunda lewat dan mengetahui apa yang sedang Dina dan Naomi lakukan. Beliau pun menyapa mereka, "Wah! Bikin kue ya. Naomi, kamu pinter juga bikin kue," puji beliau untuk Naomi.
"Arigato," balas Naomi ramah.
"Naomi anak yang sangat baik. Tapi, aku tidak bisa membantunya untuk dekat dengan Naru. Berusahalah sendiri ya, Naomi," ucap Bunda dalam hati.
"Ya sudah. Semoga kuenya berhasil ya," pungkas beliau seraya pergi meninggalkan Dina dan Naomi.
"Wah! Sudah matang kak," ucap Dina.
"Good Job Dina.chan," balas Naomi seraya memberikan dua tos telapak tangannya. Dina menyambutnya dengan gembira.
"Aku ke kamarnya Kak Naru dulu ya kak Dina"
"Haik," balas Naomi ramah.
Dina berjalan menuju kamar kakaknya sambil membawa sepiring isi kue buatannya. Sambil menyapa dan mengetuk pintu, Dina langsung membuka pintu kamar Naru.
"Kakak"
"Dina? Ada apa?"
"Wah! Kakak selalu saja rajin belajar"
"Ada apa kamu ke sini?"
__ADS_1
"Kakak itu, ini udah liburan sekolah masih saja rajin belajar. Nih, aku bawain kue"
"Kue?"
"Yap. Aku buatin khusus buat kak Naru. Sttt, ada cinta kak Nuha lho di sini," canda Dina.
"Hahaha.. Maksudnya gimana?"
"Niiih"
Dina menyerahkan sepiring isi kue berbentuk huruf NUHA dan belum hati kecil-kecil berjumlah lima. Dia menaruhnya di atas meja belajar Naru, tepat di hadapannya.
Perbuatan Dina tersebut seketika membuat Naru kehabisan kata-kata dan mematung melihat kue buatan adiknya tersebut.
"Tuh kan, jadi malu-malu kucing," canda Dina.
"Oke. Thanks ya, Dina," ucap Naru terpaku namun seraya mendorong adiknya keluar dari kamar.
"Hihi.. Aku yakin, kak Naru pasti lagi kesemsem lihatin kue buatan aku dan jadi mikirin kak Nuha terus. Yay!"
"Ya ampun, gimana aku cara makannya. Lihatin aja udah bikin aku mikirin Nuha," gumam Naru bingung.
...****************...
Angin masih saja menganggu keberadaan Nuha dan Rafly di pinggir lapangan. Nuha hanya terus menutup mukanya dengan buku sketsanya dan memejamkan mata karena takut kelilipan.
Rafly yang memandanginya mulai menggerakkan tangannya. Perbuatan tanpa sadarnya itu membuatnya mulai menyentuh muka Nuha dan membelainya dengan lembut. Seketika Nuha kaget dengan perlakuannya tersebut.
"Aku.. Menyukai-"
"Nuha!" Panggil kak Muha yang tiba-tiba datang dan telah menghentikan motornya.
"Kakak?!"
Nuha langsung terperanjat kaget dan berdiri dengan tegap. Buku sketsanya pun terlepas dari tangannya. Sedangkan, Rafly masih mematung atas perbuatannya sendiri.
"Kamu itu sangat lama. Jadi kakak mencarimu"
"I-iya, maaf kak," ucap Nuha terbata-bata dan langsung menghampiri kakaknya.
"Siapa dia? Naru?" tanya kak Muha.
"Bu-bukan. Udah yuk pulang," ajak Nuha canggung dan langsung menaiki sepedanya.
"Nuha, kasih tau kakak siapa dia?!" ucap Kak Muha seraya menyusulnya sambil menstarter motornya kembali.
"Udah deh kak, gak usah ikut campur," balas Nuha berteriak.
"Apa kamu bilang?! Nuha!"
__ADS_1
Nuha semakin kencang mengayuh sepedanya sedangkan Muha juga terus mengikutinya di belakang.
Nuha telah pergi meninggalkan Rafly. Rafly sendiri masih termenung memahami sikap tanpa sadarnya itu.
"Aku, melakukannya lagi," gumamnya.
"Kenapa aku jadi begini. Aku jadi sering tidak sadar saat sedang bersama gadis berkuncir air mancur itu"
"Ck, ini, sudah ketiga kalinya gue melakukannya"
Rafly pun memandang kepergian Nuha. Setelah itu dia juga akan beranjak untuk pulang tapi langkahnya terhenti karena buku sketsa Nuha ternyata tertinggal. Dia pun membawanya pulang.
Sampai di rumah, Raffy sedang membersihkan beberapa action figure miliknya yang sudah berdebu. Dia melihat kepulangan Rafly yang membawa sekresek isi dua buku sketsa.
"Sudah dapat buku sketsanya?"
"Iya," balas Rafly seraya masuk rumah untuk mengambil minum di kulkas dapur. Kemudian kembali ke ruang tamu untuk berehat sejenak.
"Elo kenapa? Kayak kelelahan gitu?" tanya Raffy mendekat dan ikut duduk di ruang tamu.
"Enggak. Haus aja," jawab Rafly santai meski kemudian menghela nafas.
Raffy pun mengambil sekresek isi dua buku sketsa itu yang ada di meja tamu. Perbuatannya itu langsung mengagetkan Rafly dan menaruh minumnya segera di meja, "duk!"
"Elo kenapa?" tanya Raffy bingung.
"Enggak," elak Rafly.
"Elo beli dua buku sekalian apa segitu banyaknya pesenan gambarmu, Rafly?" tanya Raffy sambil meneliti kedua buku tersebut.
"Itu.."
"Eh? Yang satu plastiknya sudah terlepas. Produk cacat kamu beli Rafly?"
"Iya, ittu-"
"Apa ini? Kok sudah ada gambarnya? Gambaran siapa ini?" Raffy masih saja bertanya tanpa sepengetahuannya.
Tapi, Rafly langsung menyahut buku-buku sketsanya dan beranjak pergi meninggalkan Raffy. Raffy jadi bingung dengan tingkah Rafly.
"Ada apa dengannya?"
Rafly masuk ke dalam kamarnya dan menaruh kedua buku sketsa itu di atas meja. Dia duduk dikursi sambil membuka buku sketsa milik Nuha.
"Gue masih tidak mengerti dengan perbuatan gue tadi. Apa dia mendengarnya? Ini sangat memalukan," ucapnya kemudian merendahkan suaranya sendiri.
"Sketsanya sungguh bagus. Aku akan menyempurnakannya untuknya"
Rafly melanjutkan sketsa Nuha yang belum selesai. Sebuah gambar seorang gadis yang belum tergambar ekspresi wajahnya. Rafly melanjutkannya.
__ADS_1
Sambil melanjutkan dan mempertegas garis gambarnya, dia terus meneliti dan sedikit penasaran, "Apa dia, sedang menggambar dirinya sendiri?"
Karena, pada akhirnya Rafly menggambar wajah Nuha di sana. Dia kembali termenung.